Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 64.


__ADS_3

Setelah menjalani biopsi sumsum tulang belakang, dokter pun mengetahui tingkat keparahan penyakit yang Nara idap, dan memutuskan untuk melakukan transfusi darah. Namun karena Nara memiliki golongan darah yang sedikit langka dan stok darah tersebut kosong di rumah sakit, jadi untuk sementara dokter hanya memberikan obat-obatan sembari mencari donor darah yang cocok untuk wanita itu.


Akhirnya Nara beserta Kenan dan Hendra pulang ke penthouse pada malam harinya. Dengan dipapah oleh Kenan, Nara berjalan dengan tertatih-tatih. Pinggulnya terasa nyeri akibat pengambilan sumsum tulang belakang tadi dan badannya juga masih lemas.


"Kamu rebahan aja! Kalau butuh apa-apa, panggil aku," pinta Kenan.


Nara hanya mengangguk.


"Nara, kamu harus banyak istirahat! Jangan capek-capek dan teratur minum obatnya, Papa akan berusaha mencari donor darah yang cocok untuk kamu," ujar Hendra.


"Iya, Pa," jawab Nara pelan.


"Nanti Papa akan kirim Bi Ani ke sini untuk bantu-bantu kalian," cetus Hendra.


"Kalau Bi Ani ke sini, terus siapa yang ngurus rumah dan masak, Pa?" tanya Kenan.


"Itu gampang, kamu tenang saja!" ujar Hendra santai, "ya sudah, Papa pulang dulu, besok Papa ke sini lagi. Kalian baik-baik, ya! Kalau ada apa-apa, cepat kabari Papa."


"Iya, Pa," sahut Kenan dan Nara serentak.


Hendra pun bergegas meninggalkan penthouse itu karena sejak tadi sore Windy sudah bolak-balik menghubunginya, namun tak pernah dia jawab.


"Aku minta maaf, ya," ucap Nara tiba-tiba.


Kenan sontak menoleh ke arah istrinya itu, "Minta maaf untuk apa?"


"Karena aku sudah menyusahkan kau dan Papa."


"Ra, kau dengarkan tadi apa yang Papa bilang, enggak ada yang di susahkan! Jadi jangan terus merasa seperti itu!"


"Aku enggak enak."


Kenan mendekati Nara dan duduk di sisi sang istri lalu memasang wajah jenaka, "Kalau begitu sini biar aku buat enak."


Nara melotot, dan Kenan langsung tertawa.


"Kau pasti berpikiran kotor, kan?" tuduh Kenan.


Nara menggeleng, "Enggak, kok!"


"Iya, juga enggak apa-apa," balas Kenan.


"Enggak!" sungut Nara.


"Iya-iya, enggak salah lagi!" sambung Kenan dan kembali tertawa, dia sengaja ingin menggoda Nara agar wanita itu terhibur dan tidak sedih terus.


"Terserahlah!" Nara merajuk.


Kenan langsung berhenti tertawa dan menatap Nara, "Iya, aku cuma bercanda. Jangan ngambek, dong!"

__ADS_1


Wajah Nara cemberut, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Cup.


Satu kecupan dari Kenan mendarat di pipi kanan Nara, membuat wanita itu langsung menatap Kenan.


"Kau!"


Cup.


Dengan gerakan cepat Kenan mencium bibir istrinya itu.


"I love you, sayang."


Nara yang tadinya mau marah langsung tersipu mendengar kalimat mesra yang Kenan lontarkan itu, wajahnya bahkan langsung merah.


"Kok enggak dibalas? Bilang dong, I love you too, sayang."


Nara kembali mengalihkan pandangannya dari Kenan, dadanya berdebar kencang. Ada apa dengan hatinya? Apakah ini efek dari penyakit yang dia derita?


Tring.


Telepon genggam Nara yang tergeletak di meja hias tiba-tiba berbunyi, Nara hendak bangun tapi Kenan melarangnya.


"Biar aku saja yang ambil!" Kenan langsung beranjak dan melangkah ke meja hias.


Namun wajah tampannya mendadak masam saat melihat siapa yang menelepon.


Kenan meraih ponsel itu dan langsung menggeser tombol merah, panggilan dari Rendy pun seketika terputus.


Nara yang sejak tadi memperhatikan suaminya itu merasa heran dan curiga.


"Siapa yang telepon?" tanya Nara penasaran.


"Salah sambung," jawab Kenan ketus.


"Minta ponselku!" Nara menadahkan tangannya.


"Sebaiknya kau tidur, enggak usah main ponsel lagi."


"Aku bilang minta ponselku!" desak Nara penuh penekanan.


Kenan yang dongkol pun menyerahkan ponsel tersebut kepada sang istri, "Nah!"


Nara mengecek ponselnya dan tercengang saat melihat ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Rendy, seketika dia teringat janjinya dengan pemuda itu tadi siang.


"Astaga!" seru Nara, dia buru-buru balik menghubungi teman baiknya itu.


"Halo, Ren," sapa Nara saat panggilannya terhubung, Kenan langsung meliriknya istrinya itu dengan sinis.

__ADS_1


Karena cemburu dan penasaran dengan apa yang Nara dan Rendy bicarakan, Kenan pun memutuskan untuk duduk di samping sang istri untuk menguping.


Nara yang risih pun berengsut dan mendorong Kenan agar menjauh, tapi pemuda itu tak peduli.


***


Hendra tiba di kediamannya, dia berjalan gontai memasuki rumah. Windy yang sejak tadi sore menunggu kepulangannya kini tengah duduk di ruang tamu dengan wajah masam.


"Ke mana aja seharian ini? Kenapa telepon dariku enggak dijawab?" cecar Windy sinis.


"Aku tadi lagi di rumah sakit, Ma. Ini baru pulang," jawab Hendra.


Windy sontak beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Hendra dengan raut wajah cemas, "Memangnya siapa yang sakit? Kenan, ya?"


"Bukan, tapi Nara."


Wajah cemas Windy seketika berubah sinis, "Kenapa lagi dia?"


"Katanya dia mengidap penyakit langka, kalau enggak salah anemia ...." Hendra mengjeda kata-katanya karena berusaha mengingat nama penyakit yang menantunya itu derita.


"Oh, anemia aplastik," lanjut Hendra setelah mengingat nama penyakit tersebut.


"Apa sakitnya parah? Kira-kira dia bakal mati enggak?"


Hendra langsung melotot marah dan membentak sang istri, "Mama! Tolong jaga bicaranya!"


"Memangnya ada yang salah? Mama kan hanya bertanya karena ingin memastikan, perempuan kampung itu bakal cepat mati atau enggak," ujar Windy seenaknya.


Plak.


Hendra spontan menampar pipi Windy, dia kesal dan marah karena kata-kata Windy yang tak pantas.


Windy meraba pipinya yang merah dan perih, "Papa! Papa tega memukulku?"


"Iya, karena kata-kata Mama sudah keterlaluan! Mama enggak pantas bicara seperti itu pada orang lain, apalagi pada menantu sendiri!"


"Dia bukan menantuku! Sampai kapanpun aku enggak pernah menganggap dia sebagai menantu!" kecam Windy dengan air mata berlinang.


"Mau Mama anggap atau enggak, dia tetap menantu kita, istri dari putra kita. Kalau Mama sayang pada Kenan, berarti Mama juga harus menyayangi Nara. Jangan membuat Kenan sakit hati dan akhirnya membenci Mama karena sikap serta perkataan Mama ini!" Hendra berlalu dari hadapan Windy, dia kesal setengah mati dengan kelakuan istrinya itu.


"Aku enggak terima! Perempuan kampung itu benar-benar sudah mencuci otak anak dan suamiku, dia merebut keluargaku. Aku enggak akan tinggal diam, aku akan buat perhitungan!" gumam Windy sinis sembari mengusap air matanya dengan kasar.


Dari balik tembok, Bi Ani yang mengintip dan menguping pembicaraan pasangan suami istri tersebut hanya bisa terdiam dengan tubuh lemas. Dia sedih mendengar Nara sedang sakit, dia benar-benar merasa prihatin pada wanita malang itu.


"Ya, Tuhan. Aku mohon sembuhkan Mbak Nara, berikan dia kesehatan dan umur yang panjang, biarkan dia hidup bahagia," batin Bi Ani dengan mata yang berkaca-kaca.


***


Maaf ya kalau aku slow update, karena aku lagi sibuk banget di dunia nyata.

__ADS_1


Jadi aku nulis saat ada waktu luang saja.


Mohon pengertiannya, ya, BESTie.🙏🏼


__ADS_2