Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 208 Sedikit Terangkat


__ADS_3

"Bagus, sekarang coba liat tubuh lo yang di tendang. Takutnya pada lembam." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


Beni awalnya langsung berniat untuk memeriksa tubuhnya. Namun, saat ia akan membuka baju dan celana. Barulah ia tersadar.


"Eh... ya ampun, lo kenapa saranin gue buat liat tubuh gue." Kata Beni kemudian menurunkan kembali bajunya yang sudah sedikit terangkat.


"Buat memastikan kalau tubuh lo nggak lembam. Memangnya apa lagi." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Lo gila, di sini ada nona Rindi. Kalau gue buka semua pakaian gue yang ada ntar gue di bilang mesum." Kata Beni yang mulai meninggikan suaranya.


"Lo kan memang cowok mesum. Kenapa harus malu mengakui." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Hey brother jaga ucapan, hal barusan tak seharusnya lo bilang." Kata Beni membalas ucapan Kendra.


Setelah berkata seperti itu pada Kendra. Beni pun kini sibuk berbicara pada dirinya sendiri.


"Kendra nih, malah buka kartu segala lagi di depan nona Rindi. Gue kan jadi malu. Kalau gue tau barusan Kendra mau bilang kaya gitu. Udah gue tutup mulutnya dengan lakban. Tapi, sayang itu tak sempat terjadi." Kata Beni di dalam hatinya.


Karena terlalu sibuk berbicara di dalam hati. Beni pun sampai tak menyahut ucapan Kendra. Jangankan menjawab, mendengar ucapan Kendra saja ia tak mendengar sama sekali.


Walau Kendra sudah memanggil namanya sebanyak tiga kali. Ia masih tak merespon sama sekali.


"Ben, Ben, Beni... lo dengerin gue nggak sih. Capek gue lama - lama terus magil lo tapi nggak ada yang lo jawab satu pun. Ckckck... sombong banget." Kata Kendra yang mulai kesal dan geram.


"Eh... sorry bro, gue barusan ngelamun. Jadi nggak terlalu denger suara lo." Kata Beni membalas ucapan Kendra.

__ADS_1


"Pantes, memang nya lo ngelamunin apa." Kata Kendra yang sedikit penasaran.


"Rahasia, lo nggak perlu tau." Kata Beni membalas ucapan Kendra.


"Idih... pake main rahasia - rahasiaan segala. Biasanya juga nggak pernah ada rahasia di antara kita. Apalagi mengenai ****** ***** yang di kenakan. Lo lupa tadi siang." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Sut... Ken, lo jangan buka kartu lagi. Nona Rindi jangan di dengerin ya. Kendra ini suka bohong orangnya. Beni nggak seperti itu ko orangnya." Kata Beni membalas ucapan Kendra dan berbicara juga pada Rindi.


"Lagian apa peduli gue. Dengerin percakapan lo berdua aja gue ogah apalagi kalau sampai penasaran dan percaya. Ck... pede sekali." Kata Rindi di dalam hatinya sambil memutar bola matanya dengan ekspresi malas.


"Ini gara - gara lo Ken, liat nona Rindi jadi bedmood." Kata Beni yang melihsr respon Rindi seperti itu. Karena ia kira Rindi telah merespon ucapannya walau ia nggak tau apa yang di ucapkan Rindi, karena mulutnya di lakban.


"Lah kenapa jadi gara - gara gue. Lo aja yang ke pedean, memangnya lo bisa denger suara nona Rindi. Sedari tadi gue liat dari sini, nggak ada pergerakan tuh dari bibir nona Rindi. Biasanya kan walau di lakban pasti ada suara. Em... em... saat bicara. Barusan gue nggak denger sama sekali. Itu artinya nona Rindi hanya diam tak merespon ucapan lo." Kata Kendra membalas ucapan Beni dengan cukup panjang.


"Lo kan posisinya di depan, lagi nyetir mana bisa liat. Kalau gue udah pasti bisa liat, lagi pula gue duduk berdampingan dengan nona Rindi. Asal lo tau barusan gue liat mata dan ekspresi wajah nona Rindi berubah jadi bedmood itu, setelah gue cerita. Bukannya itu artinya nona Rindi merespon ucapan gue dengan ekspresi." Kata Beni membalas ucapan Kendra.


"Terserah lo aja, lagi pula gue yakin kalau ekspresi yang di tunjukan nona Rindi barusan itu sebagai jawaban dari ucapan gue. Sudah lah sekarang lebih baik lo fokus mengemudi. Gue mau tidur dulu." Kata Beni membalas ucapan Kendra lalu menutup mata dan tak lama setelah itu terdengar dengkuran. Yang dapat di simpulkan bahwa saat ini Beni telah tertidur.


"Woy... Ben, woy... lo kenapa tidur sih. Salah bener gue harus pergi bareng lo." Kata Kendra pada Beni.


"Ck... ini bodyguard yang di bayar ayah. Nggak guna banget, malah enak - enak tidur. Kalau aja tangan dan kaki gue di lepas udah gue tendang nih bodyguard ke luar dari mobil. Kerja nggak bener banget, nggak takut apa gue aduin ke ayah." Kata Rindi di dalam hatinya setelah melihat Beni yang tertidur.


"Argh... Beni... bagung lo. Jangan enak - enak tidur jagain tuh nona Rindi. Kalau sampai nona Rindi bisa kabur dan keluar dari mobil. Lo yang langsung gue keluarin dan aduin ke tuan karena bekerja sangat lalai." Kata Kendra pada Beni dengan sedikit memberi ancaman.


Entah ajaib atau memang apa. Tiba - tiba Beni membuka mata dan langsung berbicara pada Kendra.

__ADS_1


"Ye... lo bisa nya ngadu. Iya deh iya gue nggak akan tidur lagi. Lagian gue tidur karena gue pikir nona Rindi nggak akan bisa kabur setelah di ikat tangan dan kakinya." Kata Beni membalas ucapan Kendra.


"Woy... kesempatan kabur itu mudah kalau lo lalai. Jagain nona Rindi jangan sampai lo beri celah untuk memberi kesempatan nona Rindi bisa kabur." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Iya iya, lo bawel banget kaya emak gue. Ya sudah gue pegang aja tangan nona Rindi." Kata Beni kemudian mulai mendekatkan tangannya pada tangan Rindi.


Namun, sebelum tangan itu sampai di tangan Rindi. Ia pun mendapatkan tatapan mematikan dari Rindi setelah matanya dan mata Rindi saling tatap.


Hal itu pun akhirnya membuat keberanian dalam dirinya menciut seketika. Ia pun langsung menjauhkan tangannya dari tangan Rindi yang hampir ia pegang.


"Maaf, maaf nona saya refleks bilang kaya gitu." Kata Beni kemudian meminta maaf pada Rindi untuk menghilangkan rasa gugup yang sedang ia rasakan ketika mendapatkan tatapan mematikan itu.


"Hahahaha... lembek banget nih bodyguard, baru aja di kasih tatapan seperti ini langsung ciut. Ternyata ucapan gue yang bilang dia banci itu tidak salah lagi. Dia memang banci." Kata Rindi yang berbicara di dalam hatinya sambil tertawa.


"Buaha... hahahaha buaha... lo takut Ben." Kata Kendra yang langsung meledakkan tawanya sambil bertanya dengan nada menyindir.


"Nggak takut sih, tapi serem aja." Kata Beni membalas ucapan Kendra.


"Sama aja pea itu definisi takut yang meliputi seram. Ada - ada aja sih lo." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Lah beda bro, mana bisa di samain." Kata beni membalas ucapan Kendra.


"Sama aja." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Dari mananya bisa di bilang sama. Lo ngaco nih." Kata Beni membalas ucapan Kendra.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2