
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan siswa dan siswi SMA Darma Bakti. Nara bersiap pergi ke sekolah, dia sengaja memakai kaos lengan panjang agar teman-teman yang lain tidak tahu keadaan tangannya.
Kenan sudah pergi tanpa mengajak Nara, wanita itu terpaksa harus pergi sendiri. Dengan hati-hati Nara keluar dari rumah Hendra, dia takut bertemu dengan Rendy lagi.
Nara berjalan dengan tergesa-gesa, dia harus sampai di sekolah tepat waktu, namun sebuah motor berhenti tepat di sampingnya, membuat Nara terkejut setengah mati.
"Rendy?" Nara mendadak panik dan cemas, dia benar-benar bingung harus mengatakan alasan apa jika Rendy bertanya mengapa dia ada di sini.
"Yuk, naik!" ajak Rendy.
Nara mematung dengan wajah tegang.
Rendy menatap Nara, "Ayok, nanti kita telat!"
Tanpa bicara sepatah katapun, Nara naik ke atas motor Rendy. Pemuda baik hati itu kemudian melajukan sepeda motornya. Sepanjang perjalanan mereka tak bersuara, Rendy juga tak bertanya apa pun dan hal itu justru membuat Nara semakin gugup serta salah tingkah sendiri.
"Hem, Ren," tegur Nara ragu.
"Kita bicara nanti, aku harap kau menyiapkan alasan yang tepat," ujar Rendy.
Nara kembali terdiam, dia semakin takut dan cemas. Apa yang harus dia katakan pada Rendy nanti? Haruskah dia jujur dan mengatakan yang sebenarnya?
Hening pun kembali tercipta selama perjalanan, hingga akhirnya mereka tiba di sekolah. Kedatangan Rendy dan Nara sontak menjadi sorotan siswa-siswi lain, mereka langsung berkomentar.
"Wah, sepertinya gosip itu benar. Lihat sekarang mereka datang berdua." Ivan menunjuk ke arah Rendy dan Nara.
Semua mata langsung tertuju kepada dua insan itu, tak terkecuali Kenan. Dia terkesiap melihat Nara datang bersama sahabatnya tersebut, hatinya seketika merasa kesal dan cemas. Bukankah dia sudah melarang Nara keluar rumah, kenapa wanita itu masih nekat datang ke sekolah, bersama Rendy pula. Lalu di mana mereka bertemu? Apa jangan-jangan Rendy sudah tahu kalau Nara tinggal di rumahnya?
"Kau berani membantahku rupanya. Awas kau," batin Kenan kesal.
"Aku rasa selera Rendy bermasalah, masa dia doyan cewek cupu kayak gitu?" Han berkomentar.
"Cinta itu buta, enggak akan memandang fisik dan penampilan. Kalau sudah cinta, pasti bisa menerima apa adanya," ujar Radit sok bijak.
"Iya, yang terpenting itu dia baik dan kita nyaman bersamanya," Ivan menimpali.
Kenan hanya tertegun mendengar ucapan sahabat-sahabatnya itu.
"Kalian ini tahu apa tentang cinta? Pacaran aja enggak pernah," ejek Han.
Radit dan Ivan hanya mencibir Han.
Rendy dan Nara melangkah masuk ke dalam kelas, mereka tak menghiraukan tatapan siswa-siswi lain yang terus saja memperhatikan mereka.
Namun rupanya diam-diam Kenan mengirimkan pesan kepada Nara.
"AKU SUDAH MELARANG MU KELUAR RUMAH, KENAPA KAU MASIH KELUAR JUGA?"
Nara mendengus jengkel membacanya dan langsung membalas pesan itu.
__ADS_1
"AKU BUKAN TAWANAN, JADI KAU ENGGAK BISA MELARANG KU KELUAR."
Tentu saja Kenan semakin kesal mendapat balasan dari Nara itu.
***
Pengumuman hasil ujian akhir sudah keluar, dan Nara lulus dengan nilai terbaik sementara Rendy setingkat di bawahnya. Sedangkan Kenan berada di bawah mereka berdua, tentu hal ini membuat bocah angkuh itu dongkol minta ampun.
Nara memeluk kertas pengumuman kelulusan nya dengan mata berkaca-kaca, andaikan kedua orang tuanya berserta Om dan Tantenya masih ada, mereka pasti bangga pada Nara.
"Selamat, ya, Ra. Kamu lulusan terbaik SMA kita," ucap Rendy.
"Terima kasih, Ren. Kamu juga selamat, ya," balas Nara kikuk.
"Kalau begitu sekarang kamu ikut aku! Kamu harus jelaskan semuanya!"
Nara mendadak gugup, "Je-jelaskan apa?"
"Kamu pasti tahu maksudku." Rendy menatap Nara dengan tajam.
Nara menelan ludah takut dan cemas, dia pikir Rendy sudah melupakan hal itu.
"Yuk, kita pergi!" Rendy menarik lengan Nara.
"Ke mana?"
"Sudah ikut saja!"
Dari kejauhan Kenan memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, dia bertanya-tanya mau ke mana dua orang itu?
"Fix, mereka pasti sudah jadian!" celetuk Ivan.
"Belum tentu, mereka kan memang dekat," bantah Han.
"Tapi kali ini beda, Han. Sejak tadi mereka nempel terus, Rendy bahkan sama sekali enggak mau gabung dengan kita. Aku yakin mereka pasti sudah jadian," ujar Ivan.
"Kalau begitu nanti kita tanya saja ke Rendy, kita pastikan apakah dia sudah jadian atau belum dengan si cupu itu," cetus Radit.
Lagi-lagi Kenan hanya bergeming tanpa berniat mencampuri pembicaraan sahabat-sahabatnya itu, dia masih mengawasi Nara dan Rendy yang kini berlalu meninggalkan sekolah.
***
Rendy mengajak Nara ke sebuah taman di tengah kota, mereka duduk di bawah pohon rindang seraya menatap hamparan rumput dan bunga-bunga. Cuaca cukup cerah, angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah Nara dengan lembut. Bukan tanpa alasan Rendy mengajak Nara ke tempat ini, dia tahu jika siang begini taman tersebut masih sepi, jadi cukup nyaman untuk mereka bicara.
"Sekarang kamu bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Nara tertunduk sambil meremas jemarinya, dia bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
Rendy menatap Nara, "Ra, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku."
__ADS_1
"A-aku enggak menyembunyikan apa pun," elak Nara.
"Ra, bukankah kita ini teman? Aku pikir itu cukup untuk membuat kamu percaya padaku dan menceritakan apa yang sedang kamu alami."
Nara semakin tertunduk.
"Nara, aku tahu kamu berbohong saat kemarin aku tanya kamu di mana. Aku tahu kamu di rumah Kenan, kan?"
Deg.
Nara terkesiap. Kecurigaannya benar, Rendy sudah tahu. Tapi dari mana pemuda itu tahu? Apa Rendy memergokinya?
"Kemarin aku melihat kamu masuk ke mobil Kenan, lalu aku mengikuti kalian sampai ke rumahnya, dan tadi pagi aku juga melihat kamu keluar dari rumah itu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sana?" cecar Rendy.
Nara menelan ludah, dia semakin gugup dan bingung. Dia bahkan sampai gemetar dan berkeringat dingin, dia tak mau Rendy tahu yang sebenarnya. Dia malu. Tapi dia bingung harus menjawab apa.
Rendy mengembuskan napas berat saat melihat Nara cuma tertunduk membisu, "Baiklah kalau kamu enggak mau bicara, kita pulang saja!"
Rendy yang kecewa beranjak dari duduknya, tapi dengan gesit Nara menarik lengan pemuda itu.
"Ren, tunggu!"
Randy berbalik memandang Nara yang juga sedang menatapnya.
"Kalau aku bicara, kamu harus janji akan merahasiakannya dari semua orang, terutama teman-teman kamu," ucap Nara memohon.
Rendy pun mengangguk setuju dan kembali duduk di samping Nara, "Iya, aku janji. Sekarang katakanlah!"
"Se-sebenarnya aku, hem ...." Nara sungguh gugup dan ragu.
Rendy bergeming penasaran menunggu Nara melanjutkan kata-katanya.
"A-aku dan Kenan sudah menikah," lanjut Nara.
Rendy tercengang, dia kaget setengah mati.
"Apa? Kalian sudah menikah?" Rendy memastikan lagi.
Nara mengangguk lemah.
Rendy menggeleng, "Ini enggak mungkin! Kamu pasti bercanda, kan?"
"Aku serius, Ren."
Rendy termangu, pernyataan Nara itu sungguh sulit untuk dia terima begitu saja.
"Tapi bagaimana bisa? Hem, maksudku kenapa kalian bisa menikah? Apa terjadi sesuatu?"
Nara menatap Rendy dengan mata berkaca-kaca, dia berat untuk mengatakan alasannya, dia benar-benar malu, sebab takut Rendy merendahkannya dan mengecapnya buruk.
__ADS_1
Rendy menyentuh tangan Nara, "Nara?"
***