
Di sebuah kafe yang mewah, Kenan, Han juga Radit sedang menunggu kedatangan Rendy dan Ivan.
"Mereka ke mana, sih? Kenapa lama sekali?" keluh Radit.
"Iya, heran deh. Padahal tadi katanya sudah OTW, tapi kenapa mereka enggak nongol juga, ya?" timpal Han resah.
Tiba-tiba Ivan datang dan langsung duduk di hadapan ketiga sahabatnya itu.
"Ini dia, lama banget, sih?" sungut Han.
"Sorry, tadi macet. Mana hujan lagi," gerutu Ivan.
"Tinggal Rendy nih yang belum datang," ujar Radit.
Kenan yang sedang asyik bermain game online, dari tadi hanya menyimak obrolan teman-temannya itu.
"Aku rasa Rendy enggak jadi datang, soalnya dia lagi pacaran," ujar Ivan.
Han mengernyit, "Pacaran? Memangnya Rendy punya pacar? Kok aku enggak tahu?"
"Jadi kalian belum pada tahu ya kalau Rendy pacaran dengan si cupu?"
Han dan Radit terkesiap, begitu pun dengan Kenan yang sontak menatap Ivan.
"Kau jangan nyebar gosip, ah!" protes Radit.
"Ini benaran! Tadi sewaktu ke sini, aku enggak sengaja lihat mereka berteduh dan Rendy memakaikan jaketnya ke si cupu. Romantis banget!" beber Ivan, lalu menunjukkan rekamannya tadi, "kalau enggak percaya, aku ada buktinya."
Lagi-lagi ketiga bocah itu terkejut saat melihat bukti rekaman yang Ivan tunjukkan. Rendy dan Nara memang terlihat sangat mesra di dalam rekaman tersebut.
Kenan bahkan sampai mengumpat Nara dalam hati, "Dasar pembohong! Katanya mau ke makam, rupanya malah pacaran."
***
Karena hujan sudah reda, Rendy dan Nara pun melanjutkan perjalanan mereka. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tiba di depan rumah yang dulu Nara tempati bersama mendiang Heri dan Anna. Dengan hati-hati Nara turun dari atas motor Rendy.
"Terima kasih, ya, Ren," ucap Nara sungkan.
"Sama-sama," balas Rendy.
Nara pun membuka jaket Rendy yang masih dia kenakan lalu mengembalikannya kepada pemuda itu, "Ini jaketnya, sekali lagi terima kasih."
"Oke." Rendy langsung memakai kembali jaketnya itu, lalu menatap Nara, "kamu masuk sana! Jangan banyak bergerak dan harus istirahat yang cukup, biar cepat sembuh. Kalau ada apa-apa, kabarin aku!"
"Iya, Pak Dokter!" ledek Nara, dia selalu merasa senang dan terhibur setiap kali berada di dekat Rendy. Pemuda itu sangat jauh berbeda dengan Kenan yang angkuh dan kasar.
Rendy tersenyum, "Aku pergi dulu!"
"Hati-hati, ya!" Nara juga ikut tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Rendy mengangguk, kemudian menyalakan mesin motornya dan tancap gas meninggalkan wanita itu.
Nara mengembuskan napas lega karena Rendy sudah menjauh. Dia berbalik memandangi rumah sederhana yang pernah dia tempati bersama mendiang Heri dan Anna, hatinya seketika merasa sedih. Tak ingin larut dalam perasaan duka, dia pun melangkah pergi dari rumah tersebut dan berjalan menuju pemakaman umum tak jauh dari situ, tempat Om dan Tantenya beristirahat dengan tenang.
__ADS_1
***
Beberapa saat kemudian Rendy pun tiba di kafe, dia berjalan dengan tergesa-gesa dan langsung bergabung dengan teman-temannya.
"Sorry, aku telat!" ucap Rendy.
"Ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga," sahut Radit.
"Sudah selesai pacarannya?" ledek Han.
Rendy mengerutkan keningnya, "Pacaran?"
"Nih lihat!" Ivan memamerkan rekaman yang dia ambil tadi, mata Rendy sontak membulat sempurna.
"Sejak kapan kau pacaran dengan si cupu itu?" tanya Han, sementara Kenan hanya bergeming mengawasi Rendy dengan dengan tatapan tak terbaca.
"Kami enggak pacaran!" bantah Rendy.
"Enggak pacaran gimana? Sudah jelas-jelas kalian mesra begitu," ujar Ivan.
"Iya, bilang saja kau malu mengakuinya, kan?" timpal Radit.
"Aku bersumpah, kami enggak pacaran. Tadi aku enggak sengaja bertemu dia di dekat rumahku, jadi aku antar dia pulang dan karena hujan kami berteduh sebentar," terang Rendy.
Kenan terkesiap, dia baru ingat kalau rumahnya dan Rendy berdekatan, jadi kemungkinan besar temannya itu bisa melihat Nara di rumahnya. Seketika Kenan merasa kesal pada Nara yang tidak hati-hati.
"Tapi tadi kau memakaikan jaket padanya, kau begitu perhatian. Kalau kalian enggak pacaran, berarti kau yang suka padanya. Ayo ngaku!" sambung Ivan.
Tiba-tiba telepon genggam Kenan berbunyi, ada telepon masuk dari Hendra.
"Halo, Pa."
"Ken, sekarang juga kau dan Nara pulang!"
"Ada apa, Pa?"
"Nanti Papa ceritakan, pokoknya sekarang kalian pulang!"
Kenan mendengus kesal saat sang ayah mengakhiri pembicaraan sepihak.
"Ada apa?" tanya Han.
"Aku disuruh pulang, ada urusan mendadak!"
"Yaa, gagal deh kita mabar!" keluh Radit.
"Lain waktu kan bisa," sahut Han.
"Kalau gitu aku cabut dulu!" Kenan beranjak dan hendak pergi, namun dia teringat sesuatu. Dia harus pulang bersama Nara, sementara dia tak tahu di mana istrinya itu berada, bahkan Kenan juga tak tahu nomor teleponnya.
Kenan melirik Rendy, sahabatnya yang satu itu pasti tahu nomor telepon Nara, tapi dia tak mungkin memintanya karena teman-temannya pasti akan bertanya-tanya. Kenan pun memutuskan tetap meninggalkan kafe.
Di parkiran, Kenan langsung mengirimi pesan pada Rendy.
__ADS_1
"KIRIMKAN NOMOR SI CUPU! DAN JANGAN TAHU YANG LAIN!"
Sebuah pesan balasan dari Rendy masuk.
"UNTUK APA?"
Kenan kembali membalas.
"AKU ADA PERLU DENGANNYA, SUDAH CEPAT KIRIM!"
Tak lama kemudian Rendy mengirimkan nomor telepon Nara. Kenan pun buru-buru mengirim pesan ke sang istri, dia meminta wanita itu menunggunya di pintu masuk perumahan.
Sementara itu, Rendy termenung dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya, dia penasaran apa yang sebenarnya akan Kenan lakukan dengan nomor Nara?
"Aku cabut dulu!" Rendy pun ikut beranjak dan bergegas menyusul Kenan.
Han, Ivan dan Radit terbengong melihat tingkah dua sahabat mereka itu.
***
Nara berjalan dengan tergesa-gesa, setelah mendapatkan pesan dari Kenan tadi, dia langsung bergegas meninggalkan pemakaman. Nara semakin mempercepat langkahnya saat melihat mobil suaminya itu sudah menunggu di dekat gerbang masuk perumahan.
"Buruan masuk!" pinta Kenan seraya membuka pintu mobilnya.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Nara segera masuk dan menutup pintu. Setelah itu Kenan tancap gas memasuki perumahan, tanpa mereka sadari Rendy mengamati dari kejauhan. Melihat mobil Kenan bergerak, Rendy kembali mengikutinya.
Mobil Kenan memasuki pekarangan rumahnya, hal itu membuat Rendy kaget dan semakin curiga ada sesuatu yang tidak beres.
"Kenapa Kenan membawa Nara ke rumahnya? Bukankah mereka enggak pernah akur? Kenan juga enggak suka dengannya?" Rendy semakin bertanya-tanya sembari mengawasi mereka dari kejauhan.
Begitu masuk ke dalam rumah, Kenan dan Nara tak mendapati siapa pun, rumah besar itu tampak sepi.
"Bibi!" teriak Kenan.
Bi Ani berjalan mendekati anak majikannya itu dengan tergopoh-gopoh, "Iya, Mas Kenan."
"Papa mana?" tanya Kenan.
"Bapak dan Ibu sudah berangkat ke bandara, Mas," jawab Bi Ani.
Kenan mengernyit, "Ke bandara? Bukannya tadi Papa suruh aku pulang karena ada yang mau Papa bicarakan?"
"Iya, Mas. Tapi tadi Bapak dapat telepon dan langsung buru-buru pergi, katanya orang tua Ibu masuk rumah sakit," beber Bi Ani.
"Oma Hanna sakit?" Kenan tertegun cemas saat mendengar kabar sang nenek sakit, sementara Nara hanya bergeming.
"Tadi Bapak dan Ibu pesan, Mas Kenan jangan ke mana-mana! Mas Kenan harus menjaga Mbak Nara selama Bapak dan Ibu pergi," lanjut Bi Ani menyampaikan pesan dari sang majikan.
Kenan mendengus kesal seraya melirik Nara dengan sinis. Biarpun sang ayah sudah berpesan demikian, tapi jangan harap dia akan menurutinya.
"Memangnya aku baby sitter dia apa!" ujar Kenan ketus kemudian berlalu dari hadapan Nara dan Bi Ani dengan angkuh.
***
__ADS_1