
Keringat membasahi tubuh Nara, dia mulai kegerahan karena tidur menggunakan selimut tebal siang-siang begini. Kesadarannya pun telah terkumpul sempurna, sepertinya suhu tubuh wanita itu sudah kembali normal.
Nara membuka mata, dia terkejut setengah mati saat melihat wajah Kenan yang sedang tertidur hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya, dia bahkan bisa merasakan hembusan napas Kenan yang teratur, dan yang lebih mengejutkan lagi, pemuda itu tidur sambil memeluk dirinya.
Nara sontak mendorong tubuh Kenan agar menjauh darinya, membuat suaminya tersebut akhirnya juga ikut tersadar.
"Kau sudah bangun?" tanya Kenan, dia menarik tangannya dari pinggang Nara.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidur sambil memeluk aku?" cecar Nara, dia beringsut dan menjauh dari suaminya itu.
"Tadi kau menggigil kedinginan, sampai mengigau. Karena aku enggak tega, jadi aku peluk saja, siapa tahu bisa menghangatkan mu. Tapi aku malah ikut tertidur," terang Kenan, sebenarnya dia masih mengantuk karena semalam kurang tidur.
Benarkah begitu? Tentu Nara tak bisa percaya begitu saja dengan penjelasan Kenan.
"Bohong! Kau pasti ingin mengambil kesempatan di saat aku tidur, kan?" tuduh Nara.
"Hei, jangan menuduhku sembarangan! Aku bukan laki-laki yang suka mengambil kesempatan," bantah Kenan.
"Jadi yang waktu itu apa? Kau merusak masa depanku di saat aku tidur!" sungut Nara marah saat teringat malam kelam itu.
"Itu beda! Saat itu aku enggak bisa mengontrol diri, tapi kali ini aku sepenuhnya sadar, kok! Dan aku enggak ada niat macam-macam, percayalah!"
"Aku tetap enggak percaya!" ujar Nara ketus dan buru-buru turun dari atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi, dia masih kesal dengan suaminya itu.
Kenan mengembuskan napas berat melihat sikap tak bersahabat Nara padanya, sungguh bertolak belakang dengan sikap wanita itu kepada Rendy. Beberapa bulan yang lalu Kenan tak mempermasalahkan hal itu, namun entah mengapa sekarang dia merasa sedih dan terluka setiap kali sang istri kasar serta mengabaikannya.
***
Nara sudah selesai bersih-bersih dengan air hangat, dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe, sebab dia lupa membawa baju ganti karena saking syok nya akibat ulah Kenan tadi. Dia berjalan melewati Kenan dengan sedikit malu dan canggung, kemudian buru-buru mengambil pakaiannya di lemari.
Kenan yang masih berbaring di kasur memperhatikan Nara, matanya fokus pada paha mulus wanita itu yang terekspos cuma-cuma karena bathrobe yang dikenakan sang istri sangat pendek. Mendadak ada sesuatu yang mulai terpancing di dalam dirinya, namun Kenan berusaha menguasainya.
"Kata Papa, kau harus ke rumah sakit jika sudah bangun," ujar Kenan, dia sengaja ingin mengalihkan pikiran-pikiran liar yang mulai bermunculan.
"Enggak usah! Aku sudah enggak apa-apa, kok!" tolak Nara tanpa memandang Kenan, dia bergegas kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaian dan dalamaannya.
"Baiklah, biar Papa saja yang memaksamu ke rumah sakit," teriak Kenan sedikit kesal karena Nara bersikap tak acuh padanya, tapi wanita itu tak menggubrisnya sama sekali.
Perhatian Kenan teralihkan ke benda pipih yang sedang berdering di sisi bawah ranjang, dia segera mencari benda itu dan berhasil menemukannya. Itu adalah ponsel Nara yang tak sengaja terjatuh dari tangan Kenan ketika pemuda itu tertidur tadi.
Kenan menatap tajam layar telepon genggam istrinya itu saat tahu siapa yang menelepon.
__ADS_1
Rendy is calling ....
"Mau ngapain lagi dia menelepon?" gerutu Kenan.
Dia hendak menjawab panggilan masuk tersebut tapi Nara keburu keluar dari kamar mandi dan langsung menghampirinya.
"Itu ponselku! Kenapa bisa ada padamu?" Nara merebut ponselnya dari tangan Kenan.
"Tadi Papa yang memberikannya padaku," jawab Kenan jujur.
Nara tak membalas Kenan, dia segera menjawab telepon dari Rendy dan bergerak menjauhi suaminya itu.
"Halo, Ren," sapa Nara ramah.
Kenan yang mendengar itu merasa kesal sendiri.
"Gimana keadaan kamu? Sudah baikkan?"
"Sudah, kok," jawab Nara, dia tahu pasti Rendy datang dan mendengar kabar bahwa dia sakit.
"Syukurlah."
"Kamu tahu dari siapa kalau aku sakit? Pak Hendra?"
Kenan?
Nara pun melirik Kenan yang juga sedang menatap ke arahnya, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Aku hanya masuk angin karena kedinginan semalam," kilah Nara, dia tak ingin Rendy cemas.
"Aku minta maaf, ya? Ini salah aku."
"Enggak apa-apa, Ren. Ini bukan salah kamu, kok. Memang aku saja yang gampang sakit," bantah Nara, dia juga tak mau Rendy merasa bersalah.
Kenan terus menguping pembicaraan Nara dan Rendy yang semakin membuat hatinya panas serta jengkel.
"Apa enggak sebaiknya kamu ke rumah sakit aja, Ra?"
"Enggak usah, aku sudah enggak apa-apa, kok. Ini juga sudah sehat lagi." Nara berbohong, padahal dia masih merasa lemas dan sedikit pusing.
"Tapi tadi Om Hendra bilang kalau hidung kamu berdarah, aku takut kamu mengidap penyakit yang serius. Kamu cek ke rumah sakit, ya? Biar aku enggak khawatir."
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir! Aku baik-baik saja, kok. Percayalah!" pinta Nara lembut, dan kali ini Kenan benar-benar tak bisa menahan diri lagi.
"Ra, tapi itu mirip dengan gejala ...."
Tit.
Nara terkesiap saat Kenan tiba-tiba merebut ponselnya dan mematikan telepon dari Rendy.
"Apa-apaan kau ini?" Nara melotot marah.
"Aku enggak suka kau berbicara dengannya di depanku!" dalih Kenan.
"Ya sudah, kalau begitu kau pergi saja! Kenapa malah mematikan teleponnya?" sungut Nara kesal.
"Hei, kau lupa kalau ini kamar ku?"
Nara terdiam, dia baru sadar kalau ini kamar Kenan dan seharusnya dia yang keluar.
Ponsel Nara pun berbunyi lagi, Rendy kembali menelepon.
"Baiklah, kalau begitu kembalikan ponselku. Biar aku pergi dari sini!" Nara menadahkan tangannya.
"Enggak akan! Mulai sekarang ponselmu aku sita dan kau enggak boleh keluar rumah tanpa aku!" ucap Kenan sembari mereject panggilan dari Rendy itu.
Nara tercengang, dia bingung dengan tingkah suaminya tersebut.
"Kau ini kenapa, sih? Kau enggak bisa melakukan semua ini, apalagi melarang aku keluar dari rumah!"
"Tentu saja aku bisa, karena aku ini suamimu, dan sebagai istri, kau harus mematuhi aku!"
Nara lagi-lagi terhenyak mendengar ucapan Kenan, sejak kapan pemuda angkuh itu sadar dengan statusnya sebagai seorang suami dan mengakui Nara sebagai istri?
Nara menggeleng, "Enggak! Dari awal kita tahu pernikahan ini cuma keterpaksaan dan kita enggak saling mencintai, jadi aku rasa ini terlalu berlebihan!"
"Tapi kita tetap suami istri yang sah. Suka enggak suka, kau harus menuruti aku sebagai suamimu!" tegas Kenan.
"Bagaimana kalau aku enggak mau?" tantang Nara.
"Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk menghukum mu," ancam Kenan, dia melangkah pergi sambil membawa ponsel istrinya itu.
Nara hanya mematung dengan perasaan bingung bercampur kesal, dia benar-benar tak habis pikir dengan sikap aneh suaminya itu yang mendadak berubah seperti ini.
__ADS_1
***