
"Kalau kakak gak mau lepas gimana?" Kata Haikal bertanya pada Ryan.
Bocah kecil itu kemudian berpikir keras untuk menjawab ucapan Haikal. Sampai pada akhirnya bocah itu mendapatkan sebuah jawaban dan tanpa pikir panjang dia langsung menjawab ucapan Haikal.
"Akan Ryan gigit tangan kakak yang peluk Ryan ini. Kakak memangnya nggak takut." Kata Ryan saat membalas ucapan Haikal penuh dengan tekanan ketika mengucapkan kata demi kata.
"Coba saja lakukan, lagi pula gigitan kamu mungkin akan seperti semut tak akan kerasa apa - apa oleh kakak." Kata Haikal seolah - olah dia meremehkan gigitan yang akan Ryan berikan pada nya. Sehingga perkataan itu lolos begitu saja dari bibirnya.
"Baiklah jika itu menurut kakak, Ryan akan langsung menggigit kakak." Kata Ryan yang seketika langsung menggigit tangan kanan Ryan dengan kekuatan tinggi.
Hal ini membuat Haikal seketika langsung melepas pelukannya dari Ryan. Kemudian memegangi tangan bekas gigitan Ryan yang begitu menusuk sampai - sampai ada bekas gigitan dari tangannya itu.
"Aw... sakitnya tangan kakak, kenapa kamu beneran gigit tangan kakak dengan kencang? lihat tangan kakak sampai sakit karena ulah mu." Kata Haikal mengeluhkan gigitan yang ia terima dari Ryan.
"Yang suruh Ryan buat gigit siapa dan satu lagi yang bilang gigitan Ryan seperti semut siapa. Kenapa sekarang kakak malah salahin Ryan. Ini gak adil buat Ryan." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
Haikal yang bingung menjawab apa ucapan Ryan, seketika hanya bisa terdiam sambil mengelus - ngelus tangannya yang di gigit.
Tante Ratna yang sudah gatal ingin ketawa seketika meledakan tawanya dengan sangat keras karena melihat ekspresi wajah Haikal yang kebingungan menjawab ucapan Ryan.
"Hahahaha... hahaha... kena ucapan sendiri. Haikal, Haikal bisa - bisa nya meremehkan adik kecil mu ini. Sekarang enak ya, digigit sampai berbekas seperti itu." Kata tante Ratna yang tertawa begitu keras sambil mengejek Haikal.
"Ya ampun mah, sampai gak berperasaan seperti itu. Tangan Haikal kesakitan seperti ini karena ulah Ryan, tapi mamah malah salahin Haikal. Ini bener - benar gak adil, kenapa adik selalu benar. Sementara kakak harus selalu mengalah. Nasib, nasib." Kata Haikal membalas ucapan tante Ratna.
__ADS_1
"Lagian itu salah mu sendiri begitu meremehkan kemampuan gigit menggigit Ryan. Sekarang tau rasa sendiri bukan gimana rasanya gigitan tersebut. Apa benar mirip seperti gigitan semut. Lalu semut jenis apa yang berhasil menggigit tangan mu tersebut." Kata tante Ratna membalas ucapan Haikal.
"Semut jadi - jadian yang tega sampai membuat bekas gigitan seperti ini." Kata Haikal berkata asal sambil menunjuk bekas gigitan yang Ryan tinggal kan itu.
Ryan yang tak terima hasil gigitannya di sebut seperti semut jadi - jadian yang secara otomatis bahwa semut jadi - jadian itu adalah dirinya.
Kini mulai protes pada Haikal dengan brutalnya.
"Apa kakak bilang, gigitan itu di buat oleh semut jadi - jadian. Not kak, itu yang buat gigitan di tangan kakak adalah gigitan Ryan bukan semut jadi - jadian. Ryan gak terima hasil karya Ryan di tangan kakak, malah kakak sebut buatan orang lain. Itu sangat - sangat melukai hati Ryan." Kata Ryan dengan nada anak kecil yang lucu bahkan kini tangannya pun ia simpan di kedua pinggangnya.
"Kenapa dia malah mendadak jadi garang seperti ini." Kata Haikal di dalam hatinya sebelum menjawab ucapan Ryan.
"Hem... kakak malas kalau harus bilang ini gigitan Ryan, jadi kakak sebut saja gigitan ini adalah gigitan semut jadi - jadian yang menjelma jadi Ryan." Kata Haikal membalas asal ucapan Ryan.
"Cerewet sekali sih kamu, kakak sempet berpikir kalau adik kakak ini sebenernya laki - laki atau perempuan." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Kakak memangnya tidak bisa melihat kalau rambut Ryan itu gak panjang dan Ryan juga gak pake gelang sama satu lagi kakak bisa liat kan di telinga Ryan gak ada anting. Jadi kakak sepertinya harus ke rumah sakit biar di periksa sama dokter lalu di suntik. Biar setelah itu bisa tau kalau Ryan ini sebenernya laki - laki." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
"Hais... gak gitu juga. Kamu nih, ko mirip banget sama Rindi yang tak mu kalah dalam urusan bicara." Kata Haikal yang saat ini kembali mengingat Rindi orang yang selalu mengajaknya berdebat.
"Stop kak jangan samakan Ryan dengan aunty karena Ryan berbeda dengan auty yang suka cubit pipi Ryan." Kata Ryan tak mau di samakan dengan Rindi oleh Haikal.
"Lah kenapa gak mau, kalian berdua tuh mirip. Sebelas dua belas bikin kakak naik darah." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
__ADS_1
"Sekali lagi kakak tetep ngeyel menyebut Ryan sama seperti aury. Liat saja tangan kakak yang satunya akan Ryan gigit lagi. Biar sekalian merasakan sakit yang sama." Kata Ryan yang begitu kejam sampai mengancam Haikal.
Haikal yang ngeri membayangkan tangan satunya di gigit kembali oleh Haikal kini mulai membayangkan hal - hal aneh yang akan terjadi dengan tangannya.
"Argh... kalau sampai tangan gue ini, beneran di gigit oleh monster kecil ini. Bisa - bisa putus atau bahkan bengkak tangan gue. Not, hal ini tak boleh sampai terjadi. Sudah cukup rasa sakit yang gue rasa di gigitan pertama secara tiba - tiba itu. Gue gak mau merasakan hal yang sama lagi." Kata Haikal berbicara di dalam hatinya.
"Gimana kak, apa kakak mau Ryan gigit lagi tangannya. Sini kalau itu yang kakak mau, berikan tangan kakak yang satunya. Ryan pun dengan senang hati akan menggigit tangan kakak." Kata Ryan setelah cukup lama menunggu Haikal. Namun, gak kunjung ada jawaban dari Haikal sama sekali.
Sehingga ia kembali mengeluarkan suaranya pada Haikal.
"Apa kamu bilang ingin langsung kakak sendiri yang menyerahkan tangan kakak. Not, hal itu tak akan pernah kamu dapatkan." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Kenapa bisa seperti itu. Kakak memangnya tak mau Ryan buat hasil karya lagi." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
"Lebih baik kakak setuju saja ucapan kamu. Dari pada tangan kakak yang harus jadi korban karena bersih kukuh tetap mempertahankan ucapan kakak agar tetap benar." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Kakak ternyata pecundang yang takut. Payah nya Ryan punya kakak seperti kakak ini." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
"Apa kamu bilang, kakak payah dan pecundang. Kalau hal itu ada di diri kakak lalu kamu sebagai adik kakak menjadi seperti kakak juga bukan." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Tidak akan seperti itu lah kak. Ryan berbeda dengan kakak." Kata Ryan dengan percaya dirinya membalas ucapan Haikal.
Bersambung...
__ADS_1