Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 47.


__ADS_3

Saat tahu dari Kenan jika Nara sudah bangun, Hendra langsung menemui menantunya itu bersama sang istri. Sementara Kenan hanya berdiri tak jauh dari mereka tanpa mau berniat untuk menyela.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja! Kamu harus mendapatkan penanganan medis, karena Papa takut kamu mengidap penyakit yang serius."


"Enggak usah, Pa. Saya hanya kelelahan dan masuk angin saja, kok. Ini juga sudah enggak apa-apa, saya sudah baikkan," ujar Nara berdusta, padahal sebenarnya dia masih lemas dan pusing, badannya juga teras lelah meskipun dia tidak melakukan apa-apa.


"Iya, tapi enggak ada salahnya kamu periksa. Atau kalau kamu malas ke rumah sakit, Papa akan minta tolong papanya Rendy untuk memeriksa kamu, dia itu dokter yang hebat," cetus Hendra sembari melirik Kenan.


Mendengar nama Rendy disebut-sebut, emosi Kenan sedikit terpancing, tapi dia berusaha tenang dan terus mengawasi sang istri serta kedua orang tuanya itu.


"Papa kalau dia enggak mau ke rumah sakit, ya sudah enggak usah dipaksa! Biarkan saja!" sela Windy sinis.


"Ya enggak bisa gitu, dong, Ma! Nara ini tanggung jawab kita, mana bisa kita biarkan begitu saja!" bantah Hendra.


"Kita? Papa aja, deh! Kalau Mama sih ogah!" sahut Windy dengan angkuh.


Nara tertunduk dengan wajah sendu, dia tahu Windy memang tidak menyukainya sejak awal, tapi tetap saja dia sedih dan kesal karena ditolak terang-terangan seperti ini.


"Ma, Nara itu sudah menikah dengan Kenan, jadi sekarang dia juga anak kita. Jadi Mama harus menyayangi dan memperlakukan dia seperti anak sendiri!"


"Tapi Mama itu enggak menganggap dia sebagai istri Kenan, dia cuma pengganggu dan perusak hidup putra kita. Menyusahkan saja!" sanggah Windy sambil memalingkan wajahnya.


Nara merasa tersinggung dengan ucapan mertuanya itu, namun dia tak ingin menyela dan berusaha menjaga sikapnya di depan Hendra.


"Mama! Jaga bicaranya!" bentak Hendra, membuat Windy sontak merapatkan mulutnya.


Sementara Kenan hanya memperhatikan Nara yang tertunduk sedih, dia merasa kasihan pada istrinya itu namun tak tahu harus berbuat apa?


"Kenapa Mama enggak sadar juga jika Nara itu korbannya, putra kitalah yang sudah merusak hidup dan masa depan dia? Seharusnya Mama juga ikut merasa bersalah, bukan malah menyalahkan dia!" lanjut Hendra marah.


"Papa selalu saja membela dia dan memojokkan Kenan! Lama-lama dia besar kepala dan kurang ajar pada kita!" Windy beranjak dan berlalu pergi dari hadapan semua orang.

__ADS_1


Hendra mengembuskan napas berat, lalu menatap Nara dengan tidak enak hati, "Maafkan sikap Mama, ya, Nara? Jangan dimasukkan ke hati!"


Nara yang masih tertunduk pun mengangguk, "Enggak apa-apa, Pa. Apa yang dikatakan Mama memang benar, saya selalu menyusahkan Papa dan semua orang."


"Kamu jangan bicara seperti itu! Kamu enggak pernah menyusahkan siapa pun."


Kenan semakin merasa iba dan bersalah, ingin sekali rasanya dia berlari ke tempat Nara dan memeluk wanita itu. Namun dia masih terlalu malu dan gengsi untuk menunjukkan kepeduliannya tersebut, apalagi di hadapan sang ayah.


"Kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit, ya?" bujuk Hendra.


Nara menggeleng, "Enggak usah, Pa! Saya istirahat di rumah saja!"


"Nara, Papa sangat khawatir dengan kondisi kamu," keluh Hendra.


Nara memaksakan senyuman, "Saya sungguh enggak apa-apa, kok. Jadi Papa jangan khawatir! Nanti juga saya sehat lagi, saya hanya butuh istirahat saja. Percayalah, Pa!"


Hendra menghela napas, "Baiklah kalau kamu bersikeras enggak mau, tapi jika nanti kamu sakit lagi atau keadaanmu memburuk, Papa akan langsung bawa kamu ke rumah sakit tanpa meminta persetujuan kamu lagi."


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat! Jangan lupa makan yang banyak dan minum obat kalau kamu demam lagi."


"Iya, Pa."


"Papa ke kamar dulu!" Hendra mengusap kepala Nara kemudian beranjak pergi.


Nara pun memutuskan untuk kembali ke kamar, dia beranjak sembari melirik Kenan yang masih menatapnya dengan penuh arti, namun dia memilih untuk mengabaikan pemuda itu.


Melihat sikap tak acuh dan dingin Nara kepadanya, membuat hati Kenan sedikit nyeri. Apa dia memang begitu buruk di mata Nara sehingga istrinya itu tak bisa bersikap manis terhadapnya walau sebentar. Kenan mengembuskan napas berat, dia pun lantas bergegas menyusul sang istri.


***


Hendra tengah menasihati Windy di dalam kamar mereka, dia ingin istrinya tersebut mengubah sikapnya terhadap Nara dan berhenti memusuhi sang menantu.

__ADS_1


"Ma, cobalah buka hati Mama! Pandang Nara itu sebagai anak perempuan Mama sendiri, jangan terus-terusan menganggap dia musuh dan bersikap buruk padanya. Apa Mama enggak kasihan padanya? Biar bagaimanapun dia itu menantu kita, suka enggak suka Mama harus terima!"


"Pa, mungkin Papa bisa dengan mudah simpati dan menerima perempuan itu, tapi sebagai seorang ibu, Mama enggak bisa terima begitu saja. Mama punya harapan, Pa! Mama ingin melihat Kenan sukses, menikah dengan wanita pilihannya dan hidup bahagia. Bukan membiarkan dia hidup tersiksa dengan wanita yang enggak dia cintai," ujar Windy penuh emosi.


"Dari mana Mama tahu jika Kenan enggak mencintai Nara?" tanya Hendra.


"Sudah jelaskan mereka menikah karena apa? Kenan enggak pernah mencintai perempuan itu, dia hanya terpaksa menikahi perempuan itu karena sebuah kesalahan dan Mama yakin batin Kenan sangat tersiksa karena semua ini. Belum lagi masa depannya harus berantakan dan cita-citanya untuk bisa kuliah di kampus impiannya juga terancam gagal. Mama kasihan padanya." Windy berbicara dengan air mata berderai.


"Tapi bagaimana kalau ternyata sekarang dia mencintai Nara? Apa Mama akan menerima Nara sebagai menantu?"


Windy mengusap air matanya dan mengernyit bingung, "Apa maksud Papa?"


"Papa rasa sekarang Kenan sudah jatuh cinta pada Nara," sahut Hendra.


Windy menggeleng, "Enggak! Itu enggak mungkin! Kenan enggak mungkin mencintai perempuan itu!"


"Kenapa enggak mungkin, Ma? Mereka itu suami istri, jadi wajar kalau saling mencintai."


"Karena Mama yakin dia bukan tipe Kenan! Putra kita enggak mungkin punya selera yang rendah seperti itu, dan Mama yakin Kenan pasti membencinya," sungut Windy sombong.


"Ma, cinta itu bisa datang kapan saja dan tanpa kita duga, cinta itu enggak butuh alasan. Apalagi kalau mereka sering bertemu, cinta pasti tumbuh seiring waktu dan Mama enggak bisa membantah ataupun menentangnya."


Windy terdiam kesal, apa pun yang dikatakan sang suami, dia tetap tak terima dan tak rela putra sematang wayang yang sangat dia sayangi itu menghabiskan hidup bersama Nara.


"Kalau memang benar Kenan mulai mencintai wanita kampung itu, aku harus cari cara untuk memisahkan mereka dan membuat wanita sialan itu angkat kaki dari rumah ini," batin Windy sinis.


Windy tersentak dari lamunannya ketika ponselnya berdering, dia buru-buru meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja nakas itu.


"Mbak Cindy?" Windy tersenyum saat tahu yang menelepon adalah sang kakak yang berada di Amerika, dia pun bergegas menjawab panggilan masuk itu.


***

__ADS_1


__ADS_2