
Sementara itu Gavin dan Miranda yang tengah janjian bertemu di kafe tampak sibuk berbincang.
"Tumben sekali kau mengajakku pergi kesini?" pungkas Gavin lalu menyesap secangkir cappuccino miliknya.
"Aku hanya ingin bilang, apa kau sudah tau kalau Van dan Lara akan menikah?"
"Bbrrtt uhuk!" Gavin hampir tersedak minuman mendengarnya. "Miranda kau serius atau bercanda?"
"Tentu saja serius, mereka berdua sendiri yang bilang kalau tiga hari lagi akan mendaftarkan pernikahan mereka di catatan sipil," terang Mira.
Sebenarnya Gavin harusnya tidak perlu kaget mengingat dirinya sendiri kan yang menyarankan hal itu pada Van tempo hari. Tapi... Gavin tidak menyangka seorang Vander sungguhan melakukan saran darinya itu. Gavin pun tersenyum lega.
"Kau tidak komentar apa-apa?" Tanya Mira melihat Gavin hanya tersenyum.
"Tidak, karena itu tandanya kak Vander sungguh mencintai kak Lara sampai ia mau serius berkomitmen. Kak Vander itu setauku tidak pernah seserius itu sebelumnya dengan wanita, bahkan matannya dulu tidak pernah sedikitpun dia berencana untuk dinikahi."
"Benarkah?" Miranda terkesan.
"Aku sungguh senang sekali mendengar berita ini, terlebih kak Lara kan sekarang sebatang kara jadi dengan Kak Van menjadi suaminya maka dia akan punya keluarga baru. Oh iya Mira bicara soap keluarga, kau tau kan kematian kakek dan nenek kak Lara itu bukan kecelakaan melainkan ulah orang yang menaruh peledak di mobilnya?"
Mira sudah tau soal itu dari Lara, tapi sayang hingga detik ini polisi belum menemukan petunjuk siapa pelakunya. Yang pasti pelakunya adalah orang profesional dan punya power kuat dibelakangnya.
***
Tiga hari kemudian...
Akhirnya hari penting itu pun tiba, hari dimana akan diadakan rapat penting dengan semua jajaran dewan komisaris untuk menetukan langkah Miracle selanjutnya. Lara benar-benar merasa gugup saat ini, sejak tadi mau berangkat hingga sekarang sudah ada diruangannya, Lara masih terlihat gelisah dan terus saja mondar mandir.
Melihat wanitanya begitu Vander pun mencoba menenangkannya dengan memeluknya dari belakang.
"Sayang tenanglah... semua akan baik-baik saja," ucap Vander dengan intonasi lembut suaranya.
"Tapi aku takut sekali Vander, aku takut... Aku— tidak tenang. Entah perasaanku seperti megatakan ... kalau aku akan kalah dari Jeden."
"Hei kau bicara apa?" Vander langsung memutar tubuh Lara menghadap ke arahnya. Pria itu menatap wajah sang kekasih yang tampak cemas dan bekata, "Kau adalah pimpinan, jangan biarkan siapapun menjatuhkanmu. Lagipula jika memang kau harus lengser dari jabatanmu saat ini, kau kan tetap punya hak atas Miracle. Kau tidak usah cemas, ada aku disini, aku janji aku akan membantumu diperusahaan oleh karena itu ingatlah kalau ada aku dibelakangmu, jadi bersemangatlah...!" Van meyakinkan Lara dan memberinya dukungan.
Senyum Lara pun perlahan mengembang, perasaannya kini lumayan lega setelah mendengar Vander mengatakan hal tadi padanya. "Terima kasih Vander."
"Sama-sama sayang," balas Van kemudian mencium mesra bibir Lara.
__ADS_1
**
Di ruang pertemuan. Tampak semua dewan komisaris sudah datang dan duduk di kursinya masing-masing. Begitupun Lara dan Jeden yang kini hadir sebagai dua orang pemegang saham terbesar di Miracle serta pemegang saham lain. Lara menghela nafas agar bisa serileks mungkin. Ia mengepalkan jemarinya dan meyakinkan diri dalam hati. Aku bisa! Apapun yang terjadi sekalipun tidak berpihak padaku, aku harus menghadapinya.
"Nona Lara kau tidak usah tegang begitu," sindir Jeden yang ada disebelahnya dengan raut wajah jumawa. "Kau tenang saja meskipun aku akan merebut posisimu, tapi sampai kapanpun kau tetap akan jadi yang paling spesial di kantor ini!"
"Simpan omong kosongmu tuan Jeden!" balas Lara ketus.
Dan tak lama kemudian pertemuan dimulai, semua dewan komisaris sibuk saling melakukan jajak pendapat diiringi sesekali pembelaan ataupun dokumen pendukung dari Jeden dan Lara.
Dan setelah melakukan berbagai pertimbangan dengan cukup alot, dewan direksi pun mengambil keputusan bahwa dari semua pertimbangan Tuan Jeden yang lebih tepat menduduki posisi CEO.
"Tunggu dulu! Bagaimana mungkin ini tidak bisa diterima! Bagaimana pun aku pemegang saham terbesar di Miracle jadi tidak mungkin Jeden! Karena menurut aturan hanya pemegang saham terbesarlah tetap yang bisa memimpin di Perusahaan!" Lara protes merasa keberatan.
"Nona Lara anda benar, tapi kenyataannya barusan utusan tuan Rowan mengatakan kalau ia setuju untuk memberikan sahamnya kepada Jeden, dan dengan begitu tuan Jedenlah yang saat ini memiliki saham terbesar yakni lima puluh tiga persen."
Lara langsung tersentak kaget, "Ta- tapi bagaimana bisa? Tidak! Tuan-tuan dewan komisaris hal ini tidak bisa terjadi!"
"Nona Lara kami dewan komisaris bertugas sebagai badan independen yang mengawasi para petinggi di Miracle, kami tidak ada kuasa mengutak atik aset ataupun peraturan hukum mutlak perusahaan, dan jika mengikuti peraturan yang berlaku makan tuan Jedenlah kini yang berhak atas jabatan CEO," ungkap ketua dewan komisaris.
Sementara Jeden sudah memasang tampang jumawa saat itupun menyindir Lara. "Nona Lara anda adalah pimpinan yang bijak bukan? Aku rasa anda harusnya bisa menerimanya dengan hati lapang!"
Dengan perasaan kecewa dan marah, pada akhirnya Lara terpaksa menandatangani peralihan jabatan itu, sekaligus tanda bukti kalau Jeden kini resmi menjadi CEO menggantikan dirinya.
"See Nona Lara, aku sebagai CEO baru Miracle mohon kerja samanya darimu," ucap Jeden seolah mengejek Lara saat ini.
Lara tak menjawab apa-apa ia hanya bisa menahan rasa marahnya saat ini. Lara meninggikan wajahnya karena ia tidak boleh lemah di hadapan Jeden bagaimanapun ia harus buktikan kalau pria itu tidak bisa menyetirnya meski sekarang dirinya bukan lagi CEO Miracle. "Lihat saja nanti, aku akan merebut kembali Miracle seutuhnya darimu Jeden!"
**
Di mobil Lara masih tampak belum terima dengan keputusan hari ini dimana dirinya kini bukan lagi CEO. Vander tentu saja tidak ingin melihat calon istrinya bersedih dan murung.
"Aku tau ini sangat berat bagimu. Tapi kau harus lihat sisi positifnya, dengan dirimu yang turun jabatan itu saatnya kau membuktikan kemampuanmu pada semuanya jika selama ini mereka sudah salah menilaimu," ucap Vander kemudia menghentikan mobilnya.
"Tapi aku sudah gagal sebagai pewaris Van...," ungkap Lara kecewa.
"Hei dengar," Vander mengangkat dagu Lara. "Ini semua belum berakhir, ini baru permulaan. Setelah ini kau harus bangkit dan rebut kembali jabatan itu dari Jeden, paham?"
Lara mengangguk paham.
__ADS_1
"Gadis pintar." Vander tersenyum lalu mengusap lembut pipi Lara dan mencium keningnya. "Kalau begitu, ayo segera kita daftarkan pernikahan kita hari ini," aja Vander.
Lara pun mengangguk setuju. "Iya...!"
**
Setelah menyelesaikan semua prosedur yang ada, dan menandatangani dokumen resmi pernikahan akhirnya Lara dan Vander resmi menikah. Mereka kini sudah sah tercatat sebagai pasangan suami istri di catatan sipil.
"Tuan dan Nyonya selamat ya semoga kalian selalu bahagia dan langgeng sampai tua," ucap pegawai badan pencatata sipil sambil menyerahakan buku nikah kepada keduanya.
"Terima kasih," balas Lara malu-malu.
Keduanya keluar dari kantor pencatatan sipil dengan wajah berseri sambil bergandengan tangan.
Vander tiba-tiba melirik istrinya yang wajahnya terlihat malu-malu itu. Pria itu pun langsung membisikan sesuatu ke telinga Lara. "Kau kenapa malu begitu istriku?"
Seketika wajah Lara makin memerah dan tubuhnya merasa panas mendengar Vander menyebutnya sebagai istri. Karena sesungguhnya Lara masih belum percaya kalau dirinya kini sudah menikah dan resmi menjadi istrinya Vander.
"Um— aku..."
"Wajahmu merah begitu?" Van sengaja mendekatkan wajahnya dan menggoda Lara.
"Vander aku malu!" Ucap Lara salah tingkah.
Pria itu pun jadi tertawa geli melihatnya. "Kau istriku kenapa malu kita bahkan sudah melakukan hal yang lebih—"
Lara membekap mulut suaminya itu. "Aku tau, Aku— aku senang tapi malu, aku seperti belum biasa menyebut diriku sebagai istrimu," ucap Lara tersipu.
Van melepaskan bekapan tangan Lara lalu membelai kedua pipi gadis itu dan menatapnya dengan penuh perhatian. "Nanti juga akan terbiasa, sekarang coba panggil aku suami."
"Apa?" Lara menatap polos.
"Iya coba kau bilang 'Vander suamiku'," pinta Vander.
Dengan malu-malu Lara pun menyebut Van sebagai. "Vander suamiku..."
"Iya istriku," balasnya tersenyum.
Merekapun berciuman mesra untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi suami dan istri.
__ADS_1
Hari itu pun menjadi titik awal dimulainya hidup baru Lara bersama Vander. Dimana hubunga mereka bukan lagi sebagai bos dan pengawalnya, melainkan sebagai keluarga yakni suami dan istri.