Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 54.


__ADS_3

Seluruh kamar Windy sudah diperiksa, di dalam lemari, berangkas dan setiap tempat telah dibongkar, tapi kalung berlian yang dimaksud itu tidak ditemukan.


"Enggak ada, kan? Berarti sekarang geledah barang-barang dia! Mama yakin kalung itu ada padanya!" ujar Windy sembari menunjuk Nara yang terpaku dengan wajah tegang.


"Ma, sudahlah! Aku yakin kalung itu hanya terselip," sela Kenan.


"Kau diam! Jangan membela perempuan kampung itu!"


"Mama!" bentak Hendra.


"Baiklah, silakan periksa barang-barang ku!" ucap Nara tegas.


Kenan dan Hendra langsung memandang Nara.


"Nara, enggak perlu!" Kenan tak setuju, namun Nara tak menggubrisnya sama sekali.


"Tunggu apa lagi? Cepat geledah!" desak Windy.


Dengan sangat terpaksa mereka beralih ke kamar Kenan dan meminta Bi Ani memeriksa lemari serta beberapa tempat di ruangan itu. Sedangkan Nara, Kenan dan Hendra mengawasi dengan cemas.


"Di lemari enggak ada, Bu," ujar Bi Ani yang merasa lega.


"Cari ditempat lain! Geledah tas itu!" pinta Windy seraya menunjuk Tote bag milik Nara yang tergantung di samping meja hias.


Karena merasa tak enak, Bi Ani menatap Nara untuk meminta persetujuan dan wanita berparas ayu tersebut mengangguk.


Bi Ani pun bergegas membongkar isi Tote bag itu satu per satu, dan dia terkejut setengah mati saat melihat sebuah kalung berlian ada di dalam tas tersebut.


"Ada, Bi?" Windy memastikan.


Bi Ani yang gugup dan takut pun menggeleng, "Enggak ada, Bu."


Windy tercengang mendengar jawaban Bi Ani.


Dengan tangan gemetar Bi Ani bergegas memasukkan kembali barang-barang Nara yang dia bongkar tadi.


"Bibi cari yang benar, dong!" sungut Windy.


"I-iya, Bu," sahut Bi gugup.


"Ma sudahlah! Hentikan semua ini!" pinta Kenan.


"Iya, Ma. Sebaiknya kita keluar dari sini!" ajak Hendra.


"Mama yakin pasti ada! Kalau begitu biar Mama yang cari sendiri!" Windy langsung menarik Tote bag tadi dari tangan Bi Ani lalu menuang isinya ke lantai.


Nara, Kenan dan Hendra terkejut melihat kalung berlian itu ada di antara barang-barang yang berserakan di lantai. Namun Kenan merasa ada yang aneh, dia sontak menatap Windy dengan curiga.


"Lihat! Itu kalung Mama!" Windy langsung memungut perhiasan mahal tersebut.


Nara benar-benar syok, dia tak percaya kalung berlian yang bahkan baru pertama kali ini dia lihat ada di dalam tasnya. Bi Ani pun semakin ketakutan karena sekarang dia ketahuan berbohong.


"Aku sudah menduga, pasti kau yang mencurinya!" hardik Windy.


"Enggak, aku enggak mencurinya!" bantah Nara.


"Lalu ini apa?" bentak Windy seraya menunjukkan kalung berlian yang dia pegang.

__ADS_1


"Nara, bagaimana kalung itu bisa ada di tas kamu?" selidik Hendra yang tak percaya jika Nara pelakunya.


Nara menggeleng, "Aku juga enggak tahu, Pa."


"Jangan pura-pura lagi! Semuanya sudah jelas, kau itu maling! Dasar perempuan kampung enggak tahu diri!" umpat Windy.


"Mama, cukup!" bentak Kenan dan Hendra bersamaan.


Windy terdiam kaget karena dibentak oleh suami dan anaknya.


"Ma, jangan menghina Nara, karena dia enggak bersalah! Sebenarnya aku yang mengambil kalung Mama dan meletakkannya di dalam tas itu," ujar Kenan lugas.


Semua orang tercengang mendengar pengakuan Kenan itu.


"Apa-apaan kau ini? Jangan menutupi kesalahannya!" ujar Windy tak terima.


"Ma, aku lah pelakunya. Aku yang mencuri kalung Mama bukan Nara!" tegas Kenan.


Windy terdiam kesal sambil meremas kalung di tangannya, dia tak menyangka Kenan akan melakukan semua ini hanya karena Nara.


"Tapi kenapa kau lakukan itu, Ken?" tanya Hendra bingung.


"Aku kesal pada Nara karena dia mengabaikan aku, Pa. Aku sengaja ingin membuat dia terkena masalah," ujar Kenan sambil memandang Nara yang juga menatapnya dengan kecewa.


Hendra marah, "Kau ini benar-benar keterlaluan! Kau membuat seisi rumah geger karena ulah mu itu!"


"Aku minta maaf, Pa," ucap Kenan.


"Minta maaf pada Nara dan Mamamu, bukan pada Papa!"


"Iya, Pa."


Kenan hanya mengangguk menanggapi omelan sang ayah sambil sesekali melirik Nara.


Hendra lalu mengalihkan pandangannya ke Windy, "Mama juga, lain kali jangan sembarangan menuduh orang lain seenaknya! Selidiki dan cari tahu dulu! Kalau tuduhan Mama itu enggak benar, bisa jadi fitnah. Mengerti?"


Windy hanya bergeming? dengan wajah masam.


"Kalau begitu masalah ini selesai dan Papa enggak mau ada kejadian serupa terulang lagi!"


Nara, Kenan dan Bi Ani mengangguk patuh.


"Bi Ani tolong bereskan semua ini," titah Hendra.


"Ba-baik, Pak!" sahut Bi Ani gugup.


"Dan kau ikut ke ruang kerja Papa, kita harus bicara!" perintah Hendra pada Kenan.


"Iya, Pa."


Hendra yang kesal segera meninggalkan kamar putranya itu.


Selepas kepergian Hendra, Windy langsung menatap tajam Nara, "Puas kau sekarang? Semua orang di rumah ini mati-matian membela mu!"


Nara tertegun mendengar kata-kata Windy, namun dia tak ingin membalasnya karena saat ini rasa marahnya hanya terfokus pada Kenan. Begitu juga dengan Bi Ani, asisten rumah tangga itu hanya bisa tertunduk takut.


"Ma, sudahlah! Kenapa Mama terus saja memojokkan Nara? Dia enggak salah apa-apa," protes Kenan.

__ADS_1


Windy menoleh ke arah Kenan dengan tatapan sinis, "Terus saja kau membela perempuan kampung ini dan melawan Mamamu sendiri! Dasar anak durhaka!"


Windy bergegas keluar dari kamar Kenan dengan penuh amarah karena rencananya untuk menjebak Nara dan mengusir menantunya itu gagal total. Bi Ani pun segera membereskan barang-barang Nara yang berserakan di lantai.


"Aku minta maaf untuk yang tadi," ucap Kenan.


"Aku enggak sangka kau begitu licik, kau tega memfitnahku dan membuat aku terkena masalah dengan cara yang kotor!" kecam Nara sambil menatap tajam Kenan yang berdiri di hadapannya.


Bukannya marah, Kenan malah tersenyum mendengar Nara memarahinya, apalagi kini wanita itu mau menatapnya walaupun dengan sorot mata penuh amarah. Kenan benar-benar rindu tatapan itu, dia rindu Nara memarahinya seperti ini.


Melihat Kenan hanya tersenyum memandangnya, Nara jadi bingung, "Kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau pasti enggak merasa bersalah, kan? Dasar enggak punya perasaan!"


Nara yang kesal pun memutuskan untuk berlalu dari hadapan suaminya itu. Kenan hanya mengembuskan napas melihat kepergiannya.


"Ternyata begini caranya agar dia mau menatapku dan menganggap aku ada. Baiklah, aku akan membuat dia marah untuk mencari perhatiannya," batin Kenan.


Namun kemudian Kenan teringat pada Windy, dia pun bergegas menemui mamanya itu.


Bi Ani geleng-geleng kepala melihat pasangan suami istri belia itu lagi-lagi bertengkar, "Mereka selalu saja bertengkar, sudah seperti anjing dan kucing."


Kenan masuk ke kamar Windy, tampak sang ibu yang tengah kesal, sedang duduk sendiri di tepi ranjang dengan wajah cemberut.


"Kita perlu bicara, Ma!"


"Mau apa lagi kau ke sini?" sergah Windy ketus.


"Aku tahu ini ulah Mama," tuduh Kenan tanpa basa-basi.


Windy mendadak panik, "Apa maksudmu?"


"Sudahlah, Ma. Jangan bersandiwara lagi dan berlagak seolah-olah Mama itu korbannya, aku tahu semuanya."


Di saat bersamaan, Bi Ani yang sudah selesai membereskan barang-barang Nara melintas di depan kamar Windy dan mendengar pembicaraan di dalam.


Windy terdiam dengan wajah tegang, dia merasa takut sekaligus cemas.


"Mama sengaja menjebak Nara agar Mama punya alasan untuk mengusirnya dari rumah ini, kan?"


"Bicara apa kau ini?" Windy pura-pura tak mengerti.


"Jangan pura-pura lagi, Ma. Sebaiknya Mama ngaku aja!"


Windy mengembuskan napas pasrah, "Iya, kau benar! Mama ingin dia pergi dari rumah ini dan berhenti mengganggu hidupmu! Mama benci dia, Mama enggak terima kau mencintai!"


Bi Ani terkejut mendengar pengakuan majikannya itu, sekarang dia tahu jika tadi Kenan berbohong untuk menyelamatkan Nara dari jebakan sang mama.


"Ma, Nara enggak pernah mengganggu ku! Dan Mama enggak boleh membencinya karena dia itu istriku!"


"Cukup, Kenan! Semakin kau membelanya, maka Mama akan semakin benci pada dia! Mama akan lakukan apa pun untuk memisahkan kalian, termasuk melenyapkan perempuan kampung itu!" Windy berbicara dengan penuh kebencian.


"Jangan coba-coba menyakiti Nara, karena aku enggak akan diam aja."


"Kau pikir Mama takut dengan ancaman mu itu? Kita lihat saja nanti apa yang akan Mama lakukan untuk memisahkan kalian." Windy balik mengancam sang putra.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba untuk menyakiti Nara atau Mama akan menyesal!" Kenan segera pergi dari kamar mamanya itu.


Melihat handle pintu kamar Windy bergerak, Bi Ani yang masih menguping buru-buru berlari menjauh sebab takut ketahuan. Dia harus sampaikan apa yang dia dengar ini ke Nara, dia tak ingin wanita malang itu salah paham pada Kenan.

__ADS_1


***


__ADS_2