Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pergi ke klub malam


__ADS_3

Di depan ruangan Lara, Vander mondar-mandir menunggu bosnya itu keluar dari ruangannya. Karena sejak jam makan siang usai Lara tak juga kunjung keluar dari ruang kerjanya. Vander tentu jadi khawatir dibuatnya. Ia ingin memastikan kalau Lara baik-baik saja tapi sekretaris Lara mengatakan kalau Nona Lara sedang tidak mau diganggu siapapun. Kalau sudah begini aku harus apa? Pria itu hampir frustasi dibuatnya oleh Lara. Akhirnya Van memutuskan untuk menelepon Lara.


"Ayo angkat teleponku!" Ujar Vander tidak sabar. "Ck sial! Kenapa malah dia tolak panggilanku?" Van lama-lama jadi emosi sendiri, rasanya ingin sekali ia mendobrak pintu ruangan tersebut dan menemui Lara.


"Haiz dasar wanita! Kenapa mereka semua suka sekali membuat bingung kaum pria dengan tingkahnya!" Keluh Vander tak habis pikir.


"Seandainya saja para pria itu sedikit mau peka," sahut seseorang dari belakang. Van pun menoleh, dan ternyata orang yang menyahutinya barusan adalah Miranda.


"Jujur aku tidak mengerti dengan jalan pikiran bos kita itu," tukas Van mengeluh pada Miranda.


"Huft! Memang berapa sih usiamu?" Tanya Mira.


"Tahun ini dua puluh sembilan, kenapa kau tanya begitu?"


"Tidak, aku hanya heran saja usiamu sudah sematang itu, tapi kau masih saja tidak paham dengan tindakan wanita. Kau itu memang tidak pernah pacaran ya?"


Van tergelak. "Sudahlah kalau kau cuma mau berkhotbah sambil mengejek pergi sana!"


"Hei dengar ya tuan Van, aku ini kenal Lara sudah lama sekali bahkan sejak kami kecil, jadi aku paham banyak soal Lara. Biar kuberi tahu satu hal," Miranda membisikan sesuatu ke telinga Van. "Nona Lara itu seumur hidupnya belum pernah merasakan yang namanya pacaran jadi maklum saja kalau dia sedikit bodoh soal pria."


Van tersenyum miring. "Kenapa kau memberitahuku hal itu?"


"Sekedar info saja. Karena aku cuma berharap, pacar pertama sekaligus terakhirnya Nona nanti adalah pria yang akan menjadi suaminya kelak. Karena menurutku dia bunga yang spesial jadi harus dimiliki oleh pria yang spesial juga," terang  Mira.


"Jadi menurut Nona Mira aku ini pria spesial ya?"


Mira menepuk jidat. "Astaga, aku baru tau kau itu narsis!"

__ADS_1


"Oh iya kau tadi mengejek aku tidak pernah pacaran, bukannya justru kau yang tidak pernah punya pacar?" Kelakar Van.


"Sial! Sudahlah aku tidak mau terlalu ikut campur urusan diantara kau dan Nona Lara, kepala pusing melihat ketidak jelasan hubungan kalian berdua. Sudah ya semoga berhasil!" Pungkas Mira kemudian pergi.


**


Sementara itu di dalam ruangannya Lara malah terlihat bertopang dagu sambil melamun. Ia berpikir sepertinya ia memang harus membuang perasaan sukanya pada Vander. Karena kalau tidak, bisa-bisa semua pekerjaannya sebagai pimpinan perusahaan bisa terganggu hanya karena permasalahan pribadi, dan itu sungguh tidak profesional sama sekali. "Huft!" Lara menghela nafas.


"Lagipula kenapa sih aku harus jatuh cinta dengan pengawalku sendiri? Ya memang dia tampan, tapi kenapa harus dia? Aneh sekali!" Keluh Lara.


Tapi saat Lara pikir ulang, jika ia benar melupakan perasaanya terhadap Van, bukankah itu malah akan membuat kesempatan Karina dan Van  jadi semakin dekat, dan Lara tidak rela jika itu sampai terjadi. "Tidak-tidak, membayangkannya saja aku sudah tidak rela! Setidaknya kalau Van dapat wanita lain wanita itu harus yang selevel dengaku!" Bagi Lara Karina bukan saingannya tapi bagaimanapun ia tau, wanita licik itu bisa saja melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia mau. Terlebih obsesi Karina dari dulu adalah mengalahkan Lara dalam hal apapun. "Ya ampun! Kenapa jatuh cinta itu merepotkan sekali sih?" Gerutu Lara.


**


Karena Lara tak kunjung keluar ruangan Van yang sudah penat menunggu akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar di atas rooftop Miracle, tempat dimana Van biasa menghabiskan rokok dikala penat. Ia memikirkan semua yang diucapkan Mira tadi soal Lara. Vander sejujurnya mulai menyadari kalau Lara memiliki perasaan lebih untuknya. Begitu pun Vander, ia sendiri tidak mungkin bisa menolak pesona Lara yang sangat kuat, bahkan pesonanya seringkali membuat Van hampir gila karena harus menahan diri setiap kali berada di dekat wanita itu. "Tapi untuk perasaan yang disebut cinta apa mungkin?" Ujar Vander menatap langit seraya bertanya. Bagi Vander Lara bukan sekedar wanita biasa yang sudah sering ia temui dimasa lalu.


**


Lara tiba-tiba mendapati pesan dari grup teman seangkatannya saat kuliah. Angkatan Lara saat kuliah akan mengadakan reuni dadakan di Hollyfree salah satu klub malam terkenal di kota ZR. "Aku jarang sekali datang ke klub malam, terakhir kali mungkin saat usiaku sembilan belas tahun. Itupun aku kesana sekedar merayakan usia legalku. Sepertinya tidak ada salahnya kalau aku menghadiri acara reuni itu." Kebetulan saat ini suasana hati Lara sendang suntuk dan galau. Lara pun akhirnya memutuskan untuk ikut acara reuni tersebut setelah pulang kantor.


"Mungkin have fun di klub bersama teman-teman almamaterku, bisa membuatku sedikit lega dan lupa akan kejadian hari ini," pikir Lara.


**


Akhirnya jam kerja Lara usai, setelah ber make-up sedikit dan ganti baju. Lara yang sebelumnya memakai pakaian kerja kini berganti mengenakan dress. Lara tampak seksi dan classy mengenakan dress bodycon berwarna navy diatas lutut dipadu heels 10 sentimeter, membuat bentuk tubuh Lara yang seperti jam pasir terlihat sempurna.


Jam menunjukan pukul 07.30 malam. Setelah mengecek layar ponselnya untuk memastikan jam berapa sekrang, Lara pun bergegas meninggalkan ruangannya untuk bersiap pergi menghadiri reuni teman-teman satu jurusannya.

__ADS_1


Di depan ruangan Lara, Van yang sudah kembali menunggu sejak tadi, seketika merasa lega akhirnya melihat pintu ruangan bosnya itu terbuka.


"Nona akhirnya kau keluar juga," ungkap Vander yang langsung dibuat tercengang saat melihat Lara keluar dengan memakai dress. Van pun seketika dibuat menelan ludah melihat tampilan Lara saat ini. Tentu saja, pria normal gila mana yang tidak tertarik dengan Lara?


Oh **** dia sangat cantik dan seksi! Batin dan pikiran Vander tidak bisa menolak pesona Lara saat ini.


Sementara itu Lara justru berusaha sebisa mungkin untuk menghindari debat dengan Van. Ia bahkan sengaja tidak membahas soal kejadian tadi di lobby dan malah langsung menyuruh Van segera mengantarnya ke Hollyfree.


Tunggu Hollyfree? Van tau betul itu nama salab satu klub malam yang sering ia datangi kalau ingin minum.


"Nona tunggu dulu!" Seru Van menghentikan Lara yang sudah berjalan duluan.


"Ada apa lagi?" tukas Lara tanpa menoleh ke arah Vander.


"Kau tau itu tempat apa?"


"Aku sudah menghabiskan hampir dua puluh tahun hidupku di kota ini, jadi aku sudah pasti tau soal tempat-tempat yang ada di kota ini!"


"Jadi Nona mau kesana?" Vander agak cemas, pasalnya sejauh ini ia belum pernah melihat Lara minum apalagi pergi ke klub malam seperti ini.


"Tidak usah merasa heran begitu. Kau harus ingat, bagaimana pun aku ini seorang wanita metropolitan yang sudah berusia legal. Pergi ke klub malam atau minum-minum di bar bukan hal tabu di kota ini!" Terang Lara agak ketus.


Benar juga, bagaimanapun Nona Lara adalah wanita yang sudah dewasa. Jadi bukan hal aneh jika ia pergi ke tempat hiburan malam, terlebih lagi ia tumbuh dan besar di lingkungan kota modern jadi pergi ke klub adalah hal biasa.


Bersambung...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜

__ADS_1


__ADS_2