Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 206 Tak Ingin Di Rendahkan


__ADS_3

"Beraninya ya lo, gue tonjok juga muka lo." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Sabar bro, gue..." Kata Beni membalas ucapan Kendra namun harus terpotong karena mendengar suara Rindi.


"Hanya segitu kemampuan kalian hah. Ucapan gue ternyata memang benar, lo berdua nih banci." Kata Rindi sambil berkacak pinggang saat berkata pada mereka. Bahkan senyum mengejek pun ia terbitkan saat itu juga pada mereka.


"Ini karena kami kelelahan nona. Sehingga bisa seperti ini, tapi kalau kami berdua sedang fit, kami yakin bisa buat nona tumbang." Kata Beni yang tak ingin di rendahkan, sehingga ia pun langsung membela diri.


"Kelelahan, apa, apa? gue nggak salah denger apa. Lo berdua nih bukan kelelahan tapi memang banci, buat apa tubuh kekar wajah seram tapi kekuatan malah lembek. Gue jadi kasian sama ayah gue, udah bayar kalian, tapi berantem sama cewek aja langsung tumbang." Kata Rindi membalas ucapan Beni.


"Hey... nona jaga bicara anda. Kami tak seperti apa yang nona bilang. Baiklah karena nona sudah merendahkan kami. Maka kami akan bertindak nekad." Kata Kendra yang awalnya hanya terdiam kini mulai bersuara.


Lalu setelah itu Kendra mulai memberikan kode pada Beni lewat tatapan mata. Beni yang langsung sadar dan mengerti kode tersebut kini mulai berdiri dan tanpa Rindi sadari kini ia telah terkepung oleh mereka berdua. Bahkan tangannya sudah di ikat.


"Hey... lepasin gue, kenapa kalian ikat tangan gue hah. Brengsek kalian, bisa nya main keroyokan. Argh... lepasin gue." Kata Rindi yang memberontak karena saat ini tangan yang diikat itu kini di tarik oleh Beni.


Sehingga tubuh Rindi pun ikut tertarik, mereka berdua kini menarik Rindi ke dalam mobil mereka.


"Woy... lepasin Rindi." Kata Haikal yang berteriak karena melihat Rindi di tarik seperti itu oleh mereka.


"Gue urus dulu kakak nya itu. Lo masukin aja dulu nona Rindi ke mobil. Kalau masih terus memaki dan berteriak lo pakaikan saja lakban di mulutnya. Biar gak bersuara lagi." Kata Kendra pada Beni.


"Oke." Kata Beni membalas ucapan Kendra dengan satu kata saja.


Dengan langkah cepat dan tanpa aba - aba Kendra pun langsung meninju wajah Haikal kemudian perut dan terakhir kedua kaki Haikal di tendang.


Sehingga mengakibatkan Haikal terduduk dan setelah itu terbaring.


Yeni yang melihat hal itu hanya bisa berteriak dan menangis.

__ADS_1


"Hiks... hiks... kak Haikal, hiks... hiks..." Kata Yeni yang terisak dan berteriak memanggil nama Haikal.


Sementara Kendra yang sudah melihat Haikal tak berdaya. Pergi meninggalkan Haikal dan langsung masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu lama mobil itu pun melaju meninggalkan Haikal dan Yeni.


Yeni yang melihat ke pergian mereka. Kini mulai berlari mendekati Haikal.


"Kak... Haikal... kakak maafin Yeni nggak bisa bantu kakak. Hiks... hiks... sekarang wajah kakak di penuhi dengan darah. Yeni bantu bersihin ya kak. hiks... hiks..." Kata Yeni pada Haikal lalu mengelap darah Haikal dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari dalam saku miliknya.


Haikal yang melihat rasa khawatir dari Yeni untuk dirinya. Merasa senang karena itu artinya Yeni peduli akan kesehatan dirinya. Walau tidak bisa di artikan perhatian Yeni saat ini adalah perhatian sayang dan takut kehilangan.


Karena siapa pun yang melihat keadaannya saat ini. Hal yang pertama yang akan mereka tunjukan adalah rasa khawatir.


Tapi, entahlah ia merasa senang akan bentuk perhatian Yeni saat ini pada dirinya.


Rasanya jika ia harus merasakan terpukul puluhan kali oleh orang. Ia rela asal nanti Yeni yang akan merawat dirinya.


Sungguh aneh bukan, begitulah jika orang yang sedang di mabuk cinta. Semua hal yang berhubungan dengan yang ia cintai dan sayangi akan terasa berkesan bahkan sangat di harapkan.


Benar - benar menakjubkan dan tak bisa di ungkapkan dengan sebuah kata - kata saja. Itu lah yang saat ini Haikal rasakan.


Walau rasa sakit di wajah tak bisa dikatakan biasa. Ia tetap senang karena Yeni menunjukan rasa khawatir pada nya.


Rasa nya benar - benar bahagia dan ingin sekali ia memeluk tubuh Yeni. Namun, jangankan untuk memeluk, untuk bergerak sedikit dari posisinya saat ini. Ia merasakan tubuh yang akan remuk seketika jika ia bergerak dari tempatnya saat ini.


Sunggu lebay bukan, tapi apakah yang bisa Haikal lakukan. Hanya bisa menerima nasib dengan keadaan ia saat ini.


"Kak, apakah sakit?" Kata Yeni bertanya seolah - olah ia pura - pura tidak tau. Padahal sudah jelas di depan matanya banyak darah. Itu artinya sudah bisa di katakan bahwa Haikal merasakan rasa sakit.


Dengan tersenyum Haikal pun menjawab ucapan Yeni.

__ADS_1


"Awalnya sakit yank. Tapi setelah kamu bantu kakak, sekarang sudah mulai lebih baik dari sebelumnya." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.


"Kak jangan bohong. Sekarang lebih baik kita ke rumah sakit ya kak. Yeni takut luka kakak semakin parah dan darah yang keluar semakin banyak. Hiks... hiks..." Kata Yeni membalas ucapan Haikal lalu dengan cepat ia pun langsung mengusap air matanya yang keluar secara tiba - tiba.


"Kamu jangan nangis yank, kakak nggak kenapa - kenapa ko." Kata Haikal mencoba menenangkan Yeni untuk tak menangis lagi.


"Nggak kenapa - kenapa gimana kak, jelas - jelas tubuh kakak banyak darahnya. Hiks... hiks... kita ke rumah sakit aja kak. Bentar Yeni cari bantuan terlebih dahulu buat bantu pindahkan kakak ke dalam mobil." Kata Yeni membalas ucapan Haikal. Lalu setelah itu, ia pun langsung berdiri.


Sebelum pergi mencari orang yang bisa membatu nya. Haikal pun berucap pada Yeni.


"Yank, makasih ya. Maaf karena udah buat kamu nangis." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.


Yeni tak menjawab ucapan Haikal dengan kata melainkan hanya dengan anggukan kepala. Setelah itu barulah ia pergi mencari bantuan.


Sudah cukup lama Yeni pergi meninggalkan Haikal. Bantuan itu masih belum Yeni dapatkan.


Karena jarak tempat ia dan Haikal tadi memang jauh dari pemukiman penduduk. Hal ini lah yang menyebabkan Yeni lama mendapatkan bantuan.


Tak lama setelah itu, Yeni akhir nya sampai di pemukiman warga.


Dengan bergegas ia pun langsung masuk ke pemukiman itu.


Ia lalu bertemu dengan dua petugas keamanan di pemukiman itu sedang berjaga di sebuah pos.


"Pak, maaf saya mengganggu waktunya. Boleh saya minta bantuan bapak." Kaya Yeni yang tak mau berbasa basi. Hingga ia pun langsung berbicara pada mereka  ke inti tujuan nya.


"Tidak ko neng, tidak menggangu. Kalau boleh saya tau neng mau di bantu apa?" Kata pak Didin salah satu petugas keamanan.


"Jadi begini pak, teman saya sedang terluka di ujung jalan sana. Dia baru saja dipukul dan sekarang keadaannya di penuhi banyak darah. Saya perlu bantuan bapak untuk memindahkan teman saya ke dalam mobil. Apa bapak bisa bantu saya?" Kata Yeni membalas ucapan pak Didin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2