Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 221 Menyebalkan Sekali


__ADS_3

"Mau... mau apa?" kata Aldiano yang penasaran dengan kelanjutan ucapan Rindi.


"Sudahlah kamu tak perlu banyak tanya. Sana kamu duluan, aku nanti menyusul." Kata Rindi mengusir Aldiano lebih tepatnya meminta Aldiano untuk duluan ke tempat ibu dan ayah.


"Tidak aku tidak mau. Aku akan pergi bersama mu saja. Kamu juga tak akan lama kan, jadi aku bisa menunggu." Kata Aldiano menolak.


"Ya sudah lah terserah mu saja. Tapi, jangan salah kan aku jika ternyata kau harus lama di sini." Kata Rindi membalas ucapan Aldiono.


"Tak masalah. Lagi pula ini keinginan ku. Mau kamu lama juga tak masalah. Aku masih bisa menunggu." Kata Aldiono membalas ucapan Rindi.


Rindi yang mendengar jawaban Aldiano tersebut tak menjawabnya lagi. Karena saat ini ia telah masuk ke dalam kamar mandi. Beruntung di sana terdapat cermin sehingga ia bisa melihat dirinya di depan cermin itu.


Dengan rasa penasaran yang memuncak Rindi yang terus mengingat ucapan ibunya. Kini mulai melihat wajahnya di depan cermin.


Ketika melihat wajahnya ia tak menemukan apapun yang salah. Kemudian ia pun berbicara.


"Yang ibu maksud itu apa coba. Wajah aku nggak ada berubah - berubahnya ko. Tapi kenapa ibu bilangnya seperti itu. Argh... apa sih yang ibu maksud." Kata Rindi yang saat ini sedang mengacak - acak rambutnya.


Kemudian setelah puas mengacak - acak rambut. Leher yang tadinya tertutup rambut kini terbuka sempurna. Sehingga memperlihatkan tanda merah di sana.


Bahkan tak hanya satu melainkan ada lebih dari sepuluh.


"Argh... tanda apa ini. Kenapa banyak sekali?" Kata Rindi yang sedang memiring kanan, kiri kan lehernya.


Sontak suara jeritan Rindi membuat Aldiano yang sedang duduk mulai menghampiri kamar mandi.


Awalnya dia ragu untuk membuka kamar mandi tersebut. Namun, karena rasa penasaran, ia pun mulai membuka perlahan demi perlahan saat mendapati pintu kamar mandi tersebut tak terkunci.


Sehingga tak menunggu lama pintu itu sudah terbuka sempurna.


Terlihat Rindi yang sedang menengok kiri dan kanan sambil memperlihatkan lehernya yang terdapat tanda merah di sana.


"Huh... bagaimana cara menghilangkannya. Apalagi ini terbilang banyak. Bukannya sebelum ini tak ada tanda ini. Lalu tanda ini ada karena apa?" Kata Rindi yang belum menyadari bahwa tanda itu di buat oleh Aldiano beberapa saat lalu.

__ADS_1


Sementara Aldiono yang mendengar suara Rindi sempat menerbitkan senyumnya ketika tingkah Rindi yang menunjukan hasil karyanya itu terlihat lucu dan menggemaskan.


Ntahlah semenjak kejadian itu terjadi. Ia menjadi tak sekaku sebelumnya saat pertama kali bertemu dengan Rindi.


Karena senyum itu tak pernah lupa ia keluarkan walau hanya senyum tipis sekalipun.


Aldiano yang menyadari akan perubahannya ini pun tak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi padanya.


Bahkan saat Gani memberitahu mengenai syarat pernikahan. Bagian jiwanya seperti tak rela jika syarat itu ia berikan pada Rindi dan kemudian ia dan Rindi setuju untuk mendatangi nya.


Mungkinkah Aldiano telah mulai merasakan cinta. Namun, ia masih kebingungan untuk menyadari hal itu.


"Kenapa kamu berteriak?" Kata Aldiano bertanya pada Rindi.


Rindi yang mendengar suara Aldiano dengan panik langsung menutupi tanda tersebut dengan rambutnya.


"Em... tidak ada, maksud ku aku hanya ingin berteriak saja." Kata Rindi membalas ucapan Aldiono.


"Ya, tak ada yang lain. Lalu kenapa kamu masuk ke sini. Kamu mau mengintip ku." Kata Rindi yang mulai curiga bahkan menuduh Aldiano yang bukan - bukan.


"Aku minta maaf karena telah berani masuk ke kamar mandi tanpa izin dari mu. Karena aku panik dan khawatir saat kamu berteriak. Sehingga tanpa meminta aku masuk ke sini." Kata Aldiano membalas apa adanya ucapan Rindi.


"Hem... aku hanya terkejut melihat kecoa. Sehingga aku akhirnya berteriak." Kata Rindi kemudian berbohong.


"Kau yakin, bukan mengenai lehermu kan." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Sial, kenapa dia tau. Aku berteriak karena melihat leher ku. Apa dia melihat tanda - tanda ini ya. Argh... menyebalkan sekali." Kata Rindi mengumpati Aldiano di dalam hatinya.


"Kamu kenapa diam?" Kata Aldiano yang melihat Rindi hanya terdiam tak berniat membalas ucapannya.


"Em... aku hanya sedang berpikir saja. Sudah lah kau keluar lagi saja sana. Aku masih ada perlu di sini." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano sambil meminta Aldiano untuk keluar dari kamar mandi.


"Apa kau yakin tak akan meminta bantuan ku." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.

__ADS_1


Kemudian Rindi pun terdiam sepertinya sedang berpikir sesuatu. Karena tak lama setelah itu, ia pun langsung menjawab ucapan Aldiano.


"Em... aku butuh bantuan mu. Bisakah kamu bawakan aku bedak di meja rias ku. Sepertinya aku ingin berias karena wajah ku sedikit pucat." Kata Rindi akhirnya meminta bantuan pada aldino.


"Ada lagi, selain bedak." Kata Aldino menanyakan kembali apa yang di di butuhkan Rindi selain bedak.


"Untuk saat ingin tidak ada. Aku hanya perlu bedak." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


"Baiklah aku akan mengambilnya." Kata Aldiano kemudian membalikan tubuh dan menghilang.


Seiring dengan suara langkah kaki yang terdengar mengecil kemudian tak terdengar. Mungkin karena Aldiano telah sampai di meja rias.


Karena tak lama setelah terdiam suara langkah kaki itu terdengar jelas semakin mendekat ke kamar mandi lagi.


Dan benar sekali Aldiano masuk dengan membawa beberapa bedak di tangan nya.


"Ini bedak nya dan maaf aku membawa banyak bedak. Takutnya kamu pun memerlukan bedak lainnya itu." Kata Aldiano menyerahkan beberapa bedak pada Rindi.


"Baiklah, terimakasih. Maaf telah merepotkan mu." Kata Rindi menerima bedak tersebut kemudian tak lupa mengucapkan terima kasih pada Aldiano yang telah membawakan bedak tersebut.


Selain itu terdapat senyum yang di berikan Rindi untuk Aldiano.


Saat Aldiano melihat senyum itu. Rasanya ia benar - bener merasakan hal berbeda. Karena ada rasa bahagia saat melihat Rindi tersenyum. Di dalam hati ia sempat mengucapkan beberapa kata dan itu sungguh membuatnya terheran - heran sendiri.


"Manis sekali senyumnya, argh... rasanya ingin sekali aku mengulang kejadian tadi saat aku bisa menyentuh... ya ampun Aldiano kamu kenapa jadi berpikiran kaya gitu sih. Sadar Aldiano sadar." Kata aldino di dalam hati.


"Hehehe... tapi rasanya benar - benar menyenangkan saat hal itu aku ingat lagi. Apalagi saat aku melihat hasil karya ku sendiri. Aku menjadi semakin bahagia. Hahahaha... sepertinya aku sudah gila. Ya, benar - benar gila." Kata Aldino melanjutkan kembali berbicara di dalam hatinya.


"Hey... kenapa kamu masih di sini. Keluar lah aku mau merias diri ku. Dan aku tak ingin ada orang lain yang melihat nya." Kata Rindi membuyarkan pembicaraan Aldiano di dalam hati.


"Em... baiklah aku pergi. Lagi pula kenapa salah nya aku melihat. Bukan nya kamu sekarang adalah istri ku. Jadi saat aku melihat diri mu berias pun tak akan masalah. Karena kamu adalah istri ku." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2