Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 40.


__ADS_3

Nara dan Rendy melangkah memasuki kafe sambil bergandengan tangan, perhatian semua orang langsung tertuju ke pasangan yang mengenakan baju senada itu. Mereka terkejut melihat keduanya datang bersama, apalagi malam ini Nara terlihat begitu cantik dan menawan dengan balutan dress berkerah Sabrina yang memamerkan pundak putih mulusnya serta make up flawless yang membuat wajahnya bak boneka.


Dari tempat duduknya Kenan beserta sahabat-sahabatnya yang lain juga memperhatikan kedatangan dua insan itu.


"Itu Rendy dan si cupu, kan?" Ivan memastikan.


"Iya, benar. Wah, si cupu cantik banget malam ini!" puji Radit.


Sementara Jessi hanya menatap keduanya dengan sinis, dia iri karena Nara menjadi pusat perhatian semua orang.


"Itu Rendy sudah datang, aku ke sana dulu." Han langsung beranjak meninggalkan Kenan dan menghampiri Rendy.


Kenan hanya menatap tajam keduanya, dia tak menyangka Rendy akan datang bersama Nara. Dan yang paling membuat Kenan tak percaya, wanita yang menjadi istrinya itu tampil begitu cantik serta elegan malam ini.


Han mendekati Rendy dan Nara sambil mengulurkan tangan, "Aku pikir kau enggak datang."


Rendy menjabat tangan Han, "Mana mungkin aku enggak datang. Selamat ulang tahun, ya."


"Thank you," balas Han, lalu beralih memandang Nara yang masih grogi, "hai, kau cantik sekali malam ini."


Nara tersenyum kaku, "Terima kasih. Selamat ulang tahun, ya."


"Thank you, cantik."


"Ini hadiah dari kami berdua." Rendy menyodorkan kotak kecil berwarna hitam, Nara sontak menatap Rendy, jelas-jelas dia tak ada andil di hadiah itu.


"Wah, thank you, Bro. Harusnya enggak usah repot-repot bawa hadiah." Han menerima hadiah itu dengan senang hati.


Rendy hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.


"Kalau begitu mari duduk!" ajak Han.


Nara dan Rendy mengekor di belakang Han yang berjalan ke arah meja tempat Kenan duduk sambil menatap mereka dengan tidak suka.


"Kalian duduk di sini, ya!" pinta Han, dia sengaja ingin melihat reaksi Kenan jika bertemu Rendy, sebab dia curiga ada sesuatu di antara kedua sahabatnya itu.


Melihat ada Kenan, Nara menarik tangan Rendy, dia tak ingin berada satu meja dengan suaminya itu.


Tapi Rendy justru mendekatkan bibirnya ke telinga Nara dan berbisik, "Abaikan dia! Bersikaplah biasa saja!"

__ADS_1


Kenan yang melihat itu hanya bisa mengeraskan rahangnya, lagi-lagi dia kesal melihat Rendy terlalu dekat dengan Nara. Apalagi saat dia menyadari jika keduanya saling bergandengan tangan, emosi Kenan mulai terpancing.


Rendy melepas genggamannya dan menarik kan kursi untuk Nara, "Silakan duduk!"


Dengan gugup dan canggung Nara duduk di kursi yang Rendy tarik untuknya tepat di depan Kenan yang terus menatap tajam dirinya. Rendy pun kemudian duduk di samping Nara dengan jarak yang cukup dekat.


Dari kejauhan, Jessi, Ivan dan Radit juga masih memperhatikan mereka. Begitu juga teman-teman yang lain. Malam ini Rendy dan Nara seolah-olah menjadi sorotan.


Seorang waiters datang dan menghidangkan minuman serta makanan di hadapan mereka.


"Silakan," ujar Han.


Suasana cukup canggung dan tegang, Baik Kenan maupun Rendy tak ada yang mau bertegur sapa apalagi memulai pembicaraan. Kenan sebenarnya sudah sangat kesal, ingin sekali rasanya dia pergi dari sini. Tapi jika itu dia lakukan, teman-temannya dan semua orang akan curiga jika dia ada masalah dengan Rendy. Dan bisa-bisa rahasia hidupnya dengan Nara terbongkar sekarang.


"Jadi gosip itu benar, kan? Kalian memang punya hubungan? Buktinya kalian datang berdua dan memakai baju couplean lagi," selidik Han.


Rendy tersenyum sambil melirik Kenan, "Doakan saja! Semoga suatu saat kami berjodoh."


Nara spontan menatap Rendy, dia terkejut mendengar jawaban pemuda itu.


Sadar jika Nara sedang mengawasi dirinya, Rendy menoleh dan tersenyum manis pada wanita itu. Keduanya pun saling pandang sesaat, sebelum akhirnya Nara tertunduk malu dengan wajah merona.


Kenan yang melihat interaksi keduanya semakin merasa panas, dia mengepalkan tangannya dengan kuat demi menahan emosinya yang kian naik.


Acara pun berjalan, sambil ditemani lantunan musik yang dibawakan oleh band pengisi acara, semua orang saling bercengkerama dan bersenda gurau satu sama lain. Ini bukan acara ulang tahun dengan kue tart, balon dan lagu happy birthday, tidak ada adegan tiup lilin atau pun potong kue. Ini lebih mirip acara reuni sekaligus perpisahan untuk Han. Mereka semua bebas menikmati acara tersebut dengan cara mereka, karena Han memang mengkonsep nya seperti itu.


Nara tak banyak bicara, sejak tadi dia lebih sering tertunduk demi menghindari tatapan tajam Kenan yang seolah menembus dirinya, dia juga merasa canggung karena sejak tadi menjadi bahan perhatian. Sementara Rendy asyik mengobrol dengan Han dan teman-teman lainnya yang kini ikut bergabung di meja mereka, termasuk Jessi.


Sesekali Rendy memandang Nara dan melemparkan senyuman hangat. Kenan benar-benar merasa muak dengan semua itu, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi yang sudah meletup-letup di dalam dirinya.


"Are you Ok, Ken? Kenapa diam saja?" tanya Jessi sok perhatian karena sejak tadi Kenan tak bicara sama sekali.


"Hem." Kenan hanya berdeham tanpa memandang Jessi, dia malas meladeni wanita itu.


Melihat sikap dingin Kenan, Jessi merasa kesal, tapi dia berusaha untuk tenang.


Karena malam semakin larut, udara pun semakin sejuk, apalagi pendingin ruangan di kafe itu sangat banyak, Nara yang tak terbiasa merasa kedinginan. Dia sampai gemetaran dan mendengus sambil memeluk dirinya sendiri. Kenan terus memperhatikan Nara, dia tahu wanita tersebut pasti kedinginan dengan pakaian yang lumayan terbuka seperti itu.


Entah apa yang mendorong Kenan, dia lantas mengambil telepon genggamnya lalu mengirimkan pesan ke Nara.

__ADS_1


"CEPAT PULANG! DI SINI DINGIN, NANTI KAU BISA SAKIT LAGI."


Rendy langsung merogoh ponsel Nara yang dia simpan di saku celana, karena wanita itu tidak membawa tas, jadi ponsel tersebut dititipkan padanya. Tak sengaja dia melihat notifikasi pesan dari Kenan di layar ponsel Nara dan sontak memandang wanita itu.


"Kamu kedinginan?" tanya Rendy.


Kenan terkesiap saat tahu ponsel istrinya itu ada pada Rendy.


"Iya, Ren. Dingin banget," adu Nara.


"Kalau begitu sekarang kita pulang!"


"Tapi acaranya kan belum selesai."


"Enggak apa-apa, kita pulang duluan."


"Ada apa, Ren?" tanya Han.


"Bro, aku cabut duluan, ya? Nara kedinginan, kasihan soalnya dia baru sembuh sakit," terang Rendy sedikit cemas.


"Tapi, Ren. Acaranya belum selesai, masa kau pulang?" protes Han, sebenarnya dia masih ingin bicara pada Rendy dan Kenan setelah acara ini selesai.


"Sorry, Bro. Besok aku ke rumah mu."


"Ya sudahlah." Han pasrah.


Rendy menarik tangan Nara dan menggandengnya, Kenan yang melihat semua itu tambah naik darah.


"Kami duluan." Rendy dan Nara meninggalkan Kenan dan semua orang.


"Kayaknya Rendy sayang banget dengan si cupu." Jessi berkomentar sambil memandangi kepergian dua insan tersebut.


"Iya, sedetikpun dia enggak mau jauh dari si cupu," sambung Ivan.


"Maklumlah, namanya juga lagi kasmaran," timpal Han.


Pembicaraan teman-temannya itu kian membuat Kenan meradang, dia lantas beranjak dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja, "Aku cabut dulu!"


"Loh, Ken! Kau mau ke mana?" pekik Han heran.

__ADS_1


"Kenan kenapa?" tanya Ivan bingung dan Han hanya menggelengkan kepala.


***


__ADS_2