Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 207 Menerima Nasib


__ADS_3

"Ayo neng, bapak langsung bantu. Gun, ayo kita bantu. Temennya neng ini harus segera di bawa ke rumah sakit." Kata pak Didin yang terkejut dan langsung membantu Yeni.


"Ayo Din, ayo neng kita harus cepat." Kata pak Gugun menyetujui ajakan pak Didin.


"Alhamdulillah, bapak bisa bantu saya. Mari pak ikutin saya, teman saya ada di ujung jalan sana." Kata Yeni membalas ucapan bapak keamanan tersebut.


Setelah itu mereka bertiga pun langsung pergi ke tempat Haikal saat ini.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga telah sampai dan tanpa berpikir panjang pak Didin dan pak Gugun langsung memindahkan Haikal ke dalam mobil.


Setelah Haikal berada di dalam mobil, Yeni kemudian ingin memberikan sedikit uang karena telah membantu dirinya memindahkan Haikal.


Namun, hal tersebut di tolak oleh pak Didin dan pak Gugun. Mereka malah menyuruh Yeni untuk segera membawa Haikal ke rumah sakit.


Yeni coba ke dua kalinya memberikan uang tersebut. Tetapi masih di tolak juga. Hingga akhirnya ia pun hanya bisa mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih pak atas bantuannya. Saya benar - benar berterima kasih pada bapak Didin dan bapak Gugun. Semoga kebaikan bapak Didin dan bapak Gugun di balas oleh Allah." Kata Yeni pada pak Didin dan pak Gugun.


"Iya neng sama - sama, aamiin. Temennya neng juga semoga bisa lekas sembuh dan bisa segera membaik keadaannya, selamat sampai tujuan." Kata pak Didin.


"Sama - sama neng, aamiin. Semoga lekas sembuh temannya neng dan keadaannya baik - baik saja." Kata pak Gugun.


"Aamiin. Makasih pak sekali lagi. Saya pamit ya pak. Assalamualaikum." Kata Yeni membalas ucapan kedua bapak keamanan tersebut.


"Iya neng, hati - hari di jalan. Wa'alaikumsalam." Kata pak Didin dan pak Gugun hampir bersamaan.


Yeni pun kemudian membalas ucapan kedua bapak tersebut dengan senyuman. Lalu ia pun mulai masuk ke dalam mobil dan setelah itu mobil pun melaju meninggalkan kedua bapak tersebut.


"Kak bertahan ya, bentar lagi kita sampai di rumah sakit." Kata Yeni yang masih khawatir dengan keadaan Haikal.


"Jangan terlalu khawatir yank, kakak baik - baik." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.


"Baik - baik gimana kak, darah di wajah kakak aja masih keluar. Yeni akan cepat bawa mobilnya biar kita bisa cepat sampai." Kata Yeni laku menaikan kecepatan laju mobil.

__ADS_1


"Yank, jangan ngebut kaya gini. Seperti tadi aja. Kalau kamu bawa mobil dalam keadaan ngebut kemudian khawatir kita bisa kenapa - kenapa yank. Ayo kamu turunin lagi laju mobilnya." Kata Haikal memperingati Yeni untuk segera menurunkan laju mobil.


"Nggak akan kenapa - kenapa ko kak, Yeni udah terbiasa bawa mobil dalam kecepatan seperti ini." Kata Yeni sengaja berbohong pada Haikal.


"Jangan bohong yank, tangan kamu aja gemetar kaya gitu. Ayo cepat turunin." Kata Haikal membalas ucapan Yeni kemudian melihat tangan Yeni yang sempat gemetar.


"Kakak salah liat, tangan Yeni baik - baik aja ko nggak gemetar sama sekali. Jadi kakak diam aja. Yeni sedang fokus menyetir." Kata Yeni membalas ucapan Haikal.


"Kalau kamu nggak mau turunin laju mobilnya. Sini biar kakak saja yang nyetir." Kata Haikal lalu berusaha untuk bangkit dari berbaring nya.


Yeni yang melihat hal itu kemudian langsung berkata pada Haikal.


"Iya deh iya kak, Yeni turunin lagi laju mobilnya. Kakak jangan terlalu banyak bergerak ntar rasa sakitnya tambah banyak." Kata Yeni pada Haikal.


"Kakak nggak akan banyak gerak kalau kamu langsngu turutin ucapan kakak." Kata Haikal membakas ucapan Yeni.


"Iya kak maafin Yeni, segini gimana kak kecepatannya." Kata Yeni kemudian meminta maaf dan bertanya mengenai laju mobil nya saat ini pada Haikal.


"Udah lebih baik dari yang tadi." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.


Sementara Rindi yang berada di dalam mobil bodyguard ayahnya. Terus memberontak agar segera di lepas.


"Argh... gue mau keluar, lo berdua nggak liat keadaan kakak gue. Kenapa lo sampai pukul kakak gue babak belur kaya gitu. Gue tonjok juga kalian berdua." Kata Rindi memaki dan berteriak pada bodyguard ayahnya ini.


"Diam nona, jika nona terus bicara, maka dengan terpaksa saya akan lakban mulut nona." Kata Beni membalas ucapan Rindi.


"Cuih, banci kalian. Gue mau keluar. Tolong... gue di culik." Kata Rindi kemudian berteriak meminta tolong.


Beni yang geram dengan tingkah Rindi seketika langsung menutup bibir Rindi dengan lakban.


"Em... em..." Kata Rindi yang sudah di lakban mulutnya.


"Gini kan jadi tenang telinga gue. Maaf nona saya harus melakban mulut nona." Kata beni setelah melakban mulut Rindi.

__ADS_1


"Sudah lo lakban mulut nona." Kata Kendra pada Beni.


"Sudah." Kata Beni membalas ucapan Kendra dengan satu kata saja.


"Harusnya lo lakuin itu sedari tadi. Bukan barusan langsung lo lakban." Kata Kendra pada Beni.


"Iya deh gue salah, tapi sekarang kan gue udah lakuin. Jadi lo jangan terus salahin gue." Kata beni membalas ucapan Kendra.


"Gue nggak salahin lo, gue hanya kasih tau lo." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


"Sama aja kali. Ujung - ujungnya lo salahin gue." Kata beni membalas ucapan Kendra.


"Terserah lo aja deh." Kata Kendra membalas ucapan Beni.


Hening tak ada lagi yang bicara diantara mereka berdua. Rindi yang berusaha untuk berteriak kini mulai menerima nasib.


Namun setelah lima menit ia baru sadar bahwa kakinya tak diikat. Bukannya ini bisa ia manfaatkan untuk menendang Beni.


Dengan menunggu waktu yang tepat Rindi pun langsung menendang Beni dengan brutal setelah mendapatkan kesempatan.


Bug...


"Aw... nona kenapa anda tendang saya. Nona mau berusaha kabur lagi." Kata Beni secara cepat saat tendangan Rindi terus terjadi berulang kali ia dapatkan.


"Ikat aja Ben kakinya nona. Biar lo juga nggak terus mendapatkan tendangan." Kata Kendra langsung menyarankan Bebi mengikat kaki Rindi.


"Hem... akan gue lakuin. Gue juga nggak terima terus di tendang kaya gini. Apalagi jika mengingat milik lo yang di tendang sama nona. Miris gue ngebayangin nya juga. Makannya gue nggak mau kalau sampai itu terjadi sama gue." Kata Beni membalas ucapan Kendra.


Kemudian ia pun mulai mengeluarkan sebuah tali di saku celananya.


Dengan tiga kali percobaan yang gagal terus. Akhirnya ia pun bisa mengikat kaki Rindi.


"Argh... sebel banget sih gue. Seharusnya gue udah bisa kabur. Ini malah di ikat lagi. Argh... awas aja ntar gue tendang satu - satu kalian dan gue tonjok wajah kalian." Kata Rindu di dalam hatinya.

__ADS_1


"Sudah gue ikat Ken, akhirnya bisa juga gue ikat kaki nona." Kata Beni memberitahu Kendra mengenai keberhasilan ia dalam mengikat kaki Rindi.


Bersambung...


__ADS_2