Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 203 Menahan Sakit Dan Pedih


__ADS_3

Tiga menit berlalu, rasanya kaki Rindi sudah mulai pegal karena terus berlari tanpa henti. Bahkan sangat terlihat jelas ketika ia yang awalnya berjarak lumayan jauh dengan para bodyguard ayahnya. Kini hanya tersisa beberapa langkah saja.


"Huh... hah... huh... hah... capek banget lagi. Rasanya udah nggak kuat lagi untuk lari. Tapi, kalau aku berhenti. Bisa - bisa aku langsung tertangkap oleh mereka. Argh... aku nggak mau nikah muda. Lebih baik aku tetap lari saja." Kata Rindi mengeluhkan apa yang saat ini ia rasa kan di sela - seka berlarinya.


"Mar, larinya non Rindi cepet banget ya. Kita yang udah terlatih aja masih belum ada yang bisa susul atau menangkap nona Rindi. Lain waktu aku mau minta diajarin deh cara lari yang seperti itu pada nona Rindi." Kata Doni pada Mario.


"Hem... ucapan kamu memang ada benernya juga. Biasanya kalau ngejar cewek nggak mungkin selama ini. Dalam hitungan detik saja kita pasti sudah menangkap nya. Namun, berbeda dengan nona Rindi sampai saat ini kita tak bisa menyusul atau bahkan menangkapnya." Kata Mario membalas ucapan Doni.


"Nah itu yang gue salutin. Nanti kalau acara kejar - kejaran ini selesai. Gue mau minta di ajarin deh cara lari yang seperti ini pada nona Rindi." Kata Doni membalas ucapan Mario.


"Liat kelakuan mereka berdua, bukannya fokus mengejar nona Rindi. Ini malah fokus berbicara." Kata Bayu pada Guntur.


"Sudahlah kamu juga jangan banyak bicara. Apa bedanya kamu sama mereka jika terus bicara." Kata Guntur membalas ucapan Bayu.


"Yey... lagian gue hanya memberitahu lo aja. Ya sudahlah percuma gue jelasin juga. Lo nggak akan paham." Kata Bayu pada akhirnya memilih mengalah.


"Hem... lebih baik lo fokus berlari dan segera bisa menangkap nona Rindi. Sebaiknya kita lakukan penangkapan dua arah. Kalau searah kaya gini larinya. Bisa - bisa kita semua nggak bisa menangkap nona Rindi." Kata Guntur membalas ucapan Bayu.


"Maksud kamu apa?" Kata Bayu yang masih belum paham dengan ucapan yang Guntur berikan. Sehingga ia pun mulai bertanya pada Guntur.


"Ya kita berpencar larinya, nggak berbarengan kaya gini berlima mengejar nona Rindi dengan satu arah." Kata Guntur membalas ucapan Bayu.


"Oh gitu, tapi ucapan kamu itu ada benernya juga Gun, kita harus berpencar. Em... kalau gak salah di depan ada jalan pintas. Kita berdua berlari ke arah sana aja. Buat tangkap nona Rindi di bagian depan." Kata Bayu membalas ucapan Guntur.


"Lo tau jalannya nggak, ntar malah ke sasar lagi. Bukannya cepat ketemu nona Rindi di depan malah kita ketinggalan jauh." Kata Guntur yang mulai curiga dengan Bayu. Karena sempat waktu itu Bayu pun menyarankan hal yang sama. Namun, kenyataannya ia tak tahu arah jalan dari jalan pintas itu.


Sehingga mengakibatkan mereka tak bisa menangkap target.

__ADS_1


"Lo trauma bro, lagian sekarang gue beneran udah tau. Jadi nggak akan ke sasar. Hehehe..." Kata Bayu membalas ucapan Guntur.


"Ya sudah, ayo tunggu apa lagi. Lebih baik sekarang kita berpencar." Kata Guntur yang langsung menyetujui ucapan Bayu.


"Let's go, bro kita berdua ambil jalan pintas ya. Gue sama Guntur mau berlari di jalan yang lain. Biar cepat tangkap nona Rindi." Kata Bayu berpamitan dulu pada ketiga temannya yang lain sebelum memutuskan untuk berpencar.


"Oke, kalian berdua harus cepat. Jangan lupa kabarin kita kalau sudah bisa menangkap non Rindi." Kata Doni mewakili mereka bertiga membalas ucapan Bayu.


"Oke, kami berdua berpencar dulu." Kata Bayu yang langsung berpamitan.


"Iya." Kata Doni membalas singkat ucapan Bayu.


Sementara Rindi, kini harus mengerahkan kekuatannya yang hanya tersedia sedikit lagi untuk ia bisa sampai ke mobil Haikal.


"Huh... hah... ayo Rindi kamu pasti bisa, ini hanya tersisa beberapa langkah lagi. Setelah ini kamu nggak akan merasa capek lagi." Kata Rindi menyemangati dirinya sendiri.


"Iya, gue harus semangat." Kata Rindi melanjutkan lagi ucapannya.


Bug...


"Aw... kenapa harus jatuh sih. Padahal kan bentar lagi. Mana sakit lagi tanaga dan kaki gue. Em... lebih baik gue langsung lari lagi aja deh. Kalau seperti ini terus bisa - bisa gue langsung ke tangkap. Kan nggak mau gue kalau itu sampai terjadi." Kata Rindi saat ia telah terduduk karena terjatuh.


Bangkitlah ia dari duduknya itu, dengan kaki tertatih karena menahan sakit dan pedih. Ia pun mulai berlari ke arah mobil Haikal.


Sampai pada akhirnya ia bisa sampai di dekat mobil itu. Dan tanpa menunggu lagi. Rindi mulai memasuki mobil itu.


"Huh... leganya bisa masuk juga ke sini. Ayo kak, jalan." Kata Rindi sambil mengelap keringat dengan tanganya di dahi dan meminta Haikal untuk segera melajukan mobil.

__ADS_1


Tanpa menjawab ucapan Rindi kini Haikal mulai melajukan mobil dengan kecepatan yang luar biasa di atas tata - rata.


"Gila banget kak, ini kakak kenapa lajuin mobilnya cepet kaya gini sih. Jadi oleng nih Rindi karena kecepatan mobilnya sangat kencang." Kata Rindi yang kaget karena Haikal menjalankan mobilnya sungguh luar biasa menguji diri seperti ikut dalam perlombaan balap mobil. Tanjab gas, tak ada celah yang Haikal biarkan pada lawan untuk menyusul.


"Biar nggak ke susul, jadi kakak cepetin aja lajunya." Kata Haikal akhirnya mengeluarkan suara.


"Hem... cepetin sih cepetin kak. Tapi nggak sampai kaya gini juga. Kakak lajuin mobilnya dengan kecepan sedang aja. Rindi jamin para bodyguard ayah nggak mungkin bisa mengejar. Mereka aja ngejar Rindi dengan berlari. Jadi, Rindi rasa sekarang kak Haikal bisa menurunkan kecepatan laju mobilnya." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.


"Hem... ucapan kamu ada benernya juga Rindi. Kenapa kakak kok baru kepikiran ya? Apa mungkin karena panik kali ya, kakak jadi langsung lajuin mobilnya dengan kecepan tinggi." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


"Sepertinya kaya gitu sih kak. Em... ngomong - ngomong Yen, lo punya minum nggak. Tenggorokan gue kering nih minta di isi air katanya." Kata Rindi membalas ucapan Haikal sambil berkata juga pada Yeni.


"Em... nggak ada Rin, gue nggak sempat bawa." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.


"Gue kira ada, em... kak bisa berhentiin mobilnya sebentar nggak, Rindi mau beli minum dulu." Kata Rindi membalas ucapan Yeni sambil berbicara juga pada Haikal.


"Nggak bisa Rindi, kakak takutnya bodyguard ayah kamu susul kita dengan mobil juga atau bahkan dengan motor. Bisa - bisa setelah kamu pergi membeli minum. Kita semua tertangkap." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.


"Hem... ya sudh kak, kalau gitu Rindi tidur aja deh. Biar bisa ngehilangin rasa haus. Nanti kalau udah sampai bangunin Rindi ya." Kata Rindi membalas ucapan Haikal lalu menutup matanya.


Dan tanpa di duga, terdengar dengkuran halus dari Rindi yang menandakan bahwa ia sekarang sedang menikmati alam mimpi.


"Ck... tuh anak, baru aja bicara udah tidur kaya gitu." Kata Haikal yang melihat Rindi sudah tertidur.


"Sudahlah kak, mungkin karena lelah abis lari. Jadi langsung tidur kaya gitu." Kata Yeni membalas ucapan Haikal.


"Hem... iya juga ya, ya sudah yank kita biar kan saja dia tidur." Kata Haikal membalas ucapan Yeni sambil menujuk Rindi.

__ADS_1


"Iya kak." Kata Yeni membalas ucapan Haikal dengan satu kata saja.


Bersambung...


__ADS_2