Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 67 (TAMAT)


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Kenan dan Nara sudah mulai kuliah di universitas yang sama. Mereka juga mengambil jurusan yang sama, alasannya agar Kenan bisa terus menjaga istrinya itu, terutama dari pria-pria genit yang ada di sana.


Nara dan Kenan bersiap untuk berangkat kuliah, tapi tiba-tiba kepala Nara pusing dan pandangannya gelap, dia juga nyaris terjatuh untung Kenan sigap menangkapnya.


"Kamu kenapa?" tanya Kenan cemas.


"Enggak tahu, tiba-tiba kepalaku pusing sekali dan badanku lemas," adu Nara.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit." Kenan panik, dia takut penyakit Nara kambuh lagi.


Nara menggeleng, "Enggak usah! Aku enggak apa-apa."


"Tapi aku takut kamu sakit lagi. Ke rumah sakit aja, yuk!"


"Ya sudah, deh!"


Kenan pun bergegas membantu Nara masuk ke dalam mobil dan segera membawa istrinya itu ke rumah sakit terdekat.


Satu jam kemudian, keduanya sudah berada di rumah sakit dan Nara telah diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia sakit apa?" cecar Kenan cemas.


Dokter wanita berumur lima puluh tahun itu tersenyum sebelum bicara, "Istri kamu sehat, dia enggak sakit apa-apa, kok. Saat ini istri kamu sedang hamil enam Minggu, selamat, ya."


Kenan dan Nara tercengang mendengar penjelasan dokter tersebut.


"Serius, Dok? Jadi sebentar lagi kami akan punya bayi?" Kenan yang masih tak percaya berusaha memastikan.


Dokter itu mengangguk, "Iya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Jadi pesan saya, tolong dijaga kesehatan istri kamu, beri dia makanan yang bergizi dan pastikan pikirannya untuk tetap tenang. Nanti saya akan meresepkan obat dan vitamin juga."


"Iya, Dok. Saya pasti menjaga anak dan istri saya dengan sebaik-baiknya," ujar Kenan.


Nara hanya bergeming, saking kaget dan bahagianya, dia tak mampu berkata-kata lagi. Dia mengelus perutnya yang masih rata dan tersenyum senang.


"Ternyata enggak sia-sia aku bercocok tanam setiap hari," bisik Kenan di telinga istrinya itu.

__ADS_1


Mata Nara sontak melotot mendengar kata-kata Kenan, wajahnya seketika merah karena malu.


***


Hari ini Kenan dan Nara mengundang keluarga mereka untuk datang ke penthouse, mereka bermaksud ingin menyampaikan kabar kehamilan Nara secara langsung.


"Sebenarnya dalam rangka apa kau mengundang kami ke sini?" tanya Rendy yang kesal karena kedua orang itu memaksanya datang, padahal hari ini dia ada janji bertemu dengan seorang gadis.


"Ada yang mau aku sampaikan," jawab Kenan.


"Kau kan bisa mengatakannya dari telepon," ujar Rendy.


"Enggak bisa! Hal ini harus aku sampaikan langsung padamu," balas Kenan tak mau kalah.


"Kau ini menyusahkan saja!" gerutu Rendy.


"Memangnya kau enggak senang bertemu dengan adikmu? Kakak macam apa kau ini?" ledek Kenan.


"Bukan begitu!" bantah Rendy, "masalahnya aku sedang ada janji dengan seseorang! Terpaksa aku batalkan!"


"Alah, paling kau janjian dengan Ivan dan Radit," sahut Kenan dengan nada menyepelekan.


"Kalau kalian masih ingin berdebat, kami permisi!" ancam Hendra.


"Iya, benar!" sambung Tama.


Rendy dan Kenan langsung diam seribu bahasa. Sementara Nara hanya tertawa geli melihat suami dan kakaknya itu terdiam karena diancam sang mertua.


Begitu juga dengan Windy yang sudah membaik walaupun harus duduk di kursi roda karena mengalami kelumpuhan, dia sudah bisa tersenyum walaupun sebelah bibirnya masih sedikit miring.


"Sebenarnya ada apa kalian memanggil kami ke sini?" tanya Hendra yang sudah penasaran.


"Kami mau menyampaikan sesuatu, Pa," jawab Kenan.


"Kalau begitu, ayo katakan! Kami sudah enggak sabar ingin mendengarnya," pinta Hendra.

__ADS_1


"Iya, Om juga sudah penasaran nih!" sela Tama.


Kenan mengeluarkan selembar kertas lalu menyodorkannya pada semua orang.


"Apa maksudnya ini? Nara hamil?" cecar Hendra.


Kenan dan Nara mengangguk bersamaan sembari tersenyum.


Semua orang terkesiap, ada rona kebahagiaan sekaligus tak percaya di wajah mereka.


"Jadi sebentar lagi kami akan menjadi Kakek dan Nenek?" Hendra bertanya dengan penuh semangat.


"Iya, Papa dan Om Tama akan jadi Kakek, Mama akan jadi Nenek dan dia ...." Kenan mengjeda kata-katanya sambil menunjuk Rendy.


"Jadi Pakde," lanjut Kenan kemudian tertawa.


Wajah Rendy langsung masam, "Oh, enggak bisa! Anak kalian harus memanggil aku ... Uncle."


"Uncle Muthu?" seloroh Kenan dan kembali tertawa.


Semua orang ikut tertawa mendengar kelakar Kenan.


"Kalau begitu selamat buat kalian berdua. Jaga kandungan kamu, jangan terlalu lelah dan harus makan makanan yang bergizi. Dan satu lagi, jangan banyak pikiran dan usahakan selalu happy. Karena bayi di dalam perut juga bisa merasakan kesedihan bundanya," terang Tama.


"Iya, Om. Terima kasih banyak," balas Nara.


"Kau dengar itu? Jangan buat adikku sedih! Awas saja!" ancam Rendy.


"Kakak ipar tenang saja! Aku pastikan adikmu ini akan selalu bahagia bersamaku!" ujar Kenan sembari merangkul pundak Nara.


Semua orang kembali tertawa melihat kebahagiaan yang kini Nara dan Kenan rasakan. Berawal dari sebuah kesalahan dan rasa benci, kini keduanya saling mencintai satu sama lain dan bersiap mengarungi bahtera rumah tangga bersama.


Hidup memang tak bisa ditebak, kita tak akan pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, semua menjadi rahasia sang pencipta.


❤️ TAMAT ❤️

__ADS_1


***


Terima kasih sudah mengikuti kisah Nara. Semoga banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini. Mampir juga ke karyaku yang lainnya, ya.🥰


__ADS_2