
Mendengar ucapan dari pak Agus tersebut. Pak Reza pun mulai menjawab ucapan pak Agus dengan terkejut.
"Apa pak? jadi sedari tadi kita pergi ini gak tau arah tujuannya kemana?" Kata pak Reza yang tak percaya dengan ucapan pak Agus.
"Hehehehe... iya pak, soalnya masih bingung mau beli apa?" Kata pak Agus tertawa tanpa beban saat membalas ucapan pak Reza.
"Ckckck... ckckck... pak Agus, pak Agus." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Ya udah pak, di depan sana kalau saya gak salah, ada kafe. Kebetulan makanannya juga enak dan banyak juga pengunjungnya. Apa kita mau beli makan dan minum di sana aja." Kata pak Reza memberitahukan pak Agus mengenai sebuah kafe.
"Bentar deh pak Reza, saya ingat - ingat dulu kafe nya. Soalnya saya kan satu arah kalau kesana. Setiap hari pasti liat kafe yang bapak maksud itu. Em... kafe... Shin... shin... ah... pak sepertinya saya lupa nama kafe nya. Ya udah pak, kita coba ke sana aja." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza sambil mengingat nama kafe yang di maksud oleh pak Reza. Namun, sayangnya pak Agus lupa dengan nama kafe tersebut.
Sehingga pak Agus pun akhirnya memutuskan untuk setuju dengan saran dari pak Reza mengenai kafe tersebut.
"Ya udah pak, kalau gitu kita kesana. Dan mengenai nama kafe kalau bapak lupa gak papa pak. Nanti setelah kita ke sana. Bapak gak akan lupa lagi." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Iya pak, semoga aja gak akan lupa pak. Bapak kan tau sendiri kalau saya ini. Kadang suka lupa. Maklum banyak yang harus di pikirkan." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Kalau boleh tau, bapak selalu pikirkan apa?" Kata pak Reza yang penasaran dengan ucapan pak Agus tersebut.
"Yakin nih, pak Reza pengen tau apa yang saya pikirkan." Kata pak Agus memastikan kembali pada pak Reza mengenai apa yang ia tanyakan pada dirinya.
"Iya pak, saya yakin." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
__ADS_1
"Gak akan nyesel pak. Nanti kalau saya udah kasih tau bapak. Ayo pak di pikir - pikir lagi aja." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Yakin pak, tapi kalau bapak gak mau kasih tau juga gak papa." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Ternyata pak Reza ini baperan ya. Saya kira gak seperti itu." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Baperan apa pak?" Kata pak Reza yang aneh dengan jawaban pak Agus. Sehingga ia pun bertanya pada pak Agus.
"Iya itu barusan. Bapak langsung baper saya bilang kaya gitu ke bapak." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Hem... terserah bapak aja deh. Bapak mau bilang saya baper atau apapun juga terserah bapak. Tapi yang jelas saya gak baper pak." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Lagi gak mut nih pak Reza, karena di tinggal pulang duluan sama bu Laila. Biasanya kan suka pulang bareng sampai dianterin juga." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Kebetulan aja saya suka liat." Kata pak Agus membalas santai ucapan pak Reza.
"Tapi, ko bisa suka liat pak. Padahal nih ya pak, kami suka pulang bareng pas udah gak ada orang sama sekali. Jadi, gak pernah ada yang tau kalau kami suka pulang bareng." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Itu karena bapak gak teliti mengamatinya. Saya kan suka pulang paling terakhir. Kebetulan suka liat bapak anterin bu Laila. Setau saya arah rumah bapak kan searah dengan saya. Tapi, ko malah beda arah saat saya mau susul. Sejak saat itu, saya simpulin kalau bapak pasti anterin bu Laila." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Oh jadi karena itu. Hem... iya juga ya pak. Ko saya baru kepikiran, bapak kan suka pulang paling terakhir diantara teman satu tim kita." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Makannya pak saya jadi tau. Kalau selama ini ternyata kalian berdua udah mulai ada hubungan. Tapi, saya dukung ko pak. Kalau bapak sama bu Laila." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
__ADS_1
"Makasih pak karena mau dukung saya. Oh iya, gimana nih pak mengenai pertanyaan saya yang tadi. Bapak kan belum jawab soal pertanyaan saya itu. Kalau gak di jawab jadi penasaran nih pak saya. Bapak gak mungkin tega kan buat saya penasaran." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus dengan cukup panjang. Bahkan pak Reza pun sempat mengingatkan pak Agus untuk segera menjawab pertanyaannya tadi.
"Baik lah pak kalau bapak memaksa. Saya gak bisa berbuat banyak. Saya kasih tau bapak, sebenarnya saya lupa karena kepikiran. Em... mengenai makanan dan minuman yang udah banyak saya beli. Jadi, kalau buat menginat nama tempatnya, sepertinya memang akan susah pak karena saking banyaknya tempat yang saya kunjungi." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Sebanyak itu kah pak, sampai gak ada yang bisa bapak ingat satu pun nama tempatnya." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Iya pak udah banyak banget. Jadi, kalau di paksa terus di ingat. Bisa - bisa saya jadi pusing." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Ya udah pak, gak perlu di ingat lagi. Ntar yang ada saya harus bawa bapak ke dokter lagi. Bisa lama nanti kembali lagi ke kantor." Kata pak Reza membalas ucapan pak Reza.
"Baiklah pak kalau bapak mau nya seperti itu." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
Lalu pak Agus pun sempat bergumam ketika telah berbicara pada pak Reza.
"Pak Reza nih, gampang banget di bohongin. Percaya - percaya aja sama ucapan saya. Padahalkan itu ucapan saya hanya asal bicara aja. Tapi, ada untungnya juga. Karena gak perlu jelasin panjang lebar." Kata pak Agus saat bergumam.
Gumaman pak Agus ini sempat terdengar juga oleh pak Reza. Namun, terdengar samar - samar sehingga pak Reza yang mendengar gumaman pak Agus kini mulai berbicara lagi pada pak Agus.
"Bapak bicara lagi ke saya gak. Soalnya saya seperti dengar suara bapak lagi. Tapi agak kurang jelas gitu." Kata pak Reza bertanya pada pak Agus.
"Aduh gawat nih, pak Reza ternyata dengar juga ucapan saya. Mana bicarain dirinya lagi. Em... tapi barusan kata pak Reza, ia mendengar ucapan saya nya kata nya kurang jelas. Itu artinya masih aman." Kata pak Agus berbicara di dalam hati nya.
Bersambung...
__ADS_1