
"Hahahaha... iya, iya kamu ada di sini." Meledak sudah tawa keluar dari bibir ibu.
"Loh bun, ko malah ketawa sih." Kata Haikal yang heran dengan reaksi bunda.
Sehingga ia bertanya langsung pada bunda untuk menghilangkan rasa penasaran.
Bunda yang di tanya seperti itu, kini mulai kebingungan mencari alasan untuk menjawab ucapan Haikal.
"Em... itu anu... bunda lucu aja denger ucapan kamu sama mamah kamu. Kalian berdua nih kalau udah berdebat pasti gak mau ada yang kalah. Persis seperti bunda sama Rindi kalau lagi berdebat, makannya barusan bunda teringat akan hal itu. Jadi nya langsung ketawa." Kata bunda akhirnya menemukan alasan untuk membalas ucapan Haikal.
"Bunda gak lagi bohong kan." Kata Haikal merasa curiga dengan ucapan ibu barusan.
Karena bisa di lihat dari ekspresi wajah ibu yang terlihat kurang meyakinkan menurut Haikal.
"Kamu memangnya gak percaya ucapan bunda. Lalu ucapan kamu barusan yang bilang bunda selalu benar hanya omong kosong belaka dong. Kalau ternyata kamu nggak yakin dengan ucapan bunda." Kata ibu memutar balik kan keadaan.
"Eh... nggak bun, maksudnya Haikal gak kaya gitu. Bunda salah paham." Kata Haikal seketika langsung cepat - cepat menjelaskan.
"Tapi, bunda rasa ucapan bunda ada benernya deh. Kamu jujur aja." Kata bunda yang merasa ucapannya menang benar.
"Aduh gimana nih? Gue kejebak ucapan sendiri lagi. Ini kaya senjata makan tuan. Sekarang jawab apa lagi. Mana setiap ucapan bunda itu memang benar lagi. Kalau gue bilang iya. Ntar, reaksi bunda akan gimana. Tapi, kalau di jawab nggak juga ntar reaksi bunda gimana. Ah... mumet nya nih kepala." Kata Haikal yang saat ini kebingungan sendiri sehingga ia pun sempat berbicara di dalam hatinya sebelum membalas ucapan ibu.
Sementara ibu yang melihat Haikal hanya terdiam seperti patung, kini mulai bosan karena terus di abaikan.
Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Namun, sebelum itu terjadi suara Haikal pun akhirnya terdengar.
"Em... maaf deh bun, barusan Haikal udah curiga sama ucapan bunda. Sementara bunda kan memang selalu benar kalau dalam berucap. Sekali lagi Haikal minta maaf." Kata Haikal akhirnya mengakui kesalahannya dan tak lupa langsung meminta maaf pada ibu.
"Kemana aja, ko baru minta maaf." Kata ibu membalas ucapan Haikal.
"Ini kenapa coba, pertanyaan bunda sama mamah ko kompakan. Haikal kan udah bilang. Kalau Haikal gak kemana - kemana. Buktinya saat ini masih berdiri di sini." Kata Haikal membalas ucapan ibu.
"Tubuh kamu memang di sini, tapi pikiran kamu ada di tempat lain. Dan mamah ataupun bunda tanya kemana aja. Bukan mengenai tubuh kamu melainkan pikiran kamu. Kemana aja sampai baru konek dengan ucapan mamah sama bunda." Kata tante Ratna membalas ucapan Haikal.
"Ya ampun mah, sedari tadi pikiran Haikal juga ada di sini. Memangnya Haikal bawa kemana pikiran Haikal. Mamah nih ada - ada aja." Kata Haikal membalas ucapan tante Ratna.
"Masa bodo terserah mu saja. Pusing lama - lama kalau mamah jelasin. Lagian kamu juga gak paham - paham." Kata tante Ratna akhirnya menyerah.
"Mamah ko gitu sih. Bunda jangan seperti mamah ya. Please." Kata Haikal membalas ucapan tante Ratna sambil memelas pada ibu dengan mengatupkan kedua telapak tangannya sambil mengucapakan kata please.
"Ya ampun hidup Haikal ko gini - gini amat ya. Baik mamah ataupun bunda sampai bersikap kaya gini sama Haikal. Sedih nya Haikal." Kata Haikal membalas ucapan ibu bahkan saat ini ekspresi wajah nya di buat sesedih mungkin.
Di saat itu datanglah Ryan dengan membawa coklat di tangannya.
Seketika ia terkejut saat melihat Haikal yang hampir meneteskan air mata dari kebohongannya tersebut.
Naluri kasihan pun kini datang dari diri Ryan. Sehingga coklat yang ada di tangannya ia sodorkan tepat di hadapan Haikal. Sambil berkata "Kak Haikal jangan nangis lagi ya. Ini Ryan kasih coklat. Jadi, jangan nangis lagi ya."
Demi apapun saat ini Haikal ingin berteriak pada dirinya sendiri yang memilih berekspresi menyedihkan. Sehingga kini ia terjebak dengan ekspresi nya.
__ADS_1
"Em... makasih ya Ryan, tapi kakak rasa coklatnya untuk Ryan saja. Lagian kakak gak lagi nangis ko." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Kakak jangan bohongin Ryan ekspresi wajah kakak aja terlihat sedih dan hampir meneteskan air mata. Jadi, ini ambil aja coklatnya kak. Habis itu kakak jangan nangis lagi." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
"Pinter banget sih membalikan keadaan. Adik siapa sih kamu. Ko pinter banget ngelobinya." Kata Haikal di dalam hati.
Lalu setelah itu, ia teringat bahwa Ryan adalah adik nya sendiri. Walau bukan adik kandung tapi Haikal tetap menyayangi Ryan layaknya seperti adik kandung sendiri.
"Em... gue ko mendadak amnesia dia kan adik gue. Ya secara otomatis gue sering ajarin dia ngelobi. Jadi, sekarang balik lagi dong senjata makan siang. Eh... maksudnya makan tuan." Kata Haikal yang melanjutkan lagi ucapannya.
"Kak Haikal, kak, kak, ya ampun apa jangan - jangan kak Haikal telah mati. Mamah, bunda liat kak Haikal sudah mati. Di panggil, panggil Ryan nggak jawab. Bukannya itu artinya kak Haikal udah mati. Coba mamah sama bunda lihat apa bener kak Haikal sudah mati." Kata Ryan seketika bertanya pada tante Ratna dan bunda. Bahkan ucapannya tersebut membuat Haikal yang sibuk berbicara di dalam hatinya tersadar sepenuhnya.
"Apa? kamu bilang kakak sudah mati. Mana ada seperti itu. Kamu lihat sendiri bukan mata kakak aja masih mengerjap - ngerjap. Mana ada di bilang mati." Kata Haikal yang langsung berkata pada Ryan dengan terkejut.
"Abisnya Ryan kesal sama kakak, sudah Ryan panggil - panggil tapi gak ada yang kakak jawab satu pun. Akhirnya Ryan sengaja bilang kakak sudah mati ternyata kakak langsung bicara lagi. Itu artinya Ryan menang karena berhasil buat kakak kembali menjawab ucapan Ryan. Yey... seneng nya Ryan." Kata Ryan memberitahukan Haikal apa tujuannya mengatakan Haikal telah mati.
"Itu artinya kakak di bohongin kamu. Siapa yang ajarin kamu buat bohong." Kata Haikal membalas ucapan Ryan sambil bertanya pada Ryan.
Dengan cepat Ryan pun langsung menunjuk tubuh Haikal lalu mengeluarkan suaranya.
"Kakak, kakak yang ajarin Ryan berbohong. Sehingga sekarang Ryan bisa bohongin kakak. Hahahaha..." Kata Ryan dengan begitu yakin saat menjawab ucapan Haikal bahkan ia pun tertawa begitu keras setalah selesai berbicara.
Melihat tatapan mematikan dari tante Ratna, Haikal yang ingin membantah pun urung ia lakukan. Sehingga saat ini ia hanya bisa memeluk Ryan dalam pelukannya begitu erat sehingga Ryan tak bisa melepaskan diri.
"Ah... lepas kak, lepas Ryan gak mau di peluk kakak." Kata Ryan yang meronta ingin di lepaskan dari pelukkan Haikal.
__ADS_1
Bersambung...