Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 217 Merasa Iri


__ADS_3

"Hem... kalau gitu, gue juga nggak mau kalah. Ntar kalau gue dapet gue tunjukin ke lo." Kata Glen membalas ucapan Willi.


"Oke bro, gue tunggu." Kata Willi membalas ucapan Glen.


Sementara Rindi dan Aldiano yang mengalami hal tersebut. Sama - sama terdiam membisu. Ntahlah apa yang sedang mereka pikirkan. Karena setelah ciuman singkat itu. Mereka seakan menghindar.


"Ya ampun, mata gue langsung ternoda nih. Gegara liat tontonan adegan mesra depan kepala gue sendiri. Biasanya gue suka liat adegan seperti ini di drama - drama gitu sekarang malah riel ada di depan gue. Ternyata rasanya campur aduk kalau liat adegan seperti ini secara langsung. Tapi, gilanya kalau seandainya gue yang jadi perempuan yang melakukan adegan romantis itu. Kayanya gue akan mati berdiri deh. Eh... ya ampun Yeni kamu nih bicara apa sih sampai ngelantur kaya gini. Sadar jangan berlebihan seperti ini bicaranya." Kata Yeni yang berbicara di dalam hatinya setelah melihat adegan romantis tersebut.


Ternyata tak jauh berbeda dengan Haikal yang posisinya pun dekat dengan Rindi dan Aldiano bahkan ia berada tepat di hadapan Aldiano.


Adegan tersebut membuat ia merasa iri. Andai saja ia dan Yeni bisa. Eh... pikiran Haikal ternyata sama ya kaya Yeni. Beramai - andai, kapan jadi nya dong.


Hehehe...


"Gila, suaminya Rindi berani juga. Langsung nyosor aja. Nggak tau apa, di sini ada yang iri. Kalau bukan pengantin baru, udah gue buat perkedel nih adik ipar gue. Bikin hati panas diingin aja." Kata Haikal di dalam hatinya.


"Sorry, aku tak bermaksud untuk menyentuh pipimu dengan bibir ku." Kata Aldiano mencoba meminta maaf pada Rindi yang hanya terbengong.


"Iy... iya, aku juga salah ko. Karena kaget tiba - tiba mendengar suara. Sampai akhirnya aku langsung mengarahkan wajah ku ke sumber suara. Dan ternyata adegan barusan malah terjadi." Kata Rindi membalas ucapan Aldiono.


"Oke, jadi kita bisa lupain kejadian tersebut. Karena itu adalah kesalah kita berdua." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Baiklah, aku setuju." Kata Rindi yang langsung menyetujui ucapan Aldiono.


Kemudian tak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua.


Selanjutnya terdengarlah suara Rindi yang berbicara pada Yeni.


"Em... Yen, sepertinya kita harus selesai bicara deh." Kata Rindi sedikit berbisik pada Yeni.

__ADS_1


"Ko gitu, memangnya kenapa Rindi?" Kata Yeni membalas ucapan Rindi.


"Em... itu liat deh, aku rasa kamu bisa paham kenapa aku meminta untuk menghentikan pembicaraan setelah melihat apa yang aku tunjuk." Kata Rindi kemudian menunjuk beberapa para tamu undangan yang sedang mengantri untuk mengucapkan selamat dan doa.


"Ya ampun Rindi, gue bicara sama lo nggak sampai satu jam loh ini. Udah cukup banyak juga yang ngantri. Hehehe... ya udah deh kalau gitu gue pergi dulu aja deh. Ntar kita sambung lagi bicaranya oke." Kata Yeni kemudian melihat ke arah telunjuk Rindi dan ia pun terkejut karena mendapati banyak orang di sana. Dan detik itu juga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Rindi dengan berpamitan pada Rindi.


"Hem... ya bisa kita atur waktunya." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.


"Oke deh kalau gitu. Kak, ayo kita ke sana." Kata Yeni membalas ucapan Yeni dan tak lupa mengajak Haikal untuk pergi bersamanya.


"Iya yank, yuk." Kata Haikal menyetujui ajakan Yeni.


Kemudian mereka berdua pun berpamitan pada Yeni dan Aldiano. Namun, sebelum itu Haikal sempat berbicara sebentar pada Rindi. Untuk sekedar meminta maaf karena gagal membantu Rindi untuk kabur.


Setelah itu, mereka berdua pun pergi meninggalkan kedua mempelai tersebut.


Kini giliran para tamu undangan  yang menyalami Rindi dan Aldiano satu persatu dengan silih berganti.


Rasanya memang sulit, tapi mau gimana lagi. Hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini.


Jam demi jam telah berlalu, rangkaian acara pun telah selesai.


Kini Rindi dan Aldiano pun telah berada di kamar Rindi.


"Huh... pegel banget kaki ku. Rasanya seperti mau patah." Kata Rindi yang sedang membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Sementara Aldiano sedang duduk di kursi yang ada di kamar Rindi.


Entahlah dia sedang apa dengan hanphone miliknya itu. Karena sedari ia masuk hanya terfokus pada hanphone dan seperti enggan untuk mengalihkan pandangannya walau sedetik pun itu.

__ADS_1


Rasanya memang menyebalkan tapi ya sudah lah. Ini yang lebih baik bagi Rindi. Karena ia tak harus berdebat dengan laki - laki itu.


"Sebel banget gue, sekarang harus tinggal satu atas sama orang itu. Argh... kalau gue boleh milih. Ogah gue di nikahin sama tuh cowok. Wajah sih oke tapi kalau sikapnya nggak oke kan buat apa. Sebel deh gue. Tapi ya sudah lah selama tuh cowok nggak buat gue emosi lagi. Gue sih nggak masalah." Kata Rindi mengatai - ngarai Aldiano dengan suara yang pelan.


Namun, hal tersebut masih terdengar samar - samar oleh Aldiano.


"Ehem... aku mendengar apa yang sedang kamu umpatin mengenai diriku. Jaga sikap mu." Kata Aldiano berdehem kemudian berbicara pada Rindi. Setelah itu terdiam dan fokus kembali pada hanphonenya. Bahkan berbicara seperti barusan saja ia tak memandang ke arah Rindi. Itulah ucapan Aldiano sangat dingin dan menyebalkan.


Akan Rindi balas dengan suara kencang. Tapi karena sudah lemas dan tak bertenaga. Ia pun urungkan niat tersebut dan tidak jadi meneriaki Aldiano.


"Lagian pede banget sih, aku nggak lagi bicarain kamu kali." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


"Terserah mu lah, lagi pula aku juga punya telinga dan bisa bedain orang yang sedang membicarakan ku atau yang tidak membicarakan ku. Jadi jangan coba - coba mengelak." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


Dengan malah Rindi pun memutarkan bola matanya. Kemudian langsung berbicara.


"Hem... emang nya kamu apaan bisa bedain kaya gitu." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


Hening tak ada jawaban lagi dari Aldiano. Mungkin karena Aldiano tak ingin berdebat dengan Rindi sehingga ia memilih untuk tak meneruskan lagi ucapannya.


"Sebel deh gue, harus bicara sama batu." Kata Rindi yang langsung melontarkan umpatannya secara jelas.


"Apa kamu bilang?" Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Tidak ada, aku hanya bicara pada seseorang yang seperti batu." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano dengan acuh tak acuh.


"Orang yang kamu maksud barusan bukan aku kan." Kata Aldiano yang sedikit curiga.


"Em... menurutmu gimana?" Kata Rindi bukan nya langsung menjawab ucapan Aldiano ia malah bertanya balik pada Aldiano.

__ADS_1


"Sudahlah, percuma juga bertanya pada mu. Bukan nya kamu jawab tapi malah kamu tanyakan balik. Dasar cewek aneh." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


Bersambung...


__ADS_2