
Di dalam mobil, Nara masih kedinginan. Tubuh kurusnya sampai gemetaran.
"Kamu masih kedinginan?" tanya Rendy cemas.
Nara mengangguk, "Iya, Ren."
Rendy pun segera membuka kemeja yang dia kenakan, sehingga hanya menyisakan kaos putih polos yang masih melekat di tubuhnya, lalu memberikan kemeja tersebut ke Nara, "Pakai ini!"
Nara menatap Rendy dengan kaget, "Eh, enggak usah, Ren!"
"Nara, aku enggak mau kamu sakit lagi. Sekarang pakai, ya!"
Nara akhirnya mengangguk, dia hendak meraih kemeja itu dengan tangan yang gemetar, tapi Rendy justru memakaikannya, membuat jarak mereka sangat dekat.
Tepat di saat itu, Kenan keluar dari kafe dan melihat semuanya. Dia berpikir jika Nara dan Rendy sedang berciuman di dalam mobil.
Kenan mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan rasa geram dan marah yang sudah memenuhi hati serta pikirannya. Dia ingin sekali melabrak kedua orang itu, tapi takut membuat masalah di tempat tersebut dan menarik perhatian teman-temannya yang lain. Dia tak mau ada yang tahu jika saat ini dia sedang berselisih dengan Rendy dan Nara.
Mobil Rendy mulai bergerak meninggalkan parkiran kafe, Kenan pun buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan menyusul mereka.
Rendy tak menyadari jika Kenan terus membuntuti mobilnya, dia menambahkan kecepatan agar bisa segera tiba di rumah dan Nara tidak kedinginan lagi. Namun tiba-tiba Kenan menyalipnya lalu berhenti tepat di depan mobilnya.
"Ya, Tuhan!" Rendy yang kaget refleks mengerem mendadak.
Nara pun terkejut setengah mati, tubuhnya langsung lemas dan gemetar, wajahnya sampai pucat.
Rendy menatap Nara dengan cemas, "Kamu enggak apa-apa?"
Nara menggeleng, "Enggak, Ren."
Rendy lantas beralih memandang Kenan yang sudah turun dari mobilnya dan berjalan ke arah mereka dengan tatapan tajam.
"Kenan? Mau apa dia?" tanya Rendy, dia buru-buru melepaskan safety belt nya dan hendak keluar, tapi Nara menahan lengannya.
"Kamu mau ngapain, Ren?" Nara mendadak cemas.
"Aku mau menemui Kenan, kamu tunggu di sini!"
"Aku ikut!"
"Jangan! Kamu tetap di dalam mobil!" Rendy segera keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Kenan.
Keduanya berdiri berhadapan dan saling melempar tatapan tajam, Nara semakin khawatir melihatnya.
"Apa mau mu?" tanya Rendy.
"Aku mau, kau jauhi Nara," jawab Kenan dingin.
Rendy mengernyit, "Kenapa? Bukankah waktu itu kau bilang, aku boleh mengambilnya? Kenapa sekarang kau memintaku menjauhinya?"
__ADS_1
"Sudah jangan banyak bacot! Kalau aku bilang jauhi, berarti kau harus jauhi!"
Rendy tertawa, membuat Kenan bingung melihat tingkahnya itu.
"Bagaimana kalau aku enggak mau?" tantang Rendy.
"Kau akan menyesal."
"Justru kau yang akan menyesali semuanya, karena aku akan merebut Nara darimu! Jadi bersiaplah!"
"Kau lagi-lagi mengancam ku."
"Aku bukan mengancam, aku hanya mengingatkan mu!" bantah Rendy.
Kenan mengepalkan tangannya, "Jangan membuat kesabaran ku habis!"
"Memangnya kenapa kalau kesabaran mu habis, haa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Rendy, Kenan justru melayangkan bogem mentah ke wajah sahabat sekaligus rivalnya itu. Rendy yang tak siap menerima serangan mendadak dari Kenan sampai terhuyung dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Rendy!" pekik Nara panik.
Rendy meraba pipinya yang sakit sembari menatap Kenan dengan tajam, "Sialan kau!"
Tak ingin jadi pecundang, Rendy pun mendekati Kenan dan membalas pukulan pemuda itu. Keduanya pun saling serang satu sama lain.
Melihat kejadian tersebut, Nara yang semakin panik langsung keluar dari mobil kemudian berlari menghampiri keduanya.
Beberapa orang yang melintas sampai berhenti dan berusaha melerai perkelahian antara dua pemuda itu.
"Hei, berhenti!" teriak seorang pria yang menarik Kenan, dan beberapa pria lain memegangi Rendy. Keduanya akhirnya bisa dipisahkan.
Nara langsung berlari mendekati Rendy dan memandangnya dengan cemas, "Kamu enggak apa-apa, Ren?"
Rendy menggeleng sambil menyeka sudut bibirnya yang pecah dan berdarah akibat dipukul Kenan.
Melihat perhatian Nara ke Rendy, membuat Kenan kecewa dan semakin kesal. Padahal dia juga terluka, tapi istrinya itu lebih memedulikan pria lain alih-alih dirinya.
Kenan melepaskan cekalan tangan orang-orang yang memeganginya dan bergegas pergi dari tempat itu dengan penuh amarah. Dia tak mau lebih lama lagi menyaksikan kedekatan Nara dan Rendy yang entah mengapa belakangan ini selalu membuat hatinya nyeri.
Nara hanya memandangi kepergian Kenan dengan bingung, dia tak mengerti kenapa suaminya itu bertindak seperti ini. Bahkan saking bingung dan paniknya, dia mengabaikan rasa dingin yang menyerangnya.
***
Dengan hati-hati Nara mengobati sudut bibir Rendy yang robek, untung saja calon dokter itu selalu membawa kotak P3K di dalam mobilnya.
Rendy hanya memejamkan mata menahan perih di bibirnya.
"Sudah." Nara merapikan kotak obat tersebut.
__ADS_1
Rendy membuka matanya, "Terima kasih, Ra."
"Sama-sama. Sebenarnya ada apa, Ren? Kenapa kalian sampai berkelahi seperti tadi?" tanya Nara penasaran.
"Dia menyuruh aku menjauhi kamu, tapi aku enggak mau," jawab Rendy jujur.
"Jadi ini gara-gara aku?" Nara jadi merasa bersalah.
Rendy menggeleng, "Sebenarnya ini gara-gara sikap angkuh dan egoisnya. Kamu ingat waktu itu kan dia sendiri yang menyuruh aku mengambil kamu dari dia, jadi sekarang aku sedang mengabulkan permintaannya."
"Ren, aku bukan barang yang bisa kalian jadikan bahan rebutan!" protes Nara yang merasa tersinggung.
"Bukan begitu, Ra! Aku hanya ingin kamu terbebas dari Kenan dan keluarganya, aku enggak mau dia dan mamanya terus-terusan memperlakukan kamu dengan semena-mena."
"Iya, tapi bukan begini caranya! Kalian sudah merusak persahabatan kalian sendiri."
Rendy terdiam.
"Aku tahu kalian itu sebenarnya saling menyayangi dan peduli satu sama lain, walaupun kalian sering bersaing dan bertengkar," lanjut Nara dengan suara bergetar.
"Kamu tahu dari mana kalau kami sering bersaing dan bertengkar?"
"Bi Ani yang cerita," sahut Nara.
Rendy kembali bergeming, dia baru ingat kalau asisten rumah tangga Kenan itu sudah ada sejak Kenan kecil.
"Ren, aku mohon jangan lagi berseteru dengan Kenan karena aku! Aku jadi merasa bersalah," pinta Nara dengan mata berkaca-kaca.
"Aku enggak bisa, Ra. Selama kamu masih ada di rumah itu, aku enggak akan berhenti menjagamu," bantah Rendy.
"Tapi aku enggak mau persahabatan kalian jadi rusak karena aku."
"Persahabatan kami memang sudah rusak sejak lama," gumam Rendy.
Nara mengerutkan keningnya, "Maksud kamu?"
"Sudahlah, lupakan saja! Yuk, pulang!" Rendy langsung menyalakan mesin mobilnya, dia tak ingin Nara tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Nara menghela napas, dia tak ingin memaksa Rendy bicara meskipun dia penasaran dengan apa yang terjadi.
Sementara itu, Kenan yang terluka dan kesal memilih untuk melampiaskan emosinya di salah satu klub malam langganannya. Dia memang pernah berjanji untuk tidak lagi menyentuh minuman keras, tapi saat ini hanya cairan memabukkan itulah yang dia butuhkan untuk menenangkan diri.
Dia memandangi gelas yang dia genggam dengan nanar, bayangan wajah Nara terus saja mengusik pikirannya. Kenan memejamkan mata, entah mengapa ada rasa sakit di hatinya setiap kali teringat kedekatan dan kemesraan antara Nara dengan Rendy. Dia tak rela sahabat sekaligus rivalnya itu merebut Nara darinya.
Awalnya Kenan berpikir dia hanya takut kalah dari Rendy, tapi sekarang dia sadar bahwa ada sebuah rasa aneh yang membuat dia takut kehilangan Nara. Mungkinkah ada yang salah dengan hatinya? Atau sebenarnya dia mulai jatuh cinta pada istrinya itu?
Kenan membuka mata dan mengembuskan napas berat, dia menyesal pernah meminta Rendy mengambil Nara darinya. Dia menyesal membuat Nara membencinya, dia sungguh menyesali semuanya.
"Nara," ucap Kenan yang mulai mabuk.
__ADS_1
***