Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kehamilan kedua.


__ADS_3

Akhirnya hari ulang tahun Vander pun tiba. Lara yang sudah menyuruh semua kerabat dekatnya untuk datang ke restoran private pun sudah berkumpul disana. Dari mulai Miranda, Gavin, Tori, Naomi sudah berada disana bersama Lara dan juga Reynder untuk menyambut Vander yang berulang tahun hari ini.


Suasana classy terlihat jelas dari outfit yang mereka pakai. Lara yang mengenakan gaun model sabrina panjang berwarna navy dengan belahan di sebelah kaki kirinya, terlihat cantik dengan leher yang dilingkari kalung berlian pemberian suaminya.


"Ma... papa datangnya kapan?" Tanya Rey yang sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi papanya saat diberi kejutan.


"Sabar ya sayang, paman Robert sedang dalam perjalanan membawa papa kesini," jawab Lara. Aku juga sudah tidak sabar memberitahu dia dan semuanya tentang kehamilanku.


Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba.


Vander yang masih memakai pakaian kantor pun, langsung disambut saat memasuki restoran dengan berbagai ucapan selamat ulang tahun dari keluarga dan kerabat dekatnya.


"Kakak selamat ulang tahun, selamat bertambah tua....!" Seru Gavin.


"Tuan Vander selamat ulang tahun," imbuh Tori.


Satu persatu memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Vander, termasuk istri dan anaknya.


"Papa selamat ulang tahun," ucap Rey.


"Terima kasih jagoan!"


Tidak mau kalah Lara yang saat itu tampak sangat cantik pun berjalan mendekati sang suami dan mencium pipinya. "Selamat ulang tahun suamiku."


Vander tersenyum haru. Sejujurnya ia baru kali ini merasakan ulang tahunnya dirayakan bersama orang-orang yang tulus menyayanginya. Perasaan yang hangat sekaligus mengharukan seolah menyelimuti hatinya saat ini.


"Papa ayo potong kuenya sekarang!" Seru Reynder lalu menarik tangan papanya.


"Eh tunggu dulu," ucap Lara.


"Ada apa lagi Mama?"


Sebelum potong kue, Lara meminta suaminya untuk memghanti jas kerjanya dengan jas yang sudah ia siapkan. Tanpa pikir panjang, Vander pun langsung mengganti jasnya dibantu sang istri tercinta.


"Nah sekarang kita serasi," tandas Lara yang puas melihat penampilan Vander setelah berganti jas.


Dan tanpa berlama-lama lagi, acara potong kue pun dilakukan. Semuanya bersorak bernyanyi agar Vander segera memotong kue ulang tahunnya. Dan kue ulang tahun pun akhirnya terpotong, dan orang pertama yang mendapatkan potongan kue pertama itu tentu saja tidak lain adalah sang istri tercinta. Vander lalu menyuapi istrinya itu suapan pertamanya.


Semua yang ada disana bersorak gembira melihat betapa romantisnya Vander menyuapi sang istri.


Setelah Lara, lanjut Vander memberikan kue untuk putranya.


"Ini pertama kalinya aku menyuapimu," tandas Vander mengarahkan garpu berisi cake ke mulut Rey.


"Selamat ulang tahun papa, semoga kau sehat selalu dan semakin sayang padaku dan mama," ucap Rey lalu memakan kue itu.


Setelah acara potong kue, semuanya yang ada disana pun secara bergantian memberikan kado untuk Vander. Pria itu benar-benar tampak sumringah menerima kado-kado yang mungkin harganya tak seberapa itu.


Bagi Vander ia tidak peduli dengan harganya, toh dia mampu membeli apapun yang ia inginkan. Tapi kado-kado dari orang-orang yang tulus menyayanginya adalah kado yang tak ternilai harganya.


"Papa ayo segera buka kado-kadonya!" Seru Reynder yang juga penasaran dengan reaksi Vander saat melihat isi kado-kado yang diterimanya itu.


"Iya benar, buka kadonya... Kapan lagi melihat CEO Laizen Grup membuka kado," ujar Gavin. Dan semuanya pun setuju agar Vander segera membuka kado-kado itu, termasuk Lara yang nampak tidak sabar hadiah darinya dibuka oleh sang suami.


Karena semua sudah setuju, Vander pun memulai membuka kado pertama yakni dari Miranda dan Gavin. Kotak kado dari pasangan itu berwarna gold dan tidak terlalu besar. Vander pun lantas segera membukanya, dan siapa sangka kado dari Gavin dan Miranda ternyata adalah obat herbal yang mana fungsinya untuk menaikan stamina saat bercinta. Sontak Robert langsung menutup telinga Rey agar tak mendengar isi ucapan di kartu yang ditulis Gavin dengan beberapa kalimat-kalimat mesum. Reaksi Vander saat menerima hadiah itu pun senang dan mengacungkan ibu jari keatas pada Gavin dan Mira. "Kerja bagus, aku suka kado kalian berdua."


"Sama-sama kak," balas Gavin yang sudah tau kakak angkatnya itu pasti senang menerima hadiah semacam itu


Sebaliknya Lara malah malu sekali mendengarnya dan menggurutu. Miranda Gavin pasangan ini benar-benar memalukan. Tidak usah pakai obat dia sudah selalu full power kok!


Setelah itu kado dari Naomi dan Tori, kedua orang itu entah kenapa akhir-akhir ini jadi sering berduaan. "Kalian berdua pacaran ya?" Tanya Vander asal menebak.


"Eh- t- tidak kok tuan kami belum," ucap Naomi malu-malu.


"Oh belum, semoga cepat pacaran ya. Kasihan Tori umur segitu belum pernah pacaran sekalipun."


"Tuan anda meledekku."


"Itu fakta terima saja. Sudah jangan cerewet, mari kita lihat hadiah dari calon pasangan baru." Vander lalu membuka isi kadonnya, dan ternya isinya adalah sepasang piyama pria dan wanita berwarna maroon.

__ADS_1


"Ah piyamanya lucu sekali," ungkap Lara yang tampak langsung suka.


"Itu untuk tuan dan nyonya supaya kalian lebih kompak saat tidur," ungkap Tori.


Vander tersenyum. "Ya boleh juga, hadiah seperti ini mencerminkan kalian yang sepertinya sedang kasmaran," goda Vander terhadapa Tori dan Naomi.


Selanjutnya kado dari Robert, disana Robert tak memberikan apa-apa di kotak itu hanya berisikan selembar surat bertuliskan ucapan dan doa untuk tuannya agar selalu sehat dan hidup bahagia.


"Tuan, maaf aku tidak terlalu paham tentang memberi hadiah. Tapi yang jelas aku mendoakanmu dan akan selalu setia pada anda," ungkap Robert dengan raut wajah datarnya.


"Ya aku paham, terima kasih Robert."


Selanjutnya kado dari Reynder. Pria kecil itu tampak tidak melihat reaksi sang papa melihat kado pemberiannya. Kado dari Rey berbentuk kotak kecil berwarna biru yang mana saat Vander membukanya berisi bolpoin merek terkenal yang limited edition.


Vander tentu senang sekali, namun dirinya agak heran kenapa Rey memberikannya kado berupa bolpoin yang jelas dirinya punya banyak.


"Aku beri papa bolpoin itu supaya saat papa sedang sibuk dengan kertas-kertas yang harus papa tanda tangani, papa akan tetap ingat padaku saat melihat bolpoin itu."


"Oh jadi begitu?"


"Dan Vander, bolpoin itu Rey beli sendiri dengan uang jajanya yang ia kumpulkan beberapa hari ini," ungkap Lara.


Sebagai ayah, Vander pun senang sekaligus bangga pada putranya itu. "Kau hebat, terima kasih hadiahnya," balas Vander sambil mengusap kepala Rey dengan bangga.


Dan tiba akhirnya untuk membuka kado terakhir, yakni kado dari sang istri tercinta. Vander lebih dulu menatap istrinya seraya bertanya-tanya apakah isinya. Perlahan pria itu pun membuka kotak berwarna hitam itu dan tada...! Ternyata kotak itu berisi syal rajutan berwana coklat pastel dengan inisial nama Vander terukir disana.


"Ini kan.." Vander tidak menyangka ternyata selama dua hari ini, Lara suka tidur larut demi menyelesaikan syal untuknya.


Lara mengangguk dan tersenyum. "Iya itu syal yang aku rajut sendiri untukmu. Jadi kau harus sering memakainya saat musim dingin ya oke?"


Vander yang tak punya kata-kata lagi untuk menunjukan betapa bahagia dirinya saat ini pun langsung menarik Lara dan memeluknya sambil berterima kasih. "Lara terima kasih atas semuanya. Kau, Rey dan semuanya, hari ini aku bahagia sekali. Aku janji akan pakai syal ini sesering mungkin, tidak aku akan jadikan syal ini sebagai syal favoritku seumur hidup."


"Sama-sama sayang..."


Melihat orang tuanya berpelukan, Reynder pun ikut memeluk mereka. Dan kebahagiaan keluarga kecil itu pun turut dirasakan yang lainnya. Semuanya tampak bahagia menyaksikan keluarga bahagia itu berkumpul bersama merayakan hari spesial.


Sabar ya sayang, sebentar lagi papa dan kakakmu akan tahu kehadiranmu. Lara mengusap perutnya.


Dan akhirnya acara makan-makan pun selesai, semuanya sudah merasa kenyang dan puas menyantap hidangan mewah hari ini. Namun tiba-tiba saja, Lara berdiri dari kursinya dan meminta semuanya diam, karena ia ingin mengatakan sesuatu.


"Kau mau mengatakan apa?" Tanya Vander benar-benar tidak tahu apa yang ingin dikatakan istrinya itu sebenarnya.


Mama mau bilang apa ya? Mencurigakan, ucap Rey dalam hati.


"Sebelumnya maaf karena tiba-tiba meminta kalian diam. Tapi sebelum hari ulang tahun Vander selesai beberapa menit lagi, aku ingin kalian semua tahu kalau aku punya satu kado lagi untuk suamiku."


Vander menyipitkan matanya. Sebenarnya kado apa yang ingin ia berikan?


Lara seketika mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah surat dari sana. Dan tanpa ragu ia langsung memberikan surat itu kepada Vander untuk dibacanya.


"Ini surat apa?"


"Kau baca saja," jawab Lara lalu tersenyum.


Vander pun membuka surat itu lalu membacanya perlahan, dan seketika tatapan pria itu berubah seolah kaget saat membaca surat tersebut. Sontak Vander pun langsung menatap Lara dengan tatapan seolah tak percaya.


Sementara yang lainnya juga dibuat ikut semakin penasaran melihat ekspresi Vander tersebut.


"Laraβ€” ja-jadi kau, kau saat ini sedang hamil?"


Hamil? Semua yang disana ikut kaget.


Lara pun tersenyum manis menanggapinya. "Iya, sekarang aku sedang mengandung anak kedua kita. Adiknya Rey," ucap Lara sambil memegang perutnya.


"Jadi aku akan segera jadi kakak?"


"Iya sayang..."


"Asyik!" Seru Rey girang

__ADS_1


"Wah kak Lara, selamat ya kalian mau punya anak lagi," ucap Gavin ikut senang karena akan tambah ponakan. Semuanya pun memberikan selamat atas kehamilan kedua Lara.


Sementara Vander masih agak tak percaya, mendengarnya. Ini pertama kalinya Vander diberitahu langsung kalau Lara tengah hamil, karena dulu saat hamil Rey, Vander tidak tahu sama sekali.


Dengan perasaan haru Vander memeluk Lara dan mengatakan kalau ia senang sekali mendengarnya. "Terima kasih telah mengandung anakku lagi." Pria itu lalu mengusap perut Lara yang masih rata. Vander tidak menyangka di rahim sang istri kini terdapat calon anak keduanya. Dan dikehamilan Lara kali ini Vander ingin menebus semuanya. Ia ingin terus mendampingi Lara sampai melahirkan, menjadi suami siaga yang sangat menjaga istri dan calon anaknya.


Rey juga ikut mengusap perut sang mama dan bertanya, "Ma apa benar di perut mama sekarang ada calon adikku?"


"Iya Rey, dia masih sangat kecil jadi belum berbentuk. Tapi kau senang kan akan jadi kakak?"


"Iya Mama, aku senang sekali karena akan segera jadi kakak. Terima kasih mama sudah mau memberikan aku adik," ucap Rey memeluk perut Lara.


"Dan kau sayang, apa kau senang?"


Vander membelai wajang sang istri menatapnya dalam-dalam. "Tentu saja, aku sangat-sangat bahagia. Ini kado terindah yang pernah aku dapat di hari ulang tahunku. Terima kasih sayang..."


Dan akhirnya, hari ulang tahun Vander ditutup dengan sangat manis oleh berita kehamilan anak keduanya dan Lara.


...🍁🍁🍁...


Seminggu kemudian, Vander dan Lara tampak mengujungin dokter kandungan. Disana pasangan itu bertemu dokter Foden, dokter Obgyn dan kandungan yang sangat direkomendasikan langsung oleh dokter Yose, dokter sekaligus kerabat Lara.


Di ruangan dokter Foden, Lara melakukan beberapa tes dan diperiksa keadaan kandungannya.


"Jadi bagaimana kondisi janin di kandungan istriku dokter?" Tanya Vander yang tampak ingin sekali tahu keadaan janin diperut Lara saat ini.


"Sejauh ini sangat baik, dan tidak ada masalah. Ibunya sepertinya makan dan menjaga pola hidupnya dengan sangat baik."


Vander merasa lega mendengarnya. "Lalu apa ada pantangan atau sejenisnya untuk istriku?"


"Tidak ada, dan tuan Vander kau tidak usah terlalu over nak. Meski masih muda, tapi istrimu sudah pernah hamil sebelumnya, jadi aku yakin dia sudah cukup tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga kandungannya."


"Begitu ya..." Heh sial! Aku seketika jadi merasa paling bodoh disini


"Tapi tetap saja, kau harus selalu memantau keselamatan istrimu anak muda. Tapi kalau dilihat-lihat, meski sudah punya anak kau itu seperti masih kikuk ya tuan Vander dalam menjaga istri yang tengah hamil?"


"Dokter kau ini meski sudah pengalaman, jangan meremehkanku," balas Vander tak terima.


"Tenang saja, aku juga mengalami hal sepertimu kok dua puluh lima yang lalu saat istriku hamil anak pertamaku," pungkas dokter Foden sambil tersenyum ingat masa lalunya.


Semenatara Lara yang disebelah Vamser hanya tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang memang tampak sekali tabu soal kehamilan. Ya ampu suamiku, kau sudah mau punya anak dua masih saja tidak berubah tingkahmu.


"Oh iya dokter ada yang mau aku tanyaka lagi."


"Apa tuan Vander?"


"Kalau istriku hamil, apa boleh kami berhubungan intim? Aku seminggu ini menahan diri tidak bercinta, karena takut terjadi sesuatu. Makanya aku tanyakan padamu saat ini."


Aduh Vander kenapa dia bertanya segamblang itu sih!


"Kau ini lucu tuan, anak sudah mau dua masih tanya hal itu."


"Jadi boleh tidak?"


"Boleh,"


"Yes!"


"Tapi saat masuk trismester dua. Sebulan kedepan belum boleh, jadi tahan saja ya tuan."


"Apa kau gila?" Vander tak percaya mendengarnya. "Bagaimana bisa satu bulan tanpa melakukan kegiatan itu?" Sehari aku bisa beberapa kali dan sebulan harus tahan, sepertinya yang berjuang bukan hanya Lara...


"Sudah kendalikan dirimu, kau main sendiri dulu saja saat ini."


"Baik..." Vander pun akhirnya pasrah demi keselematan istri dan bayinya.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™

__ADS_1


__ADS_2