
Di sebuah pulau kecil, berdiri sebuah mansion yang tampak seperti istana yang besar dan megah dengan arsitektur klasik. Di pulau itu juga terdapat beberapa lapangan olahraga yang luas yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas sport. Selain itu juga terdapat sungai buatan yang cukup luas yang mana juga tersedia fasilitas water sport disana. Di bagian atas mansion itu juga terdapat helipad dan beberapa helikopter yang terparkir disana.
Tak lama kemudian sebuah helikopter pun mendarat diatas helipad. Beberapa orang pria dan wanita berpakaian serba hitam, berdiri berjajar saling berhadapan membentuk ruas jalan. Mereka semua disana untuk menyambut seseorang yang akan segera keluar dari dalam helikopter tersebut.
"Selamat datang kembali Tuan," ucap orang-orang itu seraya menyambut pria yang mengenakan mantel hitam dan kacamata hitam, saat dirinya melangkah keluar dari dalam heli.
Sementara itu, di dalam mansion besar tersebut, orang-orang tampak sudah berkumpul di ruangan utama. Ruang utama atau yang lebih dikenal dengan sebutan Libre room itu interiornya bergaya vintage bernuansa serba gelap. Sekilas ruangan itu memang tampak seperti ruangan utama pada umumnya.Tapi jika dilihat lagi ruangan itu nampak tidak biasa. Ruangan itu besar dan luas, disana juga tidak terlalu banyak barang. Hanya ada kursi-kursi bergaya romawi yang berdiri saling sejajar dimana di tengah ujungnya berdiri satu kursi singgasana, yang dibuat seolah khusus untuk satu orang terpilih. Kursi yang hanya akan di duduki oleh dia yang memang diakui pantas untuk menjadi penguasa di pulau itu.
Hari ini Libre room tampak dipenuhi orang-orang, baik pria maupun wanita, tua sampai muda, dan dari berbagai macam profesi, mereka semua berkumpul disana seraya menunggu orang yang akan menduduki singgasana itu.
Tak lama suara langkah sepatu terdengar, suara langkah itu berasal pria yang baru saja tiba dengan helikopter tadi. Semua yang ada diruangan pun bertindak seraya tunduk melihat pria itu datang.
Pria itu mengenakan mantel hitam panjang dan sarung tangan hitam berbahan kulit. Dengan tinggi tubuhnya yang lebih dari 6 kaki, pria itu berjalan dengan penuh karismatik menuju ke singgasana yang berada di ujung ruangan dan mendudukinya.
Sebagian wajah pria itu tertutup topeng berwarna hitam, sehingga hanya matanya yang tajam saja yang tampak mengintimidasi.
Pria itu kemudian berkata, "Jadi, masih berapa orang lagi yang harus dipenggal kepalanya hidup-hidup?" Suaranya yang berat, terdengar begitu santai mengatakan hal mengerikan itu. Seolah baginya memenggal kepala orang hidup-hidup adalah hal yang biasa ia lakukan.
"Tuan, hari ini ada dua orang yang dikitahui telah berhianat secara sembunyi-sembunyi," ucap seorang ajudan berpakaian serba hitam pada sang tuan.
"Begitu ya? Seret kedua hama itu kehadapanku!" Titahnya.
Pria itu mengulum senyum bak serigala licik yang sudah tidak sabar untuk mengoyak mangsanya.
"Baik Tuan!"
Kedua orang penghianat itu pun diseret dengan kasar kehadapan pria bengis itu.
"Tuan...! Kumohon ampuni kami, kami rela jika harus mencium kaki anda, kami bahkan siap melakukan apapun untuk anda."
"Kami mohon tuan...! Ampuni kami."
Kedua laki-laki penghianat itu bersimpuh dan memohon pengampunan. Sayangnya sang Tuan yang mereka harapakan belas kasihnya itu tidak sebaik itu. Pria itu justru bangkit dari singgasananya dan berjalan menghampiri kedua orang yang kini bersimpuh dengan tangan diikat. Ia memandang rendah kedua orang itu lalu berteriak, "Mana pedangku?" Sang Tuan meminta sebilah pedang.
Wajah kedua pria penghianat itu sektika pucat pasi. Tubuh kedua pria itu luar biasa gemetar ketakutan, saat melihat langsung pria itu mencabut sebilah pedang katana panjang dari dalam sarungnya.
"Di dunia ini, aku paling benci pada penghianat yang tidak berguna seperti kalian."
"A- ampuni kami tuan ampun..." Kedua pria itu dengan gemetar merengek meminta pengampunan, bahkan salah sampai mengompol dibuatnya saking ketakuannya.
Tapi sayang sekali, "Aku bukan pria mura hati, jadi lebih baik kalian simpan saja permohonan ampun kalian di neraka!"
SSRKK!
Cairan berwarna merah pekat itu seketika bersimbur, tepat setelah pedang itu diayukan oleh sang Tuan ke arah dua orang penghianat itu tepat mengenai leher mereka. Sebagian orang yang ada disana pun hanya bisa terdiam menahan rasa ngeri, dan sebagian yang lainnya seolah mati rasa dan tak peduli melihat mayat kedua orang tadi dipenggal hidup-hidup.
__ADS_1
"Bersihkan pedangku dari darah kotor manusia rendahan itu, setelah itu bawakan aku pakaian ganti ke ruanganku!" Titah sang tuan lalu pergi meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi bau darah.
Pria itu berada di ruangannya yang besar bergaya semi klasik, dengan kasar ia melepaskan pakaiannya yang sudah terkotori oleh bercak darah. Kini punggung lebar nan atletisnya itu terpampang jelas tanpa busana.
Tak lama seorang pria beranam robert datang menemuinya dan membawakannya pakaian ganti. "Tuanku, aku datang membawakanmu pakaian ganti!"
"Terima kasih Robert."
"Tuan Vander, beberapa bulan ini sepertinya anda telah berhasil menjadikan Crux sebagai pulau pembantaian massal."
Pria itu lalu melepaskan topengnya dan menyeringai keji. "Ini baru awal Robert, masih banyak yang harus disterilakan dari tempat ini."
"Tuan, tentang rencana akuisisi besar-besaran yang akan anda lakukan setelah ini?"
"Atur saja seperti yang aku minta."
"Baik Tuan Vander."
Diriku yang lama sudah mati, sekarang saatnya aku aku memulai semuanya dari awal lagi.
**
Di rumah sakit kini Lara sudah berada di ruangan persalinan, sementara Eiji dan Joy tampak cemas menunggunya di luar.
"Nyonya ayo tarik nafas anda dan keluarkan....! Nyonya rileks dorong lagi, perlahan...!"
"Ngggh...! Huh... Hah huh..." Dengan tubuh bercucuran keringat, Lara kini tengah berjuang melahirkan baynyinya
"Ayo dorong lagi Nyonya, anda pasti bisa sedikit lagi nyonya..."
Ya Tuhan aku ingin mati rasanya, tapi aku harus kuat, aku harus melahirkan bayiku dengan selamat.
"Ayo Nyonya sedikit lagi terus dorong, atur nafas tarik keluarkan terus ya..."
Ibu tolong bantu putri ini melahirkan, aku ingin melahirkan anakku dan merawatnya. Dengan sekuat tenaga yang tersisa serta segenap nyawa yang dimilikinya Lara terus mendorong bayinya keluar.
"Iya bagus sedikit lagi dan—"
"Aowak oakk..." Terdengar tangisan bayi laki-laki. Akhirnya Lara berhasil melahirkan putranya dengan selamat dan sehat.
"Nyonya selamat, bayi anda sehat sekali," ucap dokter yang kemudian meminta perawat untuk membersihkan bayi Lara.
Di tempat tidur dengan tubuh lemah dan tak berdaya, Lara menitikan air mata bahagianya untuk pertama kali setelah ia resmi jadi seorang ibu. Ia bersyukur dan merasa lega, akhirnya ia bisa melahirkan putranya dengan selamat.
Setelah Lara dan bayinya sama-sama sudah bersih, dokter pun menyerahkan bayi laki-laki itu kedekapan Lara. Lagi-lagi Lara menitikan air matanya, dan berkata "Sayang ini mama, selamat datang ke dunia malaikatku," ucap Lara terharu pada bayinya.
__ADS_1
"Nyonya, anak anda tampan sekali pasti ayahnya juga tampan. Nyonya apa sudah tau mau meberi nama bayi anda siapa?" Pungkas dokter.
Lara tersenyum menatap bayinya dengan perasaan bahagia bercampur haru. "Ya, aku sudah punya nama untuknya. Aku akan menamainya...."
*
Sementara itu, di dalam sebuah pesawat pribadi. Vander yang tampak gagah mengenakan setelah jas berwarna gelap, terlihat sepi berdiam diri dan memandangi jendela pesawat. Sorot matanya tampak begitu dingin dan tajam, emosinya pun seolah terbaca oleh siapapun. Entah apa yang sebenarnya tengah dipikirkan oleh pria itu saat ini.
Tak lama kemudian seorang pria berusia empat puluh tahunan datang menghampiri Vander dan berkata, "Tuan Vander maaf mengganggu anda, hamba hanya ingin melapor."
"Katakan!"
"Kita akan segera tiba di kota ZR."
"Oke!"
"Permisi tuan," ucap pelayan itu lalu pergi.
Vander menenggak habis anggur yang ada disebelahnya. Ia langsung memakai mantel hitamnya dan turun dari pesawat.
Dengan dikawal oleh para bodyguardnya Vander berjalan lewat jalur vip menuju ke kediamannya.
"Robert, jadi apa laporan hari ini?"
"Hari ini ada beberapa perusahaan menengah yang mengalami collapse tuan, dan sebagian dari mereka tidak bisa melunasi hutangnya pada bank."
"Akuisisi semua perusahaan itu dan bersihkan sampah yang tidak berguna!"
"Siap Tuan."
"Lalu apa lagi?"
"Soal perizinan pembangunan cluster yang baru Tuan?"
"Lakukan saja sesuai perintahku, jika ada pihak yang berani menghalangi beri tekanan. Jika mereka tetap keras kepala, habisi saja!"
"Mengeti Tuan."
Tidak ada satupun yang boleh menghalangiku untuk mencapai tujuanku. Karena Vander dia sudah kembali dengan dirinya yang baru.
The New Era is coming!
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜
__ADS_1