
Seperti malam-malam sebelumnya, Nara duduk di taman belakang sampai larut malam sambil bermain dengan Rena. Meskipun hubungannya dan Kenan sudah mulai membaik, tak lantas membuat dia mau sekamar dengan suaminya itu sering-sering. Dia masih trauma karena Kenan menidurinya secara paksa beberapa waktu yang lalu.
Karena Nara tak juga masuk ke dalam kamar, Kenan memutuskan untuk menyusul istrinya itu ke taman belakang.
"Mau sampai kapan kau di sini terus? Ayo masuk!" Kenan berjalan mendekati Nara.
"Kau masuk saja duluan, aku masih mau di sini," jawab Nara tak acuh.
"Tapi ini sudah larut malam, enggak baik berlama-lama di luar, nanti kau bisa sakit."
"Iya, sebentar lagi aku masuk! Kau duluan saja!" sahut Nara.
"Ck, kau ini keras kepala sekali!" Kenan tiba-tiba mengangkat tubuh sang istri.
Nara yang kaget sontak berteriak heboh sambil memberontak, "Apa-apaan kau ini? Turunkan aku!"
"Jangan bergerak! Nanti kau jatuh." Kenan memperingatkan.
Nara tak menggubrisnya, dia tetap meronta-ronta digendongan Kenan, "Cepat turunkan aku!"
Kenan pun jahil, dia pura-pura ingin melepaskan Nara. Saking kagetnya dan takut jatuh, Nara spontan mengalungkan lengannya di leher pemuda itu.
"Tuh, kan! Kau hampir saja jatuh. Sudah, jangan bergerak lagi!"
"Makanya turunkan aku!" pinta Nara.
"Iya, nanti aku turunkan kalau sudah sampai kamar," sahut Kenan santai, dia melangkah meninggalkan masuk ke dalam rumah sambil menggendong Nara ala bridal style.
"Ish, turunkan di sini saja!"
"Di kamar saja!" balas Kenan yang terus berjalan menaiki anak tangga.
Tak sengaja Hendra memergoki mereka, pria paruh baya itu tersenyum sebab merasa senang anak dan menantunya kini akur.
Di dalam kamar, Kenan menurunkan Nara di atas ranjang, "Sudah sampai."
Nara langsung berengsut dan bergegas turun dari tempat tidur, tapi dengan sigap Kenan menahannya.
"Eh, kau mau ke mana?"
"Aku mau ke sofa. Lepaskan!" Nara berusaha melepaskan diri dari Kenan.
"Mau ngapain? Sudahlah, di sini aja!"
"Aku enggak mau!" tolak Nara.
"Kenapa, kau takut aku sentuh lagi?"
Nara terdiam, dia kembali teringat perbuatan Kenan waktu itu.
__ADS_1
"Aku janji enggak akan menyentuhmu jika kau enggak mengizinkannya," ucap Kenan kemudian.
"Bohong! Dua kali kau melakukannya juga tanpa izin ku!" sungut Nara kesal.
Kenan terkekeh, membuat Nara cemberut.
"Iya-iya, aku minta maaf untuk itu. Tapi kali ini benar, kok. Aku enggak akan menyentuhmu kalau kau enggak izin, aku janji." Kenan mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Aku enggak percaya!"
"Aku mohon percayalah, please!" rengek Kenan yang pura-pura memasang wajah memohon.
"Jangan sok imut! Sudah sana!" Nara mendorong Kenan agar melepaskan dirinya.
"Ah, kau ini susah sekali dibujuk! Kalau begitu harus dipaksa." Kenan yang gemas dengan sikap keras kepala Nara langsung memeluk wanita itu dan menariknya ke atas ranjang.
Akibatnya Nara jatuh menimpa tubuh Kenan, membuat jarak wajah mereka sangat dekat. Sejenak keduanya terdiam dan saling mengunci pandangan.
"Aku mencintaimu," ucap Kenan tiba-tiba, membuat Nara tersentak dan tersipu dengan wajah merona.
Dengan cepat Kenan membalikkan Nara hingga posisinya sekarang di atas sang istri.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Nara gugup dan canggung.
"Menurutmu kira-kira apa yang akan aku lakukan?" Kenan menatap dalam-dalam wajah istrinya itu.
Kenan tersenyum, "Iya, kau tenang saja! Aku cuma ...."
Kenan tak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba telepon genggamnya berdering.
"Ponselmu bunyi, sana lihat!"
"Biarkan aja!"
"Eh, siapa tahu penting."
Kenan mendengus jengkel, dan beranjak dari atas tubuh Nara, "Ck, siapa, sih?"
Nara buru-buru bangkit dan pindah ke sofa sambil terus mengamati suaminya itu dengan waspada.
Kenan semakin kesal saat tahu ternyata yang menelepon adalah Han. Dia bisa menebak pasti sahabatnya itu sudah mendengar tentang kabar pernikahannya dari Jessi dan sekarang ingin menanyakan kebenarannya. Kenan pun mengabaikan panggilan masuk itu dan kembali ke ranjang dengan wajah murung.
"Kenapa enggak dijawab?" tanya Nara heran.
"Malas," jawab Kenan, dia tak lagi bersemangat untuk menggoda istrinya itu.
Tak lama kemudian, gantian ponsel Nara yang berdering. Pandangan Kenan langsung tertuju ke wanita itu.
Nara mendadak kikuk saat tahu Rendy yang meneleponnya, dia beranjak dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Kau mau ke mana?" tanya Kenan penasaran.
"Mau jawab telepon," sahut Nara dan buru-buru keluar sebelum Kenan banyak tanya.
Kenan pun kian dongkol, "Pasti si sialan itu yang menelepon."
Nara segera menjawab telepon dari Rendy setelah dia berada di luar kamar.
***
Setengah jam kemudian Nara tak juga kembali ke kamar, Kenan mulai gelisah. Dia lantas keluar untuk mencari Nara dan menemukan istrinya itu masih mengobrol serius dengan Rendy di telepon.
Rasa cemburu Kenan seketika muncul, dengan langkah yang lebar dia menghampiri Nara dan merebut ponsel wanita itu.
Nara yang kaget sontak berbalik, "Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!"
Kenan tak menggubris Nara.
"He, kau enggak tahu kalau ini sudah larut malam? Kenapa masih mengajak istri orang mengobrol? Dasar enggak tahu diri!" ujar Kenan dan langsung mematikan panggilan itu sebelum Rendy sempat menjawab apa-apa.
Nara tercengang, "Kau ini apa-apaan, sih? Rendy sedang bicara serius!"
"Aku enggak peduli! Siapa suruh dia menelepon istriku malam-malam begini," balas Kenan ketus.
"Dia sedang membicarakan tentang pernikahan kita, Jessi sudah menyebar beritanya ke teman-teman yang lain," beber Nara.
"Aku sudah menduganya, makanya tadi aku enggak menjawab telepon dari Han. Aku tahu dia pasti mau menanyakan itu."
"Tapi kau tahu apa yang dikatakan Jessi kepada mereka?"
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya aku yang menjebak mu agar mau menikahi denganku dan semua orang sekarang sedang mencibir dan menghina ku," lanjut Nara. Inilah yang dia takutkan jika ada yang tahu tentang pernikahannya dengan Kenan.
"Kurang ajar! Berani sekali dia mengatakan hal itu pada semua orang," geram Kenan.
"Rasanya enggak adil, aku yang jadi korban tapi kenapa aku yang difitnah dan dijelekkan?" keluh Nara dengan suara bergetar, air matanya bahkan jatuh menetes.
Melihat Nara menangis, Kenan langsung memeluk istrinya itu.
"Ini semua gara-gara kau! Hidupku berantakan gara-gara kau!" Nara memukuli dada Kenan sambil terisak-isak, tapi pemuda itu terus memeluknya.
"Aku minta maaf. Aku janji akan mengurus semua kekacauan ini, aku akan membersihkan nama baik mu," ucap Kenan, dia semakin mengeratkan pelukannya.
Di tempat berbeda, Jessi juga sedang menangis tersedu-sedu, dia patah hati dan terluka karena Kenan kini sudah menikah, dia tak terima pujaan hatinya itu menjadi suami dari wanita yang tak sebanding dengan dirinya.
Tadi dia sengaja menyebarkan rumor jika Kenan terpaksa menikahi Nara karena dijebak oleh wanita itu seperti yang Windy katakan padanya. Sontak seluruh teman-temannya heboh mendengar hal itu, terutama Han, Ivan, Radit dan tentu saja Rendy yang terkejut sebab mereka akhirnya tahu dan malah memojokkan Nara.
***
__ADS_1