
Rendy sudah pulang, Nara memutuskan untuk masuk ke dalam rumah karena wortel dikandang kelincinya sudah habis, dia ingin mengambilnya lagi di kulkas, tapi dia justru berpapasan dengan Windy yang juga hendak ke dapur.
"He, buatkan jus apel sekarang juga, dan antar ke kamarku!" perintah Windy, kemudian berlalu dari hadapan Nara dengan angkuh.
Nara heran karena tak biasanya Windy menyuruh dia membuatkan sesuatu, bukankah itu selalu menjadi tugas Bi Ani? Dia pun menghela napas dan bergegas ke dapur untuk mengerjakan perintah mertuanya itu.
"Mbak Nara mau bikin apa?" tanya Bi Ani saat melihat Nara mencuci apel lalu mengupas kulitnya.
"Tadi Ibu minta dibuatkan jus apel terus disuruh antar ke kamarnya," jawab Nara.
"Loh, kok Ibu nyuruh Mbak Nara? Kenapa enggak nyuruh Bibi seperti biasanya?"
Nara mengangkat kedua bahunya, "Aku juga enggak tahu, Bi."
"Ya sudah, sini biar Bibi saja yang bikin!" Bi Ani hendak mengambil alih pisau yang Nara pegang.
"Enggak apa-apa, biar aku saja. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya."
"Mbak Nara yakin?"
Nara mengangguk, "Iya, kalau cuma buat jus saja, aku bisa, kok!"
"Baiklah, kalau gitu Bibi tinggal dulu, ya!"
Nara kembali mengangguk. Dengan cekatan dia mengupas dua buah apel lalu memasukkannya ke dalam mesin juicer.
Tak lama kemudian, segelas jus apel segar sudah selesai dan Nara pun mengantarnya ke kamar Windy. Walaupun sakit hati pada mertuanya itu, Nara tetap berusaha bersikap baik.
Begitu tiba di depan kamar Windy, Nara mengetuk pintu dengan perlahan.
"Masuk!" teriak Windy dari dalam.
Nara pun menekan handle pintu dan meringsek masuk, tapi dia tak menemukan keberadaan Windy.
"Bu, ini jus nya," ujar Nara.
"Letak saja di meja nakas, setelah itu kau keluar dan tutup kembali pintunya!" pinta Windy yang suaranya terdengar dari dalam kamar mandi.
Sesuai dengan perintah Windy, Nara pun meletakkan gelas berisi jus apel itu di meja nakas, lalu segera keluar dan menutup pintu kamar mertuanya itu. Tak lama kemudian, Windy keluar dari dalam kamar mandi sambil menyeringai licik.
Saat hendak turun, Nara berpapasan dengan Kenan di tangga. Namun Nara mengabaikannya seolah pemuda itu mahkluk tak kasat mata.
Hati Kenan sedih dan terluka, Nara benar-benar tak menganggapnya ada.
Nara lalu kembali ke taman belakang sambil membawa sebuah wortel segar yang dia ambil dari dalam kulkas.
__ADS_1
"Hai, Rena." Nara menyapa hewan berbulu lebat itu, tadi dia dan Rendy sudah sepakat memberikan kelinci itu nama sesuai dengan gabungan nama mereka, yaitu Rendy dan Nara.
"Kamu mau ini, kan?" Nara memasukkan wortel itu ke dalam kandang dan Rena langsung menggerogotinya dengan cepat.
Nara tersenyum melihat peliharaannya itu makan dengan lahap, mulai sekarang dia tidak jenuh dan kesepian lagi, karena ada mainan.
"Makanlah yang banyak! Biar kamu cepat besar," ujar Nara sembari mengelus bulu lembut Rena dengan gemas.
Tapi keceriaan serta senyum di bibir Nara mendadak hilang saat Kenan tiba-tiba muncul dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana renang, seolah tak menggubris Nara yang duduk di tepi kolam, Kenan langsung melompat ke kolam dan berenang dengan santai. Alhasil, Nara terkena cipratan air dan menjadi basah, bukan hanya Nara, bahkan bulu Rena pun ikut basah.
Nara benar-benar kesal dengan tingkah suaminya itu, dia pun beranjak dan bergegas meninggalkan taman belakang sambil membawa Rena beserta kandangnya.
Kenan hanya menghela napas kecewa memandangi Nara pergi, dia memang sengaja ingin menggoda Nara, berharap wanita itu merespon dan marah padanya. Kenan lebih senang Nara marah-marah dan melawannya seperti dulu, daripada mendiamkannya begini.
Akhirnya Nara memutuskan untuk membawa Rena ke halaman depan karena tempat ternyaman di rumah ini sedang diambil alih oleh si pembuat onar.
***
Malam harinya, Nara sedang membantu Bi Ani mencuci piring setelah makan malam, sementara Hendra tengah berada di ruang kerja dan Kenan bermain game online di dalam kamar.
"Papa! Ada maling di rumah kita!" Windy menjerit histeris sambil berlari menuruni anak tangga.
Mendengar teriakkan Windy, Bi Ani dan Nara buru-buru menghampiri nyonya besar itu. Hendra pun langsung berlari menghampiri sang istri.
"Papa, kalung berlian Mama hilang!" adu Windy heboh.
Hendra dan semua orang terkejut mendengar berita itu.
"Loh, kok bisa? Memangnya Mama letak di mana?" cecar Hendra panik.
"Kemarin baru Mama pakai dan Mama letak di meja nakas, tapi sekarang sudah enggak ada."
"Ada apa?" Kenan pun turun dengan raut bingung.
"Kalung berlian Mama kamu hilang," terang Hendra.
Kenan terkesiap, "Masa bisa hilang? Coba cari lagi, mungkin terselip."
"Iya, mungkin Mama lupa di mana menyimpannya," timpal Hendra, sementara Nara dan Bi Ani hanya terdiam menyimak.
"Enggak, Mama enggak lupa! Mama ingat banget kemarin Mama letakkan di meja nakas. Pasti ada yang ambil!"
"Ma, di rumah ini enggak ada orang lain, dan enggak akan ada yang mengambil kalung Mama," sanggah Hendra.
Windy sontak menatap Nara dengan sinis, "Tadi kau yang antar jus ke kamarku, kan? Pasti kau yang ambil kalung itu!"
__ADS_1
Nara terkejut Windy menuduhnya dan semua orang langsung menatap dirinya seolah-olah dia tersangka.
"Saya enggak mengambil kalung itu! Saya berani bersumpah!" bantah Nara.
"Ma, jangan menuduh sembarangan!" sela Kenan.
"Iya, Nara enggak mungkin mengambilnya!" sambung Hendra.
"Siapa lagi kalau bukan dia? Tadi saat dia mengantar jus ke kamar kita, Mama sedang di kamar mandi. Pasti dia yang ambil!" tuduh Windy.
"Demi Tuhan, saya enggak mengambil kalung itu! Setelah meletakkan jusnya, saya langsung keluar. Percayalah!" Nara berusaha meyakinkan semua orang.
"Mana ada maling yang mau ngaku! Aku yakin kau pasti pelakunya!" sungut Windy.
"Mama cukup!" bentak Hendra, "Mama enggak bisa seenaknya menuduh Nara seperti ini!"
"Pa, selama bertahun-tahun enggak pernah ada kehilangan di rumah ini. Tapi begitu dia masuk ke kamar kita, kalung kesayangan Mama langsung raib." Windy pun terisak-isak.
"Pa, saya sungguh enggak mengambil kalung itu. Saya berani bersumpah atas nama kedua orang tua saya," tutur Nara dengan suara bergetar, dia takut semua orang tak mempercayainya.
Hendra jadi bingung dan serba salah.
"Papa jangan diam aja! Papa harus lakukan sesuatu!" desak Windy.
"Ma, tenanglah dulu! Kita akan cari kalung itu sama-sama!" cetus Hendra.
"Baiklah, kita cari lagi di kamar, tapi kalau tetap enggak ada, Mama mau kita geledah barang-barang dia!" pinta Windy sembari menunjuk Nara.
"Mama!" tegur Kenan tak terima.
"Oke, silakan geledah barang-barang saya! Saya pastikan kalung itu enggak ada sama saya!" tantang Nara penuh keyakinan, ini untuk pertama kalinya dia berani melawan mertuanya itu sebab dia tak ingin dituduh maling.
Kenan sontak menatap istrinya, dia tak menyangka Nara menantang sang mama.
"Tapi kalau ternyata kalung itu ada, kau lihat saja nanti!" ancam Windy.
"Sudah-sudah! Sebaiknya sekarang kita cari dulu kalung itu!" pungkas Hendra.
Hendra dan semua orang bergegas ke lantai atas untuk mencari kalung berlian seharga puluhan juta tersebut.
***
BESTie, jangan lupa like dan komennya, ya.🙏🏼
Biar aku makin semangat update.
__ADS_1