Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 63.


__ADS_3

Nara tergolek lemah di ruang IGD dengan jarum infus tertancap di punggung tangannya. Begitu tahu Nara pingsan, Kenan langsung membawa sang istri ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.


Awalnya dokter yang memeriksa Nara menduga jika wanita itu kelelahan dan kurang darah, tapi saat Hendra mengatakan jika sang menantu sering pingsan dan mimisan, dokter tersebut langsung melakukan cek darah lengkap guna memastikan penyakit apa yang sedang diderita si pasien.


Kini sudah satu jam Nara terbaring dan belum sadarkan diri, Kenan dan Hendra sangat cemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Nara, Pa? Dia sakit apa?" cecar Kenan yang berdiri di samping Nara sembari menggenggam tangan istrinya itu.


"Papa juga enggak tahu, kita tunggu saja hasil pemeriksaan dokter," jawab Hendra yang juga penasaran.


Tak lama kemudian, seorang perawat datang menghampiri mereka,"Permisi, perwakilan dari keluarga pasien bernama Kinara diminta untuk menemui dokter di ruangannya."


"Biar Papa saja, kamu jaga Nara di sini," sahut Hendra.


Kenan mengangguk, "Iya, Pa."


Hendra pun segera meninggalkan ruang IGD bersama perawat tadi dan berjalan menuju ruangan dokter yang dimaksud.


"Silakan, Pak!" Perawat tadi membukakan pintu dan mempersilakan Hendra masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Permisi," ucap Hendra saat melihat ada seorang dokter muda sedang mengamati selembar kertas di depannya.


Dokter Ardi mengangkat kepalanya menatap Hendra, "Silakan duduk, Pak!"


Hendra pun duduk, dia sedikit tegang dan gelisah. Perasaannya tak enak, pasti ada sesuatu yang serius tentang Nara.


"Maaf, Bapak ini keluarga pasien bernama Kinara?"


"Iya, saya mertuanya," jawab Hendra.


"Begini, Pak. Setelah kami melakukan cek darah lengkap terhadap pasien, kami mendapati jika pasien mengidap anemia aplastik," beber Dokter Ardi.


Hendra mengernyit bingung, "Penyakit apa itu, Dok?"


"Anemia aplastik adalah penyakit langka yang menyerang sum-sum tulang belakang. Kondisi di mana sum-sum tulang belakang enggak bisa memproduksi sel darah dengan cukup, sehingga kerja organ enggak maksimal karena kekurangan sel darah yang dibutuhkan dan sistem kekebalan tubuh juga terganggu," terang Dokter Ardi.


"Apa itu berbahaya, Dok?"


"Bisa berbahaya jika kondisi pasien sudah parah dan enggak segera diobati, karena anemia jenis ini menyebabkan pasien rentan terhadap infeksi, pendarahan dan berpotensi terkena leukemia. Bahkan bisa menyebabkan kematian."


"Ya Tuhan!" Hendra terkesiap mendengar penjelasan dokter muda itu, dia sudah menduga jika Nara mengidap penyakit serius tapi dia tak menyangka jika ternyata menantunya itu terserang penyakit langka dan cukup berbahaya.


"Kami akan melakukan biopsi sumsum tulang belakang untuk mengetahui tingkat keparahannya dan penanganan apa yang harus kami lakukan," lanjut Dokter Ardi.

__ADS_1


"Dok, tolong sembuhkan menantu saya! Lakukan apa saja, yang penting dia bisa sembuh dan sehat lagi!" harap Hendra.


Dokter Ardi mengangguk, "Kami akan usahakan yang terbaik, Pak. Jika kami sudah mengetahui tingkat keparahannya, kami akan segera melakukan tindakan pengobatan yang sesuai."


Hendra menghela napas berat, dia sangat cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap menantunya itu.


Sementara itu di penthouse milik Hendra, Rendy sudah tiba.


Rendy mengamati layar ponselnya lalu menatap nomor di depan pintu bercat cokelat itu, "Benar ini alamat."


Pemuda berwajah ganteng itu menekan bel, namun tak ada yang membukakan pintu untuknya. Dia kembali menekan bel dua kali, tapi hasilnya tetap sama.


"Aku coba telepon aja, deh!" Rendy menghubungi nomor Nara, tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Ck, enggak diangkat. Dia ke mana, sih?" gerutu Rendy.


Entah mengapa perasaan Rendy jadi tidak enak, dia mendadak cemas. Rendy pun memutuskan menghubungi Kenan untuk menanyakan keberadaan Nara.


***


Kenan menggerutu kesal sambil memandangi layar ponselnya, sejak tadi Rendy terus saja menghubunginya meski dia enggan menjawab telepon dari pemuda itu. Ternyata walaupun kesalahpahaman diantara mereka sudah selesai, tapi tak serta merta membuat Kenan bisa bersikap baik pada Rendy, dia masih saja cemburu dan takut temannya itu mendekati Nara lagi.


Hendra kembali ke ruang IGD setelah bicara dengan Dokter Ardi, wajahnya tampak murung dan sendu.


Melihat Hendra datang, Kenan langsung menyimpan telepon genggamnya ke dalam saku celana dan menghampiri papanya itu.


"Kata dokter Nara mengidap anemia aplastik," jawab Hendra tak bersemangat.


Kenan mengerutkan keningnya, dia tak mengerti, "Apa itu berbahaya, Pa?"


Hendra mengangguk, "Iya, kalau enggak segera diobati. Kata dokter Nara akan gampang terkena infeksi, pendarahan dan berpotensi terkena penyakit leukemia."


Tanpa mereka sadari, Nara yang sudah terbangun juga mendengar hal itu.


"Jadi aku sakit parah?" tanya Nara.


Hendra dan Kenan yang kaget sontak menoleh ke arah wanita itu.


"Kamu sudah sadar?" Kenan spontan berlari menghampiri sang istri.


"Apa aku akan mati?" tanya Nara lagi.


"Nara."

__ADS_1


"Ken, aku akan mati, kan?" ulang Nara dengan mata berkaca-kaca.


Kenan menggeleng, "Enggak, Ra. Kamu pasti sembuh! Aku akan melakukan apa saja untuk menyembuhkan mu."


"Tapi bagaimana kalau aku enggak bisa sembuh?" Nara mulai panik dan cemas.


Hendra pun berjalan mendekati menantunya itu, "Nara, tenanglah dulu! Dokter akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan mu, jadi kamu jangan cemas!"


Nara pun menangis terisak-isak, "Aku takut."


Kenan memeluk Nara, "Jangan takut! Ada aku di sini."


Tangis Nara semakin kencang, kenapa takdir seolah terus saja mempermainkan dirinya. Tak bisakah dia hidup tenang dan bahagia?


Hendra pun kian merasa sedih melihat menantunya itu menangis dengan begitu pilu.


"Nara, kamu harus semangat! Lawan penyakit ini! Papa yakin kamu pasti sembuh!" ujar Hendra, dia memberikan support dan semangat untuk menantunya tersebut.


"Iya, kita akan hadapi semua ini bersama-sama," sambung Kenan dan Nara hanya mengangguk sambil terus terisak di dalam pelukan sang suami.


***


Nara sudah lebih tenang, walaupun sesekali air matanya masih jatuh menetes. Tak mudah bagi Nara menerima begitu saja jika dirinya divonis mengidap penyakit yang serius.


"Ra, jangan sedih terus! Kamu pasti sembuh, kok!" ucap Kenan sembari mengusap air mata Nara.


"Iya, kamu jangan takut! Papa sudah berencana untuk membawa kamu menjalani pengobatan di luar negeri," sela Hendra.


Nara menggeleng, "Aku enggak mau menyusahkan Papa dan semua orang."


"Enggak ada yang di susahkan, Ra. Kamu itu juga anak Papa, jadi sudah sebaiknya Papa bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik untuk pengobatan kamu."


Tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka, seorang perawat muncul sambil membawa kursi roda.


"Maaf, pasien akan menjalani tes sumsum tulang belakang, jadi kami akan membawanya ke ruang operasi."


Nara sontak menatap Hendra dengan raut wajah takut, "Pa!"


"Enggak apa-apa, Nak! Dokter cuma ingin mengecek tingkat keparahan penyakit kamu saja agar mereka bisa memberikan penanganan yang tepat," ucap Hendra.


"Iya, Ra. Jangan takut!" sela Kenan.


"Mari Mbak Kinara!"

__ADS_1


Nara mengangguk. Dengan dibantu Kenan dan perawat itu, dia bangkit dan berpindah ke kursi roda tersebut. Sejujurnya dia takut mendengar kata operasi, tapi dia berusaha menguatkan hatinya agar tetap tenang.


***


__ADS_2