
Kenan menyeret Nara ke taman belakang, dia lalu menatap istrinya itu dengan kesal.
"Kenapa kau mengizinkan wanita lain ke kamar kita? Kau bahkan mengantarnya! Apa kau enggak takut dia menggoda ku?" protes Kenan.
Nara menggeleng, "Aku enggak peduli!"
"Benar kau enggak peduli? Kau tahu, tadi itu dia memeluk aku dan menyatakan cinta padaku. Untung saja aku ini setia!" sungut Kenan semakin kesal karena Nara bersikap acuh tak acuh padanya.
Rupanya tadi Kenan mendorong Jessi agar melepaskan pelukannya dan menyuruh wanita itu pergi, tapi Jessi enggak mau dan malah memaksa ingin masuk ke kamarnya. Kenan yang kesal dan arogan langsung membentak Jessi dan mengusir teman sekolahnya tersebut.
Nara termangu mengetahui hal itu, entah mengapa tiba-tiba dia menjadi kesal pada Jessi.
"Ra, aku tahu kau masih marah dan membenciku, tapi bagaimanapun juga kita ini suami istri, tolong peduli padaku sedikit saja! Bisa, kan?" pinta Kenan.
Nara masih bergeming, dia tak tahu harus berkata apa dan dia bingung harus bersikap bagaimana.
Melihat Nara cuma diam membisu, kesabaran Kenan mulai habis.
"Baiklah, kalau kau memang enggak peduli, aku akan ajak Jessi ke kamar kita! Jangan salahkan aku kalau kami khilaf!" ancam Kenan dan hendak pergi, tapi Nara spontan menarik lengannya.
"Jangan!"
Kenan berhenti dan tersenyum samar, dia akhirnya berhasil membuat istrinya yang cuek itu bereaksi.
"Jangan apa? Jangan sampai enggak jadi?" seloroh Kenan.
"Jangan ajak dia ke kamar!" ujar Nara pelan.
"Oke, dengan senang hati aku akan menuruti permintaan istriku ini." Kenan mencolek hidung Nara lalu terkekeh.
Wajah Nara bersemu merah, dia pun tertunduk malu. Nara merasa heran, kenapa saat Kenan mencolek hidungnya, jantungnya berdebar kencang.
Ponsel di saku celana Nara tiba-tiba bergetar, dia bergegas mengeluarkan telepon genggam pemberian Rendy itu dan bergeming menatap layarnya.
My Rendy calling ....
Kenan melirik layar benda pipih itu, darahnya sontak naik saat tahu Rendy yang menelepon.
Nara menatap Kenan, dia sedikit ragu untuk menjawab panggilan dari teman baiknya tersebut di hadapan sang suami. Namun karena ponsel itu terus bergetar, Nara pun menggeser tombol hijau pada layarnya.
"Halo, Ren," sapa Nara sembari melirik Kenan yang menatapnya dengan tajam.
"Kamu lagi ngapain, Ra?"
"Aku lagi .... eump ...." Nara tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Kenan keburu membungkam mulutnya dengan ciuman.
Nara berusaha mendorong dada Kenan agar bisa melepaskan diri, tapi suaminya itu justru menarik tengkuk belakangnya dan semakin memperdalam ciuman mereka. Sementara panggilan dari Rendy tetap terhubung.
Nara baru bisa menghirup udara setelah Kenan melepaskan tautan bibir mereka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" bentak Nara, bibirnya terasa kebas dan bengkak karena ulah Kenan tadi.
"Kan sudah aku bilang, kalau aku enggak suka kau bicara padanya di hadapan ku!" Kenan cemburu.
"Kalau begitu kenapa kau enggak pergi saja!" sungut Nara, dan Rendy mendengar semua pembicaraan mereka dari sambungan telepon.
"Kau mengusir aku dari rumahku sendiri?"
"Bodoh amat!" Nara bergegas masuk dan Kenan pun menyusulnya.
Namun begitu sampai di depan pintu, mereka bertemu dengan Windy yang menatap keduanya dengan sorot mata penuh amarah, teman-temannya sudah pulang semua setelah mengomentari pernikahan Kenan dan Nara.
"Puas kau sekarang, haa? Puas kau sudah mempermalukan Mama di depan teman-teman Mama!" hardik Windy.
"Ma, sudahlah!" Kenan berusaha menenangkan sang mama sebab dia tak ingin membuat masalah ini semakin besar.
"Kau sudah buat Mama jadi bahan gunjingan karena memiliki menantu kampungan seperti dia! Kau merusak nama baik Mama!" jerit Windy marah.
"Mama, cukup!" bentak Kenan, "berhenti menghina dan merendahkan Nara! Kalau Mama memang enggak suka dengan pernikahan kami, aku dan Nara akan angkat kaki dari rumah ini!"
Windy terkejut mendengar keputusan Kenan itu, Nara bahkan sontak menatap Kenan dengan mimik wajah kaget.
"Jangan coba-coba, Kenan! Mama enggak akan izinkan kau keluar dari rumah ini dengan dia!"
"Aku enggak perlu izin Mama! Aku sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidupku sendiri," balas Kenan dan langsung menarik Nara pergi dari hadapan sang mama.
***
Di dalam kamarnya, Kenan langsung menghubungi Hendra yang masih berada di kantor dan menceritakan semuanya. Nara merasa cemas, dia takut hal ini semakin memperkeruh keadaan dan menambah beban pikiran Hendra yang belakangan ini tampak stress.
Kenan mematikan panggilan kepada Hendra lalu menatap Nara, "Papa akan secepatnya mengurus kepindahan kita dan mengizinkan kita tinggal di penthouse nya."
"Kau yakin dengan keputusanmu ini?" Nara memastikan.
"Aku sangat yakin, aku enggak mau Mama terus-terusan menghina dan menyakitimu, aku enggak mau dia mengusik hidup kita," jawab Kenan, sebenarnya selain itu ada alasan lain, yaitu dia benci Nara masih berhubungan dengan Rendy. Jika mereka pindah, Nara tidak bisa sering-sering bertemu sahabat sekaligus rivalnya itu lagi, karena jarak penthouse ke sini cukup jauh.
"Kenapa kita enggak cerai saja? Jadi kau enggak perlu sampai keluar dari rumah ini karena aku."
Kenan bertambah kesal, "Cerai lagi! Cerai lagi! Memangnya kata-kataku yang waktu itu kurang jelas apa? Aku enggak akan menceraikan mu! Lebih baik aku keluar dari rumah ini daripada harus kehilangan istriku."
"Kau kan bisa cari istri lain yang jauh lebih baik dari aku, yang selevel denganmu. Pasti mamamu merestui," ujar Nara yang teringat kata-kata Windy waktu itu.
"Kenapa kau jadi ikut-ikutan seperti Mama, sih?" sungut Kenan jengkel.
"Jangan samakan aku dengan mamamu! Aku enggak sombong kayak dia!" bantah Nara kesal.
"Makanya berhenti minta pisah dariku dan jangan bahas perceraian lagi! Aku muak mendengarnya!" keluh Kenan marah.
"Kenapa kau jadi marah-marah padaku?"
__ADS_1
"Habis aku kesal, kenapa kau ingin sekali berpisah dariku? Padahal aku sudah sangat baik."
"Baik apanya? Kau itu selalu menyebalkan dan bikin emosi!" balas Nara.
"Kau juga! Selalu saja bikin aku kesal dan naik darah!" ujar Kenan tak mau kalah.
"Memangnya aku melakukan apa?"
"Kau enggak sadar kalau aku cemburu setiap kali kau dekat-dekat dengan Rendy? Apalagi saat dia menyentuhmu, rasanya aku ingin sekali mematahkan tangannya lalu aku buang ke kandang macan!" kesal Kenan dengan wajah masam.
"Jangan berlebihan, deh!" ujar Nara malas.
"Itu bukan berlebihan, tapi bukti kalau aku mencintaimu!"
Nara hanya memutar bola matanya kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
"Hei, aku serius!" pekik Kenan.
Tanpa keduanya sadari, hubungan mereka mulai membaik. Dengan adanya kejadian ini, Nara tak lagi mengabaikan Kenan seperti sebelumnya dan Kenan pun semakin leluasa menunjukkan perasaan dan hak-nya sebagai seorang suami. Dia bahkan bisa mengobrol lama dengan Nara walaupun ujung-ujungnya mereka berdebat, tapi Kenan senang, sebab dia tak lagi dianggap makhluk tak kasat mata oleh sang istri.
***
Malam harinya, Hendra sedang menegur dan menasihati Windy atas apa yang terjadi tadi siang. Tentu saja wanita angkuh itu tak terima, dia marah dan mencak-mencak.
"Dari awal Mama sudah enggak suka dengan dia, tapi Papa selalu saja membelanya, dan sekarang Kenan juga ikut-ikutan. Malah anak itu berani membentak Mama dan mempermalukan Mama di depan teman-teman Mama!" keluh Windy sambil berlinang air mata.
"Ma, suka enggak suka, Nara itu sudah menjadi menantu kita. Mama harus terima dia, hargai dan sayangi dia seperti anak sendiri. Papa sudah ulang-ulang mengatakan ini, tapi kenapa Mama enggak paham juga?"
"Sampai kapanpun Mama enggak akan bisa terima dia! Mama benci sama dia!" kecam Windy penuh emosi.
"Berarti keputusan Kenan sudah tepat untuk keluar dari rumah ini dan hidup berdua dengan Nara. Jadi Mama enggak perlu mencampuri rumah tangga mereka lagi."
Windy terkesiap, "Jadi Papa setuju Kenan keluar dari rumah ini?"
Hendra mengangguk, "Iya, Papa setuju. Papa yakin ini yang terbaik untuk mereka, selain bisa hidup mandiri, mereka juga bisa tenang tanpa gangguan dari Mama."
"Papa mau pisahkan Mama dari anak kita? Papa tega!" Windy kembali menangis.
"Ma, Papa enggak memisahkan Mama dari Kenan. Papa cuma ingin menyelamatkan rumah tangga dan kebahagiaannya. Itu saja!" bantah Hendra.
"Tapi Kenan enggak akan bahagia dengan perempuan kampung itu, Pa!"
"Kenan sudah dewasa, dia tahu mana yang terbaik untuknya. Kalau Mama menyayangi dia, tolong biarkan dia bahagia dengan pilihannya, dan jangan usik hidupnya. Lagipula Papa juga akan terus memantau mereka, Papa akan memastikan mereka hidup dengan baik dan bahagia."
"Ini benar-benar keterlaluan! Kalian semua sama saja!" Windy merajuk dan beranjak pergi, dia kesal karena tak ada yang memihak dirinya.
Hendra hanya mengembuskan napas sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya itu yang semakin hari semakin angkuh. Padahal dulu sewaktu mereka masih hidup sederhana dan belum sekaya ini, Windy itu wanita yang baik dan bersahaja. Namun begitu Kenan lahir dan mereka naik, Windy berubah drastis. Bahkan Kenan pun sampai terpengaruh karena didikan sang istri.
***
__ADS_1