Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Ayah dan anak


__ADS_3

Di kediamannya, Rey yang terlihat sedang sibuk bermain lego di ruang tamu tiba-tiba saja mendengar suara bel berbunyi. Pria kecil itu pun segera berlari untuk membukakan pintu.


"Mama?"


Senyum Rey pun seketika mengembang saat melihat sosok sang mama yang kini ada dihadapannya dan langsung memeluknya.


"Mama aku kangen sekali sama mama," ungkap Rey yang penuh rasa rindu.


"Mama juga Rindu sekali padamu."


"Mama kok tiba-tiba pulang? Memang sudah selesai ya kerjanya?" Tanya Rey sambil melepaskan pelukannya.


"Karena mamamu rindu padamu," ucap seorang pria yang baru saja muncul dari arah belakang Lara sambil membawa tentengan kotak yang cukup besar.


"Paman Vander kau kesini juga?" Ucap Rey tak menyangka sama sekali.


"Ya, aku kan pernah janji padamu akan membelikan benda ini, oleh karena itu aku datang bersama Lara."


Di kediamannya, Lara yang terlihat sedang di dapur membuat cemilan pun sesekali memandangi protret Rey bersama Vander yang terlihat akrab sekali merakit pesawat aeromodellingΒ di ruang utama. Lara pun tak kuasa tersenyum manis melihat pemandangan saat ini, hatinya terasa luar biasa hangat melihat interaksi sepasanga anak dan ayah itu.


"Rey dan Tuan Vander kalau dilihat-lihat agak mirip ya," celetuk Emika yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Lara.


"Begitukah menurutmu Emika?"


"Ya, mereka sungguhan terlihat seperti sepasang ayah dan anak. Kak, kau sungguh akan beruntung sekali kalau benar -benar bisa mendapatkan hati tuan Vander. Punya suami tampan dan anak yang lucu seperti Tuan Vander dan Rey, adalah impian setiap wanita di dunia ini."


Lara pun hanya tersenyum mendengar ucapan Emika, mengingat Emika saja yang belum tahu kalau sebenarnya yang ia katakan itu memang kenyataan saat ini. Vander dan Rey nyatanya memang suami dan anaknya.


"Kak, jadi bagaimana hubunganmu dan tuan Vander, apa kalian sudah jadian?"


"Menurutmu bagaimana?" Tanya Lara balik.


"Menurutku tuan Vander memang suka padamu."


"Begitu ya? Kenapa dia bisa suka padaku?"


"Karena kau cantik dan punya badan ideal!"


"Kak, kalau kau nanti menikah sama tuan Vander jangan lupa undang aku ya. Sekalian kenalkan aku pada kolega tuan Vander yang kaya raya, barangkali saja aku bisa bernasib sepertimu jadi istri milyarder."


"Ya, doakan saja yang terbaik untuk kami ya," ungkap Lara sambil tersenyum.


Sementara itu, Rey yang kini merakit pesawat aeromodelling bersama Vander tampak begitu senang dan bersemangat. Pria kecil itu sejak tadi tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya, karena bagi Rey ini adalah pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar merasa seperti punya ayah sungguhan. Melihat Vander memakai baju santai dan tampak serius merakit pesawat RC itu membuat Rey merasa sangat kagum dibuatnya.


"Paman Vander apa kau pandai memainkan ini?" Tanya Rey.


Vander tersenyum kecil lalu bekata pada Rey, "Nanti kau akan lihat sendiri."


"Selain ini, paman jago dalam hal apa lagi?"


"Aku tidak tahu, kau maunya aku mahir dalam hal apa?"


"Kalau naik kuda paman bisa?"


"Tidak."


"Main jetskie bisa?"


"Tidak."


"Berkelahi?"


"Tidak juga."


"Lalu paman bisanya apa?"


Vander menatap Rey dan mengusap kepalanya. "Aku memang tidak bisa tapi aku mahir dalam semua hal yang kau sebut itu tadi."


"Woah! Kukira paman sungguhan tidak bisa melakukan semua hal itu." Hampir saja aku pecat dia jadi kandidat papaku kalau tidak bisa lakukan banyak hal.


"Kau tenang saja, aku tidak akan mengecewakanku," pungkas Vander dengan percaya dirinya. "Oh iya, aku boleh tanya padamu Rey?"


"Ya, tanya apa?"


"Apa kau kenal dengan Eiji Hartman?"


"Tentu saja kenal, paman Eiji pamanku yang sangat baik sekali," terang Rey.


"Kau suka padanya?"


"Tentu saja. Paman Eiji itu kan pintar dan sangat baik padaku dan mama," terangnya.


Sontak Vander pun jadi tidak senang mendengarnya.


"Kalau dibanding aku, mana yang lebih kau sukai, aku atau paman Eiji?"


"Em...." Rey tampak bingung untuk menjawabnya.


Kenapa dia lama sekali menjawabnya? Apa karena dia lebih suka si Eiji itu dibanding aku? Tidak, anakku harus lebih suka padaku! "Kau tidak mau jawab, apa kau lebih suka paman Eijimu itu?"


"Tidak bukan begitu, akuβ€” memang suka sekali dengan paman Eiji, tapi... aku juga sangat suka sekali dengan paman Vander. Hanya saja sayangku ke paman Eiji dan dirimu berbeda. Aku suka paman Eiji karena dia baik dan suka membantuku."


"Kalau aku?"


"Aku suka sekali paman Vander dan aku merasa kau spesial. Ditambah kalau besar nanti aku ingin jadi seperti paman Vander, tampan, kaya raya, pandai banyak hal, pemberani dan yang pasti bisa melindungi mamaku."


Vander menyeringai kecil. "Jadi intinya kau lebih suka aku kan?"


"Iya bisa dibilang begitu."


"Bagus! Pilihan yang tepat." Anakku tentu harus mengidolakan diriku.


"Paman Vander, apa kau suka pada mamaku?"


"Ya, aku suka dia sangat suka."


"Kalau begitu jangan buat dia menangis ya, bahagiakan mamaku terus."


Vander tersenyum seolah bangga pada Rey, "Kau anak hebat, tenang saja aku pasti akan selalu membahagiakan Lara."


Tak lama Lara pun datang membawakan cemilan dan jus untuk suami dan anaknya.

__ADS_1


"Apa kalian sudah selesai merakitnya?" Ucap Lara sambil meletakan nampan berisi kue kering dan jus.


"Iya mama, Oh iya mama tahu tidak, paman Vander itu sangat hebat, dia itu sangat pandai dalam banyak hal."


"Oh ya?" Lara melirik Vander seraya tak percaya.


"Mama harus percaya."


"Iya-iya, aku percaya kok!" ucap Lara yang memang tadi hanya bercanda, Lara pun tahu kalau suaminya itu sangat hebat.


"Paman Vander itu hebat, tidak seperti mama yang banyak tidak tahunya terutama dalam memaikan permainan." Rey cerita kalau sang mama seringkali membuatnya kesal karena suka tidak bisa diajak bermain. Bahkan saking payahnya dalam bermain, mobil remot kontrol Rey sampai dibuat rusak karena mamanya yang tak pandai memainkan remot kontrol hingga menabrak batu.


Alhasil Lara pun jadi malu dibuatnya didepan Vander. Rey kau ini tega sekali menceritakan kebodohanku di depan pria ini!


Melihat Lara malu-malu Vander pun jadi tertawa lalu meledeknya. "Ternyata Nona Lara yang selalu terlihat cantik dan elegan di kantor, sungguh payah dalam hal permainan ya?"


"Sudahlah, makan cemilannya. Setelah itu kita pergi ke taman!" Ucap Lara jengkel namun dalam hatinya merasa senang karena momen ini.


...🍁🍁🍁...


Di tempat lain, Eiji yang sedang sibuk menggambar sketsa pembangunan resort yang akan mulai dibangun Laizen grup bulan depan, tiba-tiba teringat ucapan Rey yang mengatakan kalau Lara sedang ada pekerjaan dengan bosnya tersebut. Jujur, dalam diri Eiji ada percikan rasa cemburu dihatinya. Mengingat saat di Laizen tower waktu itu dirinya bisa merasakan kalau hubungan antara Lara dan bosnya itu seperti ada yang spesial. Seperti bukan hubungan antara bos dan sekretaris pada umumnya. Eiji merasa kalau Vander punya perasaan yang lebih pada Lara, sementara Lara ia belum tahu persis, mengingat sejak dirinya kembali dari Kanada, ia belum sempat sama sekali bertemu dan ngobrol dengan Lara.


"Arggh!" Eiji seketika jadi tidak bisa berkonsentrasi menggambar gara-gara memikirkan Lara dan Vander. "Mungkin aku hanya terlalu jauh berpikir. Lara, apa mungkin dia juga tertarik pada bosnya?"


...🍁🍁🍁...


Setibanya di taman, Vander langsung mengajari sang putra menerbangkan pesawat RC aeromodellingnya.


Sementara Lara yang duduk di bangku taman, terlihat begitu bahagia memperhatikan suami dan anaknya yang kini tengah bermain bersama. Dari tempatnya duduk Lara tak hentinya mengulum senyum bahagia, melihat Vander menggedong Rey dan mengajaknya bergurau sambil bermain. Sungguh ini adalah hari yang Lara impikan sejak lama, melihat anaknya tersenyum seceria ini bersama sang papa. Meski Rey belum tahu kalau Vander adalah papanya, tapi Lara yakin ikatan ayah dan anak itu pasti ada diantara mereka.


"Kedepannya aku berharap, kebahagiaan ini akan selamanya. Bahkan bertambah, aku sangat mencintai Vander dan Rey, aku ingin mereka bisa selalu bersamaku selamanya," ungkap Lara tersenyum sambil menatap ke arah suami dan anaknya yang tengah bermain.


"Paman Vander, lihat aku sudah mulai bisa menerbangkannya," ujar Rey melihat dirinya sudah mulai bisa untuk menerbangkan pesawat RC aeromodellingnya.


"Kalau kau rajin latihan, aku yakin pasti kau akan semakin mahir," ucap Vander yang tiba-tiba langsung menggendong putranya itu kepundaknya.


"Ah aku seperti terbang!" Seru Rey senang sekali, mengingat ini pertama kalinya ia digendong seperti ini. Sejak dulu Rey memang suka agak iri kalau melihat ada anak seusianya yang digendong dipundak oleh ayah mereka. Dan kini akhirnya Rey bisa merasakannya, ia akhirnya digendong dipundak pria yang memang ia inginkan untuk jadi papanya.


"Paman, aku suka digendong begini! Kau tidak keberatankan?"


"Tentu saja, tubuhmu sangat ringan."


"Apa paman bisa sekalian menggedong mamaku juga?"


"Tentu!"


"Mama coba kesini!" Seru Rey tiba-tiba memanggil sang mama datang ke arahnya.


Lara yang tidak tahu apa mau anaknya itupun seketika menurut dan langsung datang menghampirinya.


"Ada apa? Apa kau haus?" Tanya Lara.


Rey menggeleng lalu berkata, "Aku mau mama digendong paman Vander."


"Eh? A- apa maksudmu?"


"Sudah menurut saja, paman cepat gendong mamaku!" Pinta Reynder.


"Aduh apa-apaan ini, Vander cepat turunkan aku!" Teriak Lara minta diturunkan.


"Ini yang minta putramu, jadi aku tidak mau turunkan kalau bukan dia yang minta."


Astaga! Anak dan ayah ini memang suka sekali membuatku kesal sih! "Rey cepat turunkan mama!"


"Tidak mau!" Rey menolak dan malah tiba-tiba saja memanggil seorang fotografer keliling dan memintanya untuk mengambil gambar mereka.


"Wah kalian keluarga yang sangat serasi, tuan kau kuat sekali menggendong anak dan istrimu secara bersamaan," puji sang fotografer.


"Paman fotografer cepat ambil foto kami, yang bagus ya!" Titah Rey.


"Ah tentu, kalian sekeluarga wajahnya sudah bagus jadi pose apapun pasti bagus," ujar fotografer tersebut yang kemudian langsung mengambil beberapa foto Rey bersama papa dan mamanya.


"Sudah cepat turunkan aku!" Pinta Lara malu. Akhirnya Vander pun menurunkan istri dan anaknya tersebut.


"Aku mau foto lagi, kali ini aku mau mama dan paman Vander berfoto sambil menciumku!" Pinta Rey.


Vander dan Lara pun tanpa banyak kata langsung menuruti keinginan putra semata wayang mereka.


"Wah kalian memang keluarga visual," ucap fotografer itu kagum melihat hasil jepretannya yang sangat bagus.


"Sekarang, mama dan paman Vander foto berdua ya," pungkas Rey sambil mengedipkan matanya.


"Em tapi Reyβ€”um"


Vander langsung menarik tubuh Lara merapat ke tubuhnya. "Kau jangan menolak permintaan anak kita," bisik Vander.


Akhirnya Vander dan Lara pun berfoto berdua untuk pertama kalinya. Keduanya pun berfoto dengan berbagai gaya.


"Perfect! Good! Luar biasa!" Ujar fotografer tersebut saat mengambil foto Lara dan Vander. "Tuan dan Nyonya, kalian benar-benar objek yang sangat bagus untuk difoto!"


"Tuan tolong sekali lagi foto kami ya, tapi kali ini candid!" Pinta Lara.


"Oke!" Sahut fotografer itu.


"Vander bisa agak menunduk," pinta Lara.


"Eh kenapa?" Seketika Lara langsung mencium pipi Vander dan "Cekrek!"


"Oh this is so good!" Seru sang fotografer puas sekali dengan hasil foto tangkapannya.


Setelah dicetak, fotografer itu pun memberikan hasil foto-fotonya kepada Vander. "Tuan, ini foto anda bersama anak istri anda."


"Thank you, ini untukmu!" Vander memberikan selembar uang seribu dollar untuk fotografer tersebut.


"Ah Tuan ini banyak sekali, biayanya hanya seratus dollar," ucap sang fotografer.


"Tidak apa-apa, karena kau sudah membuat istri dan anaku senang maka kau berhak dapat itu," ucap Vander yang kemudian pergi menyusul Lara dan Rey yang sudah duluan masuk ke mobil.


"Terima kasih tuan, anda sangat baik!" Ucap si fotografer dengan wajah senang.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


Vander pun masuk ke mobil, disana sudah ada Lara dan Rey yang sudah menunggunya.


"Mama, habis ini apa mama akan pergi lagi dengan paman Vander dan memulangkanku ke apartemen?" Ucap Rey yang merasa sedih karena tidak mau berpisah dengan Lara.


"Umβ€” itu..." Lara seolah bingung menjawabnya. Dirinya ingin juga bersama sang putra namun, kondisi Vander saat ini yang mentalnya kadang masih belum stabil membuatnya bingung mendekatkannya. Lara takut suaminya tiba-tiba kumat dan membahayakan anaknya.


"Kau tidak usah pulang, malam ini kau menginap di tempatku saja," ucap Vander.


"Benarkah itu?"


"Ya!"


"Vander apa kau yakin?"


Vander hanya mengedipkan sebelah matanya ke sang istri, lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya menuju ke Caelestis Garden Apartment.


...🍁🍁🍁...


Setibanya di Caelestis Garden, Rey yang masih di dalam mobil langsung tampak takjub melihat hunian Vander tersebut. Bagi Rey apartemen ini seratus kali lebih bagus jika dibandingan dengan apartemen yang ditinggalinya saat ini.


Setelah meminta orang untuk memarkirkan mobilnya ke basement, Vander langsung mengajak Lara dan Rey masuk ke dalam. Dibanding Lara yang sudah biasa keluar masuk apartemen Vander, Rey tampaknya lebih terheran-heran melihat kemewahan apartemen Vander. Pasalnya sejak masih bayi Rey dan Lara hanya tinggal dihunian yang biasa saja. Meski Lara dulunya putri konglomerat sayangnya asetnya sudah hangus bersama kediamannya yang mewah dulu, alhasil Rey tidak pernah merasakan tinggal di hunian mewah.


"Paman Vander apa kau sungguh tinggal di apartemen ini?" Tanya Rey.


"Yap! Tempat ini milikku!" Terang pria itu yang langsung berhenti di depan lift.


"Woah keren!" Ujar Rey takjub.


"Mau kugendong?" Tanya Vander menawari Rey.


"Mau!" Sambut Rey yang tidak mungkin menolak digendong oleh pria kesayangannya itu.


Setelah masuk lift, Vander pun langsung menekan tombol lantai 77 lantai dimana unit apartemen tempat tinggalnya berada.


...🍁🍁🍁...


Sesampainya di lantai 77 Vander langsung menuju ke tempat huniannya.


"Paman Vander ini tinggi sekali, diatas apa masih ada lantai lagi?"


"Ya,"


"Wah, diatas milik siapa?"


"Semua bangunan ini milikku, kenapa? Kau mau tinggal disini?" Ucap Vander.


"Bolehkah?"


"Tentu saja," jawab Vander dengan santainya.


"Mama, bagaimana kalau kita pindah kesini saja?"


"Umβ€” itu..."


"Selamat malam Tuan Vander, Nona Lara dan tuan kecil," sambut Robert yang berdiri bersebelahan dengan seorang pelayan wanita berusia sekitar empat puluhan tahun.


"Malam... Paman dan bibi..."


"Tuan kecil namaku Robert dan iniβ€”""


"Perkenalkan namaku Frida, mulai hari ini aku akan jadi juru masak disini," ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan sopan


"Salam kenal paman Vander dan bibi Frida," balas Reynder.


Lara yang sama sekali tidak tahu pun bertanya kepada Vander, kenapa tiba-tiba ia menyewa juru masak?


"Aku lihat kau sibuk bekerja dan merawat Rey, aku tidak mau kau kelelahan, ditambah aku agak kasihan pada Robert, dia sudah banyak kuberi tugas kantor, tidak mungkin kan urusan memasak harus dia juga," jawab Vander.


"Okey..." Jawab Lara.


Setelah itu Vander pun langsung menyuruh Frida menyiapkan makan malam, karena ia mau makan malam bersama Lara dan Rey.


"Baik Tuan, Nyonya apa anda ada permintaan khusus untuk menu makan malamnya?"


"Emβ€” tolong buatkan aku salad buah ya, aku mau makan itu malam ini."


"Baik Nyonya, aku permisi."


Setelah itu Lara pun meminta Rey untuk segera mandi dan bersih-bersih baru makan malam.


"Tapi mama, aku kan tidak bawa pakaian ganti."


"Tenang saja tuan kecil, aku sudah siapkan pakaian untuk anda. Tuan Vander sudah memintaku membeli pakaian untuk anda tadi."


Wah ini keren sekali! Sepertinya Paman Vander memang benar-benar kaya raya, hem kalau dibanding papanya Leo paman Vander sepertinya jauh lebih kaya.


"Rey, bagaimana kalau kita mandi bersama?" Ajak Vander tiba-tiba.


Tentu saja Rey dengan senang hati langsung menyambut tawaran itu.


"Mama aku mau mandi sama paman Vander, mama mau ikut tidak?"


"Eh ituβ€”"


"Kita berdua saja, jangan ajak mamamu nanti kalau ajak dia kau yang aku usir dari kamar mandi," ucap Vander. "Sudah ayo kita segera ke kamar mandi, aku akan ajarkan kau mandi ala pria," ucap Vander sambil menggendong putranya dipundak.


"Mandi yang bersih ya kalian berdua, jangan bertengkar dan banyak bercanda," ucap Lara menasehati kedua jagoannya.


Dari tempatnya berdiri Lara memandangi suami dan putranya yang makin akrab, ia pun tak kuasa menitikan air mata saking bahagianya.


"Nona, anda menangis?" Tanya Robert yang melihatnya.


"Ah iya aku hanya terharu saja, sekian lama akhirnya aku melihat anak dan suamiku bersatu. Aku senang sekali Robert," ucap Lara penuh haru.


"Aku juga senang melihatnya, karena semenjak ada Nona Lara, tuanku jadi tampak lebih bahagia dan sering tersenyum. Apalagi ditambah ada tuan kecil, aku merasa tuan jadi seperti lebih lembut."


Ya, aku hanya berharap kebahagiaan ini akan terus berlanjut dan tidak ada yang merusaknya.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™

__ADS_1


__ADS_2