
"Sekarang tangan nya Ryan lurusin dulu coba. Setelah itu arah kan ke kakak. Kakak pijit ya." Kata Yeni membalas ucapan Ryan.
"Iya kakak." Kata Ryan sambil mengagukkan kepalanya.
Dengan perlahan Yeni pun mulai memijit tangan Ryan.
"Gimana pijitannya, enak gak." Kata Yeni di sela - sela ia memijit tangan Ryan. Ia pun sempat kan untuk bertanya.
"Iya kak, sekarang kram dan pegal yang Ryan rasa kan tadi sudah terasa lebih baik dari sebelumnya." Kata Ryan membalas ucapan Yeni.
"Alhamdulillah, kalau gitu lain kali jangan di ulangi lagi ya. Ntar Ryan bisa merasakan hal yang seperti ini lagi." Kata Yeni membalas ucapan Ryan sambil mengingatkan Ryan untuk tak mengulangi hal yang sama.
"Iya kakak cantik." Dengan patuh Ryan pun mengagukkan kepalanya saat membalas ucapan Yeni.
Tiba - tiba terdengar suara Haikal.
"Enak banget sih yank jadi Ryan. Bisa di pijit kaya gitu. Abis kamu pijit Ryan, kakak juga mau dong di pijit sama kamu." Kata Haikal pada Yeni.
"Kakak..." Kata Ryan yang baru saja akan menjawab ucapan Haikal. Namun, Haikal segera memotong ucapannya itu.
"Kamu diem, nggak usah bicara kakak lagi bicara sama pacar kakak." Kata Haikal yang memotong ucapan Ryan.
"Lagian Ryan kan mau mewakili kakak cantik buat jawab ucapan kakak." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
"Nggak perlu repot - repot pacar kakak juga bisa jawab sendiri." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Ryan nggak repot sama sekali ko. Malah Ryan seneng bisa bantu kakak cantik." Kata Ryan membalas ucapan Haikal.
"Sudah lah, kalau kakak bilang kamu diam ya diam nggak usah bicara." Kata Haikal membalas ucapan Ryan.
"Kakak cantik, kak Haikal kenapa ya. Ko kaya gitu suara nya ke Ryan." Kata Ryan berbisik di dekat telinga Yeni.
"Ehem... kakak denger ya, bisikan kamu itu." Kata Haikal sambil berdehem meningkatkan Ryan.
"Sepertinya lagi nggak baik mood nya. Ya sudah jangan ambil hati. Biar kakak yang bicara ya. Sebelumnya makasih udah mau mewakili kakak buat berbicara." Kata Yeni membalas ucapan Ryan dengan berbisik juga.
"Iya kakak makasih juga ya udah mau pijit Ryan. Bahkan sampai tangan Ryan gak merasa pegal sama kram lagi." Kata Ryan membalas ucapan Yeni dengan meminta maaf juga.
__ADS_1
"Iya Ryan." Kata Yeni dengan tersenyum.
Setelah itu ia pun mulai berbicara pada Haikal.
"Kak memangnya kakak sakit juga tangannya." Kata Yeni pada Haikal.
"Em... nggak sih, tapi kakak pengen di pijit aja sama kamu yank." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.
"Kirain Yeni sakit juga." Kata Yeni membalas ucapan Haikal.
"Nggak yank, kamu mau kan pijit kakak walau kakak gak sakit." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.
"Nggak mau." Kata Ryan secara tiba - tiba.
"Nih bocah ya, kakak harus bilang berapa kali sih ke kamu. Kakak lagi bicara sama pacar kakak bukan sama kamu." Kata Haikal mulai kesal pada Ryan.
"Dan udah Ryan bilang berapa kali coba ke kakak. Kalau Ryan mewakili ucapan kakak cantik." Kata Ryan sambil berkacak pinggang.
"Argh... terserah mu lah." Kata Haikal yang sudah geram dengan jawaban yang Ryan berikan itu.
Yeni yang melihat semua itu, seketika langsung meledak kan tawanya.
"Hahahaha... hahahaha... kalian berdua ko lucu sih. Em... maaf ya, Yeni malah ketawa seperti ini abis nya udah gak tahan dan gak bisa di tahan jadi deh langsung ketawa." Kata Yeni yang malah tertawa.
Haikal dan Ryan pun saling pandang. Lalu setelah itu mereka berdua kompakan membuat Yeni langsung menghentikan tawanya karena di tatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Em... maaf Yeni nggak akan ketawa lagi ko. Tapi, tolong tatapan kalian jangan seperti itu ya ke Yeni." Kata Yeni yang mulai ketakutan.
Seketika ekspresi wajah Haikal dan Ryan pun langsung berubah drastis. Awalnya ekspresi mereka begitu sangat membuat Yeni ketakutan. Kini berubah menjadi bahagia.
Bahkan mereka berdua pun kompak tertawa saat itu juga. Membuat Yeni melongo melihat itu semua.
"Hahahaha... Hahahaha..." Suara tawa yang Ryan dan Haikal keluarkan.
"Yank, jangan kaya gitu dong ekspresi nya." Kata Haikal sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya kakak cantik, jadi buat Ryan pengen ketawa lagi loh." Kata Ryan pada Yeni.
__ADS_1
"Ih... sebel deh, kalian ko jahat sih. Tadi Yeni kan udah beneran takut banget kalian marah. Eh ternyata kena prank. Prank ko gak bilang - bilang sih." Kata Yeni membalas ucapan Ryan dan Haikal.
"Biar seru aja yank, iya kan Ryan." Kata Haikal langsung membalas ucapan Yeni.
"Iya kak, biar sama gitu kakak cantik. Barusan kan kakak cantik ketawain kita. Nah, kita juga kan barusan udah ketawain kakak juga. Jadi nya sama." Kata Ryan membalas ucapan Yeni.
"Tapi kan, kalian berdua. Sedangkan kakak tadi ketawain kalian sendiri. Jadinya kakak dapet dua ketawaaan dong. Sedih banget." Kata Yeni membalas ucapan mereka berdua dengan ekspresi yang di buat sedih.
"Jangan nangis loh kak, ntar keliatan jelek." Kata Ryan membalas ucapan Yeni.
"Iya yank kamu jangan nangis. Kalau kamu nangis ntar bisa - bisa jelek kaya Rindi." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.
Haikal yang tak mengetahui jika Rindi tepat berada di belakang tubuhnya pun. Kini di buat terkejut dengan pukulan tiba - tiba yang Rindi beriman pada Haikal.
Bug...
Satu pukulan itu lolos begitu saja dari Rindi pada tangan kanan Haikal. Membuat Haikal langsung membalikkan tubuhnya dan berniat untuk memukul balik orang yang sudah berani - beraninya memukul ia secara tiba - tiba.
Bahkan tanpa ia ketahui kesalahannya ia akan langsung memukulnya, bukannya hal itu membuat ia emosi jiwa. Eh... maksudnya emosi.
"Hey... kamu ya..." Kata Haikal sambil mengangkat salah satu tangan nya dan hampir memukulkan tangan tersebut ke arah Rindi.
"Hem... kakak kira cowok, ternyata kamu." Kata Haikal kemudian menurunkan tangannya tersebut. Sehingga ia pun tak jadi memukul Rindi.
"Kakak mau pukul Rindi kalau Rindi cowok. Iya gitu." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Hem... ya tentu, tapi kamu beruntung bukan cowok." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Lagian kalau pun aku cowok memang nya kenapa kakak harus pukul balik Rindi." Kata Rindi yang mulai berdebat lagi dengan Haikal.
"Ya biar sama lah, masa iya kakak terima - terima aja di pukul seperti itu sama kamu. Gak mungkin kaya gitu lah. Kakak harus pukul kamu balik baru itu sama. Itu pun kalau kamu cowok." Kata Haikal membalas ucapan Rindi cukup panjang.
"Sekarang kan kakak tau kalau Rindi yang pukul kakak. Kenapa kakak nggak jadi pukul nya?" Kata Rindi membalas ucapan Haikal sambil bertanya juga pada Haikal.
Haikal tak langsung menjawab ucapan Rindi tersebut. Karena saat ini ia malah terdiam.
Bersambung...
__ADS_1