Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 42.


__ADS_3

Malam telah larut, jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kenan yang sudah mabuk berat pulang ke rumah dengan diantarkan oleh dua karyawan klub malam yang kebetulan sudah mengenal baik dirinya, karena dia dan teman-temannya memang sering datang ke tempat itu.


"Ini kunci mobilnya, Pak." Salah seorang pria itu menyerahkan kunci mobil Kenan kepada satpam.


"Terima kasih banyak, ya, Mas," ucap satpam.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu." Kedua pria itu bergegas pergi meninggalkan kediaman Hendra.


Si satpam pun memapah Kenan masuk ke dalam rumah, tapi pemuda menepis tangannya dan memilih untuk berjalan sendiri. Si satpam hanya mengikutinya dari belakang.


Namun karena sudah pusing dan jalannya sempoyongan, Kenan tak sengaja menabrak meja dan menyenggol vas bunga porselen di atasnya hingga jatuh ke lantai.


Prang.


"Mas Kenan, hati-hati!" Si Satpam langsung berlari memegangi Kenan.


"Lepas! Sana pergi!" Kenan kembali menepis tangan si satpam dan mendorongnya agar menjauh.


Mau tak mau satpam itu menurut dan hanya mengawasinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Kenan mengabaikan vas yang pecah itu, dan melanjutkan langkahnya yang terseok-seok menuju sofa, kemudian menjatuhkan dirinya di sana.


Sementara itu, Nara yang sedang tidur di kamar Bi Ani tersentak bangun ketika mendengar suara benda pecah dari ruang tamu, dia mendadak takut ada maling atau orang jahat. Dia lantas bangkit dan membangunkan Bi Ani yang tertidur pulas.


"Bibi! Bangun, Bi!" Nara mengguncang pelan tubuh wanita paruh baya itu.


Bi Ani membuka matanya dengan perlahan, "Ada apa, Mbak?"


"Aku mendengar suara benda pecah dari luar, ada apa, ya?"


Bi Ani mengernyit, "Benarkah? Bibi enggak dengar apa-apa."


"Suaranya jelas banget, Bi. Aku takut ada maling."


"Tapi kan ada satpam yang berjaga."


"Kalau begitu kita cek aja, yuk!"


"Yuk! Tapi hati-hati, Mbak. Siapa tahu benaran maling atau orang jahat."


Nara mengangguk, dan bergegas turun dari ranjang Bi Ani. Begitu juga dengan Bi Ani, dia ikut turun dan menggamit lengan Nara. Mereka berdua membuka pintu dan berjalan dengan mengendap-endap menuju ruang tamu.


Keduanya terkejut saat melihat si satpam sedang memungut pecahan vas bunga yang berserakan di lantai, sementara tak jauh dari si satpam tampak Kenan duduk bersandar di sofa sembari memejamkan mata.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Nara bingung.


"Eh, Mbak Nara." Si satpam terkejut mendengar suara Nara, "ini Mas Kenan mabuk berat dan enggak sengaja nyenggol vas bunga."


Nara terkesiap, dia menatap Kenan dengan cemas.


"Astaga, kenapa wajahnya babak belur? Terus gimana dia pulang kalau mabuk berat begitu?" cecar Bi Ani.


"Tadi ada dua pria yang mengantarkannya pulang," jawab si satpam.


"Kalau Pak Hendra tahu, dia pasti marah besar. Mas Kenan suka sekali cari masalah," gerutu Bi Ani cemas.


Nara termangu, dia tahu Kenan pasti marah karena kejadian tadi, tapi dia tak menyangka pemuda itu sampai nekat mabuk-mabukan seperti ini.


"Nara," ucap Kenan pelan, dia mengigau.


Nara tersentak, dia mengernyit saat mendengar Kenan menyebut namanya.


"Mbak Nara dipanggil Mas Kenan," ujar Bi Ani.


Nara melangkah mendekati Kenan, dia seketika merasa iba melihat wajah suaminya itu lebam dan agak bengkak.


"Bi, bisa tolong ambilkan air hangat, handuk kecil dan kotak obat?" pinta Nara.


Nara menatap wajah Kenan yang babak belur, dia merasa bersalah karena dirinya menjadi penyebab Kenan dan Rendy berkelahi hingga seperti ini.


"Jauhi dia!" Kenan mulai meracau.


Nara tertegun, mengapa Kenan ingin Rendy menjauhinya? Apa dia begitu takut kalah saing dengan rivalnya itu, atau ada alasan lain?


"Ini air hangat, handuk dan kotak obatnya, Mbak." Bi Ani meletakkan semua barang yang Nara minta itu di atas meja.


Lamunan Nara sontak buyar saat suara Bi Ani tiba-tiba mengangetkan nya.


"Oh, iya, terima kasih, Bi. Sekarang Bibi bisa tidur lagi, biar aku saja yang urus dia."


"Tapi, Mbak ...." Bi Ani ragu.


"Enggak apa-apa, Bibi istirahat saja!"


"Ya sudah, nanti kalau butuh sesuatu, panggil saja!"


Nara mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Bi Ani pun segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat, karena dia harus bangun pagi-pagi sekali. Sementara si satpam sudah selesai membersihkan pecahan vas dan kembali berjaga di pos.


Nara duduk di samping Kenan yang masih memejamkan matanya, namun tidak tidur. Dia memeras handuk kecil yang sudah direndam air hangat itu, lalu dengan hati-hati menempelkannya pada pipi Kenan yang lebam.


Kenan meringis saat sesuatu yang hangat dan basah menyentuh pipinya, seketika dia merasakan sakit. Kenan pun membuka mata perlahan dan terkejut saat samar-samar melihat Nara.


"Nara?" Kenan langsung memeluk tubuh kurus istrinya itu.


Nara tercengang dan hanya bisa mematung, dia kaget setengah mati karena tiba-tiba Kenan memeluknya.


"Aku mohon jauhi dia!" Kenan kembali meracau.


Nara mendorong dada Kenan, berusaha melepaskan diri. Namun pemuda itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan aku!"


"Aku enggak akan melepaskan mu! Aku enggak akan membiarkan Rendy merebut mu dariku!"


Lagi-lagi Nara tertegun mendengar kata-kata Kenan, tapi dengan cepat dia meyakinkan dirinya jika pemuda itu hanya tak ingin kalah saing dari Rendy.


"Sudahlah! Lepaskan aku!" Nara kembali mendorong dada Kenan dengan sekuat tenaga.


Kenan pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nara dengan mata yang sayu, "Kau itu milikku!"


Tanpa permisi Kenan menarik tengkuk belakang Nara dan mencium bibir istrinya itu.


Nara memberontak dan mendorong Kenan hingga tautan bibir mereka terlepas.


Plak.


Satu tamparan mendarat keras di pipi Kenan. Nara marah dan merasa tersinggung dengan perbuatan Kenan itu.


"Dasar berengsek!" Nara beranjak meninggalkan Kenan dengan perasaan kesal.


"Nara jangan pergi!" pinta Kenan sembari menyandarkan tubuhnya yang lemas ke sofa dan kembali memejamkan mata, sepertinya kesadaran pemuda itu mulai menurun.


Nara kembali ke kamar Bi Ani, dia naik ke atas ranjang dengan perlahan, sebab tak ingin membangunkan wanita paruh baya itu. Dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar sederhana berukuran tiga kali tiga itu, seketika dia teringat saat Kenan menciumnya tadi, jantung Nara sontak berdebar kencang.


Ini bukan yang pertama bibir mereka bersentuhan, tapi entah mengapa kali ini ada rasa yang berbeda. Apalagi saat Kenan memeluknya dan meminta dirinya untuk menjauhi Rendy, Nara merasa ada yang sesuatu yang aneh.


Nara lantas memejamkan mata dan menggeleng, dia ingin menghilangkan ingatan itu. Dia tak boleh terbawa perasaan, dia harus ingat jika semua itu Kenan lakukan dalam keadaan tidak sadar.


Dia lantas membuka mata dan menghela napas jengkel, sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur karena ulah Kenan tadi. Dia juga bingung harus melakukan apa malam-malam begini? Sementara ponselnya terbawa oleh Rendy.

__ADS_1


***


__ADS_2