
Jeden terlihat memarkirkan mobilnya di area parkir kafe Oliver. Setelah mobilnya terparkir, pria itu buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam kafe.
Setibanya di dalam, Jeden langsung mengamati ke setiap meja yang ada.
"Itu dia!" Pungkas Jeden yang langsung berjalan menghampiri sosok Karina yang tengah duduk menikmati kopi di pagi hari.
"Apa kau sudah lama disini?" Ucap Jeden sambil menarik kursi lalu duduk.
"Tidak juga."
Dari observasi Jeden, Karina terlihat cukup tenang mengingat insiden di pestanya kemarin, saat ini cukup ramai diperbincangkan di media sosial.
"Pesan saja dulu makanan atau minuman, baru kita bicara. Karena kali ini aku punya rencana yang benar-benar serius untuk dibicarakan," pungkas gadis itu.
Rencana serius? Tapi lebih baik ikuti dulu arusnya karena itu lebih aman bagi Jeden saat ini.
"Oke... Aku akan pesan kopi terlebih dahulu."
Jeden kemudian memanggil pelayan dan memesan sacangkir kopi latte dan croissant. Sambil menunggu pesanannya datang, tiba-tiba saja Karina mengatakan dirinya mendapat info dari orang suruhannya, kalau kemarin siang dirinya melihat Lara dan Vander keluar dari hotel rosevelt berdua.
"Apa kau yakin?" Ungkap Jeden seolah tak yakin dengan ucapan Karina.
Karina tersenyum miring. "Kau lihat ini!" Wanita itu langsung menunjukan selembar foto, dimana Vander dan Lara tampak tengah keluar dari hotel bersama.
Melihat foto tersebut Jeden langsung memicingkan matanya seolah tak terima.
"Sial!" Maki Jeden sambil menggebrak meja, hingga pelayan yang ingin meletakan pesanan untuk Jeden pun dibuat kaget dan gemetar tangannya.
"Ma- maaf Tuan, i- ini pesanan anda. Silakan dinikmati, saya permisi," kata pelayan tersebut lalu buru-buru pergi.
"Hei tenangkan dirimu, kau menakuti pelayan tadi," ucap Karina.
"Bagaimana aku bisa tenang! Lara, dia sudah berani berbohong padaku. Kemarin siang aku sempat meneleponnya dan kau tau apa yang dia katakan, dia bilang dia ada di kediamannya sejak dua hari lalu. Tak kusangka, dia malah bermalam bersama gembel sialan itu!" Jeden terlihat sangat murka mengetahui Lara telah membohonginya.
"Gadis itu memang munafik! Tampangnya saja yang seperti gadis baik-baik tapi nyatanya, seperti rubah betina yang licik!"
"Aku harus memberinya pelajaran!" Jeden mengepalkan tangannya seolah menekankan kalau ia tidak main-main dengan ucapannya.
"Kau yakin hanya mau memberinya pelajaran?"
Jeden memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Maksudku... Bagaimana kalau kita beri mereka pelajaran yang sebenarnya, pelajaran yang akan membuat Lara maupun Vander tau dimana posisi mereka seharusnya, ya kau tau kan?" Karina menyunggingkan senyum liciknya seraya memberi kode.
"Ya, sepertinya aku bisa membaca otak licikmu Karina Foster," ungkap Jeden.
Apa sebenarnya 'pelajaran' yang dimakasud mereka? Ketika serigala berbulu domba dan ular licik saling beraliansi tentunya bukan hal yang baik.
**
Di kantin Miracle, seperti biasa terlihat cukup ramai dipenuhi oleh para pegawai yang tengah menikmati sarapan atau sekedar menikmati secangkir teh atau kopi disana. Tak terkecuali Vander, pria itu memang cukup sering datang ke kantin untuk sekedar menikmati secangkir kopi ataupun duduk sambil merokok di smoking area yang memang letaknya tak jauh dari kantin.
Van yang kini duduk dikantin membaca buku sambil ditemani secangkir kopi, tak sengaja malah harus mendengar beberapa pegawai wanita yang duduk disebelah mejanya sedang heboh bergosip.
Van yang merasa terganggu dengan celotehan mereka pun berniat pergi, namun saat ia mendengar para pegawai wanita itu membicarakan soal kejadian di pesta Karina kemarin membuatnya tidak jadi beranjak pergi dan memilih mengawasi.
Para pegawai wanita itu ada empat orang yang mana keempatnya sama-sama suka bergosip.
__ADS_1
"Eh kalian sudah baca belum thread yang membahas insiden di pesta ulangtahun Karina kemarin?"
"Sudah dong, ih seram sekali ya masa sampai ada yang mati mengenaskan katanya."
"Oh iya kalau tidak salah, Nona Lara juga datang kan?"
"Iya Nona Lara datang bersama tuan Jeden, dari gosip media yang beredar, katanya Nona Lara dan tuan Jeden Lee itu punya hubungan khusus."
"Ah masa? Bukannya dari desas desus yang beredar di kantor, Nona Lara itu benci sama Tuan Jeden?"
"Ahh... Itu semua kan rumor, malah yang aku dengar Nona Lara itu tidak suka sama laki-laki!"
"Heh! Sembarangan! Masa secantik dia tidak suka laki-laki? Aku sih yakin dia punya pria misterius yang tidak dipublish."
"Ya ampun! Berita kalian semua basi, yang sedang trending sekarang itu justru pria bertopeng di pestanya Nona Karina. Lihat saja artikelnya sampai banyak sekali!"
"Oh iya benar, pria bertopeng misterius yang datang tiba-tiba itu kan' katanya dia pacarnya Karina Foster."
"Masa sih? Kalau Karina benar pacarnya, kenapa yang videonya trending malah video Nona Lara dan pria bertopeng itu?"
"Benar juga ya, wah aku jadi penasaran dengan pria bertopeng itu, siapa ya dia?"
"Sepertinya dia sangat tampan dan hebat, sampai-sampai diperebutkan oleh dua wanita cantik dan kaya raya."
"Tapi kan yang pertama mengenalkan Nona Karina, pastinya dia pacarnya Karina bukan Lara. Lagipula dibanding Lara Hazel, Karina Foster jauh lebih baik, dia tak cuma cantik tapi juga sangat pandai memimpin perusahaan."
"Hei hei, jadi maksudmu Lara Hazel tidak pintar begitu?"
"Memang nyatanya begitu, dia memang sangat cantik dari segala sisi bahkan banyak pria mengagumi fisiknya tapi dari sisi prestasi memangnya dia bisa apa? Perusahaan ini saja sejak dipimpin olehnya jadi makin kacau dan banyak masalah!"
"Hei jaga ucapanmu, kalau ada yang mengadukan ucapanmu ke Nona Lara kau bisa dipecat nanti."
Beraninya para wanita jelek itu menjelekkan Nona Lara di dekatku!
Van menyunggingkan senyum serigalanya. Sepertinya memberi pelajaran untuk wanita yang tidak tau diri seperti mereka seru juga?
Tanpa pikir panjang, Vander langsung beranjak dari kursinya dan duduk menghampiri meja para wanita itu.
"Hai para Nona, apa aku boleh bergabung?" Ucap Vander dengan ramah.
Sontak para wanita itu langsung salah tingkah.
"Oh kau- kau kan' Tuan Van pengawalnya Nona Lara?"
"Iya benar," balas Vander masih dengan seramah mungkin.
"Tuan Van anda semakin tampan kalau dari dekat."
"Tuan apa kau sudah punya pacar?"
"Usiamu berapa?"
"Tuan kami masih bisa kan jadi pacarmu, jadi simpananmu juga tidak apa-apa."
Para wanita ini sungguhan tidak tau malu semua! Ejek Vander.
"Maaf tapi aku sudah punya pacar," ucap Vander.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu jadi selingkuhanmu juga tak. masalah!"
"Aku tidak suka selingkuh, apalagi selingkuh dengan perempuan jelek seperti kalian!" Ujar Vander dengan entengnya.
"Apa kau bilang! Jelek?!"
"Iya kalian jelek, sudah jelek, suka bergosip, ditambah hobi menjelekan bos kalian sendiri, apa itu tidak jelek namanya? Atau kalian lebih suka aku panggil buruk rupa?"
"Sial! Jaga ucapanmu ya!"
Para pegawai itu pun mengamuk pada Van. Sebaliknya Van malah senang melihat mereka jadi kepanasan begitu.
"Aku hanya berkata jujur, kalian kan memang jelek!"
"Beraninya kau menghina kami!" Wanita itu mau menyiramkan jus ke Vander sayangnya reflek Van jauh lebih sigap. Alhasil malah wanita itu yang berbalik disiram oleh Vander. Melihat kejadian itu orang-orang di kantin pun menertawainya.
Van lalu beranjak bangun dan sebelum pergi ia pun memberi peringatan ke semuanya. "Siapapun yang aku dengar berani menjelekkan Nona Lara, maka nasibnya akan seperti wanita jelek ini, kalian ingat itu!"
Bagi Vander yang melihat keadaan saat ini sungguh ironis. Dibalik perjuangan Lara yang tengah berusaha mati-matian ingin mempertahankan perusahan dan pegawainya, kenyatannya malah sebagian pegawai yang ia pertahankan itu malah mencoba menjatuhkannya.
"Pohon yang besar dan lebat memang seringkali dijadikan tempat para benalu untuk menumpang hidup. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pohon itu adalah memangkas semua benalu disekeliling pohon itu sampai ke akar-akarnya!"
**
Jeden dan Karina sudah selesai sarapan.
"Jadi kita setuju kan lakukan ini semua?" Tanya Karina meyakinkan Jeden.
"Tentu saja, aku sendiri yang akan membuat Lara perlahan-lahan kehilangan kepercayaan para pegawai hingga akhirnya ia dipaksa turun dari jabatannya!"
"Tuan Jeden ternyata kejam juga ya pada wanita yang disukainya?" Sindir Karina.
"Aku kejam karena dia yang tidak mau menurut padaku. Lara harus tau, dia tidak selamanya bisa mengabaikanku. Akan ada saatnya dia yang merangkak memohon padaku. Dan aku tidak sabar menunggu hari itu tiba."
"Aku juga, aku tidak sabar melihat Vander dibuang oleh Lara dan mengemis dibawah kakiku."
"Kau menang berbahaya Nona Karina."
"Kau juga sangat licik tuan Jeden."
"Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke Miracle," pungkas Jeden.
"Tunggu Jeden, sebelum pergi. Aku ingin tanya padamu, apa kau tau dalang dibalik kekacauan dipestaku waktu itu?"
Jeden tersentak kaget, padahal ia berpikir kalau itu bagian dari rencana gagal Karina yang tersembunyi. "Jadi lampu padam dan suara tembakan malam itu bukan rencanamu?"
"Bukan! Itu semua diluar rencanaku. Dan orang yang aku suruh menyelidiki, semuanya mereka tidak ada yang tau. Aku yakin orang itu bukan orang sembarangan."
Jeden jadi ikut penasaran dan bertanya-tanya siapa sebenarnya yang melakukan kekacauan malam itu. Apa mungkin Eva dan anak buahnya di Crux? Tebak Jeden yang tiba-tiba teringat dengan Eva. Tapi untuk apa? Apa ini ada hubungannya dengan Vander?
"Hei, kenapa kau bengong?" Tegur Karina.
"Oh ti- tidak apa-apa. Hanya berpikir siapa orang yang berani mengacaukan pesta Karina Foster."
Lebih baik aku tidak membahas soal Eva di depan Karina, karena aku masih belum tau jelas siapa sebenarnya Eva dan oraganisasinya yang disebut Crux itu. tapi yang jelas, aku tau organisasi itu sangat berbahaya dan tertutup dari dunia luar.
Bersambung....
__ADS_1
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜