Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kepingan Puzzle


__ADS_3

Pagi harinya, saat tengah menikmati sarapan bersama putranya dan Emika, Lara tiba-tiba saja bercerita kalau Eiji sudah pulang dari Kanada. Mendengar hal itu, tentu saja Rey ikut merasa senang dibuatnya.


"Asyik! Paman Eiji sudah pulang kesini!" Seru pria kecil itu. Wajar jika Rey menganggap Eiji sebagai paman kesayangnnya, mengingat sejak masih dikandungan sampai Rey lahir, Eijilah yang selalu ada di dekat Lara. Sementara Lara sendiri juga merasa behutang banyak pada Eiji, jadi wajar saja kalau kedatangan pria itu membuat dirinya dan Rey senang.


"Paman Eiji itu yang pernah kau ceritakan padaku ya Rey?" Pungkas Emika penasaran.


"Ya! Paman Eiji Hartman, dia sangat baik, dia juga pandai menggambar dan masakannya pun enak, pokoknya aku suka paman Eiji," ungkap Rey dengan sumringah.


"Kalau antara paman Eiji dan paman Vander, lebih suka siapa?" Tanya Emika pada Rey.


"Eh, kalau itu..." Rey agak bingung menjawabnya. Sebab, bagi Rey ada perbedaan rasa sukanya terhadap kedua orang itu. Tentu saja aku suka paman Eiji karena dia sangat baik padaku dan Mama, tapi kalau paman Vander... aku tidak tahu kenapa alasannya kenapa aku bisa sangat menyukainya.


Melihat putranya seperti bingung menjawab pertanyaan Emika, Lara pun menyudahinya dan mengalihkan pembicarannya dengan topik lain.


...🍁🍁🍁...


Di kamarnya, Vander yang tengah bersiap pergi ke kantor terlihat sedang memilih dasi. Dan entah kenapa saat tengah memilih, matanya langsung tertuju pada dasi warna navy yang diberikan oleh Lara padanya waktu itu. Pria berkemeja putih itu pun langsung mengambil dasi itu, dan memakainya saat itu juga.


"Tuan Vander aku membawakan anda sarapan sebelum berangkat," ucap Robert yang tiba-tiba datang dengan membawa nampan berisi sepiring crepes bluberry dan orange juice.


"Ah taruh saja," pungkas Vander yang masih sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Melihat tuannya bersiap, mata Robert tertuju pada dasi yang dikenakan oleh tuannya saat itu, Robert sendiri tahu kalau dasi itu pemberian dari Lara. Hal itu semakin membuat Robert berpikir, kalau tuannya sepertinya sungguhan jatuh cinta dengan sekretarisnya tersebut. Padahal tuan masih memiliki istri, dan dia sekarang malah jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri. Aku khawatir jika suatu hari nanti tuan bertemu lagi dengan istrinya pasti akan jadi masalah. Aku harus benar-benar mencari tahu siapa sebenarnya istri tuan Vander. Dan untuk Nona Lara, aku rasa dirinya harus tahu akan hal itu juga. Belum lagi nona Lara punya anak, anaknya pasti memiliki ayah biologis kan?


"Rob, kenapa kau bengong? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa masih mengkhawtirkanku dan Lara?"


"Tuan, anda sudah tahu apa yang ada dipikiranku, tapi aku ingin ingatkan anda kalau, Nona Lara dia punya anak dan pasti anaknya itu hasil hubungannya dengan suami atau kekasihnya. Apakah anda yakin?"


"Soal itu sudah aku pikirkan, aku juga akan cari tahu pria sialan yang sudah berani mencampakan Lara dan anaknya."


Robert kaget, "Jadi anda serius menyukai Nona Lara?"


"Ya!" Jawab Vander yang memang tampak serius sekali. "Aku ingin dia, entah kenapa hanya dia satu-satunya yang bisa membuat rasa gelisahku hilang seketika. Bersamanya aku merasa damai dan lebih bersemangat menjalani hidup. Bagiku, Lara seperti potongan puzzle dalam hidupku yang hilang, yang akhirnya kutemukan dan mengisi kekosongan itu."


Baru kali ini aku mendengar tuan mengatakan kalimat sedalam itu untuk seorang wanita.


...🍁🍁🍁...


Di ruang kerja, Lara terlihat datang menghampiri Vander dan mengatakan kalau, sebentar lagi perwakilan dari Revoir buildings akan datang untuk membahas pembangungan project Laizen grup yang baru. Laizen dalam waktu dekat ini memang sedang dalam tahap melakukan pembangunan resort mewah di kota RK, oleh karena itu Vander bekerja sama dengan Revoir salah satu perusahaan konstruksi terbaik di negeri ini.


"Jadi jam berapa perwakilan dari Revoir datang kesini?" Tanya Vander.


"Kalau tidak salah sore nanti, apa ada hal khusus yang harus aku siapkan untuk pertemuan nanti dengan perwakilan Revoir?"


"Tidak usah, lebih baik sekarang kau kebawah minta pada departemen pemasaran pusat untuk segera membawakan laporan bulanan Laizen grup secara keseluruhan."


"Baik Tuan," Lara yang baru saja ingin melaksanakan apa yang diperintahkan atasannya, tiba-tiba malah dibuat tersenyum karena melihat Vander memakai dasi pemberiannya.


"Kenapa masih disini? Masih belum puas melihatku ya Nona?" Goda Vander.


"Eh- ti-tidak kok, aku permisi!" Ucap Lara gelagapan dan langsung pergi.


Sementara Vander hanya tersenyum kecil melihat sekretarisnya itu salah tingkah.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu, Robert di ruangannya tampak sibuk membaca CV dan portofolio Lara. Disana tertulis info personal Lara Hazel. Jika dilihat memang tidak ada yang aneh dari info yang tertulis disana. Alhasil Robert pun memutuskan menelusuri catatan pendidikan Lara sejak TK hingga jenjang universitas. Di CV-nya Lara menulis kalau ia lulusan ZR University jurusan manajemen ekonomi lima tahun lalu. Robert pun langsung menelusurinya, sayangnya pihak web kampus tidak mengizinkan orang luar mengakses catatan tiap alumni ataupun mahasiswa mereka. Kalau begini caranya, Robert mau tidak mau harus pakai powernya untuk dapat mengaksesnya. Robert pun akhirnya menelepon pihak kampus dan meminta agar pihak kampus mengizinkannya membuka akses web pribadi milik Lara yang tercatat sebagai lulusan ZR University. Setelah Robert bisa mengaksesnya ia pun langsung menelusurinya. Seketika Robert dibuat tercengang setelah membaca riwayat pendidikan dan latar belakang keluarga Lara. Robert baru tahu kalau ternyata Lara adalah putri salah satu pengusaha kaya raya yang kini sudah bangkrut.


"Astaga, wanita ini?"


Karena kaget dan semakin ingin tahu lebih dalam lagi tentang Lara. Robert pun mencari data Lara lewat mesin pencarian. Dan hasilnya. muncul beberapa artikel tentang Lara dulu saat masih menjabat CEO, namun banyak artikel yang sudah tidak bisa diakses lagi, karena sudah diblokir permanen sejak beberapa tahun yang lalu.


"Sebenarnya wanita ini siapa? Tunggu dulu," seketika Robert ingat, waktu itu Lara pernah sempat menanyakan dirinya tentang Vander yang kemungkinan memiliki penyakit ingatan. "Jangan-jangan?" Mata Robert seketika terbelalak, dan jantungnya berdegup keras. "Apa mungkin Nona Lara, dia...?" Robert pun langsung menutup laptopnya.


...🍁🍁🍁...


Di ruangannya Vander yang akan kedatangan tamu dari Revoir pun sudah siap untuk menyambutnya. Diantar oleh resepsionis perwakilan dari Revoir itu pun seketika masuk ke ruangan Vander, disana Vander yang sudah menunggunya pun langsung berdiri menyambut pria perwakilan dari Revoir sekaligus artistek yang akan bertugas menjadi perancang bangunan Resort Laizen yang baru.

__ADS_1


"Selamat datang di kantorku tuanβ€”" Vander meng


"Aku Eiji Hartman," pungkas pria perwakilan dari Revoir buildinng yang tidak lain ternyata adalah Eiji.


"Ah ya tuan Eiji, akuβ€”"


"Tuan Vander Liuzen? Semua orang di dunia bisnis tahu anda tuan, kau pebisnis yang sangat hebat, bahkan beritamu dimuat beberapa kali di media utama di Kanada."


"Terima kasih sanjunganmu tuan Eiji, aku juga terkesan padamu karena setelah aku baca riwayat karirmu, ternyata kau sangat hebat. Kau bahkan jadi arsitek yang merancang salah satu mall terbesar di dubai."


"Terima kasih pujiannya, suatu kehormatan dipuji seorang milyarder termuda di negeri ini."


"Oh iya, sekretarisku sedang membuatkanmu minuman jadi tunggu sebentar ya tuan Eiji," pungkas Vander.


Sambil menunggu minuman datang, Vander dan Eiji pun memulai membahas tentang bagaimana desain resort yang diinginkan oleh Vander. Eiji pun memperlihatkan beberapa gambar desain yang ia sudah buat kepada Vander. "Aku punya beberapa contoh desain. Tuan Vander bisa lihat diantara itu semua kira-kira mana referensimu, atau kalau tuan Vander tetap tidak puas, kau bisa langsung minta padaku untuk membuat yang persis seperti keinginan anda."


Vander pun dibuat terkesan saat mengamati gambar-gambar desain Eiji, desainnya benar-benar bagus dan tidak pasaran, tidak salah aku memilihnya untuk mengerjakan pembangunan projectku kali ini.


Tak lama kemudian datanglah sekretaris Vander dengan membawakan kopi dan teh untuk bosnya dan tamunya.


"Maaf menunggu iniβ€” mi-numan- nya..." Seketika Lara dibuat tercengang kala ia melihat pria yang menjadi tamu Vander tidak lain dan tidak bukan adalah Eiji Hartman. Saking tak percayanya Lara bahkan hampir saja menumpahkan teh saat akan menaruhnya di depan Eiji, Untungnya Eiji langsung sigap menahan tangan Lara.


"Hati-hati," ucap Eiji ramah.


Lara pun tersenyum dibuatnya. "Maaf ya."


Melihat sekretarisnya dan Eiji saling melempar senyum, Vander pun panas dibuatnya. "Ehem! Nona Lara aku minta dirimu untuk menyuguhkan minuman pada tamuku bukan untuk memandanginya!"


"Ah maaf tuan, aku hanya kaget saja tidak kusangka ternyata tamu tuan adalah kak Eiji, eh maksudku tuan Eiji," ungkap Lara.


Kak Eiji? Sok manis sekali panggilannya, aku yang lebih tua tidak pernah dengar dia memanggilku kakak dengan nada semanis itu! Gerutu Vander kesal.


"Jadi kalian berdua saling kenal?"


"Iya tuan, aku dan Lara sejak kecil kami saling kenal. Dulu aku sempat jadi guru privatnya."


"Dan aku tidak menyangka kalau, ternyata sekretaris tuan Vander adalah Lara, anda beruntung sekali tuan Vander punya asisten secantik dan sepintar Lara."


"Kak Eiji..." Lara tersipu malu dibuatnya.


Eh apa-apaan malu-malu begitu! Mereka sedang pamer padaku karena sudah saling kenal? Vander benar-benar dibuat tidak suka dengan situasi saat ini. "Ya ya ya! Bisakah kalian berhenti dulu reuninya, saat ini kita sedang bahas pekerjaan jadi Nona silakan anda duduk didekatku, dan catat apa yang perlu dicatat!"


Melihat Vander tampak serius menatapnya dengan matanya yang tajam, Lara tentu saja tidak berani melawan dan langsung menuruti apa yang dikatakan oleh bosnya itu.


Setelah melakukan diskusi tentang project resort selama hampir dua jam lamanya, akhirnya pertemuan itu pun selesai. Eiji pun bersiap untuk pamit kembali ke Revoir.


"Kalau begitu biar aku antar tuan Eijiβ€”"


"Ah Nona Lara tidak usah, biar aku saja yang antar tuan Eiji sampai lobi. Kebetulan masih ada yang aku mau bicarakan dengannya," tandas Vander yang sengaja melalukan itu karena tidak mau sekretarisnya itu berduaan dengan Eiji.


...🍁🍁🍁...


Akhirnya Vander pun mengantar Eiji bahkan sampai ke lobi utama lantai dasar.


"Baik, terima kasih karena tuan Vander sudah mau mengantarku sampai sini, tapi untuk sekelas CEO sebesar anda, bukankah tidak perlu repot-repot melakukan ini semua padaku?"


Vander menyeringai kecil. "Tidak masalah, lagipula tuan Eiji adalah artisek yang sangat hebat jadi aku akan dengan senang hati mengantar anda."


"Begitu ya? Ya... aku harap memang itu alasannya," sahut Eiji dengan nada terdengar menyindir.


"Kalau begitu silakan tuan Eiji pergi dan hati-hati dijalan," pungkas Vander diikuti senyum palsunya.


"Baiklah aku permisi."


Vander pun seketika berubah ekspresi menjadi dingin.

__ADS_1


Di ruangannya, Lara yang baru saja selesai membereskan bekas minuman Vander dan Eiji seketika malah dikagetkan dengan kedatangan Vander yang baru kembali setelah mengantar Eiji.


"Tuan Vander andaβ€”" Lara tidak meneruskan kata-katanya sesaat setelah melihat bosnya itu tampak seperti menatapnya dengan tatapan tidak senang.


Dia kenapa? Vander seketika langsung berjalan mendekati Lara dan menatapnya dengan tatapan yang begitu mengintimidasi.


"Tu- tuan ada apa?" Lara terlihat agak takut dan terus melangkah mundur melihat pria yang kini dihadapannya seolah ingin menyerangnnya. "Uh?" Pada akhirnya Lara yang malah terpojok dan tidak bisa lagi mundur karena terhalang tembok diruangannya. Pria itu langsung menapakan kedua telapak tangannya ke tembok, seraya memagari bagian kanan kiri Lara agar tidak bisa kemana-mana.


"Ke- kenapa?" Lara bergidik takut meligat Vander yang tampak menyeramkan. Sorot matanya seolah mengisyaratkan kalau dirinya ingin memangsa Lara hidup-hidup.


"Kau kenal pada Eiji?" ucap Vander tiba-tiba.


"Ya, a- aku kenal dengannya."


"Kenapa kau tampak akrab didepanku dengannya?"


"Memangnya kenapa? Dia kanβ€”umh." Vander tiba-tiba membungkam Lara dengan bibirnya.


Namun Lara segera menarik dirinya dan marah. "Kau kenapa sih!?"


"Aku marah! Aku benci melihatmu akrab dengan pria bernama Eiji itu paham!" Tegas Vander.


Lara menghela nafas menenangkan diri, "Dengar, aku dan kak Eiji kamiβ€”"


"Stop! Berhenti memanggilnya dengan sebutan sok manis itu aku benci dengarnya!"


Lara tersenyum kecil, ia paham suaminya kini sedang cemburu. "Tuan Vander, apa kau cemburu?"


"Iya, aku cemburu," ucap pria itu agak tersipu malu.


Lara tertawa kecil. "Tuanku ternyata posesif sekali ya?" Lara tiba-tiba melingkarkan keduan tangannya dileher Vander dan mentap pria itu. "Tapi bukankah ini lucu, kau posesif padaku sementara aku bukan siapa-siapamu. Aku ini istri orang lho tuan, bagaimana bisa seorang Tuan Vander Liuzen yang mengagumkan posesif pada istri orang?"


"Ka- kau..."


"Stttt" Lara meletakan jemarinya dibibir Vander. "Apa kau ingin buat skandal dengaku? Kau mau aku berselingkuh denganmu dibelakang suamiku? Kau menginginkanku tuan?" Jemari Lara menyentuh dada bidangnya yang tertutup kemeja. "Kalau kau sungguh menginginkanku, kenapa kau tidak berusaha lebih kuat lagi untuk mengingatku?" Bisik Lara ditelinga Vander.


Vander tercengang. "Mengingat apa maksudmu?!" ucapnya tidak mengerti maksud perkataan Lara.


"Aku mau kau ingat semuanya tentangku, tentang kita," ucap Lara dengan nada lirih.


Keduanya saling menatap. Lara pun tertawa pilu, "Memang belum ingat ternyata, sudahlah tuan, aku mau kembali kerja."


"Tunggu!" Vander menahan Lara dengan memegang kedua lengannya yang kurus. "Katakan, sebenarnya apa maksudmu?! Mengingat, apa yang harus kuingat, apa kau tau tentangku, apa kita sudah saling mengenal? apa sebenarnya maksudmu? Katakan!"


Percuma, kau bahkan sedikit pun tidak ingat, jika aku katakan pun kau belum tentu percaya kan?


"Tuan, lenganku sakit... Bisakah kau lepaskan aku?" Pinta Lara terdengar sedih.


Vander pun melepaskan wanita itu pada akhirnya dengan tanpa penjelasan.


Bukan aku tidak mau memberitahumu, tapi melihatmu sedikitpun tidak ingat padaku membuat hatiku sakit, seolah aku hanya berusaha sendirian mengejarmu. Apakah kau sungguh sudah menghapusku dari hidupmu, menghapus kenangan kita?


...🍁🍁🍁...


Di kamarnya, Vander yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya terlihat serius menatapi layar laptopnya. Mata Vander yang abu-abu keemasan seolah tak lepas bergerak memandangi layar tersebut. Bahkan ketika pria itu mengangkat telepon matanya masih tak lepas dari layar laptop.


"Halo, sekarang juga kau kirimkan data yang aku minta!"


....


Termyata Vander tengah mencari info pribadi Lara. Pria itu nyatanya sejak tadi menelusuri semua situs web dan akun pribadi tentang wanita itu. Ia bahkan rela membobol masuk ke dalam salah satu halaman web personal Lara yang sudah lama deactive. Dengan dibantu para IT profesional di Crux Vander akhirnya mendapatkan semua informasi mendetail riwayat hidup Lara selengkap mungkin. Setelah semua data ia dapat, pria itu pun mulai membaca dan mempelajarinya tanpa terlewat sedikitpun. Hingga seketika air matanya menetes tanpa berkedip. Vander pun seolah mematung tak bergerak, bibirnya pun kelu, yang terlihat hanya air matanya yang mengalir terus menerus.


Akankah kepingan puzzle itu kembali ketempat dimana ia seharusnya berada?


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™...


__ADS_2