
Rendy masih sibuk memilih beberapa dress cantik yang terpajang di sebuah toko pakaian dengan brand ternama, Nara bingung karena pemuda justru memilah pakaian wanita alih-alih baju pria.
"Aku kirain kamu mau beli baju untuk kamu," ujar Nara.
"Nanti setelah aku mendapatkan apa yang aku cari," sahut Rendy tanpa memandang Nara yang berdiri di sampingnya.
Nara semakin penasaran, tadi jam tangan wanita dan sekarang dress, kira-kira untuk siapa Rendy membeli semua itu?
"Nah, yang ini sepertinya cocok!" Rendy menarik sebuah dress selutut dengan model kerah Sabrina berbahan maxmara polos, lalu menyodorkannya ke Nara, "nih, kamu coba dulu!"
Nara terkesiap, dia memandang Rendy dan dress berwarna navy tersebut bergantian dengan wajah bingung, "Kenapa aku yang harus mencobanya?"
"Karena dress ini untuk kamu, nanti malam aku mau ajak kamu ke pesta," jawab Rendy.
Nara tercengang, "Ke pesta nanti malam? Pesta apa?"
"Ulang tahunnya Han."
"Ren, aku kan enggak diundang, lagian aku enggak pede gabung bareng kalian." Nara tertunduk sedih.
"Dia mengundang semua teman satu kelas, berarti termasuk kamu. Tapi mungkin di enggak tahu mau hubungi kamu ke mana," dalih Rendy.
Nara terdiam, mencoba memikirkan permintaan Rendy itu. Kalau Han mengundang semua teman sekelasnya, berarti Kenan juga akan datang, apalagi Han juga merupakan teman baik suaminya itu.
"Aku malas, Ren. Pasti nanti di sana juga ada Kenan dan Jessi, aku enggak mau mereka menghinaku."
"Mereka enggak akan berani menghina kamu, karena aku akan selalu menjagamu. Lagian kamu datang bersama aku, berarti kamu juga tamu yang harus mereka hargai."
Nara kembali bergeming, mencoba menimbang ajakan teman baiknya itu.
"Ayolah, Ra. Sekali ini saja! Temani aku, ya? Please!" Rendy memohon.
Nara merasa tak enak sebab Rendy sampai memohon begitu, dia mengembuskan napas dan akhirnya mengangguk.
Rendy tersenyum, "Nah, gitu, dong! Kamu jangan berkecil hati cuma karena mereka."
"Tapi aku enggak mau ada acara minum minuman keras, aku juga enggak mau pulang sampai larut malam."
"Kamu tenang saja! Aku juga enggak mau minum miras dan aku akan mengantarmu pulang sebelum jam dua belas, soalnya takut kereta kencana nya berubah jadi labu," ujar Rendy sambil berkelakar.
Nara tertawa, "Memangnya aku Cinderella apa?"
__ADS_1
Rendy pun ikut tertawa.
"Kalau begitu sekarang coba ini!" Rendy kembali menyodorkan dress cantik dia pegang.
"Enggak usah, Ren! Aku pakai baju yang ada saja!" tolak Nara sungkan.
"Ra, aku ingin kamu tampil beda malam ini. Please, coba dulu!" Rendy lagi-lagi memohon.
"Tapi dress ini mahal banget, Ren. Aku jadi enggak enak sama kamu!"
"Sudah, enggak apa-apa! Aku enggak akan miskin hanya karena membelikan mu dress itu," sahut Rendy.
"Sombong!" umpat Nara dan Rendy langsung tertawa.
"Ya sudah, cobain sana!"
Nara pun membawa dress itu ke kamar ganti, sementara Rendy menunggu di luar.
Beberapa saat kemudian Nara keluar lagi, dan Rendy terkesima saat melihat dia mengenakan dress tadi.
"So beautiful!" puji Rendy takjub, membuat wajah Nara merona merah.
"Enggak, kok. Menurutku masih wajar dan enggak terlalu seksi, kamu malah terlihat elegan dan cantik banget."
Nara tersipu malu. Rendy selalu berhasil membuat hatinya hangat dan berbunga-bunga.
Setelah menemukan dress yang cocok untuk Nara, Rendy lanjut mencari pakaian untuknya dan pemuda ganteng itu memilih sebuah kemeja lengan panjang yang warnanya senada dengan dress milik Nara tadi.
"Entar aku pakai ini, jadi kita couplean," ucap Rendy semangat.
"Entar orang mikirnya kita ini pasangan kekasih, loh!" Nara memperingatkan.
"Biar saja mereka mau mikir apa! Aku enggak peduli!"
"Emang kamu enggak malu kalau dikira pacaran sama cewek kayak aku?"
"Emangnya kamu cewek kayak apa?" tanya Rendy pura-pura tidak tahu.
"Aku kan jelek, miskin dan kampungan. Belum lagi jika orang-orang tahu kalau aku sudah enggak pera ...."
"Ssstt, apa pun yang orang lain pikirkan tentang kamu dan gimana pun kondisi kamu saat ini, kamu tetaplah wanita yang baik di mataku dan aku enggak pernah malu dekat denganmu," potong Rendy.
__ADS_1
Untuk ke sekian kalinya Nara tertegun, dia terpana dengan sikap baik Rendy padanya. Hatinya semakin menyesali apa yang sudah terjadi, andai saja Tuhan mentakdirkan Rendy sebagai suaminya, dia pasti akan hidup dengan bahagia, tidak merana dan tersiksa batin seperti saat ini.
***
Karena hari sudah petang, Nara dan Rendy memutuskan untuk pulang. Rendy mengantarkan Nara sampai depan gerbang kediaman Hendra.
"Terima kasih, ya, Ren," ucap Nara setelah turun dari motor Rendy.
Rendy mengangguk, "Nanti malam aku jemput jam tujuh."
"Iya, aku akan bersiap-siap."
Rendy lalu menyerahkan sebuah paper bag kecil kepada Nara, "Ini buat kamu."
Nara mengernyit, "Buat aku?"
"Iya, itu hadiah karena kamu sudah mau menemani aku ke mall," ujar Rendy.
"Eh, enggak usah! Aku ikhlas kok menemani kamu, lagian kamu sudah membelikan aku ini," tolak Nara seraya menunjuk paper bag yang berisi dress cantik tadi.
"Sudah, enggak apa-apa! Aku memang beli arloji ini untuk kamu, ambillah!"
"Tapi itu terlalu mahal, Ren. Aku enggak bisa menerimanya."
"Ra, aku sudah membelinya, enggak mungkin dikembalikan lagi, jadi terimalah!" desak Rendy memaksa.
"Tapi, Ren ..." Nara masih ragu, dia merasa tak enak menerima barang mahal itu.
"Ayo ambillah, Ra!"
Nara akhirnya menerima arloji tersebut, "Baiklah. Terima kasih banyak, ya, Ren?"
"Sama-sama. Ya sudah, aku pulang dulu. Sampai jumpa nanti."
Nara tersenyum, "Iya."
Rendy pun bergegas memutar sepeda motornya dan pulang ke rumah.
Nara memandangi dua paper bag di tangannya sembari menghela napas panjang, seumur hidup baru kali ini dia diberikan barang-barang mahal dan dia sungguh merasa sungkan.
***
__ADS_1