
Setelah melewati perdebatan yang panjang, akhirnya Nara dan Kenan sepakat untuk melanjutkan pendidikan mereka di salah universitas terkemuka di kota ini, Kenan mengurungkan niatnya untuk kuliah di Stanford University dan lebih memilih untuk tetap bersama Nara di sini.
Sebenarnya Kenan sudah membujuk Nara untuk kuliah di Amerika saja, tapi Nara menolak dengan alasan lebih nyaman belajar di negeri sendiri, padahal alasan sebenarnya dia tak ingin jauh dari Rendy yang sudah membatalkan rencananya ke Amerika.
"Baiklah, nanti kita akan daftar kuliah di universitas tak jauh dari penthouse papa," ujar Kenan.
Nara mengangguk setuju.
"Kalau begitu sekarang kita kemas barang-barang, besok kita akan pindah," pinta Kenan.
"Kau duluan saja, nanti aku menyusul."
"Ayo sama-sama!" rengek Kenan sembari menarik tangan Nara.
"Iya-iya tunggu sebentar. Aku mau menutup kandang Rena dulu."
Nara pun menutup pintu kandang kelinci kesayangannya itu lalu menguncinya, kemudian beranjak mengikuti suaminya itu.
Namun baru beberapa langkah masuk, mereka dikejutkan dengan kehadiran Rendy yang baru saja datang.
"Selamat siang," sapa Rendy sembari melirik tangan Kenan yang menggenggam tangan Nara.
"Rendy?" tegur Nara yang buru-buru melepaskan genggaman tangan Kenan.
Hal itu sontak membuat Kenan menatap Nara dengan kecewa.
"Apa aku mengganggu kalian?" sindir Rendy sembari berjalan ke arah pasangan suami istri tersebut.
"Eng ...."
"Mengganggu! Sangat menggangu! Jadi sebaiknya kau pergi dari sini!" potong Kenan kesal sebelum Nara selesai bicara.
Nara menoleh ke arah suaminya itu, "Kau ini galak banget, sih!"
"Habis aku kesal lihat dia, mau ngapain sih ke sini?" adu Kenan dengan wajah masam.
"Aku mau membahas tentang rumor yang beredar itu," sahut Rendy yang berusaha tenang meskipun sebenarnya dia kesal dengan sikap Kenan.
"Enggak perlu! Aku sudah menyelesaikannya, memangnya kau belum dengar ...."
"Ssstt! Diam lah!" sela Nara yang mulai kesal dengan tingkah Kenan.
Kenan langsung cemberut dan menatap Rendy dengan sinis.
"Sebaiknya kita duduk di taman belakang aja, Ren! Biar ngobrolnya enak, sekalian ada yang mau aku bicarakan denganmu," ujar Nara kemudian.
__ADS_1
Kenan sontak mengalihkan pandangannya ke sang istri, "Kenapa kau malah ngajak dia ngobrol segala, sih?"
"Memangnya kenapa? Rendy temanku dan kami sudah sering ngobrol bareng."
"Iya, tapi kita kan mau kemas barang-barang."
"Nanti saja setelah aku selesai bicara dengan Rendy, lagian barang-barang ku enggak banyak, kok," bantah Nara.
"Tapi barang-barang ku banyak," keluh Kenan.
"Ya sudah, kalau begitu kau duluan saja, nanti aku menyusul," sambung Nara enteng, lalu menarik lengan Rendy, "yuk, Ren!"
Melihat itu, Kenan cemburu dan emosinya terpancing. Dia sontak menarik tangan Nara hingga cekalan wanita itu terlepas dari lengan Rendy.
"Kau ini apa-apaan, sih?" sungut Nara.
"Aku enggak izin kau menyentuh dia!" bentak Kenan.
"Kau jangan berlebihan!" balas Nara.
"Ra, aku ini suamimu, wajar kalau aku enggak suka kau menyentuh pria lain. Apalagi dia!" Kenan berbicara sambil menunjuk Rendy.
Nara mengembuskan napas ,"Baiklah, aku enggak menyentuh dia lagi. Kalau begitu sekarang bisa kami mengobrol?"
"Tapi bukannya kau mau kemas barang-barang mu?" Nara mengingatkan.
"Nanti saja, setelah ini! Yuk!" Kenan menarik Nara, dan Rendy hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membuntuti mereka.
***
Walaupun Kenan sempat emosi tadi, tapi pada akhirnya mereka bertiga mengobrol dengan serius perihal rumor yang Jessi sebarkan tentang pernikahan Nara dan Kenan.
Karena pengakuan Kenan dan bukti rekaman pembicaraannya dengan Jessi, kini teman-teman mereka malah balik menghina dan mengumpat Jessi sebagai wanita murahan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pemuda yang di cintai.
Teman-teman yang lain justru prihatin pada Nara dan memberikan dukungan serta doa agar pernikahannya dengan Kenan bahagia selalu.
Tapi masih ada beberapa teman usil yang mempertanyakan nasib hubungan Rendy dan Nara, tapi dengan tegas Rendy membantah semuanya. Pemuda itu mengatakan hanya menganggap Nara sebagai teman dan ingin menjaganya.
"Aku enggak sangka Jessi senekat itu," ucap Rendy yang terkejut mendengar pengakuan Kenan tadi.
"Aku sudah lama curiga padanya, makanya aku menjauhinya," sahut Kenan.
"Tapi sebenarnya kasihan dia," sela Nara.
Kenan mengernyit, "Kasihan kenapa?"
__ADS_1
"Karena dia begitu mencintai mu sampai berniat ingin mengorbankan tubuh dan masa depannya," jawab Nara.
Kenan tertawa, "Kau ini polos sekali! Kau pikir dia itu masih perawan?"
Nara dan Rendy sontak menatap Kenan dengan curiga.
Wajah Kenan berubah tegang, "Kenapa kalian menatap ku seperti itu?"
"Dari mana kau tahu dia sudah enggak perawan?" cecar Nara penuh selidik.
"Ya sudah pasti karena dia pernah memakai Jessi, makanya dia tahu," sambung Rendy sinis.
"He, jaga mulutmu! Jangan sembarangan bicara! Aku enggak pernah menyentuh dia!" hardik Kenan tak terima.
"Lalu kau tahu dari mana? Enggak mungkin kan dia cerita hal pribadi seperti itu!" sindir Nara.
"Aku pernah mengantarkan dia ke rumah sakit saat dia jatuh dari tangga dan keguguran," ungkap Kenan.
Nara dan Rendy tercengang mendengar cerita Kenan itu.
"Tapi tunggu, kenapa bisa tepat kau ada di sana?" tanya Rendy penasaran.
"Saat itu Mama menyuruh ku mengantarkan barang titipan Tante Merry, saat aku tiba di sana, Jessi baru turun dan terpeleset, dia jatuh dari tangga dan banyak darah yang keluar. Aku bawa dia ke rumah sakit dan dokter bilang dia keguguran, kehamilannya sudah enam Minggu. Aku kaget banget, saat aku tanya dia bilang kalau dia mabuk dan diperkosa oleh seseorang. Entahlah, itu benar atau enggak, karena aku enggak mau mencari tahu lagi," terang Kenan.
Rendy benar-benar syok mendengar kisah tentang wanita yang pernah dia cintai itu.
"Sejak saat itu kami jadi dekat, aku hanya kasihan padanya, tapi aku enggak sangka kalau dia akan melakukan hal serendah ini," lanjut Kenan.
"Jadi kau enggak pernah pacaran dengan dia?" Rendy memastikan.
Kenan menggeleng, "Ya enggak lah! Aku enggak tertarik dengan dia, apalagi aku tahu kau mencintainya. Tapi aku enggak setuju, karena dia bukan wanita yang baik untukmu."
Nara spontan menatap Rendy, "Kamu mencintai Jessi? Kok aku baru tahu?"
"Itu dulu, sekarang sudah enggak lagi," sahut Rendy.
"Sekarang kau mencintai istriku, kan?" tuduh Kenan ketus.
"Kau ini bicara apa, sih? Sudah jelas-jelas tadi dia bilang kalau hanya menganggap aku teman," protes Nara.
"Itu kan kata dia, dalam hati siapa yang tahu," sanggah Kenan.
Rendy tak menjawab, dia hanya tertegun mencerna semua ini. Secuil rasa sesal mendadak hinggap di hatinya, selama ini dia berpikir jika Kenan sengaja ingin merebut Jessi darinya, tapi ternyata dia salah. Setelah sekian lama, dia memendam rasa marah dan sakit hati pada Kenan, dia bertekad ingin merebut apa pun yang Kenan suka untuk membalas dendam dan menganggap persahabatan mereka telah hancur. Tapi hari ini dia mendapatkan kenyataan yang benar-benar membuatnya merasa bersalah.
***
__ADS_1