Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 49.


__ADS_3

Di luar kamar, Kenan pun melepaskan cekalan nya pada lengan Windy.


"Sekarang jelaskan, kenapa kau memeluk perempuan kampung itu, haa?" tuntut Windy yang masih belum puas.


"Ma, sudahlah! Jangan dipermasalahkan lagi!"


"Gimana Mama enggak mempermasalahkan kalau yang kau lakukan ini salah!"


"Apanya yang salah, Ma? Aku hanya memeluk istriku, apa itu satu kesalahan?" bantah Kenan.


Windy kembali terhenyak mendengar jawaban Kenan, "Sejak kapan kau mengakui dan menganggap dia sebagai istri?"


"Sejak aku sadar kalau apa yang aku lakukan selama ini salah, aku ingin memperbaiki semuanya dan berdamai dengan apa yang terjadi."


Lagi-lagi Windy terkesiap mendengar ucapan sang putra, Seketika dia teringat kata-kata Hendra tadi saat mereka berdebat di kamar.


"Papa rasa sekarang Kenan mulai mencintai Nara."


"Kau jatuh cinta padanya, kan?" tebak Windy tanpa basa-basi.


Kenan tertegun sejenak, namun kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Rasanya bagai dihantam ratusan batu besar, Windy terkejut setengah mati. Ternyata benar apa yang dikatakan Hendra jika putranya itu mencintai Nara.


Windy menggeleng tak terima, "Ini enggak mungkin! Kau enggak boleh jatuh cinta pada perempuan kampung itu!"


"Memangnya kenapa, Ma?"


"Karena dia enggak pantas untukmu! Kau masih bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik segala-galanya dari dia, yang selevel denganmu."


"Tapi perasaan itu enggak bisa diatur dan dipaksakan, Ma!"


Windy mengepalkan tangannya menahan geram, "Pasti dia sudah menggoda dan menghasut mu, dia sengaja melakukan itu agar posisinya aman di rumah ini. Dasar perempuan licik!"


"Ma, Nara enggak pernah menggodaku apalagi menghasut aku. Semua ini murni dari dalam hatiku sendiri," sanggah Kenan.


"Benar-benar keterlaluan! Mama enggak izin, Mama enggak rela kau mencintai perempuan sialan itu!" kecam Windy.


"Cukup, Ma!" bentak Kenan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" Hendra keluar dari kamarnya saat mendengar perdebatan anak dan istrinya.


Kenan dan Windy sontak berbalik memandang pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.


"Enggak ada apa-apa, Pa. Mama hanya sedang membicarakan tentang kuliahnya Kenan." Windy berdusta.


Kenan terkejut mendengar sang mama berbohong, "Ma!"

__ADS_1


"Ma, kalau Kenan enggak mau, jangan dipaksa!" ujar Hendra memperingatkan.


"Iya, Mama cuma lagi diskusi saja, kok. Benarkan, Ken?" Windy menyenggol lengan Kenan.


Kenan terpaksa mengangguk sebab tak ingin memperkeruh suasana jika Hendra tahu yang sebenarnya.


"Kenapa diskusinya disitu? Ayo kita ngobrol di kamar! Papa juga ingin ikut nimbrung," cetus Hendra.


"I-iya, Pa,"sahut Windy gugup, sementara Kenan hanya bergeming dengan perasaan kesal.


***


Akhirnya Kenan dan kedua orang tuanya sedang membahas tentang niat pemuda itu untuk lanjut kuliah.


"Kau jadi kan kuliah di Stanford University? Soalnya tadi Tante Cindy bertanya tadi." Windy memastikan, dia berusaha biasa saja dan menutup rasa kesalnya pada sang putra.


"Jadi, tapi dengan satu syarat," sahut Kenan.


Windy mengerutkan keningnya, "Syarat apa?"


"Nara juga harus ikut," jawab Kenan tegas.


"Papa setuju!" sela Hendra cepat.


Wajah Windy seketika kembali masam, "Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa dia harus ikut?"


"Karena dia istriku, Ma."


"Tapi Mama enggak setuju!" tolak Windy.


"Kenapa, Ma? Kan bagus kalau mereka pergi berdua, jadi mereka enggak terpisah dan bisa saling menjaga satu sama lain," sambung Hendra.


"Pa, yang ada nanti di sana dia cuma menyusahkan Kenan saja! Pokoknya Mama enggak setuju dia ikut!" Windy memalingkan wajahnya.


"Ya sudah, kalau begitu aku enggak jadi pergi!" putus Kenan.


Windy sontak mengalihkan pandangannya menatap Kenan tak percaya, "Kau ini sudah enggak waras, ya?"


"Mama!" tegur Hendra.


Windy beralih menatap Hendra, "Pa, ini enggak masuk akal! Kuliah di Stanford University itu cita-cita Kenan, tapi dia rela membuangnya hanya karena perempuan kampung sialan itu!"


"Cukup, Ma!" bentak Hendra, "kalau Kenan ingin Nara ikut dengannya, berarti Nara akan ikut! Papa akan urus semuanya."


"Kalian berdua sama saja! Benar-benar keterlaluan!" Windy merajuk, dia keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras.


Hendra geleng-geleng kepala melihat sikap kasar sang istri.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Pa. Aku sudah membuat Mama dan Papa bertengkar lagi," sesal Kenan.


"Enggak apa-apa, Mama kamu itu memang harus dikerasi. Nanti Papa akan bicara lagi dengannya, sekarang kamu beritahu Nara tentang rencana kamu ingin mengajak dia kuliah di Amerika, biar dia bisa mempersiapkan diri." Hendra menepuk pundak Kenan.


"Iya, Pa." Kenan pun bergegas keluar dan perasaan senang.


Hendra mengembuskan napas lega melihat Kenan menghilang di balik pintu, dia tahu yang sebenarnya terjadi, karena tadi dia mendengar semua yang Kenan dan Windy bicarakan di luar, namun dia tak ingin membahasnya sekarang. Dia akan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya, tapi yang pasti saat ini dia merasa sangat senang karena akhirnya Kenan bisa menerima Nara sebagai istrinya dan mencintai wanita itu.


***


Kenan kembali ke kamarnya, dia mendapati Nara sedang berdiri memandang keluar jendela, sepertinya wanita itu melamun karena tak menyadari kedatanganya. Kenan mendekati Nara, dan berdiri sejajar dengan istrinya itu.


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Kenan.


Nara yang sedang termenung terkejut setengah mati, dia sontak menoleh dan bergerak menjauh dari suaminya itu. Namun beberapa detik kemudian dia tertunduk canggung.


"Kau pasti lagi memikirkan aku, kan?" tebak Kenan penuh percaya diri, namun Nara tak menjawabnya.


"Ada yang mau aku bicarakan denganmu," ujar Kenan kemudian.


"Sama, ada yang ingin aku bicarakan juga denganmu," balas Nara masih dengan kepala tertunduk.


"Kalau begitu katakanlah lebih dulu!" pinta Kenan penasaran.


"Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang, dan aku putuskan untuk tetap berpisah darimu," ucap Nara tanpa keraguan.


Kenan terperangah, hatinya mendadak sakit seperti ditikam ribuan belati. Baru saja dia ingin memperbaiki semuanya dengan Nara, tapi istrinya itu justru menginginkan perpisahan.


"Tapi kenapa?"


"Karena aku enggak mencintaimu, aku bahkan sangat membenci dirimu, jadi percuma saja pernikahan ini tetap kita lanjutkan," sahut Nara dengan suara bergetar menahan tangis.


Hati Kenan semakin terasa perih, dia pikir Nara akan memaafkannya setelah dia mengakui perasaannya tadi, tapi nyatanya wanita itu tetap menolak dirinya.


"Aku tahu selama ini aku sudah bersikap buruk padamu, aku telah menyakitimu. Tapi enggak bisa kah kau memaafkan aku dan memberi aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Aku berjanji akan menebus kesalahanku, aku akan berusaha membuat kau bahagia."


Nara menggeleng, air matanya mulai jatuh menetes, "Pernikahan ini hanya sebuah kesalahan, dan sudah saatnya diakhiri."


"Enggak, jangan begini! Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu, tapi aku minta tetaplah jadi istriku! Kita akan jalani hidup ini sama-sama, aku bahkan berencana mengajak kau kuliah di Amerika, kita akan wisuda bersama di sana!" bujuk Kenan.


Nara mengangkat kepalanya, menatap Kenan dengan mata yang basah, "Aku sudah memaafkan mu, tapi aku enggak bisa terus bersamamu. Aku enggak pantas untukmu, kita enggak selevel."


Rupanya tadi Nara menguping dan mendengar semua yang Windy katakan tentang dirinya, hal itu membuat Nara terluka dan sakit hati.


"Jangan bicarakan begitu!"


"Tapi kenyataannya seperti itu!" Nara berbalik dan melangkah pergi sambil mengusap air matanya. Sudah cukup dia dihina dan diperlakukan dengan buruk, mungkin ini saatnya semuanya berakhir.

__ADS_1


Kenan menatap kepergian istrinya itu dengan sedih, kenapa dia harus merasakan jatuh cinta dan patah hati sekaligus?


***


__ADS_2