
Haikal yang tak mau ribut dan ribet, langsung memberikan hanphone miliknya pada Yeni.
Yeni kemudian langsung menerima handphone itu dan mendekatkannya pada telinga. Setelah itu ia mulai berbicara.
Terjadilah pembicaraan diantara Yeni dan Rindi. Sampai waktu yang katanya nggak sampai lima menit kini malah berlangsung lebih dari lima belas menit mereka berdua masih terus bicara.
Hal ini membuat Haikal kesal bukan main. Ia bahkan dengan tak sopan nya langsung mengambil handphone itu dari tangan Yeni.
"Kamu bilang hanya lima menit Rindi. Ini udah lebih dari lima menit. Kenapa terus bicara sih. Argh... kapan bahas rencananya." Kata Haikal yang langsung meluapkan emosinya saat hanphone miliknya sudah berada di tangnnya.
Rindi yang sebelumnya terus bicara, mendadak berhenti saat suara lantang Haikal terdengar memekakan telinganya.
Beruntung ia langsung menjauhkan hanphone nya dari telinga. Jika tidak ia tak tahu apa yang akan terjadi pada telinga nya.
"Rindi... kamu dengarkan kakak bicara. Jangan pura - pura diam kaya patung terus bibirnya menganga." Kata Haikal yang curiga Rindi tak mendengarkan ucapannya. Karena sampai saat ini ia tak mendengar suara Rindi sama sekali.
"Mana ada kaya gitu kak, Rindi diam karena Rindi pikir kakak belum selesai mengomelinya. Argh... omelan kakak ini sungguh membuat telinga Rindi hampir sakit." Kata Rindi akhirnya mulai membuka suara.
"Bagus kalau gitu. Sekalian aja telinga kamu biar sakit kakak lanjutin ngomel nya." Kata Haikal membalas ucapan Rindi dengan begitu santainya.
"Apa? kakak mau teriak - teriak kaya toak, nggak takut putus atau rusak kak pita suara kakak." Kata Rindi yang terkejut.
"Nggak, lagian suara kakak nggak kencang - kencang amat ko. Kamunya aja yang lebay." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Lebay, kakak yang nggak sadar diri. Gini deh, kalau sekarang nih ya. Rindi juga lakukan hal yang sama ke kakak. Tiba - tiba ngomel dengan suara tinggi bahkan hampir mirip kaya toak suaranya. Apa respon kakak?" Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
Sebelum menjawab ucapan Rindi, Haikal sempat terdiam. Setelah itu, barulah ia menjawab.
"Em... biasa aja sih. Lagi pula kenapa harus kakak buat ribet." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Hem... gitu ya, baiklah sekarang coba kakak dekatkan hanphone kakak di telinga kakak." Kata Rindi membalas ucapan Haikal dan meminta Haikal untuk mendekatkan hanphone miliknya ke telinga.
__ADS_1
"Sedari tadi juga hanphone kakak udah ada di telinga kakak. Mau apa sih kamu?" Kata Haikal membalas ucapan Rindi. Bahkan ia belum menyadari apa yang akan Rindi lakukan pada dirinya.
"Hem... Rindi kira bukan di dekat telinga. Ya sudah itu artinya. Rindi langsung bertindak." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Bertindak apa?" Kata Haikal yang kebingungan dengan jawaban Rindi tersebut. Sehingga ia pun langsung bertanya pada Rindi.
Tanpa berniat sedikit pun untuk menjelaskan ucapan Haikal. Rindi tiba - tiba mengejutkan Haikal. Bahkan nyaris hanphone Haikal, ia lempar ke segala arah.
"RINDI MAU BUAT PERHITUNGAN SAMA KAKAK, BUKANNYA KATA KAKAK KALAU DI TERIAKIN ITU HARUS BERSIKAP BIASA AJA. JADI GIMANA SETELAH RINDI SAAT INI. BERTERIAK KE KAKAK." kata Rindi dengan suara yang sangat - sangat keras.
Karena Haikal tak tahu maksud Rindi, ia pun masih menunggu jawab Rindi. Hanphone itu bahkan masih melekat sempurna di telinga.
Namun, saat mendengar suara Rindi yang keras itu, ia langsung menjauhkan hanphone nya dari telinga.
"Buset, nih anak malah teriak. Bahkan ngalahin toak. Mana sakit banget lagi telinga gue." Kata Haikal berbicara di dalam hatinya.
Sementara Yeni tak kalah terkejutnya saat hanphone Haikal di jauh kan. Suara Rindi masih terdengar sangat keras.
"Ya ampun kak, itu suara Rindi." Kata Yeni dengan sangat kecil. Bahkan nyaris tak terdengar.
Namun,bkarena posisi mereka ada di dalam satu meja. Sehingga suara Yeni masih terdengar oleh Haikal.
"Hem... siapa lagi kalau bukan, yank." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.
"Huh... hah... huh... hah..." Terdengarlah hembusan dan tarikan napas dari Rindi.
Mungkin karena kehabisan asupan oksigen. Sampai Rindi harus menarik napas dan mengeluarkan nya dengan cukup terdengar keras.
"Minum dulu gih, biar nggak seret - seret amat tuh tenggorokan." Kata Haikal bersikap seolah - oleh tak terjadi apa - apa. Padahal saat ini ia sedang menormalkan kembali rasa terkejutnya.
"Udah lah kak, jangan pura - pura sok nggak terjadi apa - apa. Aku yakin kakak saat ini lagi berdebar - debar kan hatinya. Karena shock mendengar suara Rindi tiba - tiba yang keras." Kata Rindi dengan percaya dirinya membalas ucapan Haikal.
__ADS_1
"Em... mana ada kaya gitu. Kalau berdebar -debar sih iya, kakak memang lagi berdebar - debar karena ada Yeni di dekat kakak. Rasanya seperti senam jantung terus. Tak bisa terkendali kalau kakak melihat senyuman yang Yeni keluarkan." Kata Haikal sengaja berkata seperti itu pada Rindi.
"Lebay banget, mana ada kaya gitu. Lagian berdebarnya kakak saat ini. Itu karena shock mendengar suara Rindi yang keras. Udah lah kakak nggak perlu berbohong lagi." Kata Haikal membalas Haikal
"Terserah kamu aja. Lagian kakak udah berkata jujur juga, kamu malah nggak percaya sama sekali. Jadi sekarang kakak serahin aja semuanya ke kamu. Kamu mau percaya ucapan kakak syukur nggak juga nggak masalah." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Ya jelas kak, Rindi nggak percaya. Piling Rindi tuh, saat ini kakak masih shock setelah mendengar suara Rindi. Jelas sih kalau jawaban kakak kaya gitu. Tapi, apa yang Rindi dengar malah jawabnya yang lain." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Udahlah kita bahas rencana saja. Yeni mau kakak anter pulang lalu meminta izin." Kata Haikal membalas ucapan Rindi dengan mengalihkan pembicaraan.
"Hem... ya sudah, kakak langsung bahas. Rindi dengerin di sini." Kata Rindi yang akhirnya setuju ucapan Haikal.
"Tumben nggak membantah, malah langsung setuju." Kata Haikal yang terheran - heran dengan jawabam Rindi.
"Em... biar cepet aja kak. Rindi mau istrirahat dulu. Tubuh Rindi udah beneran lemes." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Tapi suara kamu masih full bahkan di atas rata - rata. Hebat berarti kamu, walau dalam keadaan tubuh lemes masih tetep lantang dalam bicara." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Sudahlah kak jangan memuji Rindi berlebihan. Rindi memang tau itu." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Siap juga yang puji kamu. Jangan ke pedean deh." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Barusan kakak yang bicara kan. Bilang hebat. Bukannya itu artinya kakak memuji Rindi ya. Bener kan." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Lupain deh, sekarang kakak mau langsung bahas rencanannya." Kata Haikal yang lagi dan lagi mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudah jelasin deh kak." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Oke." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
Haikal pun langsung memberitahu Rindi mengenai rencana nanti malam. Rindi hanya mendengarkan ucapan Haikal sampai ia di izinkan untuk bicara, barulah ia akan bicara.
__ADS_1
Bersambung...