
Sementara Rindi saat ini ia telah berada di sekitar tempat tinggalnya. Hanya tersisa lima rumah yang akan di lewati, barulah ia akan sampai ke rumah nya.
Ada rasa enggan untuk masuk ke rumah lagi. Karena ia yakin setelah ini pernikahan nya akan di percepat.
"Argh... kenapa hidup gue harus kaya gini sih. Ayah biasa nya suka maafin kesalahan gue. Tapi, kenapa sekarang nggak maafin gue. Yah, tolong rubah keputusan ayah. Rindi mohon yah. Hiks... hiks..." Kata Rindi dalam hatinya.
Tepat saat itu, mobil pun berhenti di halaman rumah. Beni kemudian turun lebih dulu. Namun, sebelum itu ia melepas semua ikatan dan juga lakban yang ada di mulut Rindi.
Dengan cepat Beni kemudian membukakan pintu untuk Rindi.
"Mari nona, tuan sudah menunggu di dalam." Kata Beni mempersilakan Rindi untuk keluar.
"Boleh gue menenangkan diri sebentar di sini." Kata Rindi meminta waktu pada Beni.
"Maaf nona, nona sudah di tunggu oleh tuan sedari tadi. Jadi saya tidak bisa mengizinkan nona untuk tetep di sini beberapa waktu lagi." Kata Beni membalas ucapan Rindi.
Dengan terpaksa dan tanpa menjawab lagi ucapan Beni. Rindi kemudian keluar dengan tubuh gontai dan lemas. Apalagi ia yakin ketika ia bertemu dengan ayah nya. Ia akan langsung di marahi.
Perlahan demi perlahan ia pun mulai melangkahkan kaki mendekati pintu. Ada dua bodyguard yang menjaga pintu di sana. Ketika Rindi sampai di sana.
Mereka dengan sigap membukakan pintu untuk dirinya.
Rasa tak tenang mulai Rindi rasakan saat ini. Debaran jantung pun terus berdetak tak henti. Bahkan sampai kencang terasa.
"Udah dari mana." Kata ayah tenang namun penuh dengan penekanan.
"Rindi... Rindi... maaf ayah... Rindi..." Kata Rindi yang membalas ucapan ayahnya seakan sulit untuk menjawab.
"Lain kali jangan coba - coba melakukan hal bodoh seperti ini. Masuk ke kamar, ayah nggak akan bukain pintu kamar kamu sampai nanti kamu bisa ayah izinin keluar ketika telah ayah nikah kan kamu." Kata ayah membalas ucapan Rindi.
"Tapi... ayah, Rindi nggak mau nik..." Kata Rindi yang berusaha untuk membuat ayah menarik kembali ucapannya. Namun, sebelum ia menyelesaikan ucapannya ayah memotong ucapannya tersebut.
"Jangan bantah ucapan dan keputusan ayah. Sekarang kamu masuk atau ayah akan hukum kamu dengan yang lebih berat lagi." Kata ayah yang memotong ucapan Rindi.
__ADS_1
Karena tak ada pilihan lain, Rindi pun dengan gontai pergi menuju kamarnya.
"Hiks... hiks... ayah jahat. Kenapa harus paksa Rindi nikah muda. Rindi nggak mau ayah, hiks... hiks..." Kata Rindi di sepanjang jalan menuju kamarnya.
Saat ia telah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Terdengar suara kunci yang di putar di luar sana.
Dan ia yakini bahwa saat ini ia sudah tak bisa keluar kamar sesuai dengan apa yang ayahnya katakan tadi.
Di kurung di kamar sendiri, coba saja waktu bisa di putar ia tak akan melakukan kesalahan ini.
Tapi apa bisa dikata semua sudah terjadi dan saat ini ia harus menerimanya.
"Yah, kenapa ayah harus hukum Rindi seperti itu. Kasihan dia yah." Kata ibu yang mulai membujuk ayah lagi.
"Sudahlah bu, lebih baik kita tidur. Ini sudah malam tidak baik untuk kesehatan, jika kita terus terjaga tanpa ada istirahat." Kata ayah yang selalu saja menghindar atau bahkan langsung menolak keras.
Hening tak ada lagi pembicaraan karena saat ini ayah telah memejamkan matanya dan tertidur di alam mimpi.
"Sayang maafin ibu, yang lagi dan lagi gagal membujuk ayah mu. Hiks... hiks..." Kata ibu di dalam hatinya.
Sementara Rindi saat ini, ia hanya bisa menatap langit - langit kamarnya sambil menatap kosong.
Lalu setelah itu ia mulai teringat dengan kondisi Haikal.
"Ya ampun gue lupa, kak Haikal gimana kondisinya ya. Yeni juga gimana kondisinya sekarang." Kata Rindi yang baru mengingat Yeni dan Haikal.
"Gue jadi takut sama kondisi kak Haikal, terakhir kali saat gue liat kak Haikal kondisinya cukup parah di tambah bodyguard banci itu juga pukulin kak Haikal sampai babak belur. Argh... gue akan beri perhitungan sama ke dua bodyguard itu. Awas aja kalau sampai kak Haikal cidera dan mengalami luka berat. Gue akan buat kalian berdua mengalami hal yang sama. Camkan itu." Kata Rindi melanjutkan lagi ucapannya.
Dengan tergesa ia kemudian mengambil handphone miliknya dan menekan tombol hubungi di nomor Yeni.
Tut... Tut...
Sambungan telpon itu mulai berlangsung. Namun masih belum ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
"Yen, ayolah jawab. Gue khawatir nih sama kondisi lo dan kak Haikal. Apa sekarang kalian udah di rumah sakit atau masih di tempat itu. Mana udah malam lagi. Maafin gue ya karena gue kalian berdua harus ngalami hal ini." Kata Rindi yang menunggu Yeni menjawab teleponnya namun tak kunjung di jawab juga.
"Apa lagi di jalan ya. Em... atau mungkin lagi tidur." Kata Rindi setelah panggilan telpon itu berakhir karena tak kunjung ada yang menjawab.
"Sepertinya mungkin salah satu di antara itu. Gue tunggu bentar lagi aja deh. Baru setelah itu gue coba telpon lagi Yeni." Kata Rindi kemudian menurunkan hanphone miliknya dari telinga.
Tiga menit ia menunggu, kemudian ia pun mulai menelpon Yeni kembali.
Tut... Tut...
"Angkat Yen, angka, gue beneran pengen tau lo dan kak Haikal sekarang di mana."
Namun sayang seribu sayang telpon yang kedua pun tak kunjung ada jawaban.
Sampai pada akhirnya Rindi terus menerus menelpon Yeni sebanyak sepuluh kali dan hasilnya tetap sama tak ada jawaban sama sekali.
"Jadi makin khawatir gue. Semoga kalian berdua baik - baik aja dan sudah berada di tempat yang tepat." Kata Rindi di dalam hatinya.
Lalu di letakkan lah hanphone miliknya tersebut di dekat meja tempat tidurnya.
Ia kemudian mulai menutup mata perlahan demi perlahan sampai pada akhirnya ia terlelap.
Keesokan paginya, di saat ia mulai membuka mata. Hal pertama yang ia lakukan adalah melihat jam. Setelah melihat jam barulah ia mulai mencoba menghubungi Yeni.
Tut... Tut...
Yeni yang masih berada di alam mimpi. Mulai terganggu dengan suara telpon yang terus berbunyi. Sehingga dengan terpaksa ia pun mulai membuka matanya.
Dan tanpa melihat siapa yang menelpon dirinya ia langsung saja menerima telpon itu
"Iya hallo, ini siapa?" Kata Yeni yang masih setengah sadar.
"Alhamdulillah akhirnya lo jawab juga Yen, lo sama kak Haikal sekarang dimana? terus keadaan lo sama kak Haikal gimana?" Kata Rindi memberikan beberapa pertanyaan pada Yeni.
__ADS_1
"Ya ampun Rindi, lo nanya cepet banget kaya kereta nggak ada rem nya kalau gak di suruh berhenti." Kata Yeni membalas asal ucapan Rindi.
Bersambung...