
Semenjak saat itu, semuanya pun berjalan cepat. Rindi yang saat ini sedang di rias, terus saja mengeluarkan air mata.
Membuat Meta dan tim kerjanya kesulitan untuk merias wajah Rindi.
"Nona bisa kah anda menghentikan tangisan anda. Saya dan teman saya kesulitan untuk merias wajah anda nona." Kata Meta yang memberanikan diri meminta Rindi untuk berhenti menangis.
Karena sudah berbagai macam cara ia lakukan agar riasan yang ia lakukan tetap bagus walau Rindi menangis ternyata itu tak berhasil.
Alhasil ia tak punya pilihan lain selain memberanikan diri meminta Rindi untuk menghentikan tangisnya.
"Kau rias saja wajah ku sebisa mu. Aku tak bisa menghentikan tangis ku. Air mata ini keluar sendiri tanpa aku minta. Hiks.... hiks..." Kata Rindi membalas cuek ucapan Meta.
"Maaf nona karena saya sudah lancang. Baik, jika nona tak ingin menghentikan tangisnya. Kami akan berusaha lebih keras lagi agar riasan nona tetap maksimal." Kata Meta hanya bisa pasrah saat Rindi menolak permintaannya untuk tak menangis lagi.
"Ya sudah, terserah mu saja. Tapi, jangan paksa aku untuk memenuhi permintaan mu itu." Kata Rindi membalas ucapan Meta.
"Baik nona." Kata Meta membalas ucapan Rindi.
Meta pun hanya bisa menghela nafas. Satu setengah jam telah berlalu. Akhirnya meta dan timnya bisa merias Rindi dengan maksimal walau masih ada sedikit terlihat bahwa Rindi telah menangis.
Namun, hal itu masih bisa tersamarkan. Apalagi saat ini Rindi telah menghentikan tangisnya.
Entahlah ia kenapa bisa menghentikan tangisnya. Karena sedari tadi ia hanya terdiam.
Sementara di luar kamar nya, tepat di dalam rumahnya. Seseorang yang akan menikah dengan Rindi telah datang bersama keluarga besarnya.
Jangan bilang hanya Rindi yang tak ingin pernikahan ini di laksanakan. Karena kenyataannya calon yang akan menikahi Rindi pun masih tak menerima sepenuhnya dengan pernikahan ini.
Ia bahkan hanya bisa diam bersama ke dua orang tuanya yang duduk di samping kiri dan kanannya.
Acara pun di mulai dari sambutan, kemudian dilanjut dengan acara inti yaitu ijab kabul. Kemudian calon Rindi itu pun mulai menduduki tempat duduk dimana ijab akan dilaksanakan.
Karena terlalu tak pedulinya ia dengan keadaan sekitar sampai untuk menatap calon mertua yang saat ini menjabat tangannya pun ia hanya melihat sekilas.
__ADS_1
Lalu beralih pada tangannya yang sedang berjabatan itu.
Seorang penghulu pun mulai mengarahkan calon mertuanya untuk memulai ijab kabul.
Saat calon mertuanya telah selesai mengucapakan kalimat yang di arahkan penghulu.
Kini tiba lah saatnya calon Rindi yang harus melakukan ijab.
Dengan satu kali tarikan napas, calon Rindi pun mulai melakukan ijab. Begitu tenang dan sangat tidak terlihat terpaksa.
Bahkan begitu lancarnya tak perlu mengulang. Setelah selesai, semua orang pun serempak mengucapkan satu kata.
"Sah." Kata semua orang yang menyaksikan ijab tersebut.
Sejak saat itu, Rindi dan calonnya pun telah resmi menjadi suami istri.
Lalu Rindi yang masih di dalam kamar. Kini mulai keluar untuk menemui suami dan juga para tamu serta sanak saudara.
Ada satu tetes air mata yang lolos ketika ia melangkah kan kaki. Namun, itu hanya terjadi satu kali.
Karena setelah ia meneteskan air mata. Ia tak meneteskan air mata lagi.
Ia akan buang semua air mata itu. Karena percuma jika ia terus menangis semua tak akan bisa berbah. Statusnya bahkan sudah resmi menjadi istri.
Yang ia tak tahu siapa laki - laki yang menikahinya. Dan apakah ia mampu hidup berdua setiap harinya dengan orang tersebut.
Semua itu ia serahkan pada waktu. Walau waktu tak bisa menjamin ia akan bahagia atau malah sebaliknya.
Ia tak peduli dengan itu, karena saat ini ia hanya mampu menerima karena menolak pun ia akan tetap menerima.
Saat Rindi tepat berada di samping suaminya. Ia bahkan tak berani hanya sekedar menatap mata suaminya atau bahkan melihat keseluruh wajah suaminya.
Namun, karena di minta oleh pak penghulu agar mereka saling berhadapan. Lalu mereka berdua, kedua insan yang tak saling kenal dan tak saling memiliki perasaan harus di paksa memiliki hubungan.
__ADS_1
Kini mulai melihat satu persatu. Dan begitu pandangan mereka bertemu. Jelas terlihat keduanya sama - sama tercengang dan tak percaya.
Bahkan dalam diamnya mereka sama - sama mengeluarkan kekesalannya.
"Apa? gue nikah sama cowok tak punya perasaan itu. Ini nggak salah liat kan. Gue bukan karena lagi menbayangin wajahnya aja kan. Apa ini beneran nyata." Kata Rindi di dalam hatinya begitu terkejut karena suami yang ada di hadapannya itu adalah seseorang yang pernah membuat ia emosi bahkan sangat ia benci.
Ya, seseorang itu adalah Aldiano. Yang saat ini telah resmi menjadi suaminya. Karena beberapa menit lalu Aldiano telah mengucapkan ijab kabul. Dan di saksikan oleh banyak orang dengan satu kata saja yang secara serempak di dengar.
Karena hal itu lah saat ini mereka berdua dia satukan dengan sebuah hubungan yang tak bisa di katakan main - main.
Mau tak mau dan suka tak suka mereka berdua harus menerimanya. Karena jika mereka secara terang - terangan tak menerima.
Bukannya itu artinya mereka tak peduli pada kedua orang tua mereka. Yang dengan begitu yakinnya ingin menyatukan mereka berdua dalam ikatan ini.
Dan saat ini yang bisa mereka berdua lakukan hanya pura - pura bahagia. Walau kenyataannya tak sesuai dengan yang mereka rasakan.
Bahkan Rindi ingin sekali meledakkan emosinya saat ini juga.
Namun, ia memilih diam tak berkata apapun hanya bisa membiarkan Aldiano melakukan apa yang di ucapkan pak penghulu.
Mengulurkan tangan dan di sambut oleh Rindi dengan mencium tangan tersebut lalu ketika penghulu memintanya untuk mencium kening.
Ia tak bisa menolak dengan berat hati, ia pun membiarkan Aldiano mencium keningnya.
"Ternyata aku nikah sama gadis itu. Dunia ini ternyata sempit, aku kira tak akan bertemu dengan gadis ini lagi. Tapi nyatanya sekarang dia telah masuk dalam bagian hidup ku. Kamu jangan merasa senang, setelah ini lihatlah kejutan yang akan aku buat untuk mu. Berbahagia lah kamu saat ini. Karena kata - kata mu itu, dan pertemuan ku dengan mu. Pernikahan ini jadi terjadi. Aku tak akan pernah memaafkan mu untuk ini. Jadi jangan harap kamu akan bahagia setelah kamu masuk ke dalam rumah ku." Kata Aldiano di dalam hatinya.
Setelah semua nya selesai, kini Aldiano dan Rindi mulai duduk di pelaminan yang telah tersedia untuk mereka.
Sesi foto pun di mulai, Rindi yang malas untuk tersenyum kini harus tersenyum di sepanjang foto yang di lakukan.
Rasanya ia ingin sekali pergi dari tempatnya saat ini. Menutup pintu di kamar sana. Karena ia rasa berada di kamar sendirian lebih menyenangkan dari pada harus berpura - pura bahagia seperti ini.
Bersambung...
__ADS_1