
"Maaf tuan saya hanya ingin mengingatkan tuan mengenai syarat kontrak pernikahan tuan. Setelah selesai membuatnya menjadi dokumen apa saya harus menyerahkannya pada tuan langsung atau sebelum di buat dokumen saya kasih salinnnnya terlebih dulu pada tuan. Hanya itu tuan yang mau saya sampaikan." Kata Gani memberitahukan tujuan ia menghubungi Aldiano.
"Hanya karena hal ini kamu menghubungi saya." Kata Aldiano dengan penuh penekanan seperti menahan kekesalan.
"Iy... i... ya tuan hanya itu." Kata Gani menjawab ucapan Aldiano dengan gugup.
"Tau waktu kan kamu, ini jam berapa? kenapa harus hubungi saya karena hal semudah itu. Dasar ganggu saja kau. Sudahlah urus semuanya semau mu saja. Saya lagi sibuk tak bisa di ganggu." Kata Aldiano kemudian menjawab ucapan Gani dengan sedikit menaikan nada suaranya.
Hal ini membuat Gani harus mengelus dadanya berulang kali karena rasa keterkejutan yang Aldiano berikan.
Namun, setelah Aldiano menyelesaikan ucapannya tersebut. Rasa lega di rasakan oleh Gani karena tak mendengar suara bariton dari Aldiano lagi.
Tetapi kini ia merasa kesal karena lagi dan lagi Aldiano menutup telpon secara sepihak sebelum ia menjawab ucapan Aldiano. Aldiano sudah menutup telponnya.
"Argh... punya tuan ko gini amat sih. Belum juga di jawab udah main matiin aja nih telpon. Sebel gue lama - lama kalau terus di giniin. Tapi, walau pun kaya gini terus, gue kenapa betah ya. Ckckck... Gani... Gani..." Kata Gani berbicara pada dirinya sendiri setelah Aldiano menutup telponnya.
"Ganggu banget sih, nggak tau apa lagi sibuk. Mana buat mood langsung nggak baik lagi setelah dengar syarat kontrak." Kata Aldiano sempat meluapkan kekesalannya pada Gani di dalam hati.
Setelah itu, ia pun mulai membalikan tubuh untuk melihat Rindi yang terbaring di tempat tidur.
Sementara Rindi yang masih di posisi semula saat Aldiano berada di atas tubuhnya. Hanya bisa merasakan gemetar di seluruh tubuh dan air mata yang terus mengalir.
Tak ada Isak tangis terdengar, walau Rindi terus mengeluarkan air mata. Hal ini membuat Aldiano merasa bersalah karena telah membuat trauma Rindi sampai seperti ini.
"Argh... kenapa gue harus melampiaskan semua nya. Dan kenapa gue harus merusak cewek itu. Aldiano lo harus minta maaf. Ini adalah kesalahan lo." Kata Aldiano merasa sangat bersalah pada Rindi.
Dengan ragu ia kemudian mendekatkan diri menuju tempat tidur. Setelah sampai, ia pun mulai mendudukkan tubuhnya di samping Rindi yang terbaring.
Rindi tak bergerak sedikit pun hanya sekedar menghindar atau bahkan melirik Aldiano yang kini telah berada di samping nya.
Sebelum mengeluarkan suara, Aldiano pun sempat menarik napas sebanyak tiga kali dan tak lupa mengeluarkan napasnya kembali sebanyak tiga kali.
__ADS_1
"Maaf... aku melakukan kesalahan telah berbuat tak baik padamu. Maafkan aku." Kata Aldiano yang kini telah meminta maaf pada Rindi.
Tak ada respon sedikit pun dari Rindi. Karena saat ini Rindi hanya terus melihat ke atas tak bergeming untuk melihat ke arah kiri atau pun kanan.
Hal ini semakin membuat Aldiano merasa bersalah. Bahkan sangat merasa bersalah.
"Apa dia beneran trauma karena hal ini. Apa dia bisa memanfaatkan aku karena kejadian tadi. Kenapa tak ada respon sedikit pun. Ayolah kamu respon apapun itu, mau kamu tidak memaafkan pun setidaknya keluarkan lah sepatah kata." Kata Aldiano berbicara pada dirinya sendiri di dalam hati dengan berharap Rindi bisa menjawab ucapannya.
Namun hasilnya nihil setelah menunggu sekitar lima menit. Ia tak kunjung mendapatkan jawaban sama sekali.
Membuat Aldiano pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Kenapa diam saja. Apa kamu masih merasa kesal pada ku. Ku mohon bicaralah." Kata Aldiano pada Rindi.
Kemudian Rindi pun sempat melirik Aldiano sebentar setelah itu kembali terfokus pada pandangannya semula.
Helaan napas yang bisa Aldiano tujukan karena respon Rindi yang sesaat itu.
Setelah itu Aldiano pun bergegas meninggalkan Rindi ke kamar mandi. Karena ada sesuatu hal yang harus Aldiano tuntaskan di sana.
Ceklek...
Pintu kamar mandi pun terbuka, setelah itu Aldiano masuk ke dalam sana dan tak lupa menutup pintunya.
Tak lama berselang terdengar suara shower yang berbunyi pertanda bahwa shower tersebut telah di gunakan.
Rindi kemudian mulai memejamkan mata selama satu menit. Kemudian membuka matanya kembali.
Rasanya apa yang ia rasakan saat ini seperti mimpi buruk yang ia alami. Namun, ketika ia tersadar bahwa ini adalah kenyataan yang ada. Ia tak bisa menghindarinya lagi. Lambat laun hal ini pun akan ia dapatkan di kemudidn hari bahkan memberikan tubuhnya pada laki - kaki yang menikahinya hari ini pun akan ia berikan suatu saat nanti.
Entah kapan, namun yang jelas itu pasti terjadi. Tapi, rasa tak terima membuat ia sangat bersedih.
__ADS_1
Mendapatkan sesuatu hal yang pertama kali dalam hidupnya di perlakukan seperti apa yang Aldiano lakukan tadi sangat membuat mental ia terguncang.
Ada rasa takut, kecewa, dan marah menjadi satu saat Aldiano dengan beraninya menikmati sebagian tubuhnya. Walau semua itu memang akan Aldiano dapatkan, tapi bagi Rindi hal ini terlalu cepat.
Ia tak ingin menyerahkan tubuhnya secepat ini pada Aldiano. Masih ada keinginan agar ia bisa terus sekolah sebelum menyerahkan tubuhnya pada Aldiano.
Dan yang lebih Rindi harapkan adalah mereka melakukan hal tersebut dengan keadaan yang sama - sama menginginkan bukan secara sepihak seperti ini.
Karena hal ini membuat Rindi merasa trauma atas perlakuan Aldiano.
Yang begitu mendadak menyerang dirinya dengan ciuman bertubi - tubi.
"Argh... kenapa gue harus merasakan hal ini. Hiks... hiks... gue belum siap. Gue nggak mau nyerahin diri gue begitu saja pada cowok itu." Kata Rindi berbicara di dalam hatinya.
Tak lama setelah Rindi berbicara dan meluapkan semua rasa sakit hatinya tersebut.
Aldiano pun keluar dari kamar mandi. Setelah itu ia duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki.
Dan kembali fokus pada hanphone miliknya, namun selain itu ada satu perbedaan karena setelah kejadian itu.
Aldiano walau fokus pada hanphone, sesekali menyempatkan diri untuk melirik ke arah Rindi.
"Apa dia bisa memaaf kan kesalahan ku. Argh... Jika terus di pikirkan seperti ini rasanya aku akan gila. Dengan cara apa lagi aku harus buat cewek itu bicara. Kalau terus di diam kan seperti ini aku tak bisa tenang."
"Ayolah bicara, satu kata saja."
Kata Aldiano begitu berharap Rindi mengeluarkan satu kata dari bibirnya itu.
Hening tak ada pembicaraan di kamar Rindi saat ini. Karena Rindi yang fokus pada lamunan nya dan Aldiano yang terfokus pada harapan dan pikiran nya yang ingin segera mendengar ucapan Rindi.
Bersambung...
__ADS_1