Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 169 Terlonjak Kaget


__ADS_3

Baru saja Haikal akan memjawab ucapan Ryan. Tiba - tiba terdengar suara tawa yang mengelegar begitu memekakan telinga.


Siapa lagi kalau bukan Rindi orangnya yang tertawa begitu keras itu.


"Buaha... hahaha... hahaha... ucapan Ryan ini patut auty kasihin jempol. Kak Haikal memang seperti itu orangnya." Kata Rindi yang tertawa begitu keras.


Haikal yang tiba - tiba mendengar suara tawa Rindi sempat terkejut dan hampir saja jantungnya copot seketika.


Namun, beruntung jantungnya tak sampai copot seketika. Jika hal itu terjadi ia tak tahu apa yang akan terjadi pada tubuhnya.


Entah dia akan mati secara tiba - tiba atau bisa mendapat serangan jantung terlebih dulu lalu mati setelah tak bisa di tangani.


Membayangkan hal itu membuat Haikal bergidik ngeri. Apa lagi jika hal itu sampai terjadi pada dirinya.


Ia pasti akan shock berat, karena apa? karena ia masih muda, di tambah ia belum menikah dan memiliki keluarga.


Jika ia mati secara itu dengan penyebab mati mendadak, bukan kah hal itu sangat miris terdengar.


Walau sebenarnya kematian itu tak pernah ada yang tahu, karena semua itu sudah di atur dan tentunya akan terjadi pada setiap manusia.


Tapi, Haikal masih tak ingin kematiannya berakhir dengan mengenaskan karena mendengar suara tawa Rindi secara tiba - tiba tersebut.


Dan akhirnya saat ini ia pun mulai protes pada Rindi.


"Bisa gak, ketawa mu itu di kecil kan. Kamu memang nya gak takut jika tiba - tiba kakak mu ini mati mendadak karena mendengar tawa kamu yang memekakan telinga." Kata Haikal dengan penuh penekanan disetiap katanya saat ia membalas ucapan Rindi.

__ADS_1


Hal ini mungkin karena ia ingin melupakan kekesalannya akibat tawa Rindi yang membuatnya terlonjak kaget.


"Em... kalau hal itu terjadi pernikahan Rindi kan bisa saja di tunda. Jadi, tak apa jika kakak mati mendadak." Kata Rindi dengan santainya membalas ucapan Haikal.


"Apa kamu bilang? kamu setuju jika kakak mati secara mendadak. Ckckck... ckckck... ternyata kematian kakak telah kamu rencanakan. Bahkan sampai tega menjadi kan kematian kakak sebagai..." Kata Haikal membalas ucapan Rindi dengan mulut yang seperti di tambahkan sabun begitu banyak busa. Karena bicara saja tak ada jeda sama sekali.


Namun hal itu hanya candaan, karena mana mungkin hal itu bisa terjadi, jika hal itu kemungkinan bisa terjadi Haikal pasti sudah di bawa ke rumah sakit karena telah memakan sabun dan mengakibatkan mulutnya berbusa.


"Sudah lah kak, Rindi hanya bercanda ko. Tapi, ucapan Ryan memang ada benernya sih kak. Kakak itu pecundang, bisa di lihat sih dari sikap kakak. Udah bilang sayang ke Yeni tapi gak tau statusnya apa. Bukannya itu bisa di bilang pecundang ya. Berani banget gitu bilang sayang tapi belum ada status. Sungguh hal itu benar - benar seperti pecundang." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Kamu sekali lagi bilang kakak pecundang dengan bibir mu itu. Kakak tempelin uang bibir kamu biar bisa diem saat ini juga." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


Rindi awalnya tak terima dengan ucapan Haikal. Namun, seketika ia teringat dengan ucapan Haikal ketika ia mengulangi lagi sebagian ucapan Haikal.


"Denger uang aja langsung berubah ekspresi wajah nya. Padahal saat awal menjawab ucapan kakak begitu penuh emosi dan terkesan marah - marah. Tapi, setelah kata uang itu terdengar, baru deh langsung berubah tuh ekspresi wajah dan suaranya jadi beda. Kamu nih kenapa suka sekali dengan uang." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


"Hehehe... kakak bisa aja. Rindi jadi malu. Kalau kakak tau ya, uang itu bisa Rindi belikan apa saja. Jadi, Rindi tentu saja suka uang. Kalau kakak gak percaya Rindi tanya juga nih ke Yeni. Tapi, sepertinya Rindi gak tanya ke Yeni juga jawabn Yeni pasti sama. Uang itu..." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Sudah lah kakak bosen dengar penjelasan kamu mengenai uang." Kata Haikal yang tak mau mendengar lagi ucapan Rindi sehingga ia pun memotong ucapan Rindi.


"Tega bener sih kak, main potong - potong aja ucapan Rindi. Kalau makan buah semangka sih enak di potong dulu baru di makan. Kalau ucapan kan jadi nya gak enak banget gitu. Tiba - tiba kakak potong gitu aja." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Kalau gak enak, tinggal kamu buat enak aja. Dikasih toping mungkin biar lebih enak. Gak perlu protes sana sini yang ujungnya bikin kakak tetep pusing." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


"Kalau jus atau minuman sih enak di kasih toping coklat atau sejenisnya. Lah ucapan di kasih toping apa biar enak. Di tambah di hentikan gitu aja ucapannya memangnya bisa di kasih toping." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu bisa cari tahu sendiri gimana caranya nanti. Kakak pusing denger suara kamu lagi. Jadi, tolong kamu diem." Kata Haikal membalas ucapan Rindi sambil meminta Rindi untuk diam.


"Hem... kalau Rindi gak mau diem gimana?" Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Ya sudah tak masalah. Tapi akan kakak doakan kamu..." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


Dengan cepat Rindi pun langsung memotong ucapan Haikal. Karena ia khawatir doa yang akan Haikal lontarkan untuknya sangat tidak berperasaan atau yang lebih tepatnya doa yang kurang baik.


"Sudah lah kak, tak perlu berdoa hal aneh mengenai Rindi. Rindi akan diem, sesuai permintaan kakak." Kata Rindi yang memotong ucapan Haikal.


"Hem... sayang banget doa yang kakak akan keluarkan malah kamu potong. Padahal ya, doa nya kakak buat kamu barusan biar kamu bisa..." Kata Haikal yang lagi dan lagi di potong ucapannya oleh Rindi.


"Bisa apa?" Kata Rindi yang memotong ucapan Haikal.


"Bisa diem seketika dan tak bicara lagi. Tapi, beruntung sekali belum juga kakak lontarkan doa nya kamu sudah berinisiatif sendiri mengabulkan doa tersebut." Kata Haikal membalas dengan santai ucapan Rindi.


Namun, Rindi yang mendengar ucapan Haikal seketika menyesali ucapannya sendiri.


"Tau kaya gitu doa nya, Rindi gak mungkin mau bilang kaya gitu ke kakak. Hem... nyeselnya Rindi." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Hahahaha... makannya jadi orang jangan suka potong - potong ucapan. Bukan nya tadi kamu bahas hal itu. Kenapa kamu juga malah potong ucapan kakak. Bener - bener di luar nalar." Kata Haikal membalas ucapan Rindi dengan tertawa.


"Itu beda lagi. Kalau potong ucapan kakak kewajiban buat Rindi. Karena setiap ucapan kakak itu bisa membuat Rindi naik darah." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2