
Kenan kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih dan obat penurun panas yang tadi dia ambil. Dia meletakkan dua benda itu di atas meja nakas, lalu meraih piring dan duduk di sisi ranjang. Dia menatap wajah Nara cukup lama, entah mengapa kali ini hatinya merasa iba saat melihat wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu tak berdaya seperti sekarang.
Dengan sedikit ragu, Kenan mengguncang tubuh Nara yang masih menggigil kedinginan di dalam selimut, "Bangunlah!"
Nara membuka matanya sedikit dan sempat terkesiap melihat Kenan yang ada di hadapannya.
"Kau harus makan dan setelah itu minum obat," ujar Kenan sedikit canggung.
Nara menggeleng dan kembali memejamkan matanya, "Aku enggak mau!"
"Waktu itu kau bilang aku kerasa kepala karena enggak mau makan, ternyata kau juga sama saja," ujar Kenan.
Nara tak menggubris ucapan suaminya itu, dia sedang malas untuk bicara.
"Ayolah, makan sedikit saja! Biar bisa minum obat," bujuk Kenan.
"Aku enggak mau! Jangan memaksaku!"
Kenan mengembuskan napas berat, "Baiklah, kalau begitu aku akan memanggil dokter ke sini, biar dia menyuntikkan obat untukmu."
Nara sontak membuka matanya yang perih dan berair, dia menatap Kenan dengan jengkel.
"Makanya makan! Sini biar aku suapin."
Nara tertegun tak menyangka pemuda angkuh yang biasanya menyebalkan dan kasar itu mau melakukannya.
"Kenapa menatap ku begitu?" tanya Kenan karena Nara memandangi dengan sorot penuh kecurigaan.
__ADS_1
Wanita berwajah teduh itu pun sontak memalingkan wajahnya setelah mendengar pertanyaan Kenan.
"Kau jangan salah paham dan berpikiran macam-macam! Aku peduli dan mau melakukan semua itu karena aku masih punya hati, aku bukan manusia enggak berperasaan seperti yang kau katakan. Lagipula anggap ini balas budiku karena waktu itu kau sudah merawat ku saat aku sakit," terang Kenan panjang lebar, dia tak mau Nara salah sangka dengan semua perhatiannya.
Nara bergeming, rasa dingin dan pusing masih menyerangnya, namun tak bisa dipungkiri saat ini perutnya juga terasa sangat lapar.
"Jangan kelamaan mikir! Kesempatan enggak datang dua kali, lagian jarang-jarang aku mau peduli pada orang lain seperti ini," lanjut Kenan sombong.
Nara beralih menatapnya lagi, "Aku enggak butuh kepedulian mu, aku bisa urus diriku sendiri!"
"Iya-iya, kau memang enggak butuh aku, tapi paling tidak makanlah sedikit saja biar kepedulian ku ada hasilnya! Setelah itu minum obatnya, dan aku enggak akan mengganggu tidurmu lagi." Kenan langsung menyendok nasi beserta lauknya lalu menyodorkannya ke depan mulut Nara.
Meskipun sempat termangu dan merasa kesal bercampur canggung, tapi akhirnya Nara menurut, dia membuka mulutnya dan memakan apa yang Kenan sodorkan.
Melihat Nara akhirnya mau makan, Kenan tersenyum samar. Entah mengapa hatinya merasa lega.
"Sudah."
"Tapi masih sedikit sekali," protes Kenan.
"Mulutku enggak enak, rasanya pahit," keluh Nara.
"Sesuap lagi." Kenan memaksa.
"Aku enggak mau!"
"Ya sudahlah, sekarang kau minum." Kenan mengalah, dia meletakkan piring tersebut di atas meja lalu meraih gelas yang berisi air putih.
__ADS_1
Dengan hati-hati Nara bangkit dari pembaringan, kepalanya semakin terasa berputar. Kenan memberikan air putih tersebut dan membantu Nara minum, dia juga mengambilkan obat penurun panas yang tadi dia bawa.
Setelah minum obat, Nara kembali membaringkan tubuhnya yang masih terasa sangat lemas dan kedinginan, kemudian menarik selimut menutupinya.
"Tidurlah, aku keluar dulu," kata Kenan dan langsung beranjak dari sisi Nara.
"Terima kasih," ucap Nara, dia menatap Kenan dengan mata yang sayu.
Kenan hanya mengangguk dan segera keluar dari dalam kamar, dia ingin membiarkan Nara beristirahat dengan tenang.
Nara memandangi kepergian Kenan, ini untuk pertama kali suaminya yang super angkuh itu bisa bicara dan bersikap baik terhadapnya. Entah mengapa hati Nara merasa hangat dan bahagia.
***
Di apartemen mewahnya, Jessi sedang uring-uringan sendiri. Pasalnya pesan yang dia kirimkan pada Kenan sampai sekarang tak ada balasan, padahal Jessi hanya meminta maaf dan mengajak pemuda yang dia cintai itu untuk bertemu.
"Kenan benar-benar keterlaluan! Aku enggak bisa biarkan dia terus-terusan menjauhi ku, aku harus cari cara agar hubungan kami bisa baik lagi."
Jessi duduk merenung, dia berusaha memikirkan cara untuk membuat Kenan yang dia cintai itu mau bertemu dan bicara padanya, dia akan mengambil hati pemuda itu lagi.
Jessi menyeringai saat sebuah ide cemerlang mampir di kepalanya.
"Kalau begitu aku harus ke rumahnya, aku akan minta bantuan Tante Windy untuk membujuk Kenan agar mau berbaikan lagi denganku."
Dengan semangat Jessi beranjak dan berlari ke kamarnya, dia harus berdandan yang cantik dan elegan seperti biasanya.
***
__ADS_1