
Nara sedang dirias oleh seorang make-up artis yang tadi Rendy kirim ke rumahnya. Sebenarnya Nara sudah menolak, tapi pria bertubuh gemulai bernama Jenni itu tetap memaksa karena Rendy sudah membayarnya. Dengan telaten dia mendandani Nara dengan make-up flawless, tampilan sempurna namun tetap tampak natural. Kemudian dia lanjut menata rambut Nara, dia mengepang lalu menyanggulnya menjadi model braided updo.
"Sudah selesai, cantik," ujar Jenni setelah memberikan sentuhan akhir pada rambut Nara.
Nara memandangi pantulan dirinya di depan cermin, dia benar-benar takjub dengan hasil karya Jenni. Dirinya kini terlihat bak putri raja yang, dia sungguh tak menyangka bisa secantik ini.
"Gimana? You suka?" tanya Jenni.
Nara mengangguk, "Suka banget!"
"Kalau begitu sekarang you ganti pakaian, jangan buat pacar you menunggu."
Nara mengernyit, "Pacar?"
"Iya, Mas Rendy pacar you, kan?"
"Eh, bukan. Kami cuma teman, kok!" bantah Nara.
"Masa cuma teman, sih? Eke pikir kalian sepasang kekasih."
"Bukan, kok. Kami cuma teman dekat sekaligus tetangga," terang Nara.
"Oh, sayang sekali. Kalau eke jadi you, pasti eke sikat itu Mas Rendy. Sudah ganteng, kaya, pintar, baik lagi," ujar Jenni, dia sudah lama mengenal keluarga Rendy dan sangat mengagumi pemuda itu.
Nara tersenyum kecut, andai dia bisa memilih, dia juga ingin Rendy yang menjadi pendampingnya saat ini. Tapi takdir telah menetapkan dia menjadi istri seorang Kenan Mahendra, si bocah sombong yang menyebalkan.
"Ya sudah sekarang you ganti baju, biar eke tunggu di luar," pinta Jenni sembari berjalan keluar dari kamar.
Nara pun meraih dress cantik yang dibelikan oleh Rendy tadi, dia menatap dress itu dengan senyum mengembang.
***
Rendy sedang menunggu Nara sambil menenteng sebuah paper bag besar, dia baru saja datang tepat di saat Jenni turun.
"Kenapa lama sekali?" tanya Rendy yang sudah tak sabar ingin melihat penampilan Nara.
"Sabar, Mas Ren. Sebentar lagi juga turun, kok," sahut Jenni dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
"Aku penasaran dia secantik apa?"
"Cantik banget lah pokoknya, walaupun masih cantikan eke," jawab Jenni lalu terkekeh.
Rendy melirik Jenni dengan wajah jijik, "Memangnya ada yang bilang kamu cantik?"
"Ada, dong! Jenni kan makhluk Tuhan yang paling cantik dan seksi," ujar Jenni penuh percaya diri.
__ADS_1
"Jonni .... Jonni, belum apa-apa sudah mabuk," ledek Rendy sembari geleng-geleng kepala.
"Jenni, Mas. Bukan Jonni!" protes Jenni dengan wajah masam.
Di saat bersamaan Nara melangkah menuruni anak tangga dengan sangat anggun, Rendy sampai terperangah takjub melihat penampilannya.
"Kamu cantik banget, Ra," puji Rendy ketika Nara berjalan ke arahnya dengan malu-malu karena tatapan pemuda itu tak lepas darinya.
"Terima kasih, Ren." Nara tersipu.
"Siapa dulu make-up artis nya,"sela Jenni bangga.
"Iya-iya, kamu memang the best, Jon!"
Jenni langsung cemberut, "Ish, Jenni, Mas!"
Rendy terkekeh, lalu kembali menatap Nara yang juga tertawa melihat Jenni merajuk.
"Oh iya, Ra. Aku ada sesuatu buat kamu." Rendy membongkar paper bag yang dia bawa.
Nara mengernyit, "Apa itu, Ren?"
"Kamu pakai ini, ya?" Rendy menunjukkan sepasang heels warna hitam yang sangat cantik dan elegan.
"Enggak, ini punya mendiang Mama aku. Mudah-mudahan pas di kaki kamu."
"Tapi aku enggak pernah pakai heels, aku takut jatuh."
"Coba dulu, ini enggak terlalu tinggi, kok."
Nara mendesah pasrah, lalu meraih heels itu dari tangan Rendy dan duduk di sofa. Dia mengenakan heels cantik itu, dan sangat kebetulan heels tersebut pas di kakinya.
"Cocok banget di kaki kamu! Sekarang coba berdiri dan jalan!"
Dengan perlahan Nara bangkit dari duduknya dan mulai melangkah dengan hati-hati, namun di langkah yang ke tiga dia nyaris jatuh, beruntung Rendy sigap menangkap dan memeganginya. Sejenak kedua muda-mudi itu saling pandang dengan jarak yang cukup dekat.
Cekrek ....
Suara nyaring dari kamera ponsel Jenni sontak mengagetkan mereka, keduanya segera memalingkan wajah dan bergerak menjauh dengan canggung.
"Pose yang luar biasa," puji Jenni seraya memandangi hasil tangkapan kameranya.
Rendy menatap pria gemulai itu dengan kesal, "Ngapain foto-foto, sih, Jon?"
"Habis kalian mesra banget."
__ADS_1
Nara tertunduk malu.
"Hapus!" pinta Rendy.
Jenni menggeleng, "Enggak, fotonya mau aku simpan buat kenang-kenangan, kapan lagi dapat momen bagus seperti ini."
"Jonni! Hapus!" bentak Rendy dengan mata melotot.
"Iya-iya, galak banget, sih!" gerutu Jenni.
"Sudah?"
"Sudah, nih!" Jenni menunjukkan layar ponselnya pada Rendy.
Rendy beralih menatap Nara yang membisu dengan wajah merona, "Yuk, kita berangkat!"
"Tapi aku enggak bisa pakai ini, aku takut jatuh lagi seperti tadi," keluh Nara.
Rendy mengulurkan tangannya ke hadapan Nara, "Kamu bisa pegang tangan aku, dan aku akan selalu berada di dekat kamu. Jadi jangan khawatir!"
Nara menatap tangan Rendy yang terulur di depannya, dia ragu ingin meraihnya.
"Ayo, Ra!"
Dengan ragu-ragu Nara meraih tangan Rendy dan menggenggamnya, dia gugup dan benar-benar kikuk.
"Sebentar aku pamit dengan Bi Ani dulu," ujar Nara dan Rendy mengangguk.
Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju dapur. Jenni memandangi mereka dengan senyum penuh arti, rupanya dia belum menghapus permanen foto tadi.
Sementara itu, Kenan sudah lebih dulu berada di kafe tempat Han mengadakan acara ulang tahun. Tadinya dia hanya berniat membeli hadiah untuk Han, tapi karena kesal dengan Nara, dia jadi malas pulang dan memilih langsung ke sini.
"Kau ini sebenarnya kenapa, sih? Datang kecepatan dengan wajah masam begitu, kau lagi ada masalah?" cecar Han yang heran.
"Memangnya aku enggak boleh datang duluan?" Kenan balik bertanya dengan ketus.
"Bukan begitu, tapi aneh saja."
"Sudahlah, kau jangan ganggu aku! Lebih baik kau urus persiapan pestamu ini sebelum teman-teman yang lain datang."
"Sudah, kok. Semua persiapan sudah aman, tinggal nunggu band pengisi acaranya dan para tamu datang."
Kenan tak membalas perkataan sahabatnya itu, dia sedang malas bicara, moodnya benar-benar jelek hari ini akibat pertengkarannya dengan Nara tadi. Dia kesal karena Nara terus saja memuji Rendy dan membanding-bandingkan dirinya dengan pemuda itu.
***
__ADS_1