
Beruntung di saat Laila sedang kebingungan menjawab ucapan mereka. Hanphone nya pun berbunyi.
Hal ini seperti sebuah keberuntungan. Ia akhirnya bisa menghindari pertanyaan - pertanyaan mereka.
Tut... Tut...
Suara hanphone Laila pun terdengar begitu nyaring.
"Maaf sepertinya saya harus menerima telpon terlebih dahulu dan saya juga mau pamit, maaf saya gak bisa jawab sekarang. Sampai jumpa semuanya. Assalamualaikum." Kata Laila saat ia melihat hanphone. Kemudian ia pun tanpa berlama - lama lagi langsung pamit meninggalkan mereka semua.
"Bu Laila ini bisa aja menghindarinya. Hem... ya udah bu, lain waktu jangan lupa di jawab ya bu. Hati - hati di jalan. Wa'alaikumsalam." Kata bu Mela membalas ucapan Laila.
"Iya bu, jangan lupa di jawab ya bu. Hati - hati di jalan. Wa'alaikumsalam." Kata bu Nayla membalas juga ucapan Laila.
"Sayang banget, sebentar lagi udah harus dapet jawaban pasti. Tapi, bu Laila ada kepentingan. Jadi, di cancel dulu tau keputusannya apa. Otomatis makan nya pun harus di cancel dulu. Sabar, sabar." Kata pak Agus pada mereka semua.
"Sabar aja pak, mungkin besok tau keputusannya." Kata bu Nayla membalas ucapan pak Agus.
"Hahaha... lucu banget sih pak Agus ini. Yang harusnya kecewa dan sabar itu pak Reza karena harus nunggu jawaban pasti dari bu Laila. Ini malah pak Agus yang harus sabar. Sabar dalam menunggu bermacam - macam makanan. Hahaha... hahaha... Oopppss maaf, maaf saya ketawa kaya gini. Abis nya lucu ucapan pak Agus ini." Kata bu Mela membalas ucapan pak Agus dengan tertawa.
"Ibu meka nih gimana coba. Ko malah ketawain saya. Lagi pula bu, kalau kita semua bisa makan - makan di acara pernikahan nya kan lumayan bu. Bisa kumpul bareng juga di sana. Iya gak." Kata pak Agus membalas ucapan bu Mela.
"Bisa, bisa pak maksudnya bisa di rencanakan seperti itu." Kata bu Mela membalas ucapan pak Agus.
"Em... pak Gani ko diem terus pak. Gak mau ikut bicara nih atau karena galau bu Naila udah ada yang punya." Kata pak Agus yang mulai bertanya pada Gani yang terdiam terus sedari tadi.
__ADS_1
Gani yang terpokus pada layar laptop nya. Kini mulai melihat ke arah pak Agus. Kemudian setelah itu, ia pun mulai berbicara.
"Kenapa harus galau pak? lagi pula saya ikut senang kalau pak Reza sama bu Laila bisa bersama. Jadi apa yang harus saya galauin." Kata Gani membalas ucapan pak Agus.
"Maaf pak, saya kira pak Gani suka juga sama bu Laila." Kata pak Agus membalas ucapan Gani.
"Pak Agus nih, mana ada kaya gitu pak. Saya gak seperti yang bapak bilang ko. Lagi pula kalau beneran, saya gak mau kalau harus saingan sama pak Reza yang udah di bilang abang sama bu Laila. Itu artinya pak Reza udah selangkah lebih dulu dari saya. Jadi gak sampai kaya gitu lah pak saya." Kata Gani membalas ucapan pak Agus.
"Jadi kaya gitu ya pak Gani. Hem... tapi gimana nih pak. Bapak udah ada yang di pilih belum nih. Biar bisa makan - makan juga nanti di acara pernikahan bapak juga." Kata pak Agus membalas ucapan Gani dengan sebuah pertanyaan.
"Ya ampun di pikiran pak Agus nih. Sepertinya tak luput dari makan, makan dan makan." Kaya bu Nayla yang ikut dalam pembicaraan.
"Hem... mau gimana lagi bu. Saat ini juga kalau pak Gani memperbolehkan, saya mau beli makan. Udah lapar juga nih perut saya. Gimana pak, boleh gak saya beli makan terlebih dahulu." Kata pak Agus membalas ucapan bu Nayla dan bertanya juga pada Gani.
"Pak Agus nih, kalau mau minta izin, kenapa gak bilang langsung ke intinya aja. Ini malah bahas pernikahan dulu. Pak Agus, pak Agus." Kata Gani membalas ucapan pak Agus.
"Gak boleh." Kata Gani membalas ucapan pak Agus dengan dua kata ini saja. Lalu ia pun terdiam.
Pak Agus yang mendengar jawab dari Gani tersebut menjadi lemas. Hal ini terlihat saat pak Agus menjawab ucapan Gani.
"Baik pak, kalau saya gak di perbolehkan untuk beli makan. Saya gak akan pergi." Kata pak Agus dengan lemasnya membalas ucapan Gani.
"Yakin gak mau pergi." Kata Gani membalas ucapan pak Agus.
"Iya pak, karena bapak juga tak mengizinkan. jadi, saya gak akan pergi." Kata pak Agus membalas ucapan Gani.
__ADS_1
"Tapi kan ucapan saya belum saya lanjutin pak. Bapak masih yakin gak mau pergi." Kata Gani membalas ucapan pak Agus.
"Maksudnya pak Gani?" Kata pak Agus yang tak paham dengan ucapan Gani. Sehingga pak Agus pun bertanya pada Gani.
"Maksud saya, saya belum selesai bicara tadi pak. Tapi, udah bapak jawab terlebih dahulu ucapan saja. Jadi, sekarang saya tanya, bapak yakin gak mau pergi." Kata Gani menjelaskan ucapannya pada pak Agus.
"Oh jadi kaya gitu pak. Tapi, kalau boleh tau bapak mau bicara apa tadi ke saya. Maaf pak saya langsung potong aja ucapan bapak." Kata pak Agus membalas ucapan Gani dan bertanya juga pada Gani.
"Sebenernya saya mau bilang. Kalau bapak beli makanan nya buat bapak aja saya gak akan izinin kecuali bapak beliin makanan untuk kita semua yang ada di sini. Bukan nya kita juga pasti lapar pak. Jadi saya akan izinkan bapak beli makan nya dengan syarat bapak juga membelikan makan buat kami. Gimana bapak setuju dengan izin yang saya berikan ini." Kata Gani membalas ucapan pak Agus.
"Setuju pak, saya setuju." Kata pak Agus dengan cepat membalas ucapan Gani.
"Asyik di traktir nih sama pak Agus." Kata bu Mela menjadi senang saat pak Agus setuju dengan ucapan Gani.
"Bener banget bu, kapan lagi kan bisa di traktir sama pak Agus." Kata bu Nayla membalas ucapan bu Mela.
"Bener banget bu, apalagi acara makan - makan di pernikahan kan harus di cancel dulu. Sekarang di ganti sama pak Agus yang mau traktir. Klop deh bu jadi nya." Kata bu Mela membalas ucapan bu Nayla.
"Tunggu, tunggu ko jadi pada mau di traktir. Saya kan gak bilang mau traktir." Kata pak Agus ikut dalam pembicaraan bu Mela dan bu Nayla.
"Bapak nih gimana, barusan kan bapak udah setuju. Bukan nya itu artinya bapak mau traktir kami semua ya." Kata bu Mela yang aneh dengan ucapan pak Agus.
"Bukan kaya gitu bu, maksud saya bukan saya yang traktir. Tapi, saya yang belinya. Uangnya tetep sama masing - masing." Kata pak Agus membalas ucapan bu Mela.
"Ye... saya kira di traktir sama pak Agus." Kata bu Mela membalas ucapan pak Agus.
__ADS_1
Bersambung...