
"Suka - suka gue lah mau tanya atau balik tanya. Masalah buat lo." Kata Bagas semakin sengit.
"Jelas masalah, lo malah buat gue emosi." Kata Haikal yang tak kalah sengit.
"Yeni, Ryan ayo kita pergi." Kata tante Ratna di sela - sela perdebatan Haikal dan Bagas.
"Pergi kemana tante?" Kata Yeni sebelum menyetujui ucapan tante Ratna, ia pun bertanya terlebih dulu pada tante Ratna.
"Pergi jauh aja dari sini. Biar kepala kita nggak pusing dan telinga kita nggak sakit terus melirik kanan kiri dan dengerin perdebatan mereka berdua. Ayo kita pergi." Kaya tante Ratna membalas ucapan Yeni sambil menujuk Haikal dan Bagas.
"Baik tante, Yeni ikut tante aja." Kata Yeni membalas ucapan tante Ratna.
"Ya sudah ayo kita bertiga pergi." Kata tante Ratna sambil menggandeng tangan Ryan.
"Ayo mah." Kata Ryan membalas ucapan tante Ratna.
"Ayo tante." Kata Yeni membalas juga ucapan tante Ratna.
"Oke." Kata tante Ratna membalas ucapan mereka sambil membentuk huruf O dengan tangan kanannya.
"Em... tante penasaran nih." Kata tante Ratna saat di perjalanan bertanya pada Yeni.
Dengan ragu Yeni pun menjawab ucapan tante Ratna.
"Ma...af tante sebelumnya. Kalau boleh Yeni tau tante penasaran mengenai apa?" Kata Yeni membalas ucapan tante Ratna.
"Jangan terlalu formal sama tante. Kita bicara santai aja." Kata tante Ratna membalas ucapan Yeni.
"Tapi..." Kata Yeni yang baru saja satu kata ia ucapkan. Namun, harus terpotong oleh ucapan tante Ratna yang secara tiba - tiba.
"Sudah lah kamu jangan membantah lagi. Em... tante pengen tau, kamu sama Ryan udah dari mana aja. Haikal juga ikut bareng kalian kan." Kata tante Ratna membalas ucapan Yeni sambil bertanya pada Yeni mengenai kepergiannya tadi.
Ryan yang mendengar pertanyaan itu dengan antusias membatu Yeni untuk menjawab nya.
"Ryan sama kakak cantik pergi beli ice cream mah, abis itu pergi ke taman belakang sambil tanam bunga." Kata Ryan penuh semangat saat membatu Yeni menjawab pertanyaan tante Ratna.
"Oh ya, Ryan senang pergi ke sana bareng kak Yeni." Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
__ADS_1
Dengan cepat Ryan langsung mengagukkan kepalanya cepat.
"Seneng bahkan seneng banget mah. Lain waktu kita pergi lagi yuk kakak cantik. Kakak cantik mau kan. Please mau ya." Kata Ryan membalas ucapan tante Ratna sambil memelas pada Yeni.
Ekspresi wajah yang di tunjukan Ryan terhadapnya membuat Yeni tak bisa menolak bahkan kalau bisa ia ingin sekali mencubit pipi Ryan. Rasanya gemes banget pengen ia cupit pipi Ryan.
Beruntung ia tak langsung mencubit pipi Ryan kalau sampai ia melakukan pencubitan itu. Bisa - bisa ia tak bisa terkendali. Karena ketika ia mencubit pipi keponakannya Seli. Ia bahkan sampai lupa diri terus mencubit sampai ponakannya menangis tak henti - hentinya.
Itulah Yeni tingkah lakunya tak jauh beda dengan Rindi yang kerap kali setiap bertemu ponakan selalu mencubit pipi mereka. Apalagi dengan Ryan, Rindi bahkan terus membuat anak kecil itu menangis karena seringnya ia cubit pipi anak itu.
Benar - benar bestie mereka berdua sama - sama suka buat ponakan nangis.
"Hehehe... gue ko mirip banget ya sama Rindi kalau gue pilki - pikir lagi. Apalagi dalam soal mencubit ponakan. Sebelum ponakan gue nangis mana mungkin gue berhenti cubit. Hahahaha... Jahat banget kan gue."
"Em... tapi seru juga sih cubit pipi ponakan. Apalagi liat pipi gembul nya. Ah... baru bayangin aja udah pengen gue cubit apalagi kalau udah berdekatan dan saling hadap - hadapan. Gue langsung eksekusi tuh ponakan dengan cubitan gue tentunya. Hahahaha..."
Itu lah kata - kata yang Yeni lontarkan di dalam hatinya mengenai kebiasaan ia yang tak jauh berbeda dengan Rindi. Sering banget cubit pipi ponakan.
"Oke boleh deh, lain waktu kita main lagi." Kata Yeni kemudian mengusap pipi Ryan dengan tangannya.
Walau sebenarnya tangan yang mengusap pipi Ryan tersebut sudah gatal ingin mencupit. Namun, Yeni tak sampai lupa bahwa Ryan bukan ponakannya.
Hal ini pasti akan sangat sulit bagi dia untuk dekat lagi dengan keluarga Haikal. Not, ia nggak boleh sia - siain kesempatan langka seperti ini.
Walaupun ia belum yakin sih Haikal beneran suka sama ia juga. Tapi, usaha dulu nggak masalah bukan.
"Yey... Ryan seneng banget. Nanti temenin Ryan beli mainan baru ya kakak cantik. Boleh kan." Kata Ryan begitu bahagia saat mendengar persetujuan Yeni atas ucapannya tadi.
"Tentu saja boleh. Kapan kita pergi?" Kata Yeni membalas ucapan Ryan.
"Em... nanti Ryan pikirkan dulu ya kakak cantik. Kalau udah yakin, Ryan kasih tau kakak cantik lagi." Kata Ryan begitu mirip orang dewasa saat membalas ucapan Yeni.
"Baiklah kakak tunggu. Tapi jangan lama - lama." Kata Yeni membalas ucapan Ryan.
"Oke kak." Kata Ryan membalas ucapan Yeni.
"Mamah nggak di ajak nih Ryan." Kata tante Ratna bertanya pada Ryan.
__ADS_1
"Hehehe... Ryan pergi sama kakak cantik aja ya mah. Bolehkan, lain waktu kita pergi bertiga gimana mah?" Kata Ryan membalas ucapan tante Ratna.
"Hem... baiklah Ryan." Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
"Oke mah." Kata Ryan membalas ucapan tante Ratna.
"Ya sudah ayo kita pergi lagi." Kata tante Ratna kemudian mengajak mereka berdua kembali melangkahkan kaki setelah cukup lama terdiam ketika mereka mengobrol barusan.
"Iya tante." Kata Yeni membalas ucapan tante Ratna.
"Iya mah." Kata Ryan juga membalas ucapan tante Ratna.
Tak ada percakapan lagi diantara mereka bertiga.
Namun, berbeda hal dengan keadaan Haikal dan Bagas yang sampai saat ini masih terus beradu mulut. Sampai tak ada yang mau sedikit pun mengalah.
Namun, selang sepuluh menit kemudian barulah mereka menghentikan perdebatan itu. Saat Bagas menyadari bahwa tante Ratna, Ryan dan Yeni sudah tak berada di sekitar mereka lagi.
"Bentar bro." Kata Bagas secara tiba - tiba menghentikan ucapan Haikal ketika laki - laki itu sedang berbicara.
"Apa lagi sih, lo mau bilang nyerah hah." Kata Haikal yang langsung naik oktaf saat ia membalas ucapan Bagas.
"Ngegas banget sih lo. Untung gue nggak punya penyakit jantung. Kalau punya, lo udah jadi tersangka." Kata Bagas membalas ucapan Haikal terlalu berlebihan.
"Lagian lo sendiri kenapa malah potong ucapan gue yang belum selesai." Kata Haikal yang masih terbawa emosi.
"Liat coba di sekeliling lo." Bukannya menjawab ucapan Haikal, Bagas malah menyuruh Haikal untuk melihat ke sekeliling nya.
"Ngapain gue harus liat ke sekeling. Kaya gue yang nggak punya kerjaan aja." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
Walau demikian ia pun tetap melihat ke sekelingnya.
"Lo suruh gue liat ke sekeling buat apa sih. Jelasin coba." Kata Haikal saat ia mulai melihat sekeliling.
"Apa yang nggak lo liat." Kata Bagas membuat Haikal kebingungan sampai mengerutkan alisnya.
"Maksud lo apaan sih?" Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
__ADS_1
Bersambung...