
Lara dan Miranda baru kembali dari ruang meeting untuk rapat evaluasi kerja. Kedua wanita itu terlihat berjalan menuju ke ruangan Lara.
Setibanya disana, Miranda langsung duduk besandar di sofa empuk di ruangan Lara. "Ah lelahnya setelah berjam-jam di ruang meeting," pungkas Miranda.
"Kau mau minum Miranda?" Tanya Lara menawarkan asistennya itu minuman karena terlihat lelah.
"Tidak usah Nona aku hanya ingin merileksasikan tubuhku sebentar saja kok! Oh iya, aku lihat peta konsep yang Nona presentasikan tadi seperti agak berbeda dari yang kau sering buat sebelum-sebelumnya?"
"Begitukah?" Jawab Lara yang juga sudah duduk di sofa.
"Iya, menurutku terlihat lebih sederhana tapi sangat detail."
Lara pun dibuat senyam-senyum mendengar ucapan Miranda.
"Eh kenapa Nona malah senyum-senyum begitu?" Miranda keheranan.
"Tidak apa-apa, hanya kau tau tidak? Siapa orang yang kau puji peta konsep buatannya sederhana namun mendetail itu?"
"Siapa?" Miranda sampai mengerutkan alisnya karena penasaran.
"Vander!" Jawab Lara.
"Benarkah itu?" Ujar Miranda seperti tidak menyangka.
Lara pun menjelaskan ke Miranda.
#Flashback on
Sekembalinya Lara dari kamar mandi setelah berkaca melihat kissmarknya, Lara melihat Van tengah sibuk mengutak atik laptopnya dengan wajah serius. Lara jadi penasaran sekaligus khawatir dengan yang dilakukan Van terhadap data di laptop miliknya. Lara pun mengendap-endap berjalan menghampiri pengawalnya itu dan mengintip apa yang tengah dikerjakan oleh Van. Dan setelah itu, Lara langsung dibuat terkesima saat tau kalau Vander ternyata sedang merapikan dan memperbaiki peta konsep yang dirinya buat sebelumnya.
"Nona kenapa kau terus saja berada dibelakangku? Nafasmu terasa sampai ke leharku loh..." Ujar Vander sambil terus memperbaiki peta konsep buatannya.
"Eh, um— ja- jadi kau tau ya dari tadi aku mengintip dibelakangmu?" Ucap Lara. Bagaimana dia tau padahal aku tidak mengeluarkan bunyi sama sekali?
"Aku tau sejak awal, tapi semakin lama hembusan nafas Nona semakin terasa di tengkuk leherku, aku jadi tidak bisa fokus."
"Eh maaf ya...," Lara jadi merasa tidak enak. "Oh iya kau yang membenarkan peta konsepku?"
"Oh ini," Van hampir lupa minta maaf karena sudah tanpa izin menyentuh pekerjaan milik Lara. "Nona maafkan diriku karena sudah lancang menyentuh pekerjaanmu, aku hanya berniat merapikannya sedikit saja. Tapi kalau kau tidak suka aku akan kembalikan seperti diawal," jelas Van.
Lara tidak menjawab apa-apa, gadis itu malah fokus mengamati peta konsep yang dibuat oleh pengawalnya itu.
"Nona Lara diam, apa kau marah?"
Lara melihat ke arah Van dan langsung memegang kedua pipinya kemudian mendaratkan kecupan manis di kening Vander. Sontak hal itu membuat Van langsung terkesiap kaget dibuatnya.
"Van kau hebat sekali!" Puji Lara tiba-tiba.
"Ma- maksud Nona?" Van bingung dengan yang Lara lakukan.
__ADS_1
"Iya kau hebat, peta konsep buatanmu ini bagus sekali dan aku sangat suka!" Ungkap Lara.
Van pun langsung tersenyum. "Benarkah itu?"
"Iya, terima kasih Vander..." Ungkap Lara kegirangan dan langsung memeluk kepala Van dengan erat kedalam dekapannya.
#Flashback off
"Jadi pria itu sungguh yang membuatnya?" Tanya Mira memastikannya lagi.
Lara mengangguk. "Dan Mira, aku rasa Vander memang harus ambil kelas khusus pengembangan skill bussiness, aku yakin dia itu punya potensi luar biasa!" Ungkap Lara.
"Tapi... Bagaimana dengamu jika Van ikut kelas bisnis? Siapa yang akan mengawalmu?"
Lara juga memikirkan hal itu, tapi dirinya sungguh tidak mau kalau Van hanya menyia-nyiakan kemampuannya saja. "Soal itu bisa dibicarakan, yang jelas aku ingin dia lebih maju lagi. Aku yakin dia bisa jadi pengusaha dan pemimpin yang sukses suatu saat nanti!" ucap Lara meyakini pertakaannya.
Miranda pada akhirnya hanya bisa mendukung apa yang terbaik pilihan Lara. "Baiklah, jika kau sudah yakin itu yang terbaik, makan aku hanya bisa selalu mendukung Nona," ucap Mira.
"Terima kasih Miranda," jawab Lara tampak senang karena sang asisten mendukungnya.
"Oh iya kalau begitu aku permisi dulu. Lagipula ini sudah mau masuk jam makan siang, ayah dan ibuku sudah menungguku untuk makan siang dirumah. Oh iya, apa Nona mau ikut makan bersama dirumahku?"
"Tidak usah, aku mau makan siang disini saja, kebetulan aku sudah bawa bekal," jawab Lara menolak ajakan Mira.
Mira menyipitkan matanya. Bekal? Tumben sekali Nona bawa bekal?
"Oh ti- tidak apa-apa. Yasudah kalau begitu aku permisi dulu ya Nona...," pungkas Miranda lalu pergi.
"Jangan lupa sampaikan salamku untuk paman Jah dan bibi ya...!" Seru Lara.
Miranda sudah pergi. Lara kemudian segera mengambil ponselnya dan menelepon Vander
Lara : Halo kau dimana, cepat ke ruanganku segera!
Van : Baik.
Lara : Yasudah aku tunggu ya, um— Van
Van : Ya?
Lara : Tidak apa-apa, cepat kesini!
Van : Baik Nona.
Lara mematikan teleponnya lalu menghela nafas. "Tadi itu sebenarnya aku mau bilang 'aku cinta padamu' tapi entah kenapa aku malah tiba-tiba jadi malu sendiri rasanya."
Tak lama, tiba-tiba bel di ruangan Lara berbunyi.
"Cepat sekali Van datangnya? Ini bahkan belum ada tiga puluh detik," Ungkap Lara yang mengira Van yang datang.
__ADS_1
"Masuklah..." Ucap Lara dengan sumringah.
"Hai Lara!"
Wajah sumringah Lara langsung berubah datar saat tau kalau yang masuk bukan Van melainkan Jeden.
"Oh kau, ada apa?" Tanya Lara.
Jeden melihat dimeja Lara ada kotak bekal makan siang, apa dia ingin makan diruangannya? Pikir Jeden.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi makan siang, tapi sepertinya kau sudah bawa bekalmu sendiri," Ucap Jeden melirik ke arah meja yang diatasnya terdapat kotak bekal makan siang Lara.
"Ya begitulah, so...?"
"Mungkin lain kali kita bisa makan bersama berdua lagi seperti jaman dulu?" Ucap Jeden seolah mengingat masa lalu, dimana saat dirinya dan Lara masih sama-sama remaja.
"Hem aku tidak bisa janji, dan kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, kau bisa silakan pergi Jed karena aku mau makan siang," pungkas Lara seraya. mengusir dengan cara halus.
"Baiklah kalau begitu." Jeden pada akhirnya hanya bisa pergi dengan perasaan kecewa karena permintaannya lagi-lagi ditolak oleh Lara.
**
Jeden yang baru saja keluar dari ruangan Lara dengan perasaan kecewa malah masih harus berpapasan dengan Van saat itu. Ugh sungguh sial rasanya hari ini bagi Jeden!
Van yang sebaliknya tengah menuju ruangan Lara pun dengan sengaja tak memperdulikan pria itu. Begitupun Jeden kali ini ia hanya memberikan tatapan sinis kearah Van tanpa berkata apa-apa.
Entah kenapa Jeden yang biasanya langsung emosi melihat Van kali ini mendadak jadi lebih tenang. Jeden terus memperhatikan Vander yang akhirnya masuk ke dalam ruagan Lara.
"Sial! Pria busuk itu semakin dilihat semakin membuatku muak saja!" Tiba-tiba Jeden teringat kotak bekal diruangan Lara tadi. "Kotak bekal makan siang tadi, jangan-jangan Lara dan gelandangan itu..." Jeden meyakini kalau kotak bekal itu memang disiapkan Lara bukan hanya untuk dirinya sendiri, melaikan juga untuk pengawalnya. "Argh! Kalau itu benar, apa Lara sudah gila? Bagaimana mungkin gadis itu memperlakukan pengawal rendahannya sampai seperti itu?"
DRIPP DRIPP!
Ponsel Jeden berdering. Pria itu pun langsung mengangkat panggilan dari Karina tersebut.
Jeden : Halo
Karina : Kita bertemu sekarang, aku punya rencana yang harus kita bicarakan.
Jeden : Rencana apa?
Karina: Nanti kau juga akan tau, yang jelas rencana ini sangat bagus untuk kita menjauhkan Lara dan Vander. Jadi sekarang lebih baik kau datang temui aku di restoran Oliver.
Jenden : Oke jika memang begitu.
Jeden jadi penasaran dengan rencana Karina. Tapi jika itu rencana yang pasti membuat Lara dan Van jauh tentu saja Jeden akan senang. "Sekarang kau boleh besar kepala karena Lara selalu dipihakmu gelandangan busuk, karena itu tidak akan lama!"
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1