
Siang ini Windy mengundang teman-teman arisannya ke rumah, para wanita sosialita berkumpul dan mengobrol dengan heboh, mereka juga saling pamer suami, anak dan barang-barang mahal milik mereka.
"Hai, selama siang," sapa seorang wanita cantik bernama Merry yang tak lain adalah ibu sambung Jessi.
"Hai, Mer." Windy langsung menyambut teman arisannya itu, "Jessi mana? Enggak ikut?"
"Sebentar lagi dia sampai, tadi dia ada urusan sebentar," sahut Merry.
"Kalau begitu silakan duduk."
Merry pun segera bergabung dengan teman-teman arisannya yang lain. Sementara Windy bergegas menemui Nara di taman belakang.
"He, cepat ambilkan minuman untuk teman-teman ku!" pinta Windy angkuh.
Nara yang sedang bermain dengan Rena sontak menoleh mertuanya itu, "Tapi kan ada Bi Ani, Bu?"
"Bi Ani juga sibuk, apa salahnya kau membantu?"
"Ya sudah, deh!" Nara pun beranjak dan mematuhi perintah mertuanya itu sebab dia kasihan pada Bi Ani.
Nara menemui Bi Ani di dapur, "Mana yang mau diantarkan ke depan, Bi?"
"Eh, enggak usah Mbak, biar Bibi saja yang antar," tolak Bi Ani sungkan.
"Enggak apa-apa, Bi. Biar aku saja, Bibi bisa kerjakan yang lain."
"Mbak Nara yakin?"
"Iya, Bi."
"Kalau begitu tolong antarkan yang ini, ya, Mbak!" Bi Ani menunjuk nampan yang berisikan delapan gelas jus jeruk.
Nara mengangkat nampan itu dan bergegas mengantarkannya ke ruang tamu.
Perhatian semua orang langsung tertuju pada Nara saat dia berjalan mendekati mereka.
"Itu siapa, Win?" tanya Merry.
"Pembantuku," jawab Windy.
Nara tersinggung mendengar jawaban Windy, namun dia tak menggubrisnya, karena ini bukan yang pertama kali mertuanya itu menyebut dirinya pembantu. Dia menghidangkan satu per satu gelas berisi jus jeruk itu ke hadapan teman-teman Windy yang masih menatapnya.
"Masih muda banget, lumayan cantik lagi. Kamu enggak takut kalau anak atau suami kamu kepincut sama dia," bisik seorang wanita bermata sipit.
"Dia bukan level anak dan suami aku, mana mau mereka sama cewek kampung seperti ini," sindir Windy sinis.
Nara terluka dan kesal mendengar sindiran Windy itu, tapi dia sadar apa yang Windy katakan itu benar. Dia memang cewek kampung dan tak level dengan keluarga terhormat ini.
Di saat bersamaan, Jessi pun datang, "Halo, Tante."
"Hai, sayang. Akhirnya kamu datang juga." Windy langsung memeluk Jessi dan cipika-cipiki.
Melihat kedatangan Jessi, Nara pun buru-buru menghidangkan minuman tersebut agar bisa segera pergi dari sana.
"Kenan mana, Tan?"
Nara tertegun mendengar nama Kenan disebut, namun dia berusaha tetap cuek dan segera beranjak saat selesai meletakkan gelas terakhir.
"Ada di kamarnya, sana kamu naik saja!" ucap Windy.
__ADS_1
"Tapi aku enggak tahu kamarnya, Tan," keluh Jessi.
"He, antar Jessi ke kamar Kenan!" titah Windy, membuat langkah Nara terhenti.
Nara tak menjawab, dia mendadak takut jika Jessi ke kamar Kenan, kemungkinan besar pernikahan mereka akan terbongkar dan dia tak ingin orang-orang menilainya buruk.
"Kau enggak dengar? Kenapa diam saja?" sungut Windy karena melihat Nara terdiam.
"Iya, Bu," sahut Nara.
"Ya sudah, cepat antar Jessi!"perintah Windy.
Nara mengangguk dan bergegas menaiki anak tangga.
Jessi pun mengikuti Nara dan berjalan di belakang wanita itu, dia memperhatikan penampilan Nara yang terlihat lusuh, kurus dan pucat.
"Kau pasti susah banget, ya? Sampai harus jadi babu seperti ini? Mana di rumah teman sendiri lagi. Ups ... aku lupa kalau Kenan itu bukan temanmu," ejek Jessi lalu terkekeh.
Nara tak menggubris hinaan wanita menyebalkan itu, walaupun sebenarnya dia sangat kesal.
"Satu-satunya yang mau berteman denganmu kan cuma Rendy, eh ... tapi sebenarnya kalian itu cuma berteman atau benaran pacaran, sih?" lanjut Jessi.
"Ini kamarnya!" ucap Nara saat mereka tiba di depan pintu kamar Kenan, dia sama sekali tak menanggapi ocehan Jessi yang membuat dia dongkol.
"Jadi ini kamarnya, ya?" Jessi memastikan.
Nara tak menjawab dan langsung pergi dari hadapan Jessi.
"Hei, kau belum jawab pertanyaan ku!" teriak Jessi saat sadar Nara meninggalkannya begitu saja.
"Dasar si cupu enggak punya sopan santun! Menyebalkan!" umpat Jessi kesal karena dicueki oleh Nara.
Ceklek.
Kenan membuka pintu, dan terkejut mendapati Jessi berdiri di depan kamarnya, "Kau? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kenan, tadi Mama kamu mengundang aku ke sini dan sewaktu aku nanyain kamu, dia nyuruh aku langsung ke kamar kamu," terang Jessi.
"Terus dari mana kau tahu kamar aku?" tanya Kenan ketus.
"Dari si cupu, tadi dia yang antar aku ke sini," jawab Jessi jujur.
Kenan terkesiap, dia tak menyangka Nara bersedia mengantarkan wanita lain ke kamar untuk bertemu dirinya. Apa wanita itu tak berpikiran macam-macam atau cemburu sama sekali?
"Aku boleh masuk ke kamar kamu enggak?" tanya Jessi sambil melirik dalam kamar Kenan.
"Enggak!"
"Ayolah, Ken. Aku boleh masuk, ya? Please!" rengek Jessi.
"Sebaiknya sekarang kau turun, aku mau istirahat!" Kenan yang kesal hendak menutup pintu, tapi Jessi menahannya.
"Kenan tunggu dulu!"
"Ada apa lagi?" Kenan membuka kembali pintu kamarnya.
"Aku mohon jangan begini! Berhentilah memusuhi aku seperti ini! Aku sedih, Ken." Jessi tiba-tiba menangis terisak-isak.
Kenan jadi merasa tak enak, "Sudahlah, Jess! Aku mau istirahat, aku lelah."
__ADS_1
Tiba-tiba Jessi memeluk Kenan, "Aku mencintaimu, aku sakit kamu abaikan begini!"
Kenan mematung, dia terkejut Jessi memeluknya dan menyatakan cinta padanya.
Sementara itu di ruang tamu, Nara sedang berjongkok menghidangkan cemilan di hadapan Windy dan teman-temannya, wanita itu benar-benar diperlakukan seperti pembantu.
Windy mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya itu, namun sesekali dia melirik Nara sinis. Dengan sengaja dia menyenggol gelas di dekat Nara hingga jatuh ke lantai dan pecah, jus jeruk seketika berserakan di lantai. Suasana seketika hening dan tatapan semua orang langsung tertuju pada Nara.
"Astaga! Kau ini gimana, sih? Enggak becus banget jadi pembantu!" bentak Windy.
Nara terhenyak dan kebingungan, "Tapi saya enggak melakukan apa-apa!"
"Terus gimana gelas itu bisa jatuh kalau kau enggak melakukan apa-apa?" sungut Windy.
"Gini kalau pembantunya masih remaja, kerjanya asal-asalan," sela Merry sinis.
"Iya, mending pecat saja, Win! Cari yang lebih berpengalaman," sambung seorang wanita lagi.
Nara lagi-lagi terluka mendengar ucapan Windy dan wanita-wanita itu. Dia tahu pasti mertuanya itu sengaja ingin mempermalukan dia dan membuat masalah.
"Sekarang cepat bersihkan!" pinta Windy angkuh.
Nara yang tak ingin memperkeruh suasana pun mengalah, dia mengutip pecahan gelas tersebut satu persatu. Namun Jessi tiba-tiba berlari menuruni anak tangga sambil menangis, membuat semua orang terkejut dan bingung.
"Kamu kenapa, Jess?" tanya Merry saat anak tirinya itu memeluk dirinya.
"Sayang, ada apa?" Windy langsung menghampiri Jessi.
"Kenan membentakku dan mengusir aku," adu Jessi sambil tersedu-sedu.
Semua orang tercengang mendengarnya, begitu juga dengan Nara. Dia penasaran kenapa sang suami melakukan hal tersebut.
"Win, apa-apaan ini? Kenapa Kenan seperti itu pada Jessi?" protes Merry yang tak terima putrinya diperlakukan begini.
Windy bingung dan merasa tak enak hati.
"Karena dia memaksa masuk ke kamarku," sela Kenan yang melangkah turun dengan santai, namun emosinya naik ketika melihat Nara berjongkok sambil memungut pecahan kaca.
Semua orang sontak menoleh ke arahnya, termasuk Nara.
"Memangnya kenapa? Mama yang suruh dia ke kamarmu," sahut Windy.
"Ma, apa pantas dia masuk ke kamarku?" tanya Kenan sembari berjalan mendekati Nara.
"Tapi kalian kan enggak ngapa-ngapain," imbuh Windy.
"Tetap saja enggak pantas, karena aku sudah punya istri," balas Kenan, dia lalu menarik tangan Nara, "Tinggalkan itu! Kau istriku, bukan pembantu!"
Lagi-lagi semua orang dibuat terkejut dengan kata-kata Kenan itu, termasuk Nara sendiri. Jessi bahkan langsung berhenti menangis dan menatap Kenan tak percaya.
"Kenan! Apa-apaan kau ini?" bentak Windy, dia mendadak panik dan gugup.
"Tante, itu enggak benar, kan?" Jessi memastikan.
"Itu benar, aku dan Nara sudah menikah. Ini buktinya!" sahut Kenan sambil menunjukkan dua buah buku nikah.
Langsung terdengar desas-desus, semua teman-teman arisan Windy seketika bergunjing. Windy benar-benar kesal dan malu dengan ulah putranya itu. Sementara Jessi merasa terluka dan patah hati mengetahui kenyataan mengejutkan ini.
"Ayo ikut aku!" Kenan lantas menarik Nara pergi dan wanita itu hanya menurut.
__ADS_1
***