Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Berada dalam pelukannya


__ADS_3

Merasa khawatir Jeden pun segera menelepon Karina untuk memastikannya.


Karina : Halo ada apa?


Jeden : Jawab jujur, kau kan orang dibalik terbakarnya gudang Miracle!


Karina : Gudang Miracle terbakar? Apa maksud ucapanmu?!


Jeden : Jangan pura-pura bodoh, aku tau itu ulahmu kan!


Karina : Kau sudah gila, aku bahkan tidak tau apa-apa soal kebakaran itu.


Jeden : Sudah mengaku saja!


Karina : Mengaku apa, dasar sinting!


Jeden : Aku kenal kau, kau itu wanita yang licik bagaimana mungkin aku akan percaya padamu semudah itu.


Karina : Kalau tidak percaya terserah saja dasar gila!


(Karina langsung mematikan teleponnya)


"Karina! Karina halo! Argh sial malah dimatikan!" Ujar Jeden terlihat kesal.


Mendengar respon Karina barusan Jeden jadi goyah dengan prasangkanya. "Apa mungkin memang benar bukan Karina pelakunya? Tapi kalau bukan Karina lalu siapa?" Jeden malah jadi gamang sendiri menebak siapa pelaku pembakaran itu.


**


Karina emosi karena Jeden telah seenaknya menuduh dirinya. "Kurang ajar! Beraninya pria itu menuduhku seperti itu. Lagipula kebakaran apa, aku saja belum tau soal kebarakan yang dia maksud."


Penasaran dengan kebakaran yang dimaksud oleh Jeden, Karina langsung membuka situs berita online di ponselnya. Dan ternyata benar, di salah satu kolom artikel memberitakan tentang kebakaran yang terjadi di gudang perusahaan Miracle.

__ADS_1


"Jadi kebakaran di Miracle benar adanya?" Ucap Karina tak menyangka. Tapi meski begitu ia masih tak terima dengan tuduhan Jeden padanya, mengingat dirinya jelas-jelas tidak tau apa-apa. Karina yang masih penasaran dengan penyebab kebakaran tersebut pun membaca isi beritanya. Disana tertulis menurut penyelidikan polisi, kebakaran yang terjadi di Miracle disinyalir karena sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh seorang oknum yang sampai saat ini belum diketahui siapa pelakunya.


"Kira-kira siapa orang yang telah melakukannya?" Ungkap Karina yang jadi ikut penasaran.


**


Di apartemennya, Lara yang baru saja selesai bersih-bersih tampak duduk sendirian di sofa ruang utama dan terlihat masih muram karena kejadian hari ini.


Vander yang tidak tega melihat Nonanya itu bersedih pun langsung datang dan menghampirinya, dengan membawakan secangkir teh herbal kesukaan Lara.


Pria itu langsung duduk disebelah Lara yang terlihat mengenakan piyama sambil memegangi bantal.


"Nona Lara kau minumlah dulu teh ini," bujuk Vander.


Lara menghela nafasnya kemudian mengambil secangkir teh yang dibawakan Van untuknya itu dan meminumnya. Setelah minum teh herbal itu perasaan Lara jadi sedikit tenang, meski pikirannya tetap saja masih dipenuhi dengan hal-hal yang membuatnya gelisah.


"Apa nona sudah lebih baik?" Tanya Vander memastikan.


"Sedikit," jawab Lara singkat.


Van memperhatikan Lara lamat-lamat. Dirinya khawatir jika benar Eva punya urusan dengan Lara, maka hal itu bisa akan membahayakan diri bosnya. Vander tidak ingin kalau sampai Lara medapati masalah yang berhubungan dengan Eva yang notabennya masih anggota Crux. Hal itu akan sangat berbahaya bagi Lara. Oleh karena itu Vander pun bertekad untuk terus menjaga dan melindungi Lara bagaimana pun caranya.


"Vander apa menurutmu aku sudah pantas jadi pimpinan Miracle?" Tanya Lara tiba-tiba.


"Eh, kenapa Nona tanya begitu?"


"Aku berpikir, setelah kejadian ini aku jadi semakin merasa kalau aku memang belum pantas menjabat sebagai CEO di Miracle. Aku hm—"


Van meletakan jemarinnya di bibir Lara yang berwarna merah muda. "Nona tolong berhenti mengatakan hal-hal bodoh macam itu. Kejadian hari ini bukan salahmu karena ini semua sudah diluar kendalimu. Lagipula tidak ada yang pantas menjadi pimpinan di Miracle selain garis keturunan keluarga Hazel."


Lara senang mendengar ucapan itu dari mulut Van tapi... "Tapi aku melihat sebagian karyawan di Miracle memang menganggap aku belum pantas, dan bahkan aku tau kalau beberapa karyawan malah terang-terangan mengatakan tidak suka dengan kehadiranku sebagai CEO."

__ADS_1


Van langsung menantap Lara dengan serius dan berkata, "Nona kau tidak perlu memikirkan mereka yang tidak tau diri itu. Bagaimana pun Nona Lara tetaplah pemimpinnya, dan mereka? Mereka yang menjelekanmu hanya akan tetap menjadi bawahanmu yang suka tidak suka tetap harus siap bekerja untukmu."


"Tapi—"


"Tidak ada tapi, karena pada dasarnya Nona juga hanya manusia biasa, jadi tidak ada kewajiban untukmu memuaskan semua bawahanmu. Yang paling penting adalah Nona sudah berusaha yang terbaik untuk perusahaan dan karyawan, sisanya biarkan waktu yang bicara. Kalaupun mereka tidak suka padaku kan masih ada aku, Miranda dan karyawan yang tulus bekerja untukmu."


Apa yang dikatakan Vander benar. Diluar gaji dan tunjangan Lara tidak harus memikirkan hal-hal macam perasaan pribadi karyawannya terhadap dirinya.


Lara yang merasa terharu mendengar ucapan Van seketika reflek dan memeluk sang pengawal. "Terima kasih sudah mengatakan hal itu padaku, sekali lagi terima kasih," ungkap Lara yang kini sudah merasa lebih baik.


Van ingin balik memeluk Lara tapi masih ragu. Hingga akhirnya Lara yang malah meminta, "Van tolong peluk aku ke dalam dekapanmu."


Tanpa ragu Vander pun langsung memeluk gadis itu kedalam dekapannya. Lara begitu nyaman berada dalam pelukan Van yang hangat dan erat. Kepala Lara yang berada bersandar di dada Van yang bidang, ditambah aroma anggur dan citrus membuat Lara tidak ingin melepaskan pelukannya. "Van maukah kau memelukku hingga aku tertidur?" Ucap Lara.


Tanpa rasa ragu Vander pun mengiyakan permintaan Lara tersebut. Di atas sofa yang nyaman Lara merasa tenang berada di dalam pelukan seorang pria yang dicintainya.


Berada di dalam pelukannya, tinggal bersamanya. Kali ini aku tidak peduli seperti apa orang lain berpikiran tentang hubunganku dengan Van. Saat ini aku hanya ingin pria ini bersamaku, menjagaku, dan menenangkanku. Meskipun dia belum tau isi hatiku, tapi entah kenapa aku yakin dia bisa merasakan perasaanku ini untuknya.


Vander Liuzen, mungkinkah kita bisa bersama dan saling mencintai suatu hari nanti? Kalaupun tidak, bisakah aku egois memintamu agar hanya menjadikanku satu-satunya wanita yang kau puja?


Selang beberapa saat Lara akhirnya tertidur di dalam pelukan pengawalnya. Van langsung tersenyum kecil memperhatikan Lara yang tertidur tenang di bahunnya. Ia menyinkirakn surai-surai rambut dari wajah Lara yang sangat cantik bahkan tanpa riasan apapun, bibirnya yang merona, wajahnya yang kecil.


Ah sial! Bahkan dengan hanya melihatnya saja batin Vander langsung bergejolak. "Sayangnya kau terlalu berharga dan indah untuk manusia yang penuh dosa dan nestapa sepertiku," lirih Van sambil mengusap lembut kulit Lara yang putih dan halus.


"Tidurlah dengan nyenyak, biar aku yang akan selalu jadi perisai dan senjata untuk menjagamu Nonaku," ucap Vander kemudian mengecup kening Lara dengan lembut. Seketika dewa batin Van malah bergolak kuat hingga membuatnya tidak kuasa menahan dan langsung mengecup bibir Lara dengan singkat.


"Hari ini saja, maafkan pengawalmu karena telah berani menciumu tanpa izin," lirih pria itu.


Aku ingin kau lebih lama tertidur. Agar aku bisa memandangimu sepanjang waktu tanpa khawatir kau akan melihat tatapan liarku yang penuh nafsu.


Tidak ingin lepas kendali hingga berbuat lebih jauh lagi, Vander pun segera menggendong Lara dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


Bersambung...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜


__ADS_2