Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 37.


__ADS_3

Nara berjalan memasuki rumah tepat di saat Kenan menuruni anak tangga, dia menatap Nara kemudian melirik paper bag dengan logo salah satu brand terkenal yang wanita itu pegang.


"Oh, setelah berhasil mencari perhatian, sekarang memanfaatkan situasi," sindir Kenan sinis.


Nara yang mendengar kata-kata Kenan merasa kesal dan tersinggung, namun dia berusaha mengabaikan pemuda itu sebab sedang malas berdebat. Dia berjalan melewati Kenan begitu saja tanpa sedikitpun memandang ke arah suaminya itu, dan sikap cueknya tersebut membuat Kenan semakin kesal.


"Sudah berapa banyak uangnya yang kau habiskan?" sindir Kenan lagi dan kali ini Nara terpancing.


"Aku enggak pernah menghabiskan uang siapa pun, dan aku juga enggak pernah minta apa pun Rendy. Dia sendiri yang memberikan semua ini padaku," balas Nara.


Kenan tertawa mengejek, "Pasti semua yang dia berikan padamu enggak cuma-cuma, kan? Pasti ada balasannya, atau jangan-jangan ini upah karena kau sudah melakukan sesuatu."


"Tutup mulutmu! Jangan menuduh sembarangan!" bentak Nara.


Kenan sontak menatap istrinya itu, "Jangan membentak ku!"


"Memangnya kau siapa sampai aku enggak boleh membentak mu? Asal kau tahu, Rendy itu pria yang baik dan dia sangat menghargai aku, enggak seperti kau! Jadi jangan pernah menuduhnya macam-macam!" ujar Nara penuh emosi.


Mendengar Nara memuji Rendy dan membanding-bandingkan dengan dirinya, emosi Kenan semakin terpancing. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh sang istri.


Kenan mencengkeram lengan Nara dan menatap tajam wanita itu, "Jangan pernah bandingkan aku dengan si sialan itu!"


Bukannya takut, Nara malah semakin menantang Kenan, "Kenapa? Kau enggak terima karena dia lebih baik segalanya darimu?"


"Aku bilang jangan bandingkan aku dengan dia!" ujar Kenan dengan rahang yang mengeras, dia bahkan semakin kuat mencengkeram lengan Nara hingga membuat wanita itu meringis menahan sakit.


Bi Ani yang mendengar pertengkaran mereka hanya bisa mengintip dari balik dinding, dia tak berani ikut campur sebab tahu tabiat Kenan seperti apa.


"Mulai detik ini aku enggak mau lihat dia datang ke rumah ini lagi, ngerti kau?" lanjut Kenan penuh penekanan, dia melepaskan cekalan tangannya di lengan Nara lalu berlalu dari hadapan wanita itu dengan penuh emosi.


Nara pun menangis sembari memegangi lengan atasnya yang sakit. Dia terluka dan sedih karena Kenan lagi-lagi menghina dirinya serta bertindak kasar, Nara benar-benar sakit hati. Dia pun melanjutkan langkahnya menuju lantai dua.

__ADS_1


Sementara itu, Kenan yang sedang kesal dan emosi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa dia benci Nara memuji dan membela Rendy, dia enggak suka wanita tersebut membanding-bandingkan dirinya dengan pemuda itu, dia merasa iri.


"Berengsek!" maki Kenan sambil memukul stir mobilnya dengan kuat.


"Kalian berdua memang enggak tahu diri, munafik!" umpat Kenan penuh kekesalan.


***


Di dalam kamar, Nara masih menangis tersedu-sedu, dia menumpahkan kesedihan dan rasa kesalnya atas kata-kata serta sikap kasar Kenan tadi.


"Mbak Nara, boleh Bibi masuk?" Bi Ani bertanya dari luar pintu.


Nara buru-buru menghapus air matanya lalu menjawab, "Iya, Bi. Silakan masuk!"


Pintu kamar Kenan terbuka, Bi Ani masuk dan berjalan menghampiri Nara yang duduk di depan meja hias.


"Mbak Nara baik-baik saja?" tanya Bi Ani cemas.


"Mbak Nara yang sabar, ya? Jangan dimasukin hati omongannya Mas Kenan, dia memang gitu kalau lagi marah."


"Tapi aku salah apa, Bi? Kenapa dia marah padahal aku enggak mengganggunya sama sekali, aku bahkan sudah berusaha mengabaikan dia," keluh Nara lirih.


"Bibi rasa Mas Kenan itu sebenarnya iri sama Mas Rendy."


Nara mengernyit, "Iri?"


"Iya, dia merasa tersaingi dan kalah karena Mbak Nara lebih dekat dengan Mas Rendy, apalagi tadi Mbak Nara memuji Mas Rendy."


"Tapi mereka itu kan bersahabat, Bi. Masa iri dengan sahabat sendiri?"


"Iya, Mas Kenan dan Mas Rendy itu memang bersahabat sejak kecil, tapi mereka juga sering bersaing dalam berbagai hal. Mas Kenan enggak pernah mau kalah dari Mas Rendy, dia selalu ingin lebih unggul. Tapi biarpun sering bersaing, mereka itu sebenarnya saling peduli satu sama lain. Cuma karena tabiat Mas Kenan itu memang kasar dan arogan, jadi dia sulit menunjukkan kepeduliannya," terang Bi Ani panjang lebar, dia sudah ikut dengan keluarga Hendra sejak Kenan masih kecil dan dia tahu banyak tentang anak majikannya itu.

__ADS_1


"Aneh, bersahabat dan saling peduli tapi malah bersaing."


"Itulah uniknya persahabatan Mas Kenan dan Mas Rendy, mereka sering berdebat dan bertengkar, tapi sebentar lagi akur kembali. Besoknya bertengkar lagi, lalu akur lagi, begitu seterusnya. Tapi Bibi rasa pertengkaran mereka kali ini cukup besar, Bibi belum pernah melihat Mas Kenan sampai semarah itu pada Mas Rendy."


"Kenap bisa seperti itu, ya, Bi?" tanya Nara heran.


"Mungkin karena Mas Kenan cemburu sama Mas Rendy. Bibi rasa sebenarnya Mas Kenan itu sudah jatuh cinta pada Mbak Nara, makanya dia marah setiap kali Mbak Nara dekat dengan Mas Rendy," tebak Bi Ani yang selama ini memperhatikan gelagat tak biasa Kenan.


Nara tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya, "Bibi ini bicara apa, sih? Mana mungkin si angkuh itu jatuh cinta padaku, yang ada dia benci banget sama aku, Bi."


"Bibi yakin, Mbak. Buktinya kemarin waktu Mbak Nara tenggelam, dia langsung lompat ke kolam dan menyelamatkan Mbak Nara. Dia juga memberikan napas buatan dan menggendong Mbak Nara ke kamar."


Wajah Nara langsung merah saat teringat kejadian itu.


"Dia mencemaskan Mbak Nara, bahkan dia mau merawat dan menyuapi Mbak Nara makan. Biasanya Mas Kenan enggak mau peduli seperti itu pada orang lain, Mbak. Apa coba tandanya kalau bukan cinta?" lanjut Bi Ani.


Nara tertegun, dia teringat pada ucapan Kenan waktu itu.


"Jangan kelamaan mikir! Kesempatan enggak datang dua kali, lagian jarang-jarang aku mau peduli pada orang lain seperti ini."


Tapi Nara kembali teringat sanggahan Kenan saat dia menatap lelaki itu dengan curiga karena bersikap baik padanya.


"Kau jangan salah paham dan berpikiran macam-macam! Aku peduli dan mau melakukan semua itu karena aku masih punya hati, aku bukan manusia enggak berperasaan seperti yang kau katakan. Lagipula anggap ini balas budiku karena waktu itu kau sudah merawat ku saat aku sakit."


Tring ....


Ponsel Nara berbunyi, membuat lamunannya buyar seketika. Dia mengambil benda pipih itu dan membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh Rendy.


"AKU KIRIM SESEORANG KE TEMPAT KAMU, SEBENTAR LAGI DIA TIBA."


***

__ADS_1


__ADS_2