Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 220 Kesempatan Emas


__ADS_3

Dua jam sudah mereka larut dalam kesibukannya masing - masing.


Di saat itu, terdengar ketukan di pintu kamar Rindi. Aldiano yang fokus melihat hanphone kini mulai mengarahkan pandangannya ke sumber suara.


Ternyata tak jauh berbeda dengan Aldiano. Rindi pun saat mendengar suara ketukan pintu langsung mengarahkan pandangannya ke pintu juga.


Setelah itu, Aldiano mulai mengalihkan pandangannya untuk sekedar melihat respon apa yang akan Rindi berikan.


Rindi yang terbaring kini mulai duduk saat Aldiano telah mengalihkan pandangannya ke arah Rindi.


Lalu mata mereka pun saling tatap untuk beberapa detik lamanya. Setelah itu, Rindi memaling kan wajahnya ke arah lain.


Dengan cepat ia pun mulai berdiri dari tempat tidur dan melangkahkan kaki untuk mendekati pintu.


Tap... Tap...


Langkah kaki itu terdengar jelas di telinga Aldiano. Membuat ia terus memperhatikan langkah kaki tersebut bahkan sampai langkah itu terhenti di depan pintu.


Ceklek...


Rindi pun membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya keluar. Tak lama kemudian kepalanya sudah masuk kembali ke dalam kamar.


"Huh... tak ada orang. Bukankah barusan ada yang mengetuk pintu. Tapi kenapa setelah di liat tak ada orang. Benar - benar menyebalkan." Kata Rindi yang melupakan kekesalannya dengan berkata sendiri pada dirinya dengan suara yang kecil.


Namun, cukup terdengar jelas oleh Aldiano.


"Dasar cewek aneh, gilaran di minta jawab nggak di jawab - jawab ucapan ku. Tapi ketika..." Kata Aldiano yang sama - sama berbicara pelan. Namun, masih terdengar oleh Rindi.


"Diam kamu, tak perlu banyak mau dan tingkah." Kata Rindi sambil menujuk Aldiano dengan ketus.


"Hey... kau merasa jadi orang yang ku bicara kan." Kata Aldiano mulai senang karena Rindi kembali mengeluarkan suaranya.


"Menurut mu, jika bukan aku yang di bahas oleh mu. Memangnya siapa lagi. Di kamar ini hanya ada aku dan kamu. Jadi sudah jelas cewek aneh yang kamu maksud adalah aku. Dasar bodoh." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano. Bahkan ia pun mengatakan kembali kata yang membuat ia harus mendapat serangan dadakan dari Aldiano.

__ADS_1


Ketika Rindi tersadar akan ucapannya yang salah. Ia kemudian langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan miliknya.


"Argh... aku bodoh, kenapa harus bilang dia bodoh lagi. Semoga saja dia nggak mengulang lagi. Ya, semoga saja kaya gitu." Kata Rindi di dalam hatinya yang berteriak menyalahkan dirinya yang salah berucap.


Aldiano yang mendengar kata itu keluar lagi dari bibir Rindi. Mulai merasa emosi kembali memenuhi dirinya. Namun, ia kemudian tersadar akan kesalahannya tadi.


Sehingga asaat ini ia mencoba untuk tak meluapkan emosi nya kembali. Karena jika ia melupkan lagi. Ia takut semakin membuat Rindi ketakutan.


Rindi yang menunggu Aldiano mengeluarkan suaranya. Dengan cemas ia bahkan sampai memegang ujung bajunya dengan erat.


"Em... maaf, aku... aku tidak sengaja mengatakan kamu bodoh. Maaf kan aku." Kata Rindi yang kini memberanikan diri untuk mengakui kesalahannya dengan meminta maaf pada Aldiano.


"Baiklah aku maafkan tapi dengan satu syarat." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Apa syaratnya?' kata Rindi yang penasaran.


"Syaratnya cukup mudah dan kamu pasti bisa memenuhi nya." Kata Aldiano terkesan bertele - tela.


Dan hal ini membuat Rindi kesal karena ia tak suka berbicara dengan berlama - lama seperti ini.


"Baik, sesuai kenginann mu. Aku akan memberitahu mu. Syaratnya adalah kamu harus memaafkan ku juga atas apa yang terjadi beberapa saat lalu. Aku ingin kamu memaafkan kesalahan ku. Jadi apa kamu mau memenuhi syarat nya." Kata Aldiano tak menyia - nyiakan kesempatan emas ini.


Cukup lama Rindi terdiam. Mungkin ia sedang berpikir bisa kah ia memaafkan Aldiano dengan begitu saja setelah kejadian itu membuat tubuhnya sampai ketakutan dan bergetar cukup hebat untuk beberapa saat lamanya.


Sehingga dengan terdiam ia pun mempertimbangkan keputusannya tersebut.


"Em... baiklah aku akan coba memaafkan mu." Kata Rindi pada akhirnya memilih untuk setuju ucapan Aldiano.


"Baik, itu menguntungkan untuk ku dan untuk mu. Kita bisa memulai semuanya dengan baik. Dan biasa kan kita jadi teman untuk ke depannya. Karena aku dan kamu sudah pasti tak menginginkan pernikahan ini bukan. Maka dari itu kita bisa menjadi teman." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi dan mengusulkan sesuatu pada Rindi.


"Em... aku pikirkan dulu. Ntar saat aku sudah mengambil keputusan aku akan memberitahu mu." Kata Rindi menbalas ucapan Aldiano sambil meminta waktu pada Aldiano.


Beruntung saat ia mengutarakan mengenai waktu tersebut. Ia berhasil membuat Aldiano langsung setuju tanpa protes sedikit pun.

__ADS_1


"Baik lah aku setuju. Ku tunggu jawabannya sesegera mungkin." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Hem." Kata Rindi hanya membalas ucapan Aldiano dengan deheman saja.


Kemudian tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua. Rindi yang berada di dekat pintu mulai melangkahkan kaki menuju tempat tidurnya kembali.


Namun, baru beberapa langkah ia menjauh. Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu kembali. Ia pun mulai bergegas untuk membukanya.


Ceklek...


Setelah pintu itu terbuka. Terlihat di sana ibu sedang berdiri dan tersenyum pada Rindi sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya.


"Sayang, maaf ibu menggangu mu dan suami mu. Ibu hanya ingin meminta kalian untuk pergi ke bawah dan kita makan malam bersama." Kata ibu kemudian mengatakan tujuannya apada Rindi.


"Ibu bicara apa, ibu nggak menggangu sama sekali. Baiklah bu, kami akan ke sana sebentar lagi." Kata Rindi membalas ucapan ibu sambil tersenyum.


Sebelum ibu pamit untuk pergi meninggalkan kamar Rindi. Ibu kemudian mendekatkan dirinya dan mulai berbisik pada Rindi.


"Saat kamu ke bawah pastikan di tubuhmu tak ada tanda apapun yang dapat terlihat. Karena bisa menjadi sesuatu hal yang akan kamu sesali nanti. Ibu pamit dulu ya. Jaga dirimu jangan sampai kelelahan. Dan ingat kata - kata ibu barusan." Kata ibu yang berbisik pada Rindi kemudian bergegas pergi meninggalkan Rindi.


"Ibu bicara apa sih, kenapa aku harus memastikan tubuhku. Memangnya apa yang salah dari tubuh ku." Kata Rindi saat ia telah menutup kembali pintu kamar.


Suara bariton Aldiano membuyarkan pembicaraannya dengan dirinya itu.


"Siapa?" Kata Aldiano pada Rindi.


"Em... barusan ibu." Kata Rindi kemudian membalas ucapan Aldiano.


"Oh, ibu mu ada apa ketuk pintu?" Kata Aldiano kembali bertanya pada Rindi.


"Meminta kita untuk bergabung makan malam." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


"Oh, ya sudah ayo kita ke sana. Karena tak baik membiarkan ibu dan ayah menunggu terlalu lama." Kata Aldiano membalas ucapan ibu.

__ADS_1


"Hem... kalau gitu kamu duluan saja. Aku mau..." Kata Rindi kemudian kebingungan untuk melanjutkan ucapannya sehingga ia saat ini hanya bisa terdiam.


Bersambung...


__ADS_2