Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 202 Tanpa Sedikit Pun Curiga


__ADS_3

Rindi yang belum menyadari dengan siapa ia berbicara. Kemudian dengan cepat mengambil kunci tersebut dari tangan orang yang baru saja bertanya pada dirinya.


"Ah... iya aku cari ini." Kata Rindi yang saat ini telah mengambil kunci tersebut.


"Ngomong - ngomong dimana kamu menemukan kunci ini." Kata Rindi yang sibuk memutar kunci untuk membuka gerbang belakang tanpa sedikit pun curiga.


"Di dekat kamar nona, em... boleh saya tau nona. Nona kenapa membawa koper dan pergi di malam hari seperti ini." Kata seseorang itu membalas ucapan Rindi.


"Aku lagi kabur." Kata Rindi yang tanpa basa -basi ia pun langsung memberitahu orang tersebut.


Namun, ucapannya itu membuat ia kembali tersadar dan langsung melihat ke arah seseorang yang memberikan ia kunci gerbang itu.


Di lihat lah dari ujung kaki sampai ujung kepala. Orang tersebut berpakaian serba hitam, tubuh kekar, tinggi dan berotot.


Sungguh saat ini rasanya Rindi ingin cepat lari dan meninggalkan orang tersebut. Apalagi setelah melihat wajah sangar dan tajamnya.


Membuat hati berdebar - debar ingin kabur saat itu juga.


"Ka... mu siapa?" Kata Rindi bertanya pada seseorang itu.


"Nona tidak perlu tau saya siapa. Tapi saya perlu tau, nona kenapa pergi membawa koper dan ingin kabur." Kata seseorang itu yang malah bertanya balik.


"Sudahlah kamu diam saja. Saya mau pergi." Kata Rindi yang langsung membuka gerbang yang telah ia buka dengan kunci.


"Maaf nona, saya tidak bisa membiarkan nona pergi begitu saja. Jika nona masih nekat ingin pergi. Jangan salah kan saya, saat nanti langsung berbuat kasar pada nona." Kata seseorang itu langsung menutup kembali gerbang yang Rindi buka.


"Kamu siapa berani melarang gue untuk pergi. Enyahlah, gue mau pergi dan jangan sampai lo nyesel karena tak mau menyingkir." Kata Rindi yang mulai emosi.


"Mari nona kembali lagi ke kamar nona." Kata seseorang itu meminta Rindi untuk kembali ke kamar dan tak menuruti ucapan Rindi.


"Gue nggak mau, gue mau pergi. Awas lo jangan halangi gue. Bug..." Kata Rindi membalas ucapan seseorang itu dan langsung meninju perut seseorang itu.


Terlihat wajah orang itu yang mulai memerah. Entah karena pukulan Rindi atau ia sedang menahan emosi. Tapi yang jelas ia begitu sangat menyeramkan saat Rindi melayangkan tinju nya ke arah perut.

__ADS_1


"Nona, sebelumnya saya sudah peringatkan nona dengan cara baik - baik. Namun, nona malah tak mau menuruti. Sehingga saat ini, maaf saya langsung berbuat kasar." Kata seseorang itu yang langsung menarik tangan Rindi dengan kencang dan membawa nya untuk ikut bersama seseorang itu.


"Hey... lepasin tangan gue, lo jangan tarik tangan gue seperti ini. Kalau lo terus seperti ini, jangan salahin gue berbuat nekad." Kata Rindi yang mulai berontak agar genggaman tangan seseorang itu terlepas.


"Jangan bertingkah yang aneh lagi nona. Ikuti saja saya maka nona akan aman." Kata seseorang itu membalas ucapan Rindi.


Dengan kekuatan penuh, Rindi pun langsung menendang ******** seseorang itu. Sehingga secara otomatis genggaman tangan seseorang itu menjadi tak kencang lagi.


Rindi yang tak mau menyia - nyiakan waktu. Langsung menghempaskan tangan itu dan pergi berlalu menuju gerbang belakang.


Dengan kekuatan yang ia miliki. Akhirnya ia telah sampai di gerbang itu dan langsung membukanya dengan cepat. Lalu berlari kencang.


Sementar seseorang yang baru saja Rindi tendang. Kini mulai meneriaki temanya.


"Don, Mar, cepat kemari. Nona Rindi kabur." Teriak seseorang itu dalam kesakitan.


Kedua orang yang di panggil namannya. Kini mulai menghampiri dirinya.


"Man, lo kenapa bisa kaya gini. Nona Rindi kabur dari arah mana." Kata Doni membalas panggilan Salman dan bertanya mengenai Salman yang sedang terduduk sambil memegangi kelaminnya. Selain itu ia pun tak lupa untuk bertanya mengenai Rindi.


"Sudah kalian berdua tak perlu mengkhawatirkan keadaan gue. Lebih baik kalian cepat temukan nona Rindi. Dia pergi melalui gerbang belakang. Ayo cepat kalian harus menemukannya." Kata Salman membalas kedua temannya itu.


"Baiklah, gue dan Mario pergi dulu. Lo kalau masih merasa sakit gak perlu ikut mencari. Lebih baik lo kabarin yang lain saja untuk ikut mencari juga. Bukannya lebih banyak yang cari akan lebih mudah untuk menemukannya jadi lo panggil yang lain aja. Oke." Kata Doni membalas ucapan Salman.


"Iya, gue nanti panggilkan yang lain. Sekarang kalian berdua cepet susul." Kata Salman membalas ucapan Doni.


"Oke, gue dan Mario langsung pergi." Kata Doni membalas ucapan Salman.


"Iya." Kata Salman menjawab ucapan Doni.


Tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Doni dan Mario kini mulai mencari keberadaan Rindi.


Sementara Salman mulai memberanikan diri untuk kembali berdiri. Rasa sakit dari tendangan Rindi ke ******** nya. Sangat luar biasa, membuat ia bahkan sampai terduduk tak berdaya.

__ADS_1


Namun, ia hiraukan rasa sakit itu. Karena anak majikannya telah kabur, jika hal ini sampai terdengar ke telinga majikannya. Bukan hanya rasa sakit di *********** yang akan ia rasa kan. Melainkam nyawanya bisa saja lenyap detik itu juga.


Sehingga dengan berjalan tertatih - tatih ia mulai meneriaki teman - teman ia yang lain.


"Gan, Gun, Bay cepat kalian cari nona Rindi. Dia baru saja kabur. Gue nggak bisa lari cepat." Kata Salman yang berteriak memanggil tiga teman lainnya.


"Apa yang terjadi, mengapa nona Rindi bisa kabur." Kata Guntur membalas ucapan Salman.


"Sudah kalian bertiga tak perlu banyak tanya. Lebih baik langsung cari saja nona Rindi nya. Dia baru keluar dari arah gerbang belakang." Kata Salman membalas ucapan Guntur.


"Hem... baiklah, ayo Bay, ayo Gun kita langsung cari." Kata Guntur pada kedua temannya.


"Ayo." Kata kedua temannya yang hampir bersamaan saat menjawab ucapan Guntur.


Kemudian mereka bertiga bergegas pergi meninggalkan Salman.


Sedangkan Rindi yang merasa terancam karena banyak yang mengejar. Kini mulai mengambil handphone miliknya.


Lalu tanpa pikir panjang ia pun menelpon Haikal.


"Hallo, kak ini Rindi. Kakak sama Yeni ada dia arah mana?" Kata Rindi saat sambungan telpon itu telah Haikal terima.


"Di depan rumah kamu, sebelah kanan dekat pertigaan. Kamu posisi lagi dimana?" Kata Haikal memberitahu Rindi.


"Oh, oke. Bentar lagi Rindi sampai kak. Ini Rindi lagi lari menghindari bodyguard ayah. Rindi tutup dulu ya telponnya buat fokus untuk larinya." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Tunggu, tunggu Rindi jangan kamu tutup. Tetap nyalakan hanphone. Kakak ingin ngawasi kamu agar tak tertangakap." Kata Haikal membalas ucapan Rindi


"Ya sudah kak, kalau gitu Rindi fokus dulu buat lari. Mereka mulai mendekat apalagi udah nambah jadi lima orang. Huh... rasanya Rindi benar - bener tegang." Kata Rindi membalas ucapan Haikal dan memberitahu Haikal mengenai situasi yang saat ini sedang ia hadapi.


"Kamu tetap fokus lagi aja. Jangan hirau kan mereka yang ada di belakang. Kakak juga akan siap - siap menyalakan mobil. Biar saat kamu masuk ke dalam mobil, kita bisa cepat pergi." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


"Oke kak, kalau gitu Rindi fokus lari dulu." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.

__ADS_1


"Iya." Kata Haikal membalas ucapan Rindi dengan satu kata saja.


Bersambung...


__ADS_2