
Jessi melangkah dengan malas menuju pintu apartemennya saat mendengar suara ketukan dari luar, matanya sembab karena semalaman dia menangisi Kenan.
Ceklek.
Betapa kagetnya Jessi saat pintu terbuka dan ada Kenan yang menatapnya dengan tajam.
"Kenan?"
"Kenapa kau menyebarkan fitnah tentang Nara?" tanya Kenan tanpa basa-basi.
Jessi mendadak gugup, "Fitnah apa? Bukankah benar kalian sudah menikah?"
"Iya, kami sudah menikah, tapi bukan dia yang menjebak ku!" sanggah Kenan marah.
Jessi tersenyum sinis, "Jangan menutupinya, Ken! Mamamu sendiri yang mengatakan jika kau terpaksa menikah karena dijebak olehnya."
Kenan terkesiap mengetahui ini ulah sang mama.
"Lagi pula siapa pun tahu si cupu itu bukan tipemu dan kau enggak akan dengan suka rela menikahinya kalau bukan karena terjadi sesuatu. Aku enggak menyangka dia begitu licik dan murahan!" lanjut Jessi kesal.
Kenan naik darah dan hilang kesabaran, dia sontak mencengkeram lengan Jessi dengan kuat.
"Kenan sakit, lepaskan!" keluh Jessi.
"Jangan menghinanya! Dan asal kau tahu, justru dia yang terpaksa menikah denganku karena aku sudah memperkosanya!" beber Kenan.
Jessi terhenyak, "Kau memperkosanya?"
"Iya, ini alasannya kenapa aku marah padamu waktu itu, karena aku yakin kau mencampurkan sesuatu ke minuman ku sehingga aku enggak bisa mengontrol diri dan akhirnya Nara jadi korban," ungkap Kenan penuh penyesalan sembari melepaskan cekalan tangannya di lengan Jessi.
Jessi terkejut, sekarang dia tahu kenapa Kenan sangat marah padanya dan menyesal karena secara enggak langsung dia yang menyebabkan Kenan dan Nara menikah.
"Tapi aku enggak mencampur apa pun,"elak Jessi.
"Jangan bohong!" bentak Kenan, Jessi sampai terperanjat kaget.
"Aku enggak bodoh, Jessi! Aku enggak mungkin sampai hilang kendali kalau enggak ada apa-apa," sambung Kenan.
Jessi akhirnya menangis sesenggukan, "Iya, aku memang mencampur obat perangsang di minuman mu, karena aku ingin kau menjadi milikku. Aku mencintaimu, Kenan!"
"Sekarang kelihatan kan siapa yang murahan dan licik? Kau yang ingin menjebak ku menggunakan perbuatan kotor itu, jadi jangan memfitnah Nara!"
"Tapi aku lakukan semua itu karena kau selalu mengabaikan aku, kau enggak pernah peduli padaku," ujar Jessi sambil berlinang air mata.
"Dan sekarang aku bersyukur sudah bersikap seperti itu! Aku heran kenapa Rendy bisa menyukai perempuan seperti dirimu, walaupun sepertinya sekarang dia sudah sadar dengan kekhilafan nya itu."
"Kenan."
"Sudahlah, sekarang aku minta berhenti mengatakan hal-hal buruk tentang Nara dan jangan pernah ganggu aku lagi." Kenan bergegas pergi dari apartemen Jessi sambil mematikan fitur perekam di ponselnya.
Jessi hanya bisa menangis terisak-isak memandangi kepergian Kenan, hatinya semakin hancur dan terluka.
__ADS_1
***
Selepas dari apartemen Jessi, Kenan pulang ke rumah dan langsung menemui Windy. Dengan kasar dia membuka pintu kamar sang mama lalu menyelonong masuk tanpa permisi.
Windy terkejut, "Kenan!"
"Kenapa Mama bilang ke Jessi kalau Nara menjebak ku?" sergah Kenan tanpa tedeng aling aling.
"Lalu Mama harus bilang apa? Mengatakan ke semua orang kalau anak Mama memperkosanya? Itu sama saja seperti Mama merusak nama baik keluarga kita."
"Tapi itu kenyataannya, Ma! Aku yang memperkosa Nara, aku yang salah!" sahut Kenan marah.
"Sudahlah, Ken! Mama sedang malas membahasa masalah ini, kepala Mama sakit," keluh Windy tak acuh.
"Gampang banget Mama bilang sudahlah. Sementara saat ini semua orang sedang menghina dan mencibir Nara karena ulah Mama itu."
Windy mengernyit, "Mama enggak melakukan apa-apa."
"Tapi Jessi menyebarnya ke semua teman-teman ku, Ma! Dia dan Mama sudah memfitnah istriku!" sungut Kenan.
"Cukup, Ken! Mama muak mendengar kau terus saja membela perempuan kampung itu! Apa sih yang sudah dia lakukan sampai kau jadi seperti ini? Kau bahkan berani kurang ajar pada mamamu sendiri karena dia!"
"Karena aku mencintainya, Ma," jawab Kenan.
"Cinta, cinta, cinta terus yang kau katakan! Mama mau lihat apa kau bahagia karena cintamu itu!"
"Aku yakin akan bahagia, Mama lihat aja nanti!" Kenan berlalu pergi dari hadapan Windy.
"Aku enggak akan membiarkan kalian bahagia, aku akan membuat hubungan kalian hancur," geram Windy sinis.
Kenan masuk ke dalam kamarnya, dia dongkol setengah mati karena sang mama. Dia lantas mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Ivan, Radit, serta Han lalu mengklarifikasi berita yang beredar dan meminta bantuan ketiga sahabatnya itu untuk membantu membersihkan nama baik Nara. Dia juga mengirim hasil rekaman pembicaraannya dengan Jessi tadi sebagai bukti jika dirinya dalam pengaruh obat.
Tentu saja ketiga sahabatnya itu sangat syok saat tahu perbuatan Jessi, terutama fakta Kenan telah memperkosa Nara dan mereka keberatan untuk mengatakannya pada teman-teman lain sebab takut Kenan jadi di-bully. Tapi Kenan meyakinkan jika dia tak apa-apa, dia akan menerima segala resiko dan konsekwensinya, dia tak mau nama Nara jelek karena kesalahannya dan juga Jessi.
Setelah urusan nya dengan tiga sahabatnya itu selesai, Kenan pun beranjak keluar dari kamarnya. Dia turun ke bawah dan mencari Nara di tempat biasa wanita itu menghabiskan waktunya belakangan ini.
"Kau enggak bosan setiap hari di sini terus?" tanya Kenan saat berada di belakang sang istri yang sedang duduk melamun.
Nara berbalik, "Aku lebih bosan jika tiap hari melihatmu."
Kenan melotot mendengar kata-kata Nara, dengan cepat dia berjalan menghampiri istrinya itu, "Kau bilang apa?"
"Aku rasa telingamu masih berfungsi dengan baik, kan?"
"Kau ini selalu saja menyebalkan!"
"Sama, kau juga!" balas Nara.
Kenan yang gemas langsung menggelitik pinggang istrinya itu, "Kau berani melawan, ya?"
Nara sontak menggelinjang kegelian, "Jangan! Geli! Tolong hentikan!"
__ADS_1
"Enggak akan!" Kenan semakin getol menggelitik pinggang sang istri.
Nara meronta-ronta sambil berusaha mendorong tangan Kenan, "Sudah, aku mohon!"
Namun sesuatu menarik perhatian Kenan, membuat pemuda itu menghentikan ulahnya.
"Tanganmu kenapa memar begini?" tanya Kenan cemas saat melihat ada memar kebiruan di lengan Nara.
"Aku enggak tahu, tiba-tiba aja sudah begitu," jawab Nara.
"Apa sakit?"
Nara menggeleng, "Enggak."
"Kita obati, ya?"
"Enggak usah, paling nanti hilang sendiri. Sudah beberapa kali tangan dan kaki aku ada memar begitu, tapi nanti juga hilang sendiri," terang Nara.
"Jadi sudah sering begini? Kenapa enggak bilang padaku?"
"Memangnya selama ini kau peduli padaku? Enggak, kan? Jadi ngapain aku bilang?"
Kenan terdiam dan merasa menyesal.
"Sudahlah, enggak usah dipikirkan, aku enggak apa-apa," ujar Nara santai.
"Tapi ...."
"Oh iya, gimana? Kau sudah menyelesaikan masalah ini?" potong Nara mengalihkan pembicaraan.
Kenan mengangguk lalu menceritakan semuanya termasuk pengakuan Jessi yang sudah dengan sengaja memberikan obat perangsang padanya hingga dia tak bisa mengontrol diri dan akhirnya memperkosa Nara malam itu. Dia juga mengatakan jika ini ulah Windy dan sudah menegur sang mama.
Nara benar-benar terkejut mengetahui semua fakta itu, sekarang dia sadar jika apa yang Kenan lakukan di malam itu diluar kendali sang suami, bukan karena pemuda itu sengaja ingin merusak hidup dan masa depannya.
"Apa kau yakin membiarkan teman-teman yang lain tahu apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana kalau mereka mengecap mu buruk? Nama baikmu juga bisa rusak."
Kenan tersenyum, "Aku enggak peduli! Lagian itu resiko yang harus aku terima atas semua yang telah aku lakukan padamu."
"Tapi kau melakukannya diluar kendali mu!"
"Apa pun itu, tetap aku bersalah karena sudah merusak masa depanmu. Aku benar-benar menyesal." Kenan tertunduk.
Nara menggenggam tangan Kenan, "Sudahlah, semua telah terjadi, mau gimana lagi? Sekarang sebaiknya kita pikirkan masa depan kita, mau lanjut atau enggak?"
Kenan langsung mengangkat kepalanya menatap Nara, "Maksudmu? Jangan bilang kalau kau mau minta cerai lagi, aku enggak akan mau!"
"Bukan itu, maksudnya mau lanjut kuliah atau enggak," ralat Nara lalu terkekeh.
"Oh, aku pikir itu. Kau buat aku takut saja!" Kenan mengelus dada dengan lega.
***
__ADS_1